NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FRAGMEN YANG TERSISA

"Vio? Woi, Viona! Bangun! Lo jangan mati di sini, entar siapa yang bayar utang makan siang gue di kantin?!"

Suara Riko terdengar cempreng dan panik, mengguncang-guncang bahu Viona dengan kasar. Viona mengerang, merasakan kepalanya seperti baru saja dihantam oleh palu godam raksasa. Aroma yang menusuk hidungnya bukan lagi aroma tanah basah atau minyak pelumas mesin, melainkan aroma kopi instan yang sudah dingin dan debu dari tumpukan berkas.

Viona membuka matanya perlahan. Langit-langit putih dengan lampu neon yang berkedip-kedip menyambut pandangannya. Ia tidak lagi berada di lapangan kering atau di kolong jembatan. Ia berada di lantai ruang rapat kantornya.

"Gila lo, Vio. Tadi pas lo lagi adu argumen sama Pak Baskara, lo tiba-tiba pingsan tegak. Gue kira lo kena serangan jantung," Riko mengembuskan napas lega, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kemeja.

Viona mencoba duduk, namun tangannya terasa sangat perih. Ia segera melihat telapak tangan kirinya. Tidak ada roda gigi, tidak ada tulisan darah. Kulitnya halus. Namun, di pusat telapak tangannya, terdapat sebuah bekas luka kecil berbentuk titik—seperti bekas tertusuk pena.

"Pak Baskara... di mana dia?" tanya Viona dengan suara serak.

Riko menunjuk ke arah ruang kerja kaca di ujung lorong. "Tuh, lagi ngomel-ngomel sendiri. Dia bilang presentasi lo tadi 'sampah', tapi anehnya dia nggak jadi mecat lo. Dia kayak... ketakutan liat lo pas lo bangun tadi."

Viona bangkit dengan goyah. Ia melihat ke sekeliling kantor. Semuanya tampak normal. Orang-orang sibuk mengetik, suara telepon berdering, dan di luar jendela, hujan Jakarta turun dengan derasnya. Namun, ada yang aneh. Semua orang di kantor itu bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya. Seperti ada frame rate yang turun dalam sebuah video.

Ia merogoh saku jas hujannya—benda yang entah bagaimana masih ia kenakan. Di dalamnya, ia menemukan pena perak itu. Pena itu terasa hangat, berdenyut pelan di genggamannya.

"Rik, Ibu... lo tahu keadaan Ibu gue sekarang?" tanya Viona cepat.

Riko mengerutkan kening, menatap Viona seolah temannya itu baru saja kehilangan akal sehat. "Vio, Ibu lo kan masi di rumah sakit buat terapi kaki. Baru sejam lalu lo telponan sama dia sebelum rapat. Lo beneran nggak apa-apa, kan? Apa mau gue anter ke RS sekalian?"

Viona tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari ruang rapat, mengabaikan tatapan aneh rekan-rekan kerjanya. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan membuka tas kanvasnya. Di dalamnya, tidak ada payung biru kusam. Hanya ada sebuah lipatan koran lama.

Koran itu bertanggal sepuluh tahun lalu. Berita utamanya: Kecelakaan Maut di Tol, Seorang Arsitek Muda Dinyatakan Hilang.

"Fragmen-fragmen ini mulai menyatu, Viona. Kamu tidak bisa lari hanya dengan menulis kata perpisahan."

Viona tersentak. Suara itu bukan dari Riko. Ia menoleh dan melihat sesosok pria berdiri di dekat dispenser air. Pria itu memakai seragam petugas kebersihan kantor, namun matanya berwarna abu-abu jernih yang sangat ia kenal.

"Alfred?" bisik Viona.

"Panggil aku petugas kebersihan hari ini," ucap Alfred sambil memeras kain pelnya dengan gerakan yang sangat teratur. "Kamu pikir dengan menghancurkan dimensi 'Pemberhentian Terakhir', semuanya akan kembali normal? Kamu hanya meledakkan sebuah ruangan di dalam rumah yang sangat besar. Sekarang, seluruh penghuni rumah itu tahu kamu punya kunci pintunya."

Viona mendekati Alfred, suaranya ditekan agar tidak terdengar orang lain. "Di mana Adrian? Di mana Julian? Dan di mana... Ibu yang asli?"

