NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Raungan mesin Dan Bisikan Doa

​Langit sore itu tampak mendung, seolah mengerti perasaan laki-laki yang kini berdiri mematung di pinggiran koridor kampus.

​Fatih meremas tali helm di tangannya. Matanya terpaku lurus ke arah gerbang utama, tempat sebuah mobil sedan hitam mengkilap baru saja berhenti. Suara mesinnya halus, namun raungannya cukup untuk membuat kepala semua mahasiswa menoleh.

​Dari kursi pengemudi, keluarlah Erlangga. Kemejanya licin tanpa kerutan, lengan digulung hingga siku, memamerkan jam tangan yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Fatih selama dua tahun di perantauan.

​Erlangga tersenyum percaya diri, lalu melangkah menghampiri seorang gadis yang sedang berdiri canggung memeluk buku di halte.

​Zalina.

​"Tih," sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan Fatih. Hadi, sahabatnya, berdiri di sebelahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mundur, Tih. Saingan lu damage-nya nggak ngotak."

​Fatih tidak menjawab. Ia hanya melihat Erlangga membukakan pintu mobil untuk Zalina. Ada sedikit keraguan di wajah gadis itu, tetapi gerimis yang mulai turun memaksanya untuk masuk.

​Pintu mobil tertutup. Kaca jendela yang gelap menyembunyikan mereka dari dunia luar. Dalam hitungan detik, mobil itu melaju, membelah genangan air, meninggalkan Fatih yang masih berdiri dengan jaket denim-nya yang mulai lusuh.

​"Gue cabut duluan ya, Di," ujar Fatih pelan, suaranya terdengar datar.

​"Mau ke mana lu? Galau?" tanya Hadi khawatir.

​Fatih menggeleng, lalu menatap langit yang makin gelap. "Mau ke masjid. Udah mau Maghrib."

​Hadi terdiam menatap punggung sahabatnya yang berjalan menjauh menembus gerimis. Fatih tidak terlihat marah, tidak juga terlihat menangis. Langkahnya tenang, namun ada keteguhan yang menakutkan di sana.

​Fatih tahu, di atas aspal jalan raya, dia kalah telak. Erlangga punya kecepatan, kemewahan, dan akses yang tidak bisa ia tandingi. Fatih tidak mungkin mengejar mobil itu dengan motor tuanya.

​Tapi Fatih tahu medan tempur lain.

​Ia mempercepat langkahnya menuju tempat wudhu. Air dingin membasuh wajahnya, menyamarkan rasa perih di hati. Dalam hati, ia membuat janji.

​Silakan kau kuasai jalanan bumi, Erlangga. Silakan kau bawa dia dengan kemewahanmu di siang hari.

​Tapi tunggu sampai matahari tenggelam. Tunggu sampai sepertiga malam datang.

​Di sana, di jalur langit yang sunyi, aku akan menyalipmu. Aku akan mengetuk pintu yang tidak bisa kau beli dengan uangmu.

​Dan perang sunyi itu pun dimulai

BAB 1: Langit Tidak Pernah Tidur

​Suara adzan Maghrib yang menggema dari pengeras suara Masjid Al-Ikhlas memecah keheningan senja yang basah. Hujan masih turun rintik-rintik, menciptakan orkestra sunyi saat air beradu dengan aspal pelataran parkir kampus yang mulai sepi.

​Di tempat wudhu yang lembap, Fatih membasuh wajahnya. Air keran yang dingin menusuk pori-pori kulit, seolah membekukan gemuruh panas yang sejak tadi membakar dadanya. Ia membasuh wajah bukan hanya untuk membersihkan debu, tapi untuk menyamarkan sisa-sisa kekecewaan yang nyaris membuatnya lupa diri.

​Bayangan mobil sedan hitam Erlangga masih terpatri jelas di benaknya. Mobil itu melaju mulus, membawa Zalina menjauh, sementara Fatih hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan seperti penonton figuran dalam sebuah film romansa orang lain.

​"Lu gapapa, Tih?"

​Fatih menoleh. Hadi sudah berdiri di sampingnya, menyingsingkan lengan kemeja flanelnya. Wajah sahabatnya itu terlihat cemas, meski berusaha disembunyikan dengan cengiran khasnya.

