NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

“Oh?” Kael akhirnya bersuara. Ia menurunkan lengannya dari sandaran kursi, tubuhnya sedikit condong ke depan, jelas mulai tertarik. “Jelaskan lebih lanjut.”

Melihat Kael mulai ikut terlibat, Mirea hanya menatap malas. Ia menghembuskan napas pelan.

Kenapa dia selalu ada di mana-mana sih? batinnya kesal.

“Aku rasa kalian semua tahu tentang geng pembunuh nomor satu,” ujar Boris mulai dengan nada menyombongkan diri. Dagu terangkat sedikit, seolah bangga.

“Yang hancur dalam semalam,” tambahnya.

Farel mengangguk pelan. “Berita itu sudah tersebar di seluruh kota Qhiangsan. Geng sebesar itu, lenyap dalam satu malam. Nggak ada satu pun yang keluar hidup-hidup. Semua orang menebak-nebak siapa pelakunya.”

Mirea yang sedari tadi diam, mengambil gelas berisi air putih di atas meja. Tangannya tenang, wajahnya santai.

Itu perbuatanku sehari sebelum aku bertemu keluargaku, batinnya datar, lalu ia meneguk airnya.

Boris menepuk dadanya sendiri dengan penuh percaya diri.

“Aku yang melakukannya.”

Sontak—

“Khek!”

Mirea langsung tersedak. Air di mulutnya hampir menyembur keluar. Ia buru-buru menutup mulut, batuk kecil beberapa kali, wajahnya memerah karena kaget.

Semua mata langsung tertuju padanya.

“Dik Mire?” Noel refleks menoleh.

Mirea cepat mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, mengelap sudut bibir dengan canggung.

“M-maaf…” ujarnya pelan. “Aku cuma… kaget.”

Ia lalu mengangkat wajah, menatap Boris dengan ekspresi polos tapi penuh kagum.

“Aku cuma nggak nyangka Pak Boris sehebat itu,” katanya lembut.

“Katanya geng itu markasnya dijaga ketat, kan? Tapi Bapak bisa masuk sendirian dan keluar tanpa luka sedikit pun…”

Nada suaranya terdengar tulus, seolah benar-benar terkesan.

Padahal di dalam hatinya, Mirea hanya menahan senyum tipis.

Berani juga kamu ngaku-ngaku.

“Aaah, aku nggak mau cuma jadi orang kaya yang biasa-biasa saja,” ujar Boris dengan nada angkuh. Ia menepuk dadanya sendiri, seolah bangga pada pencapaiannya. “Jadi aku kembangkan sedikit kekuatan di bawah tanah. Dunia ini nggak cuma soal uang, tapi soal siapa yang ditakuti.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, penuh rasa puas.

Kael yang sejak tadi hanya diam, sedikit menggeser posisi duduknya. Ia menyandarkan punggung lebih dalam ke sofa, satu kakinya menyilang santai, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi tatapan matanya berubah lebih tajam.

Bukan kagum. Lebih seperti… mengukur.

“Dik Mire,” Boris menoleh ke arah Mirea, nadanya kini berubah sok heroik. “Cowok berambut pirang itu yang menindasmu, kan?”

Mirea mengangkat wajahnya perlahan. Mata bulatnya tampak ragu, seperti sedang menimbang apakah ia harus menjawab atau tidak.

“Iya…” jawabnya lirih.

“Aku akan wakili kamu,” kata Boris mantap, suaranya terdengar seperti janji. “Hari ini juga aku kasih pelajaran buat dia. Di tempatku, nggak ada yang boleh sentuh orangku.”

Kata orangku itu membuat Farel sedikit mengangkat alis. Noel refleks menegang.

Mirea hanya menunduk, mengangguk kecil, terlihat seolah tersentuh. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya datar. Mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi untuk memberi pelajaran pada Deza.

Harusnya Fang sudah mengurusnya dengan baik, batin Mirea tenang, hampir bosan. Tapi tetaplah sana, aku Tidak bisa lama-lama di sini, jika Boris benar-benar membawa Deza ke sini. Maka reaksi Deza pasti akan membuat mereka curiga. Pikir Mirea

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangan ke perutnya, napasnya sedikit berubah.

“Kak Noel…” panggilnya pelan. “Perutku tiba-tiba nggak enak…”

Noel langsung menoleh cepat. “Hah? Kamu kenapa?”

Mirea menggeleng kecil. “Aku pusing… dan agak mual.”

“Apa kita pulang saja?” pintanya lembut, suaranya nyaris seperti anak kecil yang merengek.

