"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Gaun Putih di Atas Noda Darah
CERMIN besar di hadapan Aria Vane tidak pernah berbohong, tapi hari ini, Aria berharap cermin itu hancur berkeping-keping. Di sana, pantulan seorang wanita dengan gaun pengantin sutra seputih salju menatapnya dengan mata yang kosong. Gaun itu indah—karya desainer ternama Paris yang harganya setara dengan satu nyawa manusia di pasar gelap—namun bagi Aria, itu adalah kain kafan yang sangat mahal.
"Kau terlihat cantik, Aria. Jangan buat wajah seperti itu, atau orang-orang akan mengira aku menjualmu ke penjagal," suara berat itu datang dari ambang pintu.
Aria tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Ayah kandungnya, Julian Vane, berdiri di sana sambil menyesap wiski seolah-olah ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Bukankah itu yang Ayah lakukan?" suara Aria serak, hampir tenggelam dalam keheningan kamar yang luas itu. "Ayah tidak menikahkanku. Ayah menyerahkanku sebagai tumbal untuk melunasi utang kasino dan mengamankan jalur distribusi narkoba di pelabuhan utara."
Julian tertawa, suara yang membuat bulu kuduk Aria berdiri. "Dante Moretti bukan sekadar 'penjagal'. Dia adalah hukum di kota ini. Menjadi istrinya berarti kau berada di puncak rantai makanan. Seharusnya kau berterima kasih."
"Berterima kasih karena akan tidur dengan pria yang disebut 'The Butcher of Milan'?" Aria berbalik, matanya berkilat marah. "Pria yang memutilasi sepupunya sendiri karena pengkhianatan kecil? Itu yang Ayah inginkan untuk putri tunggalmu?"
Julian mendekat, mencengkeram rahang Aria dengan kasar. "Dengar baik-baik. Keluarga Moretti adalah tiket kita untuk tetap hidup. Jika kau melakukan satu saja kesalahan yang membuat Dante membatalkan aliansi ini, aku pastikan bukan hanya aku yang mati. Aku akan menyeretmu bersamaku ke liang lahat. Sekarang, pasang senyummu, dan turunlah."
Setelah ayahnya pergi, Aria menarik napas gemetar. Ia menyentuh kalung perak kecil yang tersembunyi di balik renda gaunnya. Sebuah rahasia kecil yang bahkan ayahnya tidak tahu. Jika Dante Moretti adalah iblis, maka Aria telah menyiapkan nerakanya sendiri.
Katedral San Marco biasanya menjadi tempat suci, namun malam ini, tempat itu terasa seperti sarang predator. Tidak ada tamu yang tersenyum tulus. Di sisi kiri gereja duduk keluarga Vane dan sekutu mereka—para pedagang senjata dan penipu ulung. Di sisi kanan, duduk keluarga Moretti—pria-pria dengan jas hitam yang disesuaikan sempurna, dengan benjolan senjata yang kentara di balik pinggang mereka.
Musik organ mulai bergema, menciptakan suasana yang lebih mirip pemakaman daripada pernikahan. Pintu besar terbuka, dan Aria mulai melangkah.
Di ujung altar, pria itu berdiri.
Dante Moretti.
Tingginya hampir 190 cm, dengan bahu lebar yang seolah mampu memikul seluruh dosa di dunia. Rambutnya hitam legam, disisir rapi ke belakang, menonjolkan rahang yang tegas dan tajam. Namun, yang paling mengerikan adalah matanya. Mata itu berwarna abu-abu badai, dingin, tak tersentuh, dan saat ini, mata itu sedang menguliti Aria dari kejauhan.
Setiap langkah Aria terasa seperti menuju tiang gantungan.
Saat ia sampai di samping Dante, pria itu bahkan tidak menoleh. Dante hanya menatap lurus ke arah pastor, seolah-olah pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang membosankan—seperti menandatangani kontrak pengiriman kargo.
"Kita di sini untuk menyatukan dua jiwa..." Pastor memulai dengan suara gemetar. Dia tahu siapa yang berdiri di depannya. Satu kata salah, dan gereja ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian.
Saat tiba waktunya untuk janji suci, Dante berbalik menghadap Aria. Ia mengambil tangan Aria yang terbungkus sarung tangan renda. Jari-jari Dante terasa seperti es, namun cengkeramannya sekuat baja.
"Aku, Dante Moretti," suaranya bariton, rendah, dan bergetar di dada Aria, "mengambilmu, Aria Vane, sebagai milikku. Untuk dijaga, untuk dipatuhi, dan untuk dihancurkan jika kau mengkhianatiku. Sumpahku tidak ditulis dengan tinta, tapi dengan darah."
Aria tersentak. Itu bukan janji pernikahan yang ada di buku panduan. Itu adalah ancaman terang-terangan.
