Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 28
"Belum pernah, memangnya kenapa?"
"Abisan dia ngeliatin kamu terus, aku pikir dia itu pasti mantan kamu yang lainnya."
"Bukan, mantan aku cuma Fajar aja."
Arkan merasa kalau Mutiara sedang berbohong, karena dia masih ingat cara menatap Abidzar terhadap istrinya itu. Pria itu diam, di dalam mobil keheningan terasa begitu menyiksa untuk Mutiara.
Dia hanya bisa mendengar suara napas Arkan yang menderu rendah, lebih terdengar seperti ancaman. Dia sadar suaminya sedang cemburu, tapi dia merasa tak salah.
Arkan mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, sementara matanya lurus menatap aspal, mengabaikan pemandangan kota yang melesat di balik kaca.
Tanpa sadar Arkan melajukan mobilnya dengan sangat cepat, Mutiara takut sekali. Cepat-cepat dia menegur suaminya itu.
"Sayang."
Suara Mutiara memecah kesunyian, suaranya terdengar sangat lembut dan hati-hati.
"Kamu menyetir terlalu kencang."
Arkan tidak menjawab. Ia justru menginjak pedal gas lebih dalam saat lampu kuning menyala, melesat melewati persimpangan dengan raungan mesin yang kasar.
"Sayang, aku takut." Mutiara menyentuh lengan suaminya. "Kamu marah sama aku?"
Arkan mendengus, tawa sinis lolos dari bibirnya.
"Marah padamu? Tidak. Aku marah pada diriku sendiri karena membiarkan bocah ingusan itu menatap wajah istriku dengan matanya selama dua jam penuh."
"Dia hanya menatap, Sayang. Aku bahkan tidak membalasnya."
"Justru itu masalahnya, pasti karena kalian punya kenangan!"
Arkan mengerem mendadak saat lampu merah menyala, membuat tubuh mereka terdorong ke depan. Ia menoleh, matanya berkilat tajam.
"Dia tidak menatapmu terus, Mutiara. Aku cemburu, aku kesal."
Mutiara merasa kalau suaminya terlalu berlebihan, mungkin karena pria itu mulai mencintai dirinya dengan dalam. Mutiara berusaha untuk menenangkan pria itu dengan kata-kata manisnya.
"Sayang, dia bilang aku terlihat familiar. Mungkin aku mirip seseorang yang dia kenal. Itu saja."
"Aku rasa itu hanya alasan untuk dia bisa mendekati kamu," ujar Arkan.
Mutiara terdiam, jemarinya saling bertautan di pangkuan. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Abidzar terhadap dirinya, pria itu mengatakan kalau dirinya sangatlah familiar.
Lalu, dia teringat akan dirinya yang bukanlah merupakan cucu kandung dari nenek Mia. Walaupun rasanya tidak mungkin kalau dia merupakan keturunan orang kaya, tetapi setidaknya mungkin saja Abidzar mengenal kedua orang tuanya.
Bisa saja kedua orang tuanya itu merupakan pembantu di rumah Abidzar, atau seperti apa pun itu.
"Jujur saja, Yang. Saat dia menatapku, aku merasa aneh. Bukan takut, tapi ada sesuatu yang berdesir di dadaku. Seolah ada benang yang ditarik."
Arkan kembali menyandarkan punggungnya, sorot matanya melembut tetapi tetap penuh selidik.
"Benang apa?"
"Entahlah. Seperti melihat pantulan diriku yang lain." Mutiara menatap keluar jendela, bayangannya di kaca mobil tampak buram. "Apa kamu pikir, ini ada hubungannya dengan masa laluku yang tidak pernah kita ketahui?"
"Maksudnya?" tanya Arkan yang masih bingung.
"Kamu masih ingat kan' ketika nenek Mia berkata kalau aku bukan cucu kandungnya?"
"Ya, tentu saja aku masih ingat. Terus kenapa?"
