“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
"Kak Aya! Kak Aya tahu tidak? Semalam Lio mimpi indah sekali!" seru Elio menyambut Cahaya yang baru saja keluar dari kamar tamu dengan langkah yang masih sedikit kaku.
Bocah itu langsung berlari memeluk kaki Cahaya, wajahnya berseri-seri seperti baru saja mendapatkan hadiah kesukaannya.
Cahaya berlutut perlahan lalu mengacak rambut Elio dengan sayang. "Wah, mimpi apa pahlawan super? Bertemu robot raksasa?"
Elio menggeleng. "Bukan! Lio. mimpi daddy masuk ke kamar Lio. Daddy selimuti Lio, terus daddy berdiri lama sekali di samping tempat tidur. Rasanya nyata sekali, Kak Seperti ada bau parfum daddy yang wangi."
Cahaya tertegun. Ia teringat kejadian semalam saat Jeremy membantunya mengoleskan balsem. Sorot mata Jeremy saat itu memang sudah berbeda, tidak setajam biasanya.
Cahaya tersenyum penuh arti, lalu berbisik di telinga Elio. "Lio, tahu tidak? Kadang-kadang mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Bisa jadi, daddy memang benar-benar masuk dan melihat Lio semalam. Daddy kan sayang Lio, cuma dia sering lupa cara menunjukkannya saja."
Mendengar itu, mata Elio berbinar bahagia. "Benarkah? Jadi daddy tidak benci Lio lagi?"
"Bisa jadi. Siapa tahu hatinya sudah mencair setelah kena omelan Kak Aya kemarin." Cahaya terkekeh sambil mengedipkan mata. "Ayo kita buktikan. Kita turun ke bawah, siapa tahu hari ini ada kejutan lagi."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan. Namun, langkah mereka serentak terhenti di ambang pintu. Rahang Cahaya hampir jatuh ke lantai, sementara Elio mengucek matanya berkali-kali seolah sedang melihat hantu di siang bolong.
Di depan mereka, pria yang biasanya duduk angkuh menunggu dilayani sedang sibuk menata piring. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, tampak sangat telaten meletakkan mangkuk-mangkuk berisi makanan mewah.
"Kak, apa itu daddy, kan? Bukan robot yang mirip Daddy kan?" bisik Elio sangsi.
"Kak Aya juga sedang memastikan, Lio. Coba kita cek " Cahaya melangkah maju dengan wajah penuh selidik. "Om? Ini benar Om Jeremy atau kembaran Om yang tertukar di pasar?"
Jeremy menoleh, wajahnya sempat menegang sebentar karena malu, namun ia segera memasang ekspresi datar andalannya.
"Jangan mulai. Cepat duduk dan makan. Aku tidak punya banyak waktu," ucap Jeremy dingin.
Cahaya menarik kursi untuk Elio, lalu duduk di sampingnya sambil tetap menatap Jeremy tidak percaya. Di atas meja tersaji berbagai menu sarapan mewah, omelette truffle, roti pastry khas Italia, buah-buahan segar, hingga bubur ayam yang aromanya sangat menggoda.
"Wah, Om masak semua ini? Sejak kapan monster bisa pegang spatula tanpa membuat dapur meledak?" ejek Cahaya sambil menusuk sepotong sosis.
"Tentu saja aku yang menyiapkannya," ucap Jeremy dengan bangga.
Tiba-tiba Martha muncul dari arah dapur sambil menyembunyikan tawa di balik telapak tangannya.
"Aduh Non Cahaya, jangan memuji tuan terlalu tinggi. Tuan memang yang menyiapkan piring-piringnya, tapi semua makanan ini dipesan dari restoran bintang lima sejak jam enam pagi tadi. Tuan bilang dia tidak mau ambil risiko meracuni kalian karena dia tidak bisa memasak sama sekali," sahut Martha.
"Martha!" tegur Jeremy cepat, merasa harga dirinya jatuh di depan Cahaya.
Cahaya tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.
"Hahaha! Ya ampun, Om! Saya kira Om mendadak jadi koki hebat. Ternyata cuma hebat pakai aplikasi pesan antar ya? Tapi oke jugalah, setidaknya niatnya ada."