Alfred berhenti mengepel. Ia menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. "Adrian sedang bersembunyi di dalam celah kode sistem. Dia kehilangan raga fisiknya saat ledakan tadi, tapi kesadarannya masih mengalir di jaringan kabel kota ini. Julian? Dia sedang dihukum oleh Ordo. Dan ibumu... Arsitek itu tidak hancur. Dia hanya mundur selangkah untuk menyiapkan rencana yang lebih besar."

"Gue mau semuanya berakhir, Kek! Ambil aja Jantung Waktu ini dari gue! Gue capek!" Viona mulai emosi, tangannya mengepal kuat hingga pena perak itu terasa ingin menembus kulitnya.

"Aku tidak bisa mengambil apa yang sudah menyatu dengan jiwamu, Viona. Jantung itu sekarang berdetak seirama dengan napasmu. Jika aku mengambilnya, kamu akan menjadi seperti Baskara di halte itu—kosong," Alfred menunjuk ke arah pintu keluar. "Sekarang pergilah. Seseorang sedang menunggumu di bawah. Bukan ayahmu, tapi seseorang yang punya utang penjelasan padamu."

Viona tidak menunggu lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari menuju lift. Di dalam lift yang berdinding cermin, ia melihat pantulannya. Wajahnya tampak pucat, tapi di dalam matanya, ada pendar biru safir yang tidak pernah ada sebelumnya.

Sesampainya di lobi, Viona melihat seorang pria berdiri di dekat pintu putar. Pria itu memakai jas hujan hitam panjang dan memegang payung hitam besar. Saat pria itu menoleh, Viona mengenali rahang tegasnya.

"Julian?"

Julian tidak tersenyum. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar baru yang masih kemerahan, seolah ia baru saja lolos dari pemanggangan dimensi. "Jangan panggil nama itu di tempat umum. Ikut saya. Sekarang."

Viona mengikuti Julian keluar ke area parkir yang basah. Hujan mengguyur begitu deras hingga pandangan terbatas hanya beberapa meter. Julian membawanya ke sebuah mobil tua yang terparkir di pojok.

"Masuk," perintah Julian singkat.

Di dalam mobil, suasananya sangat sunyi. Julian menyalakan mesin, namun mobil itu tidak bergerak. Ia justru menekan sebuah tombol di dasbor, dan seketika semua suara hujan di luar hilang, digantikan oleh keheningan yang kedap.

"Dengerin gue, Viona. Gue nggak punya banyak waktu," Julian menoleh, matanya yang tajam menatap Viona dengan intensitas yang menakutkan. "Ordo sudah ngeluarin 'Protokol Penghapusan'. Mereka anggap Jakarta ini sudah terkontaminasi oleh keberadaan lo. Dalam waktu dua puluh empat jam, kota ini bakal ngalamin apa yang mereka sebut 'Reset Sejarah'."

"Maksud lo? Jakarta bakal kiamat?"

"Bukan kiamat yang meledak-meledak. Semua orang bakal tiba-tiba lupa kalau hari ini pernah ada. Kejadian lo pingsan, Baskara yang ketakutan, bahkan keberadaan lo sendiri bisa hilang dari memori semua orang. Lo bakal dianggap anomali yang harus dibersihkan," Julian mengepalkan tangannya. "Gue membelot dari Ordo bukan karena gue baik. Gue membelot karena gue tahu kalau lo mati, Jantung Waktu itu bakal meledak dan narik seluruh dimensi ini ke titik nol."

Viona terdiam. Beban di pundaknya kini terasa melampaui batas kewarasan manusia. "Terus gue harus ngapain? Gue cuma manajer pemasaran yang pusing mikirin target bulanan, Julian! Gue bukan superhero!"

"Lo arsitek! Pahami itu!" Julian membentak, membuat Viona tersentak. "Pena perak di tangan lo itu bisa nulis ulang garis waktu tanpa perlu izin Ordo. Tapi lo butuh tinta. Dan tinta itu bukan darah lo lagi."

"Terus apa?"

Julian merogoh sesuatu dari saku jas hujannya. Sebuah botol kecil berisi cairan biru yang bergejolak. "Ini adalah esensi dari memori-memori yang lo selamatkan pas ledakan tadi. Memori lo tentang Ayah lo, tentang rasa sayang Ibu lo yang asli, bahkan tentang Riko. Gunakan ini buat nulis 'Jalur Aman' di telapak tangan lo."

