NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

Hujan turun tanpa suara gaduh. Bukan hujan yang datang membawa amarah, melainkan rintik panjang yang membuat segala sesuatu tampak lebih pelan dari biasanya. Jendela besar di lorong timur kediaman Reynard dipenuhi garis air yang berkejaran, seolah berlomba menuju tepi—lalu jatuh, menghilang, dan digantikan garis lain.

Tidak ada yang benar-benar bertahan lama, kecuali perasaan yang terlanjur menetap.

Yurie berdiri di sana, memandangi taman yang basah. Tanah gelap, dedaunan mengilap, dan bangku kayu di bawah pohon magnolia tampak sepi. Ia menyukai tempat itu karena jarang dilewati. Sunyi sering kali menjadi satu-satunya ruang aman yang ia kenal sejak kecil—sunyi yang tidak menghakimi, tidak memaksa, hanya menemani.

Di genggaman tangannya ada secarik kertas kecil. Bukan surat resmi, bukan pula dokumen dengan kop tebal. Hanya catatan singkat yang ia temukan terselip di buku tua perpustakaan: sebuah alamat, tanggal, dan satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta yang nyaris pudar.

Jika kebenaran ingin pulang, carilah jejak pertamanya

Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Namun Yurie tahu, kalimat-kalimat seperti inilah yang sering menjadi pintu. Ia menghela napas, menutup mata sesaat, lalu melipat kertas itu dengan hati-hati—seolah takut melukainya.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Yurie mengenali ritmenya bahkan sebelum suara itu mendekat.

“Aku pikir kamu akan memilih kamar baca,” ujar Kaiden, berhenti di sampingnya. Nada suaranya rendah, hangat, seolah hujan membuatnya lebih manusiawi dari biasanya.

Yurie menoleh. “Di sana terlalu banyak suara. Buku-buku seakan bicara bersamaan.”

Kaiden tersenyum kecil. Ia ikut memandang ke luar. “Kamu terlihat lelah.”

“Bukan lelah,” jawab Yurie pelan. “Lebih ke… berat.”

Kaiden tidak bertanya apa yang memberatkan. Ia belajar—belajar dari diam Yurie, dari caranya memegang rahasia seperti memegang kaca: erat, tapi selalu siap melukai diri sendiri. Ia hanya menggeser posisi, cukup dekat untuk memberi rasa aman, cukup jauh untuk tidak memaksa.

“Ada yang kamu temukan?” tanyanya akhirnya.

Yurie mengangguk tipis. Ia mengeluarkan kertas itu. Kaiden membacanya tanpa suara. Alisnya mengerut, bukan karena bingung, melainkan karena mengenali pola. Kata-kata samar, petunjuk setengah jalan—semuanya terasa familiar.

“Ini seperti undangan,” gumam Kaiden. “Atau tantangan.”

“Atau jebakan,” balas Yurie.

Kaiden mengangkat bahu. “Kebenaran sering datang dengan risiko.”

Mereka terdiam. Hujan masih turun. Di kejauhan, petir menyala singkat, menerangi taman seperti potret yang dibuka lalu ditutup kembali.

“Kaiden,” ucap Yurie, ragu. “Kalau jejak pertama itu menyakitkan… apakah kita tetap harus mengikutinya?”

Kaiden menoleh. Tatapannya tidak dingin kali ini. Ada sesuatu yang lembut, seperti lampu kecil di ujung lorong panjang. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi aku bisa berjalan bersamamu.”

Kalimat itu sederhana. Namun Yurie merasakannya—seperti tangan yang ditawarkan tanpa tuntutan.

Di sisi lain kota, di sebuah ruangan yang lampunya sengaja diredupkan, seorang perempuan duduk menghadap cermin besar. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tanpa rias berlebih. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata.

Di atas meja, tersusun rapi beberapa map. Nama-nama tercetak di punggungnya, tertata seperti arsip yang menunggu giliran. Perempuan itu mengangkat salah satu map, membukanya, lalu berhenti pada halaman tertentu.

“Yurie Nazeeran,” ia membaca pelan, nyaris seperti doa yang salah alamat.

Ia menutup map itu dengan hati-hati. “Kamu bergerak terlalu cepat,” katanya pada pantulan dirinya sendiri. “Padahal permainan ini menyukai kesabaran.”

Pintu ruangan diketuk. Satu kali. Dua kali. Pola yang sama setiap malam.

“Masuk,” ucapnya.

Seorang pria masuk, langkahnya senyap. Wajahnya sebagian tertutup bayangan. “Mereka mulai mendekat,” lapornya singkat.

Perempuan itu tersenyum. “Biarkan. Kadang orang perlu merasa hampir sampai agar lupa menoleh ke belakang.”

“Bagaimana jika mereka menemukan—”

“Tidak,” potongnya. “Yang mereka temukan hanyalah apa yang kita izinkan.”

Ia berdiri, merapikan lengan bajunya. “Pastikan jejak berikutnya terlihat jelas. Terlalu jelas, bahkan.”

Pria itu mengangguk dan keluar. Ruangan kembali sunyi. Perempuan itu menatap cermin lagi. Senyumnya kali ini lebih tegas—senyum orang yang percaya pada rencana.

Sementara itu, di kediaman Reynard, Yurie duduk di tepi ranjangnya. Lampu kamar redup, tirai setengah tertutup. Di meja kecil, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan.

Alamat itu masih ada. Jangan datang sendirian.

