NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Party Di Malam Hari

Malam di distrik Parkdale terasa mencekam dan dingin. Di dalam unit apartemennya yang sempit, Greta mencoba membangun rutinitas kecilnya untuk mengusir rasa sunyi. Ia menyalakan kompor gas tua yang mengeluarkan suara mendesis pelan untuk menjerang air. Sambil menunggu, ia duduk di meja kayu kecilnya, memeriksa buku catatannya di bawah temaram lampu meja yang sesekali berkedip. Setelah meminum obatnya dengan sisa air di gelas, ia mulai menyiram satu-satunya tanaman di sana—sebuah pot kecil berisi bunga daisy yang mulai layu di ambang jendela. Baginya, keheningan ini adalah kemewahan, sebelum besok ia harus kembali menghadapi "badai" di sekolah.

​TOK... TOK... TOK...

​Suara ketukan di pintu kayu yang rapuh itu memecah lamunan Greta. Ia mengernyit bingung; tidak ada yang pernah bertamu selarut ini. Dengan langkah ragu, ia berjalan menuju pintu, jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia membuka pintu sedikit, menyisakan celah kecil untuk mengintip.

​Kosong. Lorong apartemen yang remang-remang itu tampak sunyi.

​"Aneh..." bisik Greta. Namun, saat ia hendak menutup kembali pintunya, sebuah tangan dengan kuku yang dicat merah menyala menahan pinggiran pintu dengan kuat.

​BRAKK!

​Pintu itu didorong paksa dari luar hingga menghantam dinding. Greta terhuyung mundur, matanya membelalak kaget melihat Norah dan Revelyn berdiri di sana dengan senyum yang mengerikan. Revelyn menjinjing sebuah kantong plastik hitam di tangannya, menatap Greta dengan pandangan merendahkan.

​"Kenapa diam saja? Di mana tata krama Asia yang ramah itu?" ucap Revelyn sinis. Tanpa izin, ia mendorong bahu Greta dengan tubuhnya, merangsek masuk ke dalam. Norah menyusul di belakangnya, lalu menutup pintu dengan bunyi KLIK yang menentukan.

​Keduanya berdiri di tengah ruangan, memutar tubuh untuk menginspeksi "istana" kecil Greta dengan tatapan jijik.

​Mereka melihat deretan buku teks bekas yang sampulnya sudah mengelupas, tertumpuk rapi namun tampak menyedihkan di mata mereka.

​Sebuah kasur single di sudut ruangan dengan seprai tipis yang sudah pudar warnanya, diletakkan langsung di atas lantai tanpa bingkai tempat tidur.

​Pot bunga daisy kecil di ambang jendela yang seolah-olah sedang meregang nyawa karena kurang sinar matahari.

​tak luput Area sempit dengan kompor satu tungku yang berkarat dan wastafel yang meneteskan air setiap beberapa detik.

​Dan terakhir pintu kayu yang miring, memperlihatkan sekilas ubin kusam yang sudah retak di dalamnya.

​"Jadi ini tempatnya?" Norah bersuara, suaranya terdengar jernih namun mematikan di tengah ruangan sempit itu. Ia mengusap permukaan meja kayu Greta dengan sarung tangannya, lalu melihat debu yang menempel di sana. "Benar-benar lubang tikus yang sempurna untuk seseorang sepertimu, Greta."

​Revelyn meletakkan plastik hitam itu di atas meja, menimbulkan bunyi denting botol kaca yang beradu. "Kami membawa 'hadiah' untuk merayakan kerja kerasmu mendekati Luca hari ini."

"Mendekati Luca? Aku... tidak..." Kalimat Greta menggantung di udara, suaranya bergetar antara rasa takut dan bingung.

​Namun, Norah langsung memotongnya dengan tawa melengking yang terdengar sangat sinis di ruangan sempit itu. Ia melangkah mendekat hingga ujung sepatu mahalnya bersentuhan dengan kaki telanjang Greta.

​"Lihat mukamu itu!" Norah menunjuk wajah Greta dengan jari telunjuknya yang lentik. "Kau pikir aku bisa ditipu dengan muka polosmu yang menyedihkan ini? Aku tahu taktikmu, Greta. Pura-pura lemah agar pria seperti Luca merasa perlu menjadi pahlawan."

​Greta merasakan sengatan kekesalan di dadanya. Ia mengepalkan tangannya di balik daster tipisnya, mencoba menahan emosi. "Sebentar... biar kubuatkan teh hangat untuk kalian..."

​"Tidak usah repot-repot!" potong Revelyn dengan nada kasar. "Aku sudah membawakan makanan dan minuman yang jauh lebih baik daripada teh murahanmu itu!"

​Dengan gerakan kasar, Revelyn membalikkan plastik hitam yang dibawanya tepat di tengah lantai ruangan di atas karpet tipis milik Greta.

​KRESEK! CLANG!

