Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGERAKAN GELAP
Minggu pagi, Rajendra bangun dengan perasaan tidak enak.
Bukan karena sakit. Tubuhnya sehat. Tapi ada sesuatu yang mengganggu sejak kemarin malam, sejak bertemu Dera di networking event.
Dera datang bukan kebetulan. Dia datang dengan tujuan.
Dan Rajendra belum tahu apa tujuan itu.
Ponselnya berdering, panggilan dari Dina.
"Halo?"
"Bos, lu udah bangun? Gue mau bahas hasil networking kemarin. Lu bisa ketemu sekarang?"
Rajendra melirik jam dinding. Pukul sembilan pagi.
"Sekarang? Minggu pagi?"
"Iya. Penting. Gue dapet info yang harus lu tahu."
"Oke. Kafe Anomali jam sepuluh?"
"Deal."
Sambungan terputus.
Rajendra bangun, mandi cepat, ganti baju, lalu keluar menuju kafe.
Sampai di Anomali Coffee Senopati jam sepuluh lewat lima menit, Dina sudah duduk di meja pojok dengan laptop terbuka dan notes di sampingnya.
Rajendra duduk di seberangnya, pesan americano.
"Ada apa?" tanya Rajendra langsung.
Dina memutar laptopnya supaya Rajendra bisa lihat layar.
Ada artikel blog dari salah satu media startup online, publish pagi ini.
Judul: "Startup E-Commerce Baru dengan Fokus Produk Lokal Dapat Funding 500 Juta"
Rajendra membaca artikel itu. Isinya tentang LokalMart, tentang funding dari Richard, tentang visi untuk angkat UMKM Indonesia.
"Ini... bagus kan?" kata Rajendra bingung.
"Iya, artikel ini bagus. Tapi bukan ini yang mau gue omongin."
Dina scroll ke bawah, ke bagian comment section.
Ada beberapa comment biasa, ada yang support, ada yang skeptis.
Tapi ada satu comment yang di-highlight Dina.
Username: StartupWatcher2010
Comment: "Rajendra Baskara ini anak dari keluarga konglomerat Grup Baskara kan? Sekarang pura-pura jadi founder startup dari nol? Classic rich kid playing entrepreneur with daddy's money."
Rajendra membaca comment itu, rahangnya mengeras.
"Siapa yang nulis ini?"
"Gak tahu. Anonymous. Tapi yang bikin gue curiga, comment ini muncul cuma sepuluh menit setelah artikel publish. Dan comment-nya terlalu specific. Dia tahu lu dari keluarga Baskara, dia tahu lu keluar dari keluarga, dia tahu tentang funding. Orang random gak akan tahu detail sebanyak itu."
Rajendra diam, pikiran berputar cepat.
"Lu pikir ini Dera?"
"Bisa. Atau orang yang Dera suruh. Kemarin dia datang ke networking event, observe lu, lihat siapa aja yang lu kenal. Sekarang dia mulai spread narrative negatif tentang lu."
"Tujuannya apa?"
"Bikin image lu jadi questionable. Bikin investor ragu. Bikin orang pikir lu bukan self-made entrepreneur tapi rich kid yang main-main."
Rajendra menekan pelipis dengan jari, merasakan sakit kepala mulai datang.
"Ini cuma satu comment. Belum tentu impact besar."
"Sekarang cuma satu. Tapi kalau ini jadi pattern, kalau mulai muncul di berbagai platform, di berbagai artikel, narrative ini bisa stick. Dan kalau udah stick, susah buat diubah."
Rajendra menatap layar laptop lagi, membaca comment itu sekali lagi.
Dina benar.
Ini baru awal.
Kalau dibiarkan, ini bisa berkembang jadi masalah yang lebih besar.
"Gue harus gimana?"
Dina menutup laptopnya.
"Dua opsi. Pertama, ignore. Jangan kasih attention. Biarin orang bicara, lu fokus deliver hasil. Kalau LokalMart sukses, narrative negatif ini akan hilang sendiri."
"Opsi kedua?"
"Counter narrative. Lu bikin konten yang jelasin story lu. Kenapa lu keluar dari keluarga. Kenapa lu mulai dari nol. Bikin orang tahu truth dari lu langsung, bukan dari gossip."
Rajendra berpikir.
Opsi pertama lebih aman tapi passive.
Opsi kedua lebih proactive tapi berisiko expose terlalu banyak tentang konflik keluarga.
"Gue pilih opsi pertama dulu. Fokus ke deliver hasil. Kalau ini makin parah, baru gue counter."
Dina mengangguk.
"Oke. Tapi gue akan monitor terus. Kalau ada comment atau artikel serupa di platform lain, gue langsung report ke lu."
"Thanks, Din."
"Sama-sama. Oh ya, satu lagi. Kemarin gue ngobrol sama beberapa PR people di event. Salah satunya nawarin buat feature LokalMart di media mereka, gratis. Cuma butuh interview sama lu, foto produk, sama background story."
"Media mana?"
"Jakarta Biz. Online media yang fokus ke startup dan entrepreneurship. Reach-nya lumayan, sekitar lima puluh ribu reader per bulan."
"Oke. Arrange aja. Kapan mereka bisa?"
"Minggu depan. Gue confirm dulu, nanti gue kabarin."
Mereka ngobrol beberapa menit lagi tentang plan marketing minggu depan, lalu Dina pamit duluan karena ada urusan keluarga.
Rajendra duduk sendirian di kafe, menghabiskan americano-nya yang sudah dingin.
Ponselnya bergetar, pesan dari Hartono.
"Rajendra, sidang Rabu depan, 29 Juli, jam 10 pagi. Jangan lupa. Kita sudah siap. Daniel pasti akan coba sesuatu, tapi kita punya bukti kuat. Tetap tenang."
