Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Hilang Harapan
Sudah empat hari sejak kejadian di taman hiburan. Empat hari di mana Asha mengurung diri di kamar dengan alasan sakit.
Ia tidak masuk sekolah. Ia tidak menjawab telepon atau pesan dari siapapun. Ia hanya ingin sendirian.
Ibunya yang melihat kondisi Asha hanya bisa menggelengkan kepala dengan kecewa, tapi tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Asha berbaring di kasurnya dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit. Ia sudah tidak menangis lagi. Ia bahkan sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Yang tersisa hanya rasa hampa yang begitu dalam.
🌷🌷🌷🌷
Rabu sore, hp Asha tiba-tiba berdering. Ia melirik layar dengan malas.
Nama 'Arsa' tertera di sana.
Asha terdiam sejenak. Sebagian dirinya ingin mengangkat, tapi sebagian lagi ingin mengabaikan.
Tapi setelah berdering berkali-kali, akhirnya Asha mengangkat telepon itu.
"Halo?" ucap Asha dengan suara yang serak.
"Asha! Akhirnya lo angkat juga. Gw dari kemarin nyoba nelpon lo terus" ucap Arsa dengan nada lega.
Asha terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Asha... Lo masih sakit ya? Lo udah ke dokter belum?" tanya Arsa dengan nada khawatir.
"Belum" jawab Asha singkat.
"Asha, dengerin. Kemarin gw dapet panggilan dari rumah sakit. Kata mereka, gw harus kontrol lagi sama dokter yang dulu nangani kasus gw. Mereka mau ngecek perkembangan ingatan gw" jelas Arsa.
Asha merasakan dadanya sesak mendengar penjelasan Arsa. "Oh..."
"Jadi... Gw mikir, lo bisa nemenin gw gak? Gw... Gw agak takut sendiri" ucap Arsa dengan nada yang canggung.
Asha terdiam cukup lama. Di dalam hatinya, ada pertarungan hebat. Haruskah ia pergi? Atau haruskah ia menolak?
"Asha? Lo masih di sana?" tanya Arsa karena tidak mendapat jawaban.
"Iya... Iya, gw masih di sini" jawab Asha akhirnya.
"Jadi... Lo mau nemenin gw kan?" tanya Arsa dengan nada penuh harap.
Asha menarik nafas panjang. "Oke. Kapan?"
"Besok, jam dua siang. Gw jemput lo ya" ucap Arsa dengan nada lega.
"Gausah. Gw kesana sendiri aja" tolak Asha dengan cepat.
"Tapi—"
"Gw bisa sendiri, Arsa. Kirim alamatnya aja" potong Asha dengan nada tegas.
Arsa terdiam sejenak. "Oke... Gw kirim alamatnya lewat chat."
"Oke."
"Asha... Makasih ya udah mau nemenin gw."
Asha menutup matanya. Air matanya hampir jatuh mendengar ucapan terima kasih itu.
"Iya" jawab Asha singkat, lalu ia cepat-cepat menutup telepon.
Setelah telepon terputus, Asha memeluk gulingnya dengan erat. Air matanya akhirnya jatuh.
"Kenapa... Kenapa gw gak bisa nolak dia..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Kenapa gw masih mau ngelakuin apapun buat dia... Padahal dia udah gak sayang sama gw lagi..."
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Asha bangun lebih awal. Ia mandi dan berpakaian dengan rapi meskipun hatinya berat.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat. Matanya sembab. Ia terlihat begitu rapuh.
"Ini... Ini mungkin kesempatan terakhir" gumam Asha kepada dirinya sendiri.
"Mungkin dokter bisa ngasih harapan... Mungkin ada cara untuk kembaliin ingatan Arsa..."
Asha mencoba tersenyum pada bayangannya sendiri, tapi senyuman itu terlihat begitu pahit.
Ia lalu keluar dari kamar dan berpamitan dengan ibunya yang sedang menonton tv.
"Ma, Asha mau keluar sebentar" ucap Asha.
Ibunya hanya mengangguk tanpa menatapnya. "Jangan pulang malem."
Asha tidak menjawab. Ia langsung keluar dan mengendarai motornya menuju rumah sakit yang alamatnya dikirim Arsa kemarin.
Sepanjang perjalanan, jantung Asha berdegup kencang. Ia gugup. Ia takut. Tapi ia juga masih punya secuil harapan.
Harapan bahwa mungkin ada cara untuk mengembalikan ingatan Arsa.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di rumah sakit, Asha melihat Arsa sudah menunggu di lobby dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Arsa" panggil Asha dengan suara pelan.