Viona menerima botol itu dengan tangan gemetar. "Kalau gue pake ini, apa gue bakal lupa sama mereka?"

"Itulah harganya, Viona. Arsitek harus mengorbankan perasaan pribadinya buat nyelamatin struktur bangunan yang lebih besar," Julian menatap ke arah lobi kantor. "Liat itu."

Viona melihat ke arah lobi. Di sana, Riko baru saja keluar dari gedung. Namun, saat Riko melangkah ke arah trotoar, tubuhnya tiba-tiba berkedip. Dalam hitungan detik, Riko yang tadinya memakai kemeja biru, kini memakai kemeja putih dan berjalan ke arah yang berbeda, seolah ia tidak pernah mengenal Viona.

"Pembersihan sudah dimulai," bisik Julian ngeri. "Mereka mulai ngapus jejak lo dari orang-orang terdekat lo."

Viona melihat Riko menjauh. Ia ingin berteriak memanggil nama temannya, tapi ia tahu Riko tidak akan menoleh. Perasaan sesak mulai menghimpit dadanya. Rasa kehilangan yang ia rasakan jauh lebih perih daripada saat ia gagal dalam presentasi.

"Gue nggak mau kehilangan mereka lagi, Julian," isak Viona.

"Kalau lo nggak bertindak sekarang, bukan cuma memori lo yang hilang, tapi eksistensi mereka semua bakal di-reset jadi nol. Ibu lo nggak akan pernah lahir, Riko nggak akan pernah ada di kantor itu," Julian mencengkeram bahu Viona. "Tulis jalurnya, Viona! Cari 'Gigi Pusat' di jantung kota ini sebelum jam dua belas malam!"

Viona membuka botol kecil itu. Cairan biru di dalamnya mengeluarkan aroma harum melati—aroma yang selalu ia kaitkan dengan ibunya saat mereka masih bahagia. Ia mencelupkan ujung pena peraknya ke dalam cairan itu.

Baru saja ujung pena itu menyentuh cairan, kaca mobil di samping Viona pecah berantakan.

Sesosok makhluk berpakaian hitam dengan wajah yang hanya berupa jam pasir raksasa muncul dari kegelapan hujan. Makhluk itu memegang sebilah sabit panjang yang terbuat dari rangkaian jarum jam yang tajam.

"Penyapu..." Julian mendesis, segera mengeluarkan belati peraknya. "Viona, lari! Bawa botolnya! Pergi ke Monas, itu pusat gravitasi waktu di kota ini!"

Viona melompat keluar dari mobil tepat saat sabit makhluk itu membelah jok kursi tempat ia duduk tadi. Ia berlari menembus hujan, kakinya terasa berat saat melewati trotoar. Ia melihat sekelilingnya, gedung-gedung tinggi di Jakarta mulai tampak transparan, memperlihatkan susunan roda gigi raksasa yang menyangga kota ini.

"Vio! Tolong gue, Vio!"

Suara itu terdengar dari arah gang sempit. Viona berhenti dan menoleh. Di sana, ia melihat ibunya, Elena, duduk di kursi roda di tengah genangan air. Namun, di belakang Elena, ribuan gagak mekanis mulai hinggap di tembok-tembok gang, menatap dengan mata lensa mereka yang dingin.

"Ibu!" Viona hendak berlari ke arah gang itu, tapi langkahnya tertahan oleh suara Adrian yang mendengung di telinganya lewat frekuensi udara.

"Jangan ke sana, Vio! Itu jebakan proyeksi! Ibumu masi di rumah sakit, itu cuma simulasi buat narik lo keluar dari jalur!"

Viona terpaku. Ia menatap sosok ibunya yang tampak begitu nyata, sedang menangis dan memanggil namanya. Di sisi lain, ia melihat tulisan 'SEKARANG' di tangannya mulai berkedip merah, menandakan waktu yang tersisa sangat sedikit.

"Viona, kamu tega biarin Ibu sendiri di sini?" suara Elena berubah menjadi suara Arsitek yang dingin dan bergema.

Tiba-tiba, dari kegelapan gang, muncul sosok Baskara yang membawa sebuah kapak besar bertuliskan 'PHK'. Namun, wajah Baskara bukan lagi wajah manusia, melainkan wajah ayahnya, Nathan, yang sedang menangis darah hitam.

"Vio... pilih salah satu," ucap sosok itu sambil mengayunkan kapaknya. "Ibumu, atau seluruh kota ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!