Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Tugas Dadakan
Udara sore di markas Yonif Kakaktua terasa lebih pekat dari biasanya. Bau aspal yang baru tersiram hujan gerimis, menguap. Bercampur dengan aroma keringat dari ratusan prajurit yang baru saja menyelesaikan pembinaan fisik.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Letnan Erlaga berdiri terpaku di depan papan pengumuman besar di lobi markas. Matanya tertuju pada selembar kertas berstempel resmi Markas Besar TNI.
Namanya tercantum di sana. Lettu Inf. Erlaga Patikelana. Ia terpilih menjadi bagian dari Satgas Garuda, misi perdamaian PBB menuju Sudan. Sebuah kehormatan yang diimpikan setiap prajurit. Namun kali ini, berita itu mendarat di hatinya dengan beban yang berbeda.
"Sudan...." gumamnya pelan.
Pikirannya melayang jauh melintasi samudera, menuju tanah Afrika yang gersang dan penuh konflik. Namun, hanya dalam hitungan detik, bayangan itu buyar, berganti dengan seraut wajah teduh yang ia temui di pujasera tempo hari.
Gadis yang senyumnya sempat membuat pertahanan hati Erlaga goyah.
Erlaga menghela napas panjang, lalu berjalan menuju barak perwira dengan langkah berat. Di setiap langkahnya, bunyi sepatu lars yang beradu dengan semen seolah berirama dengan detak jantungnya yang tak karuan.
Ia merasa takdir sedang mempermainkannya. Saat ia mulai menaruh rasa penasaran pada seorang gadis, tugas negara memanggilnya untuk pergi ribuan kilometer jauhnya. Terlebih, pemandangan Syafina yang berboncengan mesra dengan pria muda di tukang martabak kemarin masih menyisakan rasa sesak.
"Mungkin ini cara Tuhan supaya aku menjauh," batinnya pahit. "Untuk apa aku di sini jika hanya melihatnya bahagia dengan orang lain? Lebih baik aku pergi, menjaga perdamaian di negeri orang daripada mengganggu kedamaian hatiku sendiri."
Malam harinya, rumah keluarga Erkana yang biasanya ceria berubah menjadi sedikit tegang. Erlaga pulang dengan seragam yang masih melekat, wajahnya terlihat lebih kaku dari biasanya.
Di meja makan, tiga kotak martabak yang ia bawa kemarin masih tersisa sedikit, seolah menjadi saksi bisu kegalauannya.
"Ada apa, Ga? Wajahmu seperti habis memimpin pertempuran besar," tanya Pak Erkana sambil menyesap kopi hitamnya.
Erlaga duduk di kursi kayu jati, menatap sang ayah dengan tatapan lurus. "Laga dapat tugas Satgas, Pa. Ke Sudan. Lusa Laga sudah harus masuk Pre-Deployment Training di Sentul selama sebulan, setelah itu langsung terbang."
Hening seketika. Bu Zahira yang sedang menyiapkan makan malam terdiam di ambang pintu dapur. Sendok sayur di tangannya hampir saja terlepas.
"Sudan?" Suara Bu Zahira bergetar.
Erlaga mengangguk pelan. "Iya, Ma. Ini tugas negara. Laga tidak bisa menolak."
Pak Erkana terdiam cukup lama. Sebagai prajurit yang sebentar lagi purnawirawan, ia tahu betul apa artinya penugasan luar negeri. Ada rasa bangga yang membuncah. Namun sebagai ayah, ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Ia menatap Erlaga, lalu teringat pada putra pertamanya, Arkala.
"Dulu abangmu, Arkala... dia juga menghabiskan hampir delapan belas tahun hidupnya di medan tugas," ujar Pak Erkana dengan nada suara yang dalam. "Dari hutan Papua, operasi di Aceh, sampai misi perdamaian seperti yang akan kamu jalani ini. Arkala jarang sekali pulang. Dia memberikan masa mudanya untuk bendera merah putih."
Erlaga menunduk. Bayangan Arkala memang selalu menjadi standar tinggi di keluarga mereka. Abangnya itu adalah definisi prajurit sejati yang rela meninggalkan kenyamanan demi panggilan tugas. Namun, Erlaga tahu betapa beratnya beban yang ditanggung ibunya selama belasan tahun itu, menunggu kabar di tengah ketidakpastian.
"Laga tahu, Pa. Laga juga ingin seperti Bang Kala. Tapi...." kalimat Erlaga menggantung.
