Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Rangga datang ke kantor polisi untuk menanyakan informasi tentang Gibran. Laki-laki itu hanya datang sendirian dengan mengenakan pakaian serba hitam, tak lupa memakai topi dan masker untuk berajaga-jaga jika ada seseorang yang ingin memata matainya.
"Pak, bagaimanan informasi tentang Gibran, apa sudah ada titik terang?" tanya Rangga.
Polisi paruh baya itu mengernyitkan dahinya heran,"Loh, Mas Rangga tidak tahu? kasus ini sudah di tutup tiga hari pasca hilangnya Mas Gibran, atas perintah keluarga Mas Gibran sendiri."
Rangga justru kaget dengan penuturan Polisi tersebut."Tiga hari??"ulang Rangga.
Polisi itu mengangguk meng-iyakan."Benar, saya kira Mas Rangga sudah mengetahuinya."
Rangga yakin semua ini adalah ulah Arya. Arya ingin mengambil alih semua aset dan perusahaan sehingga ingin menyingkirkan Gibran lebih cepat. Oleh sebab itu pencarian hanya di lakukan selama tiga hari, dan Rangga baru mengetahui itu setelah dua minggu lebih pasca kepergian Gibran.
Rangga tidak habis pikir dengan Arya, padahal Arya sudah memegang perusahaan Pradikta Group cabang satu, belum lagi usaha kleup diskotiknya yang sangat terkenal di kalangan atas, tentu penghasilan Arya sangat fantastis, tapi laki-laki itu sungguh serakah.
Pradikta Group terdiri dari tiga perusahaan. Pertama adalah pusat, yang di pimpin oleh Gibran, yang kedua Pradikta Group cabang satu, yang di pegang oleh Arya, dan yang ketiga ada Pradikta Group cabang dua, yang di pegang oleh Karlina.
Entah Arya maupun Karlina, dua-duanya memang serakah. Mungkin karna Pradikta Group pusat memiliki aset lebih banyak dari Pradikta Group cabang. Oleh sebab itu mereka berlomba ingin mendapatkannya. Tapi perusahaan pusat berkembang pesat bukan tanpa sebab, semua berkat usaha Gibran yang memuaskan, sehingga banyak pengusaha dan investor yang mengajukan kontrak kerja sama dengan perusahaan.
Setelah mendapatkan info tersebut dari kepolisian, Rangga segera pergi. Ia melajukan mobilnya menuju tempat kejadian atas hilangnya Gibran.
Sesampainya di tempat kejadian, Rangga turun dari mobil, hari ini, ia akan mencari tahu petunjuk tentang Gibran, siapa tahu ia menemukan suatu petunjuk. Entah kenapa, Rangga yakin jika Gibran masih hidup dan masih ada di sekitaran sungai.
Rangga turun, ia menelusuri pinggiran sungai sampai ke ujung, tak di sangka ternyata di ujung sungai ada sebuah desa terpencil yang tertuju langsung pada jembatan utama tempat Rangga memarkirkan mobil.
Tanpa babibu Rangga langsung berjalan menuju desa tersebut. Ekor matanya berkeliling menelusuri setiap sudut desa ini. Bangunan rumah di desa ini dominan terbuat dari setengah tembok dan setengah kayu, rumah-rumahnya pun berukuran kecil. Rangga yakin, ada kemungkinan Gibran hanyut terbawa arus sungai dan di selamatkan oleh warga desa.
Di depan sana, ada sebuah warung dan beberapa orang bapak-bapak dan Ibu-Ibu yang sedang mengobrol, Rangga langsung menghampiri mereka.
"Permisi, Pak, Bu." sapa Rangga seraya tersenyum ramah.
"Iya Mas, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu bapak-bapak tersebut.
Rangga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Gibran kepada mereka."Saya ingin bertanya, dua minggu yang lalu di jalan utama ada kecelakaan, korbannya teman saya, laki-laki muda, seumuran dengan saya. Dia hanyut di sungai, siapa tahu di antara Bapak dan Ibu ini ada yang melihat atau mengetahui keberadaan teman saya."
Bapak-bapak dan Ibu-Ibu tersebut memperhatikan foto dengan seksama.