Arsa menoleh dan langsung tersenyum lega. "Asha! Lo dateng. Gw kira lo gak jadi."
Asha tersenyum tipis. "Gw udah janji."
Arsa menatap wajah Asha dengan tatapan khawatir. "Lo... Lo kurus banget. Lo beneran sakit ya?"
Asha mengalihkan pandangannya. "Gw gapapa. Udah, yuk. Dokternya nunggu kan?"
Arsa mengangguk meskipun wajahnya masih terlihat khawatir. "Iya. Yuk."
Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang praktek dokter yang dulu menangani kasus Arsa.
Di sepanjang jalan, mereka tidak banyak bicara. Suasana begitu canggung dan berat.
Sesampainya di depan ruang praktek, Arsa menghela nafas panjang.
"Gw... Gw agak takut" ucap Arsa dengan suara yang pelan.
Asha menatap Arsa dengan tatapan yang lembut. "Gapapa. Gw di sini."
Arsa tersenyum tipis mendengar ucapan Asha. "Makasih, Asha."
Mereka lalu masuk ke dalam ruangan. Dokter yang berusia sekitar 40-an tahun itu tersenyum ramah melihat kedatangan mereka.
"Arsa! Silahkan duduk" ucap dokter itu sembari menunjuk kursi di depan mejanya.
Arsa duduk dengan canggung, sementara Asha duduk di sampingnya.
"Bagaimana kabarnya? Masih sering sakit kepala?" tanya dokter sembari membuka catatan medis Arsa.
Arsa menggeleng. "Sudah jarang, Dok. Cuma kadang-kadang aja kalau lagi capek."
Dokter mengangguk sembari menulis sesuatu. "Bagus. Lalu, bagaimana dengan ingatan? Ada perkembangan?"
Arsa terdiam sejenak. "Hmm... Ada beberapa bayangan samar, tapi cuma sekilas. Terus langsung hilang lagi."
Dokter mengangguk mengerti. "Bayangan samar itu biasanya datang saat kamu berada di tempat atau situasi yang familiar. Itu pertanda baik."
Asha yang mendengar itu langsung merasa sedikit lega. "Jadi... Jadi masih ada harapan ingatannya bisa kembali, Dok?"
Dokter menatap Asha dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Sebenarnya, saya ingin bicara dengan kamu secara pribadi. Boleh?"
Asha terkejut mendengar permintaan dokter. Ia melirik ke arah Arsa yang juga terlihat bingung.
"Kenapa harus pribadi, Dok?" tanya Arsa dengan nada penasaran.
"Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan teman kamu ini. Mengenai kondisi kamu" jelas dokter dengan nada serius.
Arsa terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Asha, lo omongin sama dokter ya. Gw tunggu di luar."
Asha mengangguk dengan gugup. "Iya."
Arsa lalu berdiri dan keluar dari ruangan, meninggalkan Asha sendirian dengan dokter.
🌷🌷🌷🌷
Setelah pintu tertutup, dokter menatap Asha dengan tatapan yang serius.
"Kamu... Kamu Sarah Ashalova kan? Pacar Arsa sebelum kecelakaan?" tanya dokter.
Asha terkejut mendengar pertanyaan itu. "I-iya. Tapi... Tapi sekarang kami udah—"
"Aku tau. Arsa sudah cerita bahwa kalian putus karena dia kehilangan ingatan tentang kalian" potong dokter dengan nada yang lembut.
Asha menunduk. Air matanya hampir jatuh.
"Saya panggil kamu kesini karena saya ingin jujur dengan kamu. Sebagai dokter, saya merasa kamu berhak tau kondisi sebenarnya dari Arsa" ucap dokter dengan nada serius.
Asha mendongak menatap dokter dengan tatapan penuh harap. "Kondisi sebenarnya?"
Dokter menarik nafas panjang. "Sarah... Saya sudah melakukan berbagai macam tes pada Arsa selama beberapa bulan ini. Dari hasil MRI dan pemeriksaan neurologis lainnya..."
Dokter terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat.
"Kemungkinan ingatan Arsa untuk kembali... Sangat kecil. Hampir mustahil."
Asha merasakan dunianya runtuh mendengar ucapan dokter. "M-mustahil?"
Dokter mengangguk dengan tatapan simpati. "Kecelakaan yang dialami Arsa menyebabkan kerusakan pada hippocampus-nya. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk membentuk dan menyimpan memori jangka panjang."
"Kerusakan itu bersifat permanen. Ingatan yang sudah hilang... Kemungkinan besar tidak akan pernah kembali."