"Sekarang, giliranmu, cara mia," bisik Dante, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang tidak mencapai matanya.
Aria menelan ludah. Ia menatap langsung ke dalam mata abu-abu itu, menolak untuk terlihat gentar. "Aku, Aria Vane, mengambilmu sebagai suamiku. Aku akan menjadi bayanganmu, dan rahasiamu. Tapi ingatlah ini, Dante... bahkan bayangan pun bisa menghilang saat kegelapan menjadi terlalu pekat."
Mata Dante menyipit. Untuk pertama kalinya, ada kilatan minat di sana. Sedikit percikan di tengah badai es.
"Kau boleh mencium mempelai wanita," ucap Pastor dengan terburu-buru.
Dante menarik Aria mendekat, tangannya berpindah ke tengkuk leher Aria. Ia tidak menciumnya dengan lembut. Itu adalah klaim. Bibirnya menekan bibir Aria dengan kasar, penuh dominasi, mengirimkan pesan kepada semua orang di ruangan itu bahwa Aria Vane sekarang adalah properti Moretti. Aria bisa merasakan aroma tembakau mahal, wiski, dan sesuatu yang dingin—aroma bahaya.
Saat mereka melepaskan ciuman itu, Dante berbisik tepat di telinga Aria, cukup pelan sehingga hanya dia yang bisa mendengar.
"Selamat datang di neraka, Istriku. Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup."
Resepsi pernikahan diadakan di vila pribadi Moretti di pinggiran Danau Como. Tempat itu indah, namun dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata otomatis. Aria duduk di kursi kehormatan, merasa seperti piala curian yang dipamerkan.
Dante sibuk menerima ucapan selamat dari para bos mafia lain—keluarga Lucchese dari New York, sindikat Rusia, dan kartel Meksiko. Mereka bicara tentang rute perdagangan dan persentase keuntungan, seolah-olah ini adalah rapat pemegang saham, bukan pesta pernikahan.
"Kau tidak makan?" Dante kembali ke mejanya, meletakkan gelas kristal berisi cairan amber.
"Aku tidak lapar," jawab Aria singkat.
Dante menarik kursi di sampingnya, duduk dengan santai namun tetap terlihat mengancam.
"Kau harus makan. Malam ini akan panjang. Aku tidak suka wanita yang pingsan saat aku sedang... bersenang-senang."
Aria mengeratkan pegangan pada garpunya. "Jika kau berpikir aku akan menjadi istri penurut yang menunggu di tempat tidur sambil mengenakan gaun malam transparan, kau salah besar, Dante."
Dante tertawa pelan, suara yang rendah dan berbahaya. "Oh, aku tahu siapa kau, Aria. Aku tahu kau lulusan terbaik sekolah hukum. Aku tahu kau diam-diam mencoba membangun yayasan untuk korban perdagangan manusia. Dan aku tahu kau membenci setiap inci dari diriku."
Aria membeku. Ia tidak menyangka Dante menyelidikinya sejauh itu.
"Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu," lanjut Dante, mencondongkan tubuh sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Ayahmu tidak hanya menjualmu untuk utang. Dia menjualmu karena dia tahu kau sedang mengumpulkan bukti untuk menjebloskannya ke penjara. Dia memberiku izin untuk... melenyapkanmu jika kau menjadi terlalu berisik."
Dunia Aria seolah runtuh. Ayahnya tahu? Ayahnya tahu dia sedang mengkhianatinya dan justru menyerahkannya pada monster ini sebagai solusi permanen?
"Jadi, kau akan membunuhku?" tanya Aria, suaranya bergetar meski ia mencoba kuat.
Dante mengamati wajah Aria, jemarinya yang kasar mengusap pipi Aria yang pucat.
"Membunuhmu adalah hal yang terlalu mudah. Itu membosankan. Aku lebih suka melihat berapa lama kau bisa bertahan di duniaku sebelum kau sendiri yang memohon padaku untuk mengakhiri nyawamu."
Dante berdiri, mengulurkan tangannya. "Ayo. Pesta sudah selesai. Waktunya melihat kandang barumu."
Kamar utama di vila Moretti adalah perpaduan antara kemewahan modern dan suasana gotik yang kelam. Dindingnya berwarna abu-abu gelap dengan furnitur berbahan kulit hitam. Sebuah tempat tidur king size mendominasi ruangan dengan sprei sutra hitam yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.
Aria berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun pengantinnya yang kini terasa seberat satu ton. Ia mendengar pintu di belakangnya tertutup dan suara kunci yang diputar. Klik.
Dante melepas jasnya, melemparkannya ke kursi tanpa peduli, lalu mulai melonggarkan dasinya. Gerakannya efisien, tenang, namun penuh tekanan.
"Buka gaunmu," perintah Dante tanpa menoleh.
