NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebelas

"Selamat alia, selamat yah" ucapan selamat dari teman-teman kerja alia terdengar bergemuruh, fandi dan sania yang namanya juga di rekomendasikan menjadi manager, terlihat tulus menyalami alia.

Tetapi seseorang di belakang berdiri dengan senyum palsu di wajahnya, clara memandang iri ke arah alia, mata dan tepuk tangannya terlihat setengah hati. Rasa iri hati yang timbul di hati, dengan susah payah di pendamnya.

Alia tersenyum dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya.

Bu wirda yang berdiri tidak jauh dari mereka menatap dengan senyuman lembut, senyuman yang sangat jarang terlihat dari wajahnya. Hatinya puas karena alia yang terpilih menggantikan posisi manager yang ia emban selama ini.

Alia, menurutnya adalah gadis yang memiliki etos kerja yang bagus, disiplin yang tinggi serta kemampuan yang memang di atas teman-temannya, oleh karena itu ia sangat berharap alia bisa menggantikan dirinya, dan tetap bisa bekerja sama dengannya.

"Baiklah..." seru bu wirda bertepuk tangan keras, berusaha untuk menarik perhatian para pegawainya yang memang terdiam dan menatap bu wirda.

"Bekerjalah seperti biasa, jangan terlalu euforia, hari ini saya masih manager kalian, mari kita bekerja seperti biasa" perintah bu wirda yang terdengar dingin namun tegas, para pegawai beranjak menuju ke tempat duduk masing-masing dengan patuh.

Hari kelima sejak alia menjabat menjadi manager di timnya, mungkin karena ia sudah terbiasa bekerja dengan bu wirda, alia tidak menemukan kendala yang begitu berat, apalagi dengan bantuan fandi yang ia dapuk sebagai wakilnya, pekerjaan alia sebagai seorang manager ternyata tak seberat yang ia duga.

 Teman-teman setimnya bekerja cukup solid dan kompak, yah walau ada seseorang yang sedikit berubah kepadanya setelah ia resmi menjadi manager. Clara, gadis itu terlihat menunjukkan ketidaksukaannya kepada alia secara terus terang.

 Wajahnya yang selalu sinis melihat dan menerima perintah dari alia, sungguh ia tidak terkejut, karena memang selama ini clara dengan jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada alia, namun sejak ia menjadi manager rasa benci clara kepadanya terlihat sangat jelas.

Alia tidak tahu alasannya, tapi beberapa teman satu tim mengatakan kalau clara merasa tersaingi dengan kehadiran alia, dalam hal apa, alia juga tidak tahu, dan juga tidak mau tahu.

"Alia, apakah laporan yang saya minta kamu kerjakan sudah kamu kerjakan?" Tiba-tiba bu wirda bertanya kepada alia yang terlihat sedang serius membaca dokumen. Kepalanya mendongak, menatap bu wirda yang berdiri di hadapannya.

"Sudah bu, filenya barusan saya share ke ibu sebelum saya share ke pak bara," bu wirda terlihat mengangguk puas, tanpa mengucapkan apapun direkturnya itu berbalik dan melangkah menuju ke ruangannya.

"alia..." panggil sania yang barusan keluar dari ruangan direktur utama, sebelah tangannya memegang dokumen yang filenya sudah alia kirimkan tadi.

" pak bara, ingin bicara padamu, katanya file ini masih perlu di revisi, kamu kesana gih, tadi beliau menjelaskan, namun aku kurang paham" ucapnya sembari meringis malu, menyerahkan dokumen dalam map merah itu.

Alia beranjak dari duduknya, tangannya meraih map dari tangan sania yang masih terlihat cengengesan, tangan alia mengetuk pintu ruangan direktur utama.

"Masuk"

Sebuah perintah pendek namun tegas terdengar dari dalam ruangan, Alia berjalan dengan tenang dan berdiri tepat di depan meja bara yang terlihat masih berbicara dengan seseorang. Benda pipih berwarna hitam itu terlihat menempel di telinganya,

"aku sudah hampir sebulan di sini, kamu yang mau belajar, tapi sampai sekarang belum nongol, kamu datang besok, atau aku akan katakan ke papa nama kamu di coret dari daftar waris", ujar bara tegas mengakhiri panggilannya, terlihat wajahnya menahan amarah.

"Duduk"

Perintahnya meminta alia yang masih berdiri untuk duduk.

"Saya minta dokumen itu coba kamu revisi, sudah bagus sih, tapi menurut saya masih perlu sedikit peninjauan dan kata-kata yang lebih lugas".

