"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Koin Perak Yama
Asap hitam masih bergulung rendah di atas tanah Liu-Shu, berbaur dengan embun pagi yang mulai turun. Di tengah-tengah keheningan yang menyesakkan itu, Guiren berlutut. Xiaolian tersandar di pundaknya, napas adiknya itu pendek dan berat, satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa di dalam pelukannya.
Visi Qi-nya mulai meredup, menyisakan keletihan yang menyerang saraf. Namun, sisa-sisa persepsi itu masih memungkinkannya menangkap sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Di dekat genangan darah yang sudah mengering di depan rumahnya, ada sebuah titik energi yang terasa dingin, bukan dingin alami seperti es, melainkan dingin yang berbau besi dan kematian yang tertata.
Guiren mengulurkan tangannya yang gemetar, meraba tanah yang hangus. Jemarinya menyentuh benda logam bundar yang kecil.
Ia mengangkatnya. Logam itu berat, permukaannya terasa tajam di beberapa sisi karena ukiran yang mendalam. Guiren mendekatkannya ke wajah, meski ia buta. Melalui ujung jarinya, ia membaca relief di atas koin itu, sebuah gerbang melengkung dengan tengkorak yang seolah sedang tertawa, dikelilingi oleh pola awan yang bengkok.
Koin Perak Yama.
Di dunia yang luas ini, hanya ada satu tempat yang menggunakan simbol seperti itu. Paviliun Yama. Sebuah nama yang hanya pernah ia dengar dalam bisikan ketakutan para pedagang keliling yang sesekali melewati desa. Mereka adalah pisau di dalam kegelapan, organisasi yang tidak bergerak demi takhayul atau kebencian desa, melainkan demi tujuan yang lebih presisi.
Dunia terasa seakan berhenti berputar bagi Guiren.
Selama ini, ia mengira pengasingannya di tebing adalah puncak dari kemalangannya. Ia mengira ketakutan penduduk desa adalah musuh terbesarnya. Namun, koin di tangannya ini menceritakan kebenaran yang berbeda, yang jauh lebih mengerikan.
Pembantaian ini bukan karena mereka membenci orang buta yang bisa melukis takdir. Mereka tidak peduli pada nasib petani atau pembajak sawah di Liu-Shu. Mereka datang untuk sesuatu yang jauh lebih spesifik. Mereka datang mencari dia.
Atau lebih tepatnya, sesuatu yang ada di dalam dirinya.
Guiren menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih ternoda darah ibunya. Ia teringat bagaimana tangannya bisa melukis di luar kendali akal sehatnya. Ia teringat bagaimana Visi Qi-nya membangkitkan dunia energi yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak desa biasa.
“Mereka tidak mencari desa ini,” bisik Guiren, suaranya sedingin angin yang menyapu abu rumahnya. “Mereka mencariku.”
Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada luka fisik mana pun. Ayahnya mati karena dia. Ibunya mati karena keberadaannya. Desa ini musnah hanya karena mereka adalah dekorasi yang menghalangi jalan para pemburu itu menuju sasarannya.
Keputusasaan yang tadinya membara di dada Guiren kini mulai membeku menjadi kristal kebencian yang tajam. Kesedihan adalah kemewahan yang tidak lagi ia miliki. Jika ia terus menangis, ia hanya akan menjadi mangsa berikutnya.
Ia meremas koin perak itu hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya sendiri. Darah baru menetes, membasahi logam dingin itu.
Kalau aku hidup, mereka akan datang lagi.
Kalimat itu bergema di kepalanya, bukan sebagai ketakutan, melainkan sebagai fakta taktis. Selama ia bernapas, Paviliun Yama tidak akan berhenti. Xiaolian, satu-satunya alasan hatinya masih berdetak, tidak akan pernah aman selama bayang-bayang ini mengejarnya.
Guiren berdiri dengan goyah, menggendong Xiaolian lebih erat. Ia tidak lagi terisak. Wajahnya yang kusam dan penuh debu kini menunjukkan ekspresi yang melampaui usianya, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah tidak memiliki apa pun untuk hilang.
Ia tidak akan lari karena takut. Ia akan pergi untuk menjadi sesuatu yang lebih mengerikan daripada mereka yang memburunya. Jika dunia ini adalah kanvas yang haus darah, maka ia akan belajar melukis dengan tinta yang paling hitam.
Guiren memasukkan koin itu ke dalam lipatan bajunya yang compang-camping. Ia menoleh ke arah jalan setapak yang meninggalkan desa, arah yang sama dengan jejak energi hitam para pembunuh itu.
“Istirahatlah, Lian’er,” bisiknya pada adiknya yang masih pingsan. “Mulai hari ini, tidak ada lagi Liu-Shu. Hanya ada perjalanan.”
Ia melangkah maju, meninggalkan abu rumahnya tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, matahari mulai mengintip dari balik cakrawala, namun bagi Guiren, fajar ini hanyalah awal dari malam yang sangat panjang.