"Apa?"
Dante berbalik, matanya menatap Aria dengan intensitas yang membuat napas Aria tertahan. "Kau mendengarku. Buka gaun itu. Aku tidak ingin melihat warna putih di kamarku. Putih melambangkan kesucian, dan di sini... tidak ada hal seperti itu."
Aria berdiri kaku. "Aku bisa membukanya sendiri di kamar mandi."
"Kau lupa satu hal, Aria," Dante melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Aria terdesak ke tiang tempat tidur.
"Kau bukan lagi seorang Vane. Kau adalah Moretti. Dan di rumah ini, hanya ada satu perintah yang berlaku. Perintahku."
Dante meraih ritsleting di punggung gaun Aria. Dengan satu gerakan lambat, ia menariknya turun. Udara dingin menyentuh kulit punggung Aria, membuatnya merinding. Gaun itu mulai melorot, tertahan hanya oleh pinggulnya.
Dante tidak menyentuh kulitnya, namun kehadirannya terasa seperti api. Ia membungkuk, berbisik di tengkuk Aria, membiarkan napas panasnya menggelitik kulit sensitif di sana.
"Ayahmu mengira dia membuang sampahnya padaku," bisik Dante. "Tapi dia salah. Dia memberiku senjata yang paling sempurna untuk menghancurkannya. Kau adalah umpan yang cantik, Aria. Dan aku tidak sabar untuk melihat siapa yang akan menggigitnya duluan."
Aria berbalik dengan cepat, menahan gaunnya agar tidak jatuh sepenuhnya. "Umpan? Jadi ini alasanmu setuju menikahiku? Bukan karena wilayah pelabuhan itu?"
Dante tersenyum miring—sebuah senyuman yang murni jahat. "Wilayah itu sudah menjadi milikku sejak bulan lalu. Aku membantai semua penjaganya saat kau sedang sibuk memilih pola renda untuk gaun sialan ini. Aku menikahimu karena aku ingin melihat wajah Julian Vane saat aku menggunakan putrinya untuk meruntuhkan kerajaan yang dia bangun selama tiga puluh tahun."
Aria terengah. Ia merasa seperti bidak catur yang terjepit di antara dua raja yang saling membenci. Namun, di tengah ketakutannya, sebuah tekad baru muncul.
"Jika aku umpan bagimu," ucap Aria, suaranya kini stabil dan tajam, "maka kau harus ingat, Dante... umpan yang paling mematikan adalah yang memiliki racun di dalamnya. Kau pikir kau bisa menggunakanku? Coba saja. Tapi jangan terkejut jika pada akhirnya, kau yang akan berlutut di kakiku."
Dante terdiam sejenak. Matanya menyapu wajah Aria, mencari tanda-tanda gertakan, namun ia hanya menemukan api kemarahan yang membara. Tiba-tiba, ia tertawa—kali ini tawa yang tulus dan menggelegar, suara yang jarang sekali terdengar di koridor vila yang sunyi itu.
"Menarik," gumam Dante. Ia mencengkeram dagu Aria, memaksanya menatap matanya. "Aku suka racun. Itu membuat segalanya menjadi lebih menantang."
Dante melepaskan Aria dan berjalan menuju bar kecil di sudut kamar. Ia menuangkan wiski lagi. "Tidurlah. Di sisi kanan tempat tidur. Jangan melewati garis tengah jika kau masih ingin bangun dengan tubuh lengkap besok pagi. Besok pagi, pelatihanmu dimulai."
"Pelatihan?"
Dante menyesap minumannya, matanya menatap pemandangan Danau Como yang gelap di balik jendela besar.
"Istri seorang Moretti harus tahu cara menembak, cara membunuh, dan cara mendeteksi racun di minumannya. Jika kau ingin menghancurkanku, Aria, kau harus tetap hidup lebih dulu. Dan di kota ini, semua orang ingin melihatmu mati hanya karena kau menyandang namaku."
Aria menatap punggung pria itu. Pria yang baru saja menjadi suaminya, musuhnya, dan sekaligus pelindung terburuknya. Ia melepas sisa gaun pengantinnya, membiarkannya tergeletak di lantai seperti kulit ular yang ditinggalkan.
Malam itu, di bawah bayang-bayang Danau Como, Aria Vane menyadari satu hal. Pernikahan ini bukanlah akhir dari hidupnya. Ini adalah kelahiran dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Ia merangkak ke tempat tidur, menjaga jarak sejauh mungkin dari sisi Dante. Namun, saat ia memejamkan mata, ia masih bisa merasakan tatapan pria itu padanya—seperti predator yang sedang mengawasi mangsanya, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.
Perang baru saja dimulai. Dan Aria bersumpah, ia tidak akan menjadi orang pertama yang menyerah.