Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31
Ruangan arsip itu dingin, bukan karena pendingin udara, melainkan karena kesan lama yang menempel di dindingnya. Lampu putih menyala penuh, membuat setiap debu terlihat jelas, seolah tak ada yang boleh disembunyikan di tempat ini.
Yurie berdiri di depan lemari besi setinggi dada orang dewasa. Di tangannya ada map tipis berwarna cokelat, sudutnya mulai mengelupas. Ia belum membukanya sejak tadi. Ada rasa ragu yang aneh, seperti saat seseorang berdiri di depan pintu lama—pintu yang dulu sering dilewati, tapi kini terasa asing.
“Kalau belum siap, tidak apa-apa,” suara Kaiden terdengar dari belakangnya.
Yurie menoleh. Kaiden bersandar di meja kerja, tangannya menyilang, wajahnya tenang tapi matanya membaca terlalu banyak. Ia selalu seperti itu—diam, tetapi hadir sepenuhnya.
“Aku cuma tidak ingin salah paham,” kata Yurie pelan. “Beberapa hal lebih menyakitkan kalau dipahami setengah-setengah.”
Kaiden mengangguk. “Aku tahu.”
Yurie akhirnya membuka map itu. Kertas-kertas di dalamnya berisi catatan lama, tanggal-tanggal yang terasa jauh, nama-nama yang sebagian masih ia ingat, sebagian lagi seperti pernah lewat sebentar dalam hidupnya.
Satu nama membuat napasnya tertahan.
Ia tidak menyebutkannya. Tidak perlu. Kaiden sudah melihat perubahan di wajahnya.
“Nama itu muncul lagi?” tanya Kaiden hati-hati.
Yurie menutup map perlahan. “Iya.”
Sunyi kembali mengisi ruangan. Tapi kali ini sunyinya berbeda—lebih berat, seperti ada sesuatu yang sedang bersiap runtuh, hanya menunggu waktu.
Di sisi lain kota, di sebuah apartemen yang terlalu rapi untuk disebut rumah, seseorang berdiri di depan cermin besar. Jas hitamnya tergantung sempurna di tubuh, rambutnya disisir tanpa satu helai pun keluar jalur.
Ia menatap bayangannya lama.
“Masih sama,” katanya pada refleksi itu. “Masih terlihat utuh.” Tangannya meraih ponsel. Satu pesan masuk, singkat.
Semua aman. Tidak ada yang mencurigakan.
Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata. “Bagus,” gumamnya.
Di meja kecil dekat jendela, sebuah kotak kayu terbuka. Di dalamnya ada jam tangan rusak, talinya sobek, kacanya retak. Benda yang tampak sepele, tapi menyimpan cerita yang tidak pernah selesai.
Ia menutup kotak itu dengan hati-hati.
“Tenang,” katanya lagi, kali ini lebih lirih. “Aku tidak lupa.”
Sore menjelang malam dengan perlahan. Langit tidak sepenuhnya gelap, menyisakan warna abu-abu kebiruan yang menggantung rendah. Angin berembus pelan, membawa sisa bau tanah basah dari hujan siang tadi.
Yurie dan Kaiden berjalan berdampingan di trotoar sempit. Tidak ada payung. Tidak ada tergesa-gesa. Langkah mereka seirama, seolah tanpa disepakati.
“Kau ingat pertama kali kita bicara?” tanya Yurie tiba-tiba.
Kaiden tersenyum kecil. “Kau mengira aku sombong.”
“Karena kau memang terlihat begitu.”
“Dan kau terlalu tenang untuk seseorang yang sedang kebingungan,” balas Kaiden.
Yurie tertawa singkat. Tawa yang cepat hilang, tapi cukup untuk menghangatkan udara di antara mereka.
“Ada banyak hal yang tidak pernah kita bicarakan,” kata Yurie kemudian.
Kaiden menatap ke depan. “Kadang aku berpikir, beberapa hal memang tidak perlu diucapkan.”
Yurie berhenti melangkah. Kaiden ikut berhenti.
“Dan kadang,” Yurie menatapnya, “hal-hal itu justru yang paling penting.”
Kaiden menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata romantis berlebihan, tidak ada janji besar. Hanya dua orang yang sama-sama sadar: apa pun yang datang setelah ini, mereka tidak lagi berdiri di sisi yang berlawanan.
“Aku di sini,” kata Kaiden akhirnya. “Bukan untuk pergi setengah jalan.”
Yurie mengangguk. Itu cukup.
Malam turun sepenuhnya. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, membentuk pola yang indah sekaligus menipu. Dari kejauhan, semuanya tampak baik-baik saja.
Di sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana, seseorang memperhatikan mereka dari balik kaca gelap. Tangannya menggenggam setir, rahangnya mengeras.
“Bersama,” katanya pelan. “Selalu begitu.”
Mesin mobil menyala. Lampu sein berkedip sekali sebelum mobil itu melaju perlahan, menyatu dengan lalu lintas malam.
Permainan belum dimulai sepenuhnya.
Tapi papan catur sudah disiapkan.