Yurie membaca pesan itu dua kali. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut—melainkan karena pengakuan diam-diam bahwa ia memang tidak berniat sendirian.

Ia menoleh ke arah pintu. Kaiden berdiri di sana, bersandar, seolah tahu kapan ia dibutuhkan.

“Ada pesan?” tanya Kaiden.

Yurie mengangguk, menyerahkan ponselnya.

Kaiden membaca, lalu mengembalikannya tanpa komentar panjang. “Kapan?” tanyanya.

“Besok,” jawab Yurie. “Saat hujan berhenti.”

Kaiden tersenyum tipis. “Hujan selalu berhenti. Cepat atau lambat.”

Yurie menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian di persimpangan ini. Di luar, hujan mulai mereda. Garis-garis air di jendela melambat, lalu menghilang satu per satu. Seperti rahasia yang akhirnya memutuskan untuk diam—setidaknya untuk sementara.

......................

Alamat itu membawa mereka ke pinggir kota, ke sebuah kawasan lama yang nyaris tak tersentuh pembaruan. Jalanannya sempit, aspalnya terkelupas di beberapa bagian, dan rumah-rumah berdiri rapat seolah saling berbisik. Hujan benar-benar berhenti, menyisakan bau tanah basah yang menggantung di udara. Lampu jalan menyala redup, cukup untuk membentuk bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah.

Kaiden memarkir mobil di bawah pohon flamboyan tua. Cabang-cabangnya merunduk, daun-daunnya berguguran seperti sisa musim yang lupa disapu. Yurie turun lebih dulu. Ia menarik napas pelan, membiarkan dadanya menyesuaikan diri dengan rasa yang datang—campuran antara cemas dan tekad.

“Nomor tiga,” ucap Kaiden, memeriksa papan kecil di pagar besi yang berkarat.

Rumah itu tidak besar. Dindingnya kusam, jendelanya tertutup tirai putih yang menguning. Tidak tampak angker, hanya terlalu sunyi untuk sebuah alamat yang disebut-sebut sebagai awal.

Kaiden menekan bel sekali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk, lebih tegas kali ini.

Pintu terbuka setengah. Seorang perempuan paruh baya muncul. Rambutnya disisir rapi, wajahnya lelah namun bersih. Matanya memeriksa mereka berdua, berhenti lebih lama pada Yurie.

“Kalian datang,” katanya, seolah itu bukan pertanyaan. “Masuklah.”

Di dalam, ruangan tamu sederhana. Sofa lama, meja kayu dengan taplak tipis, dan sebuah lemari kaca berisi foto-foto hitam putih. Perempuan itu mempersilakan mereka duduk, lalu menuju dapur. Suara cangkir bertemu piring terdengar pelan.

“Namaku Irena,” katanya saat kembali. “Aku sudah menunggu.”

Yurie menegakkan punggung. “Menunggu siapa?”

“Kamu,” jawab Irena tanpa ragu. “Sejak lama.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Kaiden menautkan jari-jarinya, memberi isyarat diam. Yurie menelan ludah.

“Kenapa saya?” tanya Yurie.

Irena tersenyum tipis, getir. “Karena ibumu.”

Nama itu tidak diucapkan. Namun Yurie mendengarnya jelas di kepalanya. Ia menatap lemari kaca, foto-foto di dalamnya—orang-orang yang tampak asing, tapi entah kenapa terasa dekat.

“Aku perawat,” lanjut Irena. “Dulu. Bukan yang menandatangani apa pun. Aku yang berjaga malam.”

Kaiden menajamkan perhatian. “Malam yang mana?”

Irena menatap cangkirnya. “Malam ketika semua diputuskan.”

Sunyi menyela. Yurie merasakan tangannya dingin. Kaiden menggeser kursinya sedikit, cukup dekat untuk memberi kehadiran.

“Ada yang kamu simpan,” ucap Kaiden pelan.

Irena mengangguk. Ia berdiri, membuka laci meja, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat. “Aku menyimpannya bukan karena berani. Tapi karena takut.”

Yurie menerima amplop itu. Di dalamnya ada salinan catatan medis—tanggal, dosis, tanda tangan yang tidak ia kenal. Ada juga foto kecil, buram, diambil dari jarak jauh. Wajah ibunya terlihat pucat, mata terpejam, tangan terbaring tanpa daya.

“Ada obat yang tidak seharusnya ada,” kata Irena. “Dan ada orang yang memastikan semua tampak wajar.”

Yurie menutup mata sesaat. Nafasnya tertahan.

Kaiden berbicara, suaranya stabil. “Nama?”

Irena menggeleng. “Belum. Tapi ada jalurnya.”

Ia menunjuk satu baris. “Distribusi. Gudang lama. Perusahaan cangkang.”

Kaiden memotret dokumen itu dengan ponselnya. “Kami akan menindaklanjuti.”

Irena menghela napas panjang, seolah beban bertahun-tahun sedikit terangkat. “Aku tidak minta apa pun. Hanya… jangan biarkan ini berhenti di sini.”

Yurie mengangguk. “Terima kasih.”

Saat mereka keluar, udara terasa berbeda. Lebih berat, namun juga lebih jujur. Kaiden menutup pintu mobil, menatap Yurie. “Kamu baik-baik saja?”

Yurie menatap jalan. “Aku tidak tahu definisi ‘baik’

lagi. Tapi aku ingin lanjut.”

Kaiden mengangguk. “Kita lanjut.”

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!