"Mungkin kamu juga masih ingat kan' ketika tuan Abidzar berkata kalau wajah aku terlihat begitu familiar?"
"Iya, aku masih ingat. Terus maksudnya apa? Masalahnya di mana?"
"Mungkin tuan Abidzar tahu siapa kedua orang tua kandungku," jawab Mutiara.
Arkan terdiam, apa yang dikatakan oleh istrinya sangatlah masuk akal. Dia merasa bersalah karena sudah cemburu terhadap wanita itu, dia cepat-cepat memeluk istrinya.
"Maaf, aku terlalu cemburu. Aku terlalu takut kalau kamu direbut oleh pria muda, karena kamu tahu sendiri kalau aku sudah berumur."
"Aku sudah bilang berkali-kali, kalau aku tidak akan pernah melirik pria manapun selain kamu. Aku sudah memilih kamu, itu artinya kamu satu-satunya di dalam hidupku."
Arkan tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia bahkan mengeratkan pelukannya dan mengecup kening istrinya dengan begitu mesra.
"Nanti kita akan cari tahu kebenarannya, siapa tahu tuan Abidzar itu memang mengetahui kedua orang tua kamu dan kamu bisa kembali bertemu dengan mereka."
"Ya," ujar Mutiara lega karena suaminya akhirnya tidak marah lagi.
Di lain tempat.
Abidzar tidak kembali ke ruangannya. Ia malah memutuskan untuk pulang, dia memacu mobilnya menuju kediaman utama Pramudya dengan begitu cepat.
Ketika dia tiba di kediaman Pramudya, Ia langsung masuk ke kamar ayahnya tanpa mengetuk pintu.
"Ayah," panggil Abidzar napasnya terdengar memburu.
Pria tua yang sedang duduk di atas meja sambil bermain ponsel itu mendongak, dia merasa kaget dengan kehadiran putranya yang sangat tiba-tiba itu.
"Abidzar? Ada apa? Apa ada masalah dengan pertemuannya?"
Abidzar berjalan mendekat, dia duduk tepat di samping ayahnya. Dia tatap mata ayahnya dengan lekat, tatapan matanya terlihat menuntut jawaban.
"Jujur padaku, Yah. Apa Ayah pernah mengkhianati Bunda? Apa Ayah pernah memiliki simpanan atau anak lain di luar sana?"
Wajah Anjar yang tadinya tenang berubah menjadi kesal, karena pertanyaan anaknya itu benar-benar di luar prediksinya.
Dia adalah pria yang setia, tidak pernah bermain dengan wanita manapun. Hanya istrinya yang selalu dia cinta, mana mungkin dia memiliki anak di luar sana. Anak selain dari istrinya.
"Apa maksud kamu berbicara lancang seperti itu?"
"Aku baru saja bertemu seorang wanita," ujar Abidzar dengan suara yang bergetar. "Dan demi Tuhan, Ayah. Jika Ayah memakai wig dan riasan, wajah kalian tidak akan bisa dibedakan. Siapa dia sebenarnya?"
"Hah? Wanita? Wanita mana? Siapa dia?"
"Istrinya klien kita, Tuan Arkan. Dia begitu mirip dengan Ayah," jawab Abidzar.
Wajah Anjar yang tadinya terlihat marah berubah ceria, dia bahkan langsung berlari menuju dapur di mana istrinya sedang membuat kue. Abidzar tentunya langsung mengikuti langkah dari ayahnya tersebut.
"Sayang, Abidzar katanya melihat ada perempuan yang mirip banget sama Ayah. Apa mungkin itu anak kita yang hilang?!" teriak Anjar.
"Hah? Di mana wanita itu? Berapa usianya?" tanya Cia dengan antusias.
Abidzar kebingungan, karena kedua orang tuanya terlihat begitu senang ketika mendengar ada wanita muda yang wajahnya mirip dengan ayahnya.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Abidzar sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.