"Sepertinya kita tidak pernah melihatnya, Mas. Kita memang sempat dengar kabar kecelakaan itu, tapi warga desa ini tidak ada yang melapor ada orang yang hanyut di sungai."
Rangga memasuki kembali ponselnya, lantas ia tersenyum sambil memberikan kartu namanya."Pak, Bu. Ini kartu nama saya, jika di antara kalian ada yang menemukan teman saya, tolong hubungi nomor ini ya."
"Baik Mas, nanti kalo ketemu, kita kabarin Masnya."
Rangga mengangguk sopan lantas pergi pamit dari sana. Tidak berselang lama Rangga pergi, Nadia datang ke warung untuk membeli beras, karna stok beras di rumahnya sudah habis.
Nadia sempat melihat punggung laki-laki itu, yang baru saja pergi meninggalkan warung."Ada apa, Pak, Bu?"tanya Nadia penasaran.
"Ada yang mencari orang hilang," jawab salah satu Ibu-Ibu.
"Orang hilang?" ulang Nadia, pikirannya langsung tertuju pada Gibran. Jangan-jangan orang itu mencari Gibran.
"Ciri-ciri orang hilangnya seperti apa, Bu?"lanjut Nadia.
" Dia sempat nunjukin foto laki-laki muda berpakaian rapih. Katanya korban kecelakaan yang jatuh dan hanyut di sungai."
Mendengar penjelasan itu Nadia langsung yakin, jika orang itu mencari keberadaan Gibran. Ia refleks berlari mengejar laki-laki tersebut.
Dengan napas ngos-ngosan, dengan sekuat mungkin ia mengejar laki-laki tersebut, namun sayang, Nadia kehilangan jejak. Laki-laki itu terlalu cepat menghilang.
"Huh... huh... Kenapa dia cepat sekali menghilang," ujarnya masih dengan napas terengah-engah.
Sangat di sayangkan, padahal Nadia yakin orang tadi mencari keberadaan Gibran. Nadia akhirnya memutuskan kembali ke rumah.
*********
Esok paginya, Nadia sudah bersiap bekerja menggunakan motor tua yang ia beli seharga tiga juta rupiah. Sebenarnya motor itu sudah tidak layak pakai, karna sering mogok di tengah jalan, tapi mau bagaimana? hanya motor itulah satu-satunya sumber penghasilan Nadia untuk mencari uang.
"Aku mau kerja, kamu jaga rumah." pesan Nadia.
Gibran mengangguk pelan tanpa berbicara. Laki-laki itu memang jarang berbicara dan bercerita, mungkin efek hilang ingatan jadi dia tidak tahu siapa jati dirinya.
"Ya, sudah. Aku tinggal dulu." pamit Nadia.
Setelah kepergian Nadia, Gibran beringsut bangun dan memperhatikan seluruh ruangan rumah yang tampak masih acak-acakan. Lantai berdebu, cucian piring menumpuk, pakaian belum di cuci, halaman rumah di penuhi daun kering yang berjatuhan.
Mungkin Gibran tidak bisa membantu Nadia bekerja, tapi ia bisa membereskan semua ini. Sekali kali, ia ingin melihat gadis cerewet itu memujinya dan tidak meledeknya dengan sebutan anak manja.
Gibran mulai membereskan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, sampai menyapu halaman rumah. Setelah selesai, ia beristirahat sambil duduk di kursi depan rumah. Napasnya terengah-engah, keringat membanjiri pelipisnya begitu cepat. Meskipun terasa lelah, tapi Gibran senang karna sedikit meringankan pekerjaan Nadia.
Gibran termenung sambil berusaha mengingat kejadian terakhir kali yang menimpanya. Kilasan dan bayangan kurang jelas terlintas di kepalanya, namun hanya sesaat, karna kepalanya terasa sakit.
Ia melihat dirinya sedang mengendarai mobil, lalu rem blong dan mobilnya terperosok ke dalam sungai. Ia berusaha keluar dari mobil, namun sayangnya arus sungai terlalu deras, hingga akhirnya ia hanyut terbawa arus.