Noel tak berpikir panjang. Wajahnya langsung berubah khawatir. “Iya, iya. Kalau kamu nggak enak badan, kita pulang sekarang.”

Ia langsung berdiri, menghampiri Mirea, satu tangannya refleks memegang bahu adiknya, memastikan gadis itu tidak oleng.

Mirea ikut berdiri, berdiri sedikit di belakang Noel, seperti berlindung.

Namun baru dua langkah mereka bergerak—

“Nona Mirea.”

Suara Kael memanggil, tenang, rendah, tapi cukup jelas untuk menghentikan ruangan.

Mirea berhenti.

Kael masih duduk, tapi kini tubuhnya sedikit condong ke depan, satu siku bertumpu di lutut. Tatapannya lurus menembus ke arah Mirea, seolah mencoba menembus lapisan kepolosan yang ia pakai.

“Kenapa buru-buru?” tanya Kael ringan, senyumnya tipis, hampir ramah. “Bukankah hal seru baru saja di mulai?”

Nada bicaranya santai, tapi ada sesuatu di baliknya seperti orang yang sedang mengetes mangsa.

“Jangan-jangan…” lanjutnya, matanya sedikit menyipit, “…kamu sedang menyembunyikan sesuatu?”

Udara di ruangan itu terasa berubah.

Farel menahan napas. Boris langsung kaku. Noel refleks memegang lengan Mirea lebih erat.

Mirea menoleh perlahan ke arah Kael. Wajahnya terlihat polos, bahkan sedikit bingung.

“Apa yang bisa aku sembunyikan?” tanyanya lembut, nyaris terdengar tulus. “Aku cuma gadis lemah.”

Ia lalu berbalik ke arah Noel, menggenggam lengan kakaknya dengan kedua tangan.

“Aku cuma nggak mau ketemu orang yang menyakitiku dan kakakku lagi,” ujarnya pelan. Suaranya bergetar tipis, matanya tampak berkaca-kaca.

Noel langsung bereaksi. Ia menarik Mirea sedikit lebih dekat, tubuhnya otomatis menjadi pelindung.

“Sudahlah, Tuan Kael,” ucap Noel dingin. “Adikku nggak enak badan. Kita pulang.”

Mirea menunduk, suaranya makin kecil.

“Aku takut, Kak…”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Noel sepenuhnya berpihak.

Kael justru tersenyum menikmati situasi, seolah sedang menonton sandiwara yang menarik.

“Kak Noel, ayo kita pulang,” ajak Mirea lagi pelan. Ia menarik lengan kakaknya, jelas ingin segera keluar dari ruangan itu.

Noel mengangguk, lalu menepuk punggung Mirea dengan lembut. “Iya, kita pulang sekarang.”

Keduanya baru saja berbalik badan, melangkah ke arah pintu keluar ruangan VIP itu—

Bruk!

Pintu di belakang mereka tiba-tiba terbuka dengan cukup keras.

Dua orang pria berbadan besar masuk sambil menyeret seseorang di tengah-tengah mereka. Langkah mereka berat, kasar, seolah sama sekali tidak peduli dengan kondisi orang yang dibawa.

Semua orang di ruangan itu refleks menoleh.

Boris yang tadi masih sok santai langsung berdiri dari sofa.

Farel terbelalak.

Kael menyipitkan mata.

Pria yang diseret itu akhirnya didorong hingga jatuh berlutut tepat di depan Mirea dan Noel.

“Ini dia orangnya, Bos,” ujar salah satu anak buah Boris singkat.

Noel refleks menarik Mirea sedikit ke belakang.

Mirea… hanya diam membeku.

Rambut pirang.

Wajah yang masih lebam karena ketakutan.

Tatapan mata yang langsung berubah panik.

Deza Yugala.

Deza yang sejak tadi masih bingung, akhirnya mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Mirea di hadapannya, seluruh ekspresi di wajahnya langsung runtuh.

Tubuhnya gemetar hebat. Ia refleks mengesot mundur di lantai, seolah ingin menjauh dari Mirea, padahal kedua anak buah Boris masih berdiri tepat di belakangnya, menghalangi jalan kabur.

Mirea menatapnya tanpa ekspresi. Wajahnya masih sama seperti tadi lembut, polos, rapuh di mata orang lain. Tapi bagi Deza, tatapan itu justru terasa jauh lebih menakutkan daripada ancaman apa pun tentu saja Mirea memang tak berniat diam begitu saja, ia sudah bersiap perlahan membuka resleting tas kecil, jarinya masuk ke dalam tas, mengambil sebuah pisau kecil dari sana, bersiap jikalau Deza berani membongkar identitasnya di sana.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!