​Fatih tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. "Aman, Di. Cuma laper dikit."

​"Laper apa cemburu?" tembak Hadi tepat sasaran. Ia memutar keran air di sebelahnya. "Udahlah, Tih. Gue kan udah bilang dari semester tiga. Level kita beda. Si Erlangga itu bapaknya punya saham di mana-mana. Kita? Saham kita cuma ada di doa Ibu."

​Fatih tidak menjawab. Ia menyelesaikan wudhunya dengan tertib, membasuh kaki kanannya, lalu kaki kirinya. Setelah mematikan keran, ia menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung di dinding masjid.

​Wajah yang lelah, mata yang kurang tidur karena mengejar deadline desain grafis pesanan orang, dan kemeja yang warnanya mulai pudar.

​"Saham doa Ibu itu investasi jangka panjang, Di," gumam Fatih akhirnya sambil mengusap wajah dengan sisa air wudhu. "Dividennya mungkin nggak cair di dunia, tapi pasti cair di akhirat. Atau... di waktu yang paling tepat."

​Hadi mendengus, setengah kagum setengah kesal dengan keras kepala sahabatnya. "Iyain aja deh biar cepet. Yuk, masuk. Udah komat."

​Mereka berdua melangkah masuk ke ruang utama masjid. Di sana, di atas karpet hijau yang wangi kasturi, Fatih menenggelamkan keningnya dalam sujud. Di posisi terendah itulah, ia merasa paling tinggi. Di sanalah ia merasa setara dengan Erlangga, bahkan dengan siapa pun di muka bumi ini. Di hadapan Tuhan, mobil mewah dan motor butut hanyalah besi tua yang akan berkarat.

​Namun, hati kecilnya tak bisa bohong. Saat imam membaca ayat tentang kesabaran, dada Fatih sesak. Ia manusia biasa. Ia laki-laki normal yang ingin melindungi wanita yang dicintainya, bukan hanya dengan doa, tapi dengan kehadirannya.

​Dan malam ini, kehadirannya digantikan oleh orang lain.

​Sementara itu, di dalam kabin mobil sedan yang kedap suara, suasana terasa jauh berbeda.

​Wangi parfum mahal bercampur aroma kulit jok mobil memenuhi indera penciuman Zalina. Musik jazz instrumental mengalun pelan dari speaker berkualitas tinggi, menciptakan suasana elegan yang seharusnya menenangkan. Namun, Zalina justru merasa sesak. Ia duduk kaku, meremas sabuk pengaman yang melintang di dadanya.

​"Zal, AC-nya kurang dingin ya?"

​Suara berat Erlangga memecah keheningan. Pria itu menyetir dengan satu tangan, santai dan penuh percaya diri. Jam tangan Rolex-nya berkilau setiap kali terkena sorot lampu jalan.

​Zalina menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum sopan. "Enggak kok, Mas Erlangga. Udah pas."

​"Panggil Erlangga aja, atau Angga. Jangan kaku gitu, kayak sama dosen pembimbing aja," kekeh Erlangga. Ia menoleh sekilas, tatapannya menyapu wajah Zalina dengan sorot memuja yang terang-terangan. "Kamu tau nggak? Tadi aku hampir batal jemput kamu karena Papa minta ditemenin meeting sama klien dari Singapura. Tapi aku pikir, meeting bisa ditunda, tapi jemput bidadari kampus nggak boleh telat."

​Erlangga tertawa kecil, merasa gombalannya sukses. Zalina hanya tersenyum getir. Ia benci sebutan itu. Bidadari kampus. Sebutan yang membuatnya merasa hanya dinilai dari fisiknya, bukan isi kepalanya.

​"Makasih udah repot-repot," jawab Zalina singkat. "Padahal aku bisa naik ojek online, atau bareng Nisa."

​"Nisa? Temen kamu yang tomboi itu?" Erlangga mengerutkan dahi seolah mengingat sesuatu yang tidak penting. "Janganlah. Bahaya cewek cantik naik ojek malem-malem. Mending sama aku. Aman, nyaman, terjamin."

​Zalina mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hujan membuat kaca berembun. Ia melihat motor-motor yang berteduh di bawah jembatan layang. Ia melihat pedagang kaki lima yang sibuk menutup dagangan dengan terpal plastik.