Air mata Asha jatuh mendengar penjelasan dokter. "T-tapi... Tapi Arsa bilang dia kadang ngeliat bayangan samar..."
"Itu hanya refleks otak yang mencoba merekonstruksi memori berdasarkan stimulus eksternal. Tapi bayangan itu tidak akan pernah menjadi ingatan yang utuh" jelas dokter dengan nada yang lembut tapi tegas.
"Saya tahu ini berat untuk kamu dengar. Tapi sebagai dokter, saya tidak bisa memberikan harapan palsu."
Asha menangis dengan keras. Tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
"Jadi... Jadi Arsa gak akan pernah inget gw? Gak akan pernah inget semua moment yang kita laluin bersama?" isak Asha.
Dokter menggeleng pelan. "Saya minta maaf, Sarah. Tapi itulah kenyataannya."
"Saran saya, kamu harus menerima kenyataan ini dan melanjutkan hidup. Terus berharap hanya akan membuat kamu semakin tersiksa."
Asha merasakan dadanya begitu sesak. Ia merasa seperti tidak bisa bernafas.
"T-tapi... Tapi gw... Gw sangat sayang sama dia, Dok... Gw gak bisa ngelepas dia..." isak Asha semakin keras.
Dokter berdiri dari kursinya dan menghampiri Asha. Ia menepuk pundak gadis itu dengan lembut.
"Saya mengerti perasaan kamu. Tapi kadang, cinta yang terbaik adalah cinta yang bisa merelakan."
"Arsa sekarang sudah berbeda. Dia bukan lagi Arsa yang kamu kenal dulu. Dia sudah memulai hidup baru dengan ingatan baru."
"Dan kamu... Kamu juga harus memulai hidup baru. Tanpa dia."
Asha menggeleng keras. "Gw gak bisa, Dok... Gw gak bisa..."
Dokter menghela nafas panjang. "Sarah, dengarkan saya. Terus berjuang untuk sesuatu yang mustahil hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."
"Aku tahu ini sangat berat. Tapi percayalah, suatu saat nanti kamu akan bisa move on. Dan kamu akan menemukan kebahagiaan yang baru."
Asha hanya bisa menangis mendengar ucapan dokter. Ia merasa seperti semua harapannya hancur berkeping-keping.
"Pulanglah dan istirahatlah yang cukup. Jaga kesehatan kamu. Dan... Cobalah untuk menerima kenyataan ini" ucap dokter dengan nada yang penuh simpati.
Asha mengangguk lemah meskipun air matanya tidak berhenti mengalir.
🌷🌷🌷🌷
Setelah keluar dari ruangan dokter, Asha langsung menuju toilet. Ia tidak ingin Arsa melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Di dalam toilet, Asha berdiri di depan wastafel sembari menatap pantulan wajahnya yang hancur di cermin.
Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah dan sembab. Ia terlihat begitu rapuh dan hancur.
"Mustahil... Mustahil..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Arsa gak akan pernah inget gw... Gak akan pernah..."
Asha merosot ke lantai dan memeluk lututnya. Ia menangis dengan begitu keras hingga tubuhnya bergetar hebat.
"Kenapa... Kenapa Tuhan ngasih gw harapan kalau ujung-ujungnya cuma mau ngasih gw rasa sakit yang lebih besar..." isak Asha.
"Kenapa gw harus ngerasain sakit kayak gini... Kenapa..."
Ia menangis sejadi-jadinya di lantai toilet yang dingin. Tidak peduli kalau ada orang yang masuk dan melihatnya.
Yang ia rasakan sekarang hanya rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang tidak akan pernah hilang.
Karena harapannya... Harapan terakhirnya sudah benar-benar pupus.
🌷🌷🌷🌷
Setelah berhasil menenangkan dirinya sedikit, Asha mencuci wajahnya dan keluar dari toilet.
Ia melihat Arsa menunggu di lobby dengan wajah yang khawatir.
"Asha! Lo kemana aja? Gw nyariin lo" ucap Arsa dengan nada lega.
Asha mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur. "Gw... Gw ke toilet sebentar."
Arsa menatap wajah Asha dengan tatapan khawatir. "Lo... Lo abis nangis ya? Mata lo merah."
Asha menggeleng cepat. "Enggak. Cuma... Cuma kemasukan debu aja."
Arsa tidak terlihat yakin dengan jawaban Asha, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
"Dokter bilang apa ke lo?" tanya Arsa dengan nada penasaran.
Asha terdiam sejenak. Ia tidak tau harus bilang apa. Haruskah ia jujur? Atau haruskah ia berbohong?