"Tapi ada hati yang tertinggal di sini?" sambung Bu Zahira lembut. Beliau berjalan mendekat, mengelus bahu putra keduanya itu. "Mama tahu kamu sedang memikirkan gadis yang kamu ceritakan itu. Gadis yang kamu temui di pujasera itu, kan?"
Erlaga membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya. Dia terpaksa bercerita pada sang mama, kalau ia menyimpan rasa pada seorang gadis yang baru dikenalinya.
Dan pertemuan pertamanya di sebuah pujasera. Itu semua dia ceritakan hanya karena demi menghindari pertemuan dengan putri leting papanya, yang ia duga menjurus pada perjodohan. Sementara Erlaga tidak suka dengan perjodohan.
"Dia sudah punya kekasih, Ma. Kemarin Laga lihat sendiri dia boncengan sangat dekat dengan pria lain. Jadi, tugas ke Sudan ini mungkin memang jalan terbaik untuk Laga melupakan semuanya."
Pak Erkana terkekeh kecil, sebuah tawa yang sarat akan pengalaman hidup. "Ga, dalam dunia militer, musuh belum dianggap menyerah kalau kita belum melakukan serangan terakhir. Kamu bahkan belum bertanya siapa pria itu, kan? Tapi ya sudah, kalau kamu mau menganggapnya begitu. Laku, silaturahmi ke rumah Om Dallas besok... kamu benar-benar tidak bisa ikut?"
"Sepertinya begitu, Pa. Laga harus segera packing malam ini juga dan melapor ke markas besok pagi-pagi sekali. Mohon sampaikan permintaan maaf Laga pada Pak Dallas. Laga sangat menghormati beliau sebagai mantan Komandan, tapi tugas negara lebih dulu memanggil."
Malam itu, Erlaga menghabiskan waktu di kamarnya, mengepak perlengkapan tempurnya. Rompi antipeluru, baret hijau kebanggaannya, dan beberapa perlengkapan pribadi dimasukkan ke dalam ransel besar.
Di sela-sela baju dinasnya, ia menyelipkan sebuah foto keluarga kecil, dan entah mengapa, ingatannya kembali memutar memori singkat tentang Syafina.
"Selamat tinggal, Syafina. Semoga kamu bahagia dengan pria itu," bisiknya sambil menutup ritsleting ransel dengan sentakan keras, seolah ingin menutup rapat perasaannya sendiri.
***
Di tempat berbeda, di rumah bercat hijau sage, suasana tidak kalah sibuknya. Dallas terlihat sangat bersemangat menyiapkan jamuan. Ia sudah memesan makanan terbaik untuk menyambut sahabat lamanya, Erkana.
Namun, Syafina masih saja terlihat ogah-ogahan. Ia duduk di balkon kamar, menatap bulan yang separuh tertutup awan.
"Fina, sudah dandan yang rapi? Tamu Papa sebentar lagi datang," teriak Syafana dari bawah.
"Sudah, Ma! Pakai baju yang biasa saja, kan?" balas Syafina malas. Ia mengenakan gamis berwarna sage green dengan kerudung senada.
Wajahnya hanya dipoles bedak tipis, tidak ada niat sedikit pun untuk tampil memukau di depan "calon" yang dimaksud papanya.
"Hanya silaturahmi kok," gumamnya.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar di depan rumah. Syafina mengintip dari balik tirai balkon. Ia melihat sebuah mobil terparkir, namun yang turun hanya sepasang suami istri paruh baya. Tidak ada pria muda atletis yang digambarkan ayahnya.
Syafina turun dengan langkah santai, mencoba bersikap sesopan mungkin. Saat ia sampai di ruang tamu, ia melihat papanya sedang berbincang serius dengan Pak Erkana. Wajah papanya terlihat sedikit kecewa.
"Mereka hanya berdua saja? Syukur deh. Aku nggak perlu repot-repot menolak anak leting Papa yang Papa ceritakan kemarin."
"Assalamualaikum."
Salam dari tamunya mulai menggema. Dallas dan Syafana membalas kompak dengan suara yang terdengar bahagia.
"Mana Nak Erlaga?" Suara Dallas kembali terdengar.
Tiba-tiba jantung Syafina berdetak kencang saat sebuah nama dipertanyakan sang Papa.
"Erlaga?" gumamnya mencoba mengingat-ingat.