​Pikirannya melayang pada sosok laki-laki yang tadi ia lihat sekilas di gerbang kampus saat mobil Erlangga keluar. Laki-laki dengan jaket denim lusuh yang berdiri mematung di tengah gerimis. Fatih.

​Zalina tidak mengenal Fatih secara pribadi. Mereka hanya pernah satu kepanitiaan di acara bakti sosial kampus setahun lalu. Saat itu, Zalina sibuk di bagian konsumsi, sementara Fatih di bagian perlengkapan, mengangkat kardus-kardus berat tanpa banyak bicara.

​Yang Zalina ingat, Fatih tidak pernah menatap matanya lebih dari dua detik. Setiap kali Zalina memberikan kotak makan siang untuk panitia, Fatih akan menundukkan pandangannya, mengucapkan terima kasih dengan suara rendah, lalu buru-buru pergi bekerja lagi.

​Sikap itu berbeda 180 derajat dengan Erlangga dan teman-temannya yang selalu berusaha mencari perhatian Zalina, entah dengan pamer harta atau lelucon yang terkadang menjurus fisik. Fatih seperti spasi dalam paragraf yang padat; hening, tapi memberi jarak yang menenangkan.

​"Zal? Melamun ya?"

​Tepukan pelan di punggung tangannya membuat Zalina tersentak. Ia reflek menarik tangannya.

​Erlangga tampak sedikit tersinggung dengan penolakan halus itu, tapi ia segera menutupinya dengan senyum maklum. "Sori, sori. Eh, kita makan di Sky Lounge hotel papa aku aja ya? Di sana view-nya bagus, bisa liat kota Bandung dari atas."

​"Mas... eh, Angga. Maaf," potong Zalina cepat. "Aku... aku harus pulang cepet. Ayah lagi nggak enak badan. Tadi aku cuma mau diantar sampai depan komplek aja, kan?"

​Alasan klise. Ayahnya, Pak Yusuf, sehat walafiat dan mungkin sedang mengaji di rumah. Tapi Zalina butuh jalan keluar. Berada di ruang sempit bersama ego Erlangga yang begitu besar membuatnya sulit bernapas.

​Wajah Erlangga berubah sedikit masam, tapi ia mengangguk. "Oh, Om Yusuf sakit? Yaudah, kita mampir beli buah dulu ya. Nanti aku sapa Om Yusuf sekalian."

​Zalina menahan napas. Niatnya menghindar malah membuka pintu lebar bagi Erlangga untuk mengambil hati orang tuanya. Jalur Bumi Erlangga memang bergerak cepat dan taktis.

​Keesokan harinya, kantin Fakultas Teknik ramai seperti pasar.

​Suara denting sendok beradu dengan piring, tawa mahasiswa, dan teriakan penjual es teh manis menciptakan keriuhan khas jam makan siang. Di salah satu sudut yang agak terpencil, Fatih duduk menghadapi laptop tuanya yang kipasnya berdengung kencang.

​"Tih, ini revisi desain poster dari himpunan. Katanya warnanya kurang 'jreng'. Minta diganti kuning neon." Hadi meletakkan semangkuk mie ayam di meja, lalu duduk di depan Fatih.

​Fatih memijat pelipisnya. "Kuning neon? Sakit mata, Di. Konsep acaranya kan vintage, masa dikasih neon?"

​"Namanya juga klien, Bos. Turutin aja daripada duitnya nggak cair. Lu butuh buat bayar kosan bulan ini, kan?"

​Fatih menghela napas panjang, jarinya kembali menari di atas trackpad laptop yang sudah agak macet. Hadi benar. Idealisme tidak bisa dipakai membayar tagihan listrik. Inilah realitasnya. Sementara Erlangga mungkin sedang makan siang steak seharga 500 ribu, Fatih harus berdebat soal warna poster demi upah 150 ribu perak.

​Tiba-tiba, keramaian kantin sedikit mereda. Atau lebih tepatnya, atensi orang-orang teralihkan.

​Zalina masuk ke area kantin bersama Nisa.

​Hari ini Zalina mengenakan gamis berwarna mocca dengan kerudung pasmina senada yang menjuntai menutupi dada. Sederhana, namun entah kenapa ia terlihat bersinar di antara mahasiswa lain yang berpakaian trendi.