"Baik pak.." angguk alia cepat, matanya mengamati dan meneliti file yang ada di tangannya.

"Apakah besok kamu belanja?" Tanya bara tiba-tiba,

"Maaf pak?" Tanya alia heran, keningnya berkerut.

Pertanyaan bara yang tiba-tiba keluar dari topik pembicaraan membuat alia menatap kebingungan.

Bara mengalihkan tatapannya ke arah alia yang terlihat bingung, senyum tipis terlihat di bibirnya.

"Saya besok belanja, barangkali kamu akan belanja, kita bisa pergi bersama" katanya menawarkan ajakan  yang semakin membuat alia kebingungan.

"Bapak butuh pertolongan saya kah?," tanya alia, ia merasa bara membutuhkan pertolongannya untuk belanja barang-barang harian. Namun sedikit mengherankan menurut alia, bukankah bosnya ini memiliki asisten yang bisa saja di perintahnya untuk hal tersebut.

"Tidak.." jawab bara singkat menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya tidak ingin kelihatan sendirian besok ketika belanja"

Alia masih merasa heran, bukankah di kantor ini banyak pegawai lain yang bisa diajaknya, kenapa harus dengan dirinya. Ia juga merasa mereka tidak sedekat itu sampai harus janjian untuk belanja bersama, mata bulat alia masih menatap heran bara yang masih saja tetap tersenyum.

"Saya ingin lebih mengenal kamu, alia"

Ucapan singkat bara yang tiba-tiba itu, membuat alia terperangah, ada tanya di matanya, rasa herannya berubah menjadi penasaran, apakah bosnya ini sedang mabuk, mengapa begitu tiba-tiba.

"Apa maksud bapak?"

Tak urung pertanyaan itu keluar dari mulut alia yang sudah tak tahan akan penasarannya.

"Maaf kalau ini terasa tiba-tiba, saya orang yang tidak pandai berbasa-basi, saya tertarik padamu alia"

Mulut alia terperangah kaget, matanya membelalak menatap bara tak percaya.

"Mungkin kamu heran dan bertanya-tanya sejak kapan, kalau kamu ijinkan saya lebih mengenalmu, saya akan beri tahu sejak kapan saya tertarik ke kamu" jelas bara dengan tenang.

Alia yang masih tidak percaya itu, terdiam. Sungguh ia tidak tahu harus menjawab apa, dan harus bagaimana, saat ini alia masih syok mendengar ucapan bara yang sangat tiba-tiba itu.

"Saya sebenarnya ingin membuatnya lebih natural, tapi waktu saya di bandung tidak lama lagi, jadi maafkan saya kalau saya menyampaikannya sekarang, dan membuat kamu terkejut, maukah kamu bertemu dengan saya besok?" Tanya bara dengan tatapan penuh harap, alia memalingkan wajahnya, jengah oleh tatapan bara.

"Maaf pak.., saya tidak tahu mau jawab apa, terus terang saya kaget dan syok saat ini pak" jawab alia lirih, suaranya terdengar parau.

"Saya tidak tahu apa yang membuat bapak bisa tiba-tiba begini, terus terang saya sangat terkejut pak"

"Maaf alia" pinta bara terdengar lirih,

"Saya tahu pengakuan saya ini tiba-tiba sekali, tapi rasa tertarik saya pada kamu bukan tiba-tiba, kalau kamu masih terkejut dan syok karena ini, saya minta maaf, saya sebenarnya ingin mengenalmu secara perlahan dan natural, tapi waktu tidak mengijinkannya"

Alia masih terdiam, terus terang ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, alia hanya menatap bara.

"Saya tidak memaksa kamu, untuk menerima perasaan saya saat ini juga, pikirkanlah baik-baik, saya akan menunggu jawaban kamu".

Alia keluar dari ruangan bara dengan langkah gontai, map merah yang berada dalam genggamannya terkulai. Benaknya masih dipenuhi keheranan yang teramat sangat mendengar pengakuan biru tadi, mereka tidak pernah bicara hal pribadi sebelum-sebelumnya, di luar kantor mereka hanya pernah bertemu sekali ketika alia belanja bulanan dengan luka, bulan lalu.

Itupun alia merasa mereka tidak terlibat pembicaraan yang terlihat intim, lalu mengapa bara seperti orang mabuk yang kehilangan kewarasannya, tiba-tiba mengatakan tertarik padanya.

Rasa penasaran itu, masih alia bawa sampai pulang ke rumah, celotehan luka pun tak mampu menghilangkan kebingungan alia.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!