​Beberapa botol bir kaca menggelinding keluar dari plastik, beradu satu sama lain dengan bunyi denting yang keras. Selain botol-botol itu, Revelyn juga menumpahkan berbagai jenis makanan ringan yang sudah terbuka kemasannya keripik kentang yang berminyak dan beberapa kaleng soda yang penyok berserakan di dekat kaki Greta.

​"Duduk di bawah, Greta," perintah Norah sambil menunjuk lantai yang sekarang dipenuhi sampah itu. "Malam ini, kita akan berpesta di 'istana'mu. Kamu harus menghabiskan semua bir ini sebagai bukti kalau kamu menghargai kunjungan kami."

​Revelyn mengambil salah satu botol bir, membukanya dengan kasar hingga cairannya muncrat ke lantai kayu yang sudah tua, lalu menyodorkannya ke arah mulut Greta. "Ayo, jangan buat kami menunggu. Tunjukkan keramahanmu sekarang."

"A.. aku tidak bisa meminum bir.." suara Greta mencicit, tubuhnya mulai bergetar hebat.

​Revelyn tidak peduli. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia menyerahkan botol bir itu kepada Norah, lalu ia beralih ke belakang Greta. Secara brutal, Revelyn memelintir kedua tangan Greta ke belakang dan menekan lututnya ke punggung Greta hingga gadis itu berlutut paksa di lantai.

​"Buka mulutmu!" bentak Norah.

​Tanpa menunggu jawaban, Norah mencengkeram rahang Greta dan menyumpalkan leher botol kaca itu ke dalam mulutnya. Cairan kuning pahit itu tumpah ruah, memenuhi kerongkongan Greta dengan paksa.

​"Uhukk! Gkhh—" Greta tersedak hebat. Cairan itu masuk ke saluran napasnya, membuatnya terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah padam dan air mata meleleh di sudut matanya. Sebagian bir mengalir membasahi seragam dan lantai kayu yang malang itu.

​Melihat pemandangan itu, Norah dan Revelyn meledak dalam tawa kemenangan yang melengking, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang paling lucu.

​Greta terengah-engah setelah Norah menarik botol itu. Dengan tangan gemetar, ia mengelap wajahnya yang basah kuyup. "Kenapa... kenapa kalian lakukan ini padaku? Apa yang telah aku perbuat? Aku hanya ingin sekolah dengan tenang..." bisiknya parau.

​Mendengar itu, raut wajah Norah berubah drastis. Tawanya hilang, digantikan oleh tatapan benci yang murni. Ia berjongkok, lalu dengan kasar menggenggam rahang Greta. Kuku-kuku panjangnya yang tajam menancap dalam di kulit pipi Greta, meninggalkan bekas merah yang perih.

​"Sekolah itu... hanyalah untuk kalangan elit! Bukan tikus dekil sepertimu!" desis Norah tepat di depan wajah Greta. Napasnya berbau alkohol dan amarah. "Dan yang lebih parahnya lagi... tikus ini berani-beraninya menggoda suami masa depanku!"

​CUIH!

​Dengan penuh kebencian, Norah meludahi wajah Greta. Ludah itu mendarat tepat di pipi Greta, bercampur dengan sisa bir dan air mata yang belum kering. Greta terdiam membeku, harga dirinya hancur berkeping-keping di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.

Norah berdiri tegak, merapikan rok mahalnya yang sedikit kusut seolah-olah udara di dalam apartemen itu bisa mengotori pakaiannya. Ia melangkah perlahan, matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan hingga terpaku pada sebuah bingkai foto kayu yang sudah kusam di atas meja kayu.

​Di sana, tampak Greta kecil yang tersenyum lebar diapit oleh kedua orang tuanya.

​Norah mengambil bingkai itu dengan dua jari, menatapnya dengan pandangan kosong yang mengerikan, lalu menoleh ke arah Greta. Menyadari apa yang ada di tangan Norah, jantung Greta seakan berhenti berdetak. Itu adalah satu-satunya benda berharga yang tersisa dari masa lalunya.

​"Jangan! Norah, tolong, jangan yang itu!" teriak Greta. Ia berusaha beranjak bangkit dengan sisa tenaganya, namun Revelyn dengan sigap mencengkeram bahunya dan menekan tubuhnya kembali ke lantai.

​"Oh, ini hartamu? Menyedihkan," ucap Norah dingin.

​Tanpa sedikit pun keraguan, Norah membuka bagian belakang bingkai dan merenggut foto fisik itu keluar. Di depan mata Greta yang mulai kabur karena air mata, tangan Norah bergerak perlahan—SREK... SREK...—merobek kertas foto itu menjadi potongan-potongan kecil yang tak lagi berbentuk.

​"TIDAK!" jerit Greta histeris.

​Saat potongan-potongan kenangan itu melayang jatuh ke lantai seperti salju yang kotor, Greta meronta lepas dari cengkeraman Revelyn. Ia merangkak di lantai, jemarinya yang gemetar berusaha mengumpulkan sobekan wajah orang tuanya.