Rajendra mengetik balasan.
"Siap, Pak. Saya akan datang."
Rabu depan.
Tiga hari lagi.
Sidang yang akan menentukan apakah dia dapat warisan kakeknya atau kehilangan semuanya.
Di rumah keluarga Baskara, ruang makan besar terasa sepi meski ada empat orang duduk di meja panjang.
Julian di ujung meja, wajah lelah, hampir tidak menyentuh sarapannya. Ririn di seberangnya, sesekali melirik ke Julian dengan tatapan khawatir. Dera duduk di samping Julian, makan dengan tenang seolah tidak ada yang salah.
Dan ada satu orang lagi, Jessica, duduk di sebelah Ririn. Dia datang pagi ini atas panggilan Dera.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama.
Hanya suara sendok dan garpu menyentuh piring.
Akhirnya Julian bicara, suaranya pelan tapi berat.
"Sidang Rabu depan. Daniel bilang ini sidang penting. Kalau kita kalah, Rajendra dapat semua warisan."
Ririn menatap piring di depannya, tidak menjawab.
Dera meletakkan sendoknya, menatap Julian.
"Ayah, kita gak akan kalah. Daniel udah siapkan strategi. Dan kita udah siapkan plan B kalau memang sidang tidak berjalan sesuai harapan."
Julian menatap Dera.
"Plan B yang kamu bilang kemarin? Jebak Rajendra dengan kasus pidana?"
"Iya."
Ririn mendongak cepat, wajahnya pucat.
"Apa? Kalian mau jebak Rajendra? Itu anak kita! Itu—"
"Itu anak yang udah gak peduli sama kita, Mama," potong Dera dengan nada datar. "Anak yang udah blokir nomor Mama berkali-kali. Anak yang udah bilang dia gak mau ada hubungan lagi sama keluarga ini. Kenapa Mama masih protect dia?"
Ririn menatap Dera dengan mata berkaca-kaca.
"Karena dia tetap anakku. Apapun yang terjadi."
"Tapi dia udah gak nganggap Mama sebagai ibunya lagi."
Hening.
Ririn menunduk, air mata mulai turun.
Julian menatap Dera dengan tatapan lelah.
"Sudah sampai mana plan kamu?"
"Semua udah siap. Invoice palsu. Transfer palsu. Vendor fiktif. Tinggal tunggu timing yang tepat untuk expose."
"Kapan?"
"Setelah sidang. Kalau kita kalah di sidang, kita langsung execute. Lapor ke polisi bahwa Rajendra menggelapkan dana investor. Investigasi jalan. Aset dibekukan. Dia gak bisa pakai warisan meski dia menang."
Julian diam lama, menatang piringnya yang hampir tidak tersentuh.
"Apa aku jadi monster?" tanyanya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke orang lain.
Tidak ada yang menjawab.
Dera hanya menatap ayahnya dengan tatapan datar, tanpa empati.
Jessica, yang dari tadi diam, akhirnya bicara.
"Pak Julian, kalau boleh saya bilang... ini terlalu jauh. Rajendra... dia bukan orang jahat. Dia cuma—"
"Dia cuma anak yang durhaka," potong Dera tajam. "Anak yang lebih pentingin ego dia daripada keluarga. Jangan kasihan sama dia, Jess. Dia gak akan kasihan sama kita."
Jessica terdiam, wajahnya pucat.
Ririn berdiri tiba-tiba, meninggalkan meja tanpa bicara apa-apa, masuk ke kamarnya.
Julian tetap duduk, menatap kosong.
Dera melanjutkan sarapannya seperti tidak ada yang terjadi.
Jessica menatap Dera dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara takut dan ragu.
Siang itu, di kantor LokalMart, Arief dan Rian sedang testing fitur terakhir sebelum soft launch besok.
Rajendra masuk kantor jam dua siang, wajahnya terlihat lelah.
"Bos, lu oke?" tanya Arief begitu melihat Rajendra.
"Oke. Cuma kurang tidur."
"Udah makan?"
"Belum."
Rian berdiri.
"Gue beliin nasi padang. Lu mau?"
"Mau. Thanks."
Rian keluar untuk beli makan.
Arief memutar kursinya menghadap Rajendra.
"Bos, gue mau tanya. Lu gak harus jawab kalau gak mau. Tapi... gue baca artikel tadi pagi tentang LokalMart. Terus gue baca comment section. Ada yang bilang lu anak dari keluarga kaya."
Rajendra menatapnya.
"Iya. Itu bener."
"Terus kenapa lu gak bilang sejak awal?"
"Karena itu gak relevant. Gue keluar dari keluarga itu. Gue mulai LokalMart dari nol tanpa uang mereka. Jadi gak ada hubungannya."
Arief mengangguk pelan.
"Oke. Gue cuma mau bilang, buat gue pribadi, gue gak peduli lu dari keluarga kaya atau miskin. Yang gue peduli, lu leader yang bagus, lu punya visi jelas, dan lu treat tim lu dengan respect. Itu cukup."
Rajendra tersenyum kecil.
"Thanks, Rief."
"Sama-sama. Tapi kalau lu butuh cerita, gue siap dengerin. Gak harus sekarang. Kapan aja."
"Gue akan ingat itu."
Rian balik dengan plastik berisi nasi padang, mereka makan bersama sambil ngobrol ringan tentang hal-hal random, tidak ada yang heavy.
Untuk beberapa jam, Rajendra melupakan semua masalah di luar kantor ini.
Melupakan sidang. Melupakan Dera. Melupakan comment negatif.
Fokus ke satu hal yang bisa dia kontrol: memastikan LokalMart siap launch besok.
[ END OF BAB 21 ]