​"Wah, target operasi masuk radar," bisik Hadi, menyenggol kaki Fatih di bawah meja.

​Fatih tidak menoleh. Ia memaku pandangannya pada layar laptop, meski jantungnya mulai berdetak tidak karuan. "Jaga mata, Di."

​"Gue jaga mata, tapi hati lu yang nggak kejaga," ledek Hadi.

​Zalina dan Nisa berjalan mencari meja kosong. Sayangnya, kantin penuh sesak. Satu-satunya kursi kosong ada di dekat meja Fatih dan Hadi, tapi kondisinya kotor bekas tumpahan kuah soto mahasiswa sebelumnya.

​Zalina tampak bingung. Ia berdiri canggung sambil memegang nampan berisi makan siangnya.

​Tanpa dikomando, Fatih berdiri. Ia mengambil tisu dari tasnya—tisu yang selalu ia bawa—lalu berjalan cepat ke meja kosong di dekat mereka. Tanpa menatap Zalina, Fatih membersihkan tumpahan kuah itu dengan cekatan. Mengelapnya sampai kering, membuang tisunya ke tong sampah, lalu kembali duduk di mejanya sendiri.

​Semua terjadi dalam sepuluh detik.

​Zalina tertegun. Ia menoleh ke arah Fatih, tapi laki-laki itu sudah kembali sibuk dengan laptopnya, seolah-olah dia tidak baru saja melakukan apa-apa.

​"Makasih ya, Mas Fatih," ucap Zalina, suaranya terdengar jelas di telinga Fatih yang memerah.

​Fatih hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh. "Sama-sama. Silakan duduk."

​Nisa menyikut lengan Zalina sambil berbisik saat mereka duduk, "Tuh, liat. Cowok kulkas 10 pintu. Dingin banget, tapi gercep (gerak cepat). Beda sama si Erlangga yang cuma modal nyuruh-nyuruh orang."

​Zalina diam-diam mencuri pandang ke arah meja sebelah. Ia melihat punggung Fatih yang sedikit membungkuk, fokus bekerja. Ia melihat sepatu sneakers Fatih yang solnya sudah mulai lepas dan dilem ulang.

​Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dada Zalina. Bukan rasa kagum yang meledak-ledak seperti saat melihat selebriti, tapi rasa hormat yang tumbuh perlahan. Fatih tidak mencoba merayunya. Fatih bahkan tidak mencoba menatapnya. Fatih hanya... ada, dan memudahkan urusannya tanpa minta panggung.

​Di meja sebelah, Hadi berbisik gemas, "Lu bego apa gimana sih, Tih? Itu kesempatan emas buat ngobrol! Minimal tanya 'apa kabar' kek, atau 'makanannya enak nggak'."

​"Nggak perlu, Di," jawab Fatih lirih, matanya menatap kursor yang berkedip di layar. "Kalau aku ngajak ngobrol sekarang, niatku nolong tadi jadi nggak ikhlas. Jadinya modus."

​"Ya emang harus modus biar dapet cewek!"

​"Nggak buat dia, Di. Dia terlalu berharga buat dimodusin."

​Hadi terdiam, kehabisan kata-kata. Ia menatap sahabatnya dengan pandangan campur aduk. Antara ingin menonjok saking gemasnya, atau memeluk saking bangganya.

​Malam harinya, waktu menunjukkan pukul 02.45 WIB.

​Dunia sedang lelap dalam selimut mimpi. Suara jangkrik terdengar nyaring di luar jendela kamar kos Fatih yang berukuran 3x3 meter. Kamar itu sempit, penuh dengan tumpukan buku dan kertas desain, tapi bersih dan wangi.

​Alarm di ponsel jadul Fatih berbunyi pelan. Getarannya cukup untuk membangunkannya.

​Mata Fatih terbuka. Berat. Tubuhnya lelah setelah seharian kuliah dan mengerjakan revisi desain sampai jam 11 malam. Setan di telinganya berbisik, tidurlah lagi, Fatih. Kamu capek. Besok kuliah pagi. Tuhan maha memaklumi.

​Fatih menarik napas panjang, lalu membuang selimutnya kasar. Tidak.