Gibran memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan, hanya ingatan itu yang dapat ia lihat. Jika dia memiliki mobil, berarti dia adalah seorang yang berada, tapi..... bisa jadi dirinya seorang supir. Gibran ingat! saat Nadia menemukannya, ia masih menggunakan pakaian dan barang-barang lainnya, siapa tahu itu menjadi sebuah petunjuk Gibran untuk memulihkan ingatanya.
Ia bergegas menuju kamar, dan meraih pakaian yang ia kenakan saat pertama kali di temukan oleh Nadia, di pinggir sungai. Ada kemeja putih beserta celana hitam miliknya. Gibran meeriksa pakainnya, sampai ada sesuatu yang jatuh dari saku celananya.
Jam tangan??
Ia segera mengambil jam tangan itu, model jamnya kelihatan tidak kampungan. Tapi.... petunjuk apa yang bisa Gibran cari dari sebuah jam tangan.
Sepertinya jam itu tidak ada gunanya, tapi.... model jamnya tidak kampungan, masih berguna jika Gibran menjualnya ke pasar, itung-itung membantu pengeluaran Nadia.
Gibran tersenyum tipis. Ya, benar. Ia harus menjual jam ini ke pasar, besok pagi setelah Nadia berangkat bekerja, ia akan menjualnya.
**********
Jam menunjukan pukul lima sore, sebelum Nadia pulang ke rumah, ia mampir dulu ke warung untuk membeli beras, pasalnya kemarin ia lupa membeli beras karna terlalu sibuk mengejar laki-laki kemarin yang mencari orang hilang.
"Bu, berasnya lima kilo ya."
"Loh, kemarin kenapa nggak jadi beli beras Neng?" tanya si Ibu warung.
"Iya, kemarin ngejar laki-laki yang kata Ibu-ibu nanyain orang hilang itu. Saya kejar, tapi orangnya keburu hilang," jawab Nadia.
"Loh, kenapa nggak tanyain aja sama Pak Hasan."
Nadia mengerutkan dahinya bingung,"Pak Hasan? emang urusannya sama Pak Hasan apa, Bu?"
"Kemarin, laki-laki yang nyari orang hilang itu, sempat ngasih kartu namanya sama Pak Hasan. Katanya, kalo misalnya ada info tentang temannya yang hilang, segera hubungi nomor itu," jelas si Ibu warung.
"Berarti saya harus ke Pak Hasan dong Bu?"
"La, iyo. Kan Neng Nadia nyari-nyari orang itu, mending minta kartu namanya sama Pak Hasan.
Setelah membayar beras tersebut, Nadia langsung pamit ke rumah Pak Hasan. Rencana dia akan meminta kartu nama tersebut. Semoga saja, Pak Hasan masih menyimpan kartu nama itu.
**********
"Permisi, Pak Hasan."
"Permisi....!"ujar Nadia seraya mengetuk pintu rumah Pak Hasan.
Tidak lama Pak Hasan keluar membuka pintu rumah." Eh, Neng Nadia, ada apa ya?"tanyanya.
Nadia tersenyum ramah,"Pak kemarin ada laki-laki yang nyari temannya yang hilang ya?"
"Orang yang hilang?" ulang Pak Hasan, tampak berpikir sejenak."Oh iya Neng, kemarin ada laki-laki muda nyari temannya yang hilang, katanya sih korban kecelakaan trus hanyut di sungai. Dia sempat ngasih kartu nama kalo ada info tentang temannya."
"Saya boleh minta kartu nama itu nggak, Pak?"pinta Nadia.
Pak Hasan tidak langsung menjawab, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal." Haduh Neng, kemarin saya ke sawah, saya lupa nyimpen kartunya, malah ke bawa di saku celana. Saat istri saya mencuci celana saya, ternyata kartunya udah robek Neng."
Nadia mendesah pelan, raut wajahnya tampak kecewa."Yah..... saya kira masih ada. Padahal itu penting banget."
"Ya, maaf Neng saya nggak tahu."
"Yaudah Pak, makasih. Saya pamit pulang dulu."
Gagal lagi, sekarang bagaimana caranya Nadia mengetahui info tentang orang itu?
bersambung...