NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:359.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 : Misterius

AKHHH!!

Citranti menjerit, dia sangat terkejut sekaligus takut. Matanya terbelalak melihat seorang penjaga tergeletak dengan mulut berbuih.

“Neng! Neneng! Para pelayan!” Tukiran berteriak, rahangnya mengetat, giginya beradu, emosinya mulai meledak-ledak.

Tidak ada sahutan, hening, dalam hunian gelap gulita.

“Periksa ke dalam sana!” Daryo memberikan senternya ke kusir, lalu dia mengambil penerangan yang sama di dalam dashboard mobil Mercedes-Benz Tiger (W123).

Mesin mobil tetap dinyalakan agar membantu menerangi bagian depan rumah.

Pria yang berprofesi sebagai kusir Kuda, menelan ludah. Jelas ia takut, tapi tak berani membantah kala dijadikan temeng, disuruh masuk kedalam rumah memastikan keadaan aman.

Bu Mamik memegang senter, tangannya dipeluk oleh sang putri.

Pak Tukiran berjalan bersama Daryo, tepat dibelakang kusir yang berkali-kali menghela napas, mencoba menenangkan detak jantungnya. Nyala senter pun bergoyang-goyang.

“Mas Wesa gimana, bu?” Citra mengkhawatirkan suaminya. Tadi Wesa beralasan tidak enak badan, karenanya memilih tinggal.

Pada ruang tamu, mereka dibuat terkejut. Dua orang pria layaknya algojo, tergeletak dengan kondisi sama seperti seseorang diluar. Mulut mereka mengeluarkan busa putih.

Pak Tukiran mengambil korek gas dalam saku, lalu mendekati dinding dimana ada tergantung lampu minyak.

Daryo melakukan hal sama, menghidupkan lampu yang sengaja dipadamkan entah oleh siapa.

“Nyonya muda! Mba Neneng!” gelegar suara sang kusir mengejutkan lainnya.

Bu Mamik memberanikan diri berjalan cepat ke bagian teras belakang.

Citranti mengikuti, dia takut ditinggal sendirian, sedangkan ayah dan adiknya tengah menghidupkan lampu dan memeriksa rumah sayap kanan.

“Astaga! Perbuatan siapa ini!” Alangkah terkejutnya bu Mamik, sampai sejenak napasnya tertahan sedikit lama.

Pada halaman tanah – Ainur pingsan dengan kedua tangan diikat di belakang badan, kaki juga terikat tali tambang, mulut dilakban.

Kemudian, di samping Ainur ada sang pelayan. Mba Neng pun dalam kondisi lebih mengenaskan. Mulut disumpal, tangan dan kaki diikat dijadikan satu, dia meringkuk. Pipi bengkak, sudut bibir robek mengeluarkan darah, kening terluka sampai cairan pekat mengalir pada mata tertutup.

“Sontoloyo!” Karya menendang lengan mba Neng dengan sekuat tenaga. “Aku menyuruhmu menjaga, kalau ada apa-apa langsung beri aba-aba. Kok malah kamu terkapar ndak berdaya! Dasar tidak berguna!”

Mba Neng bergeming, masih pingsan atau pura-pura tidak sadarkan diri.

Ketika Tukiran mau menginjak sisi pinggang sang selingkuhan, istrinya mencegah. Menarik lengan pria dikuasai amarah. “Pak, eling pak. Bukan menyelesaikan masalah, memecah kejanggalan ini, malah nambahi kerjaan kalau kalau sampai si Neneng mati kamu siksa!”

Cuih!

Wajah mba Neng diludahi oleh Tukiran yang kehilangan kendali diri. “Sialan!”

Kusir tadi masuk ke dalam dapur, kembali memekik. Ternyata ada tiga pelayan wanita dalam keadaan tidak terikat, tapi pingsan.

Daryo yang sudah kalap berlari ke dapur, melihat ketiga pelayanannya tak sadarkan diri ... bergegas membuang tutup gentong air dari bahan plastik, airnya disiramkan berikut wadahnya di banting ke badan lemas pembantu rumah tangga.

Argh!

Satu persatu mulai sadarkan diri, berusaha duduk. Mereka kebingungan, menahan sakit pada bagian terkena hantaman gentong air, dan kedinginan. Lalu ketakutan melihat ekspresi mengerikan sang tuan muda.

“Jelaskan apa yang terjadi!” Urat-urat leher Aryo tertarik, dia benar-benar emosi.

“Anu, anu … Tuan_”

“Yang jelas! Atau mau saya ajarkan berbicara dengan pisau baru bisa lancar, iya?!”

Salah satu dari tiga pelayan itu menggigil, suaranya nyaris tidak terdengar. “Kami ndak tahu apa-apa. Sungguh.”

“Nggak tahu apa-apa kenapa sampai bisa pingsan, goblok!”

Lainnya mencoba berbicara saat mulai ingat penyebab mereka pingsan bersamaan. “Kami tadi sedang membersihkan dapur, terus minum wedang jahe buatan simbok, teruntuk tuan Wesa, tapi kebanyakan. Daripada mubazir dan memang suhu sedang dingin – kami minum sisanya, ndak lama kemudian semuanya gelap.”

“Ampun, tuan Aryo! Ampun!” Mereka bertiga menangkupkan tangan, bersungguh-sungguh meminta ampunan sampai bersujud. “Kami tidak berbohong, memang seperti itu kejadiannya.”

“Mas Wesa! Mas!” Citranti meraung-raung, lalu napasnya tersengal-sengal, mata terperangah sekaligus ngeri melihat sang suami bersimbah darah.

“Pak! Tolong Wesa, Pak! Dia sekarat!” bu Mamik berteriak kencang.

Aryo tidak jadi melanjutkan interogasinya, dia berlari keluar. Sedangkan kusir menghidupkan penerangan di dapur.

Tukiran melangkah lebar, napasnya memburu, masuk dulu ke dalam rumah, mengambil sebilah pedang yang diletakkan pada rak pajangan penyimpanan senjata tajam.

Citranti meraung-raung, dia bersimpuh, menggoyang pundak suaminya yang tak sadarkan diri, terbaring di bawah pohon kelapa. “Bangun, Mas! Buka matamu!”

“Ini jari siapa?!” tanya Aryo setengah memekik, hampir saja menginjak jari jempol manusia.

“Itu _ itu ….” Telunjuk bu Mamik bergoyang, suaranya bergetar. Dia menunjuk Wesa yang telanjang bulat.

Hah!

Daryo terkesiap, langkahnya terhenti, matanya menatap lekat tangan kanan diletakkan diatas perut. Wesa kehilangan empat jari, tertinggal telunjuk saja.

Tukiran mengumpat, mengutuk si pelaku yang entah siapa itu. “Ku bunuh kau bedebah! Berani sekali menantang keluarga terhormat, terkuat, hah!”

Dari sepuluh pelayan termasuk mba Neng, hanya lima orang yang sadarkan diri setelah dibangunkan pak kusir. Tiga wanita, dua orang laki-laki.

Pekerja wanita menggigil, takut, kedinginan, bingung harus bagaimana. Situasi disini mencekam, mereka tidak tahu apa-apa. Jujur mengatakan yang sebenarnya.

“Angkat dia!” Tukiran memerintahkan kepada pelayan pria, membopong sang menantu agar bisa dibawa masuk ke dalam mobil. "Bawa sekalian jari-jarinya!"

Pekerja pria takut-takut memungut jari dingin, darahnya belum membeku, lalu memasukan ke dalam saku kemeja. Kemudian membopong Wesa yang tidak mengenakan pakaian.

“Kalian bertiga! Bopong Neneng dan Ainur!” Tukiran menunjuk menggunakan ujung pedang.

Citranti lemas, masih terus menangis. Dipapah sang ibu, dan dituntun ke luar rumah mau membawa Wesa ke hunian ki Ageng.

“Bedebah terkutuk!” Daryo murka, matanya nyalang memandang sekitar, tapi tak dapat apa-apa. Anehnya, tidak ada kerusakan pada perabotan rumah. Tadi dia sempat masuk ke kamar ibunya, membuka lemari khusus penyimpanan uang serta emas dan benda berharga. Semua masih utuh.

“Yang mati biarkan saja! Besok tinggal dipendam atau buang ke hutan supaya dicabik-cabik binatang buas! Digaji tapi tidak berguna, bisa-bisanya kita kecolongan! Jahanam!” Tukiran berbalik badan, setengah berlari kecil menuju depan.

Daryo mengikuti dari belakang, tujuan mereka cuma satu – hunian ki Ageng. Tidak sabaran mendengar, melihat kejadian yang sesungguhnya.

***

Ainur dinaikan ke kereta Kuda. Dia duduk dengan dipeluk oleh pelayan wanita agar tidak jatuh. Ikatan pada tangan, kaki sudah dilepaskan, mulutnya juga terbebas dari lakban.

Mba Neng diapit kedua rekannya. Sesekali seseorang mengelap darah yang masih mengalir di kening menggunakan sapu tangan kