NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Olahraga

Matahari terasa terik siang itu. Lapangan sekolah dipenuhi suara teriakan, peluit, dan bola voli yang sesekali menghantam tangan dengan bunyi keras.

Libra sedang bermain. Keringat membasahi pelipisnya, kaus olahraga sedikit menempel di tubuhnya. Gerakannya lincah, lompatannya ringan. Sesekali ia berteriak memberi aba-aba ke teman satu timnya.

Sementara itu, Giselle sudah selesai bermain sejak tadi. Ia memilih duduk di bawah pohon besar di pinggir lapangan, mencari tempat yang tidak langsung terkena panas. Pipit duduk di sebelahnya, sama-sama mengipas wajah dengan tangan.

“Astaga, panas banget,” keluh Pipit.

Giselle hanya tertawa kecil. Matanya tidak lepas dari lapangan. Tepatnya, dari satu sosok yang sedang bersiap melakukan servis.

“Libaaa! Ayo bisa!” teriak Giselle lantang dari tempat duduknya.

Libra menoleh sekilas. Begitu melihat Giselle, sudut bibirnya langsung terangkat. Ia mengangguk kecil, seolah mengatakan pada Giselle untuk tenang saja. Sorak sorai kecil terdengar dari kelompok Libra.

“Bucin bener,” ujar Pipit sambil nyengir.

“Berisik,” balas Giselle, tapi senyumnya tidak hilang.

Beberapa menit kemudian, Pipit berdiri. “Gue ke toilet bentar ya, kebelet berak.”

“Iya, buruan,” jawab Giselle.

Pipit pergi meninggalkan mereka. Giselle kembali duduk bersandar pada batang pohon. Ia menarik napas panjang, menikmati angin yang berembus pelan.

Belum lama ia sendiri, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya.

“Sendirian aja.”

Giselle menoleh, ternyata Farhan yang datang.

“Pipit ke toilet,” jawab Giselle santai.

Farhan ikut duduk, membentangkan kaki di depan. Matanya menatap ke lapangan. “Gila sih, lo gak capek teriak-teriak mulu? Dari tadi gue denger nama Libra doang.”

Giselle terkekeh. “Ya namanya juga nyemangatin.”

“Nyemangatin apa nyemangatin?” Farhan melirik sambil tersenyum miring.

Giselle mendengus. “Apaan sih.”

Beberapa detik mereka diam. Hanya ada suara bola dan teriakan guru olahraga yang saling bersahutan.

“Sel,” panggil Farhan tiba-tiba.

“Hm?”

“Lo suka gak sih sama Libra?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan.

Giselle terdiam sejenak. Lalu menggeleng cepat. “Enggak.”

Jawabannya terdengar ringan. Terlalu ringan.

“Yakin?” Farhan menaikkan alis.

“Iya. Gue sama Libra sahabatan dari kecil. Udah kayak keluarga,” jawab Giselle. Kurang lebih sama dengan jawaban Libra kala itu.

Farhan mengangguk pelan, seolah mengerti. Tapi ia tidak berhenti. “Kalau suatu hari Libra punya cewek gimana?”

Giselle terdiam. Kali ini lebih lama. “Ya… gapapa,” jawabnya akhirnya. Namun suaranya tidak seyakin tadi.

“Beneran?” Farhan menoleh menatap Giselle. “Atau lo cuma mikir ‘gapapa’ karena belum kejadian?”

Giselle mengernyit. “Maksud lo apa, Han?” Giselle mulai merasa aneh dengan Farhan yang tiba-tiba membicarakan hal ini.

Farhan menghela napas pelan. “Gue cuma bilang, jangan terlalu bergantung sama Libra.”

Kalimat itu membuat Giselle menoleh cepat. Sedikit terkejut dengan perkataan Farhan. “Kenapa emangnya?”

“Karena nanti sakit sendiri,” jawab Farhan jujur. “Kalau Libra punya pacar, mau gak mau pasti ada jarak. Bukan karena dia jahat, tapi ya emang gitu. Pacarnya bisa aja cemburu. Waktu dia kebagi. Dan lo gak bisa selalu jadi prioritas kayak sekarang.” Farhan menjelaskan dengan tenang.

Giselle menatap ke depan. Ke arah lapangan. Libra sedang tertawa lepas setelah berhasil memblok bola lawan. Senyuman itu mampu membuat Giselle ikut tersenyum. Wajah itu adalah wajah yang selalu membuatnya bersemangat melakukan apapun. Di tengah kehidupan Giselle yang keras, ada sosok Libra yang memperlakukannya dengan hangat. Giselle tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya ketika hari di mana Libra memberikan semua perhatiannya pada gadis lain itu tiba.

“Lo sama dia masih bisa sahabatan,” lanjut Farhan, “tapi gak akan sedeket sekarang.”

Kata-kata itu terasa aneh, tapi mampu mengusik ketenangan Giselle.

“Dan gue takut,” sambung Farhan, “lo belum siap kalau hari itu beneran datang.”

Giselle menelan ludah. Dadanya terasa sedikit sesak.

“Gue gak pernah mikirin sejauh itu,” gumamnya pelan.

Farhan berdiri. Menepuk-nepuk celananya. “Sekarang mikir gak apa-apa. Daripada nanti kaget.”

Setelah itu, Farhan pergi kembali ke lapangan. Meninggalkan Giselle sendiri di bawah pohon. Giselle kembali menatap Libra. Pemuda itu berdiri dengan tangan di pinggang, napasnya terengah, wajahnya tetap terlihat cerah. Sama seperti Libra yang selalu ia kenal.

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

Kalau suatu hari Libra bukan lagi tempat pulang satu-satunya… kalau suatu hari ia harus berbagi Libra dengan orang lain… Kenapa dadanya terasa sesak?

Giselle memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak ikut berteriak menyemangati. Matanya hanya mengikuti setiap gerakan Libra di lapangan. Dan entah sejak kapan, bayangan kehilangan itu terasa jauh lebih nyata dari yang seharusnya dirasakan oleh seorang sahabat.

...***...

20 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!