"Diam dan makan saja, Nona Cerewet! Kalau tidak mau, biar aku buang ke tempat sampah," gertak Jeremy kesal, meski ia tetap mengambilkan sepotong roti untuk diletakkan di piring Elio.
Elio menatap rotinya dengan haru. "Terima kasih, Daddy."
Jeremy hanya bergumam pendek, namun tangannya sempat mengusap puncak kepala Elio sangat cepat sebelum ia kembali sibuk dengan kopinya. Gerakan itu tidak luput dari pandangan Cahaya. Ia tersenyum tipis. Ternyata benar, tembok es itu mulai retak.
"Kenapa senyum-senyum begitu? Menyeramkan sekali," ketus Jeremy yang menyadari tatapan Cahaya.
"Habisnya Om lucu. Marah-marah tapi pesan makanan satu meja. Bilang saja kalau Om mau minta maaf soal kejadian kemarin, tapi malu kan?" Cahaya mengedipkan mata dengan jahil.
"Siapa yang ingin minta maaf? Aku hanya lapar!" kilah Jeremy cepat. "Dan setelah ini, aku akan mengantarmu ke kampus. Kau tidak boleh naik bus dengan kondisi pinggang seperti itu. Aku tidak mau dituduh melakukan kekerasan pada pengasuh anakku."
Cahaya melongo. "Om mau antar saya? Pakai mobil mewah Om itu? Nanti dikira saya simpanan om-om kaya, dong!"
"Cahaya!" Jeremy mendesis geram. "Berhenti bicara atau aku benar-benar akan menjatuhkan mu lagi!"
"Ciee, Daddy perhatian sama Mommy!" celetuk Elio tiba-tiba yang membuat suasana meja makan mendadak hening.
Jeremy tersedak kopinya, sementara Cahaya mendadak sibuk mengunyah roti dengan wajah merah padam. Sang monster Milan tidak bisa membalas kata-kata anaknya, ia hanya bisa menunduk menyembunyikan senyum tipis yang tak sengaja terukir di bibirnya.
*
*
"Pakai sabuk pengamanmu," ucap Jeremy saat Cahaya baru saja duduk di sampingnya setelah melambaikan tangan pada Elio.
"Sabar, Om! Pinggang saya masih kaku, susah ditarik," balas Cahaya sambil meringis, tangannya berjuang menarik sabuk yang terasa keras.
Jeremy berdecak kesal, "Lambat sekali." Ia mencondongkan tubuhnya, membuat aroma parfum maskulinnya seketika mengepung indra penciuman Cahaya dengan jarak mereka hanya terpaut beberapa inci.
Tepat saat Jeremy menarik sabuk itu, ponsel Cahaya di atas pangkuannya menyala. Sebuah notifikasi pesan pun masuk.
[Alvino: Sayang, aku tunggu di depan fakultas ya? Aku ingin memberimu sesuatu]
Mata tajam Jeremy menangkap kata sayang itu dengan jelas. Ia membeku sejenak, sementara tangannya masih memegang sabuk pengaman di samping bahu Cahaya.
"Siapa Alvino?" tanya Jeremy dengan nada yang mendadak lebih dingin dari es di kutub utara.
Cahaya tersentak lalu mencoba menutupi layar ponselnya. "Ih, kepo banget nih om-om! Itu urusan saya!"
"Tugasmu mengurus anakku, bukan sibuk pacaran saat jam kerja," ucap Jeremy. Tiba-tiba, ada rasa panas yang aneh menjalar di dadanya.
"Ini belum masuk jam kerja, Om Sombong! Lagipula, memangnya tidak boleh ada yang memanggil saya sayang? Memangnya saya kanebo kering seperti Om?"
Jeremy menyentakkan sabuk pengaman itu hingga terkunci keras.
"Terserah!" Jeremy menginjak gas dengan kasar.
Entah kenapa Jeremy menjadi sangat kesal dan benci mengakui bahwa ia peduli pada pria bernama Alvino itu.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