​Jika Erlangga bisa bangun pagi buta untuk jogging demi menjaga kebugaran fisiknya, masa Fatih tidak bisa bangun untuk menjaga kesehatan jiwanya? Jika Erlangga rela begadang demi meeting bisnis, masa Fatih tidak rela bangun untuk meeting dengan Pemilik Rezeki?

​Fatih bangkit, melangkah gontai ke kamar mandi luar. Air wudhu di jam segini rasanya seperti es. Tapi justru dingin itulah yang menyalakan kesadarannya.

​Kembali ke kamar, Fatih menggelar sajadah. Ia memakai sarung terbaiknya, baju koko putih yang sudah disetrika rapi, dan menyemprotkan sedikit minyak wangi non-alkohol. Ia bersiap-siap seolah akan kencan.

​Dan memang, ini adalah kencan. Kencan paling romantis antara seorang hamba dan Tuhannya.

​Allahu Akbar.

​Dalam keheningan malam, Fatih membaca Al-Fatihah. Suaranya lirih, bergetar menahan tangis yang selalu mendesak keluar setiap kali ia berdiri di jam-jam ini.

​Rakaat demi rakaat berlalu. Punggung yang seharian membungkuk di depan laptop, kini membungkuk di hadapan Sang Pencipta. Kening yang seharian berkerut memikirkan masa depan, kini menempel pasrah di atas sajadah.

​Saat salam terakhir diucapkan, pertahanan Fatih runtuh.

​Ia mengangkat kedua tangannya. Bukan sejajar dada, tapi tinggi, seolah mengemis, seolah ia adalah anak kecil yang meminta gendong pada ayahnya.

​"Ya Allah..." bisiknya, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang tuntas.

​"Engkau tahu isi hatiku sebelum aku mengucapkannya. Engkau tahu nama siapa yang bergaung di dadaku setiap detik. Zalina... Hamba mencintainya, Ya Allah. Hamba mencintainya dengan cara yang hamba takutkan akan melukai iman hamba."

​Fatih terisak pelan.

​"Hamba melihat dia didekati oleh orang yang punya segalanya. Hamba melihat dia dijemput dengan kemewahan yang belum mampu hamba berikan. Hamba insecure, Ya Allah. Hamba cemburu. Hamba takut."

​"Tapi Hamba tahu, Engkau adalah sebaik-baiknya perancang skenario. Jika Zalina adalah takdir hamba, maka jagalah dia. Jagalah hatinya agar tidak silau oleh harta dunia. Mudahkanlah jalan hamba untuk memantaskan diri menjadi imamnya. Bukakan pintu rezeki hamba, bukan agar hamba kaya raya, tapi agar hamba cukup untuk memuliakannya."

​Suasana kamar kos itu terasa sakral. Tidak ada saksi mata selain malaikat yang mencatat.

​"Namun..." suara Fatih tercekat, ini adalah bagian doa yang paling sulit. Bagian di mana ia harus belajar ikhlas.

​"...Jika dia bukan tertulis untuk hamba di Lauhul Mahfudz-Mu, jika bersamanya hanya akan menjauhkan hamba dari-Mu, maka... maka cabutlah rasa ini sekarang juga, Ya Allah. Gantikan rasa sakit kehilangan ini dengan ketenangan. Dan berikan dia lelaki yang jauh lebih baik, lebih saleh, dan lebih mencintainya daripada hamba."

​Fatih menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan semua beban kemiskinan, beban harga diri, dan beban cinta yang tertahan.

​Di saat yang bersamaan, di belahan kota yang lain, Zalina terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar kencang tanpa alasan. Ia duduk di tepi ranjangnya yang empuk, memegangi dadanya.

​"Kenapa rasanya sedih banget?" gumam Zalina bingung. Ia menatap ke luar jendela kamarnya yang besar. Bulan bersinar terang.

​Zalina tidak tahu, bahwa namanya baru saja disebut dengan sangat kencang di langit, mengguncang pintu-pintu rahmat, dikirimkan oleh seseorang yang bahkan tidak berani menatap matanya di dunia.

​Perang Jalur Langit baru saja dimulai. Dan Fatih baru saja melepaskan senjata terkuatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!