​Namun, belum sempat tangannya menyentuh kertas itu, ujung sepatu hak tinggi Norah yang runcing melesat dengan cepat.

​DUAK!

​Tendangan itu telak mengenai rahang bawah Greta. Kekuatan hentakan dari sepatu mahal itu membuat tubuh mungil Greta terhempas ke belakang hingga kepalanya membentur kaki meja.

​Greta terkapar di lantai, memegangi dagunya yang kini robek dan mengucurkan darah segar yang menetes ke atas sobekan fotonya. Rasa amis darah memenuhi mulutnya, bercampur dengan rasa asin air mata dan pahitnya sisa bir.

​"Ups," Norah tertawa kecil, menatap ujung sepatunya yang kini ternoda setitik darah. "Sepertinya aku baru saja menginjak sampah yang sebenarnya."

Norah memberikan isyarat dingin dengan lirikannya. Tanpa banyak bicara, Revelyn menjambak kerah baju Greta dan menyeret tubuh gadis yang sudah lemas itu ke dalam kamar mandi yang sempit. Lantai ubin yang dingin dan kusam menyambut kulit Greta. Revelyn menyalakan shower dengan aliran air yang paling deras, menyiram sekujur tubuh Greta hingga daster basah kuyup, menempel di tubuhnya yang menggigil hebat.

​Norah melangkah masuk dengan tenang, seolah tidak peduli sepatu mahalnya tergenang air kotor. Ia merogoh ke dalam tas Hermès Birkin miliknya, lalu menarik keluar sebuah gunting lipat berbahan baja antikarat yang berkilau tajam di bawah lampu kamar mandi yang temaram.

​"Pegang dia yang kuat, Rev," perintah Norah datar.

​Revelyn segera mengunci pergerakan Greta, menekan punggungnya ke dinding ubin dan membekap mulutnya dengan kain handuk kotor yang ada di sana. Greta meronta-ronta, matanya membelalak ketakutan, namun suaranya hanya keluar dalam bentuk erangan tertahan yang menyedihkan.

​"Kamu pikir kamu lebih cantik dariku? Kamu pikir dengan rambut panjang ini, kamu bisa menarik perhatian Luca selamanya?" Norah tersenyum sinis, wajahnya mendekat ke telinga Greta yang basah.

​SREK! SREK!

​Bunyi gunting yang beradu dengan helai rambut terdengar nyaring di antara suara gemericik air. Norah mulai memotong rambut panjang Greta secara brutal dan tidak beraturan. Potongan-potongan rambut hitam itu jatuh berserakan di lubang pembuangan air, menghambat aliran air hingga genangan di lantai mulai memerah karena darah dari dagu Greta yang belum berhenti mengalir.

​"Sekarang, mari kita lihat apakah Luca masih mau menatapmu saat kamu terlihat seperti orang gila di pinggir jalan," bisik Norah sambil terus memotong habis bagian samping rambut Greta hingga compang-camping.

Setelah puas menghancurkan mahkota indah yang selama ini membingkai wajah Greta, Norah menjatuhkan gunting itu ke ubin yang basah. Ia mundur selangkah, menatap karyanya dengan binar mata yang mengerikan. Greta terduduk lemas di bawah pancuran shower, tubuhnya gemetar hebat antara kedinginan dan trauma, dengan potongan rambut yang berantakan menempel di wajah dan bahunya yang basah kuyup.

​"Tunggu, jangan bergerak. Ini momen yang harus diabadikan," ucap Norah sambil merogoh ponsel pintarnya.

​CEKREK! CEKREK!

​Kilatan lampu flash kamera berkali-kali menyambar wajah Greta yang hancur, pucat, dan berlumuran darah di bagian dagu. Norah melihat hasil fotonya dengan senyum puas sebuah potret kehancuran total dari seseorang yang berani menantang posisinya.

​"Sempurna. Foto ini akan menjadi pengingat jika suatu saat nanti mencoba untuk melupakan perintahku," Norah menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas mahalnya.

​Ia memberikan isyarat kepada Revelyn untuk melepaskan bekapan itu. Begitu dilepaskan, Greta hanya bisa terbatuk dan terisak pelan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk berteriak. Norah dan Revelyn kemudian berjalan keluar dari kamar mandi, melewati kekacauan yang mereka buat di ruang tamu tanpa sedikit pun rasa bersalah.

​"Ayo pergi, Rev. Bau tempat ini mulai membuatku mual," suara Norah menggema di lorong sebelum suara pintu utama apartemen dibanting dengan keras. BRAKK!

​Kini, hanya ada keheningan yang menyesakkan, ditemani suara tetesan air dari keran yang bocor dan isak tangis Greta yang pecah di tengah kegelapan. Ia sendirian, hancur, dan kehilangan satu-satunya harta yang ia miliki: identitas dan harga dirinya.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!