"Dokter... Dokter cuma ngasih tau soal kondisi lo aja. Dia bilang lo harus istirahat yang cukup dan jangan terlalu dipaksa buat ngingat-ngingat" bohong Asha dengan suara yang bergetar.
Arsa mengangguk. "Oh... Gitu ya."
Mereka terdiam. Suasana begitu canggung dan berat.
"Asha... Makasih ya udah nemenin gw hari ini. Gw tau lo pasti sibuk" ucap Arsa dengan senyuman kecil.
Asha merasakan dadanya sesak mendengar ucapan terima kasih itu. "Iya. Sama-sama."
"Lo mau gw anterin pulang?" tawar Arsa.
Asha menggeleng cepat. "Gak usah. Gw bawa motor sendiri."
"Oh... Oke deh. Hati-hati ya di jalan."
Asha mengangguk. Ia menatap Arsa untuk terakhir kali dengan tatapan yang penuh rasa sakit.
"Arsa..." panggil Asha tiba-tiba dengan suara yang pelan.
"Ya?"
Asha ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin bilang betapa ia masih sangat mencintai Arsa. Ia ingin bilang betapa ia merindukan Arsa. Ia ingin bilang betapa ia tidak rela harus melepaskan Arsa.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Jaga kesehatan lo."
Arsa tersenyum. "Lo juga."
Setelah itu, Asha berbalik dan berjalan menuju parkiran dengan langkah yang berat.
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia takut kalau ia menoleh, ia tidak akan sanggup pergi.
🌷🌷🌷🌷
Di perjalanan pulang, Asha mengendarai motornya dengan sangat pelan. Pikirannya melayang kemana-mana.
Ucapan dokter terus terngiang di telinganya.
"Kemungkinan ingatan Arsa untuk kembali... Sangat kecil. Hampir mustahil."
"Mustahil..."
Kata itu terus berputar di kepala Asha. Kata itu menghancurkan semua harapan yang masih ia pegang.
Tanpa sadar, Asha menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia melepas helmnya dan memeluk helmnya dengan erat.
Ia menangis. Menangis dengan begitu keras di tengah jalanan yang ramai.
Orang-orang yang lewat menatapnya dengan heran, tapi ia tidak peduli.
"Gw... Gw udah gak punya harapan lagi..." isak Asha.
"Arsa... Arsa gak akan pernah kembali ke gw..."
"Gw... Gw udah kehilangan dia selamanya..."
Ia menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan. Menangis untuk cinta yang tidak akan pernah kembali.
Menangis untuk semua harapan yang sudah benar-benar pupus.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, Asha berbaring di kasurnya dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Ia tidak menangis lagi. Ia sudah tidak punya air mata lagi untuk ditumpahkan.
Yang ia rasakan sekarang hanya rasa hampa yang begitu dalam. Rasa hampa yang tidak akan pernah terisi lagi.
Hpnya berdering. Pesan dari Cinta.
Cinta:
Sha, gimana tadi? Dokter bilang apa?
Asha menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Tangannya bergetar saat ia mengetik balasan.
Asha:
Mustahil, Cin. Ingatan Arsa gak akan pernah kembali.
Cinta:
"APA?! Sha... Sha, lo gapapa??"
Asha:
Gw gak tau lagi, Cin. Gw udah gak punya harapan lagi.
Cinta:
Sha, tunggu. Gw kesana sekarang!
Asha:
Gausah, Cin. Gw pengen sendiri.
Cinta:
SHA, JANGAN GITU! GW KESANA SEKARANG!
Asha tidak membalas pesan Cinta lagi. Ia mematikan hpnya dan memeluk guling dengan erat.
"Arsa... Maafin gw kalau gw gak bisa ngelepas lo..." bisik Asha dengan suara yang sangat pelan.
"Maafin gw yang masih sayang sama lo... Meskipun lo udah gak sayang lagi sama gw..."
"Maafin gw yang masih berharap... Meskipun harapan itu udah benar-benar pupus..."
Air matanya jatuh lagi. Untuk terakhir kalinya malam itu, ia menangis.
Menangis dengan begitu pelan. Menangis tanpa suara.
Menangis untuk cinta yang sudah benar-benar hilang.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
HANCURRR TOTALLL! 😭😭😭 Dokter bilang ingatan Arsa MUSTAHIL untuk kembali! Ini artinya Arsa gak akan pernah inget semua moment indah yang dia laluin bareng Asha 💔
Harapan terakhir Asha udah benar-benar pupus. Dia udah gak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan...
Kira-kira gimana Asha selanjutnya? Apa dia bisa terima kenyataan ini? Atau dia bakal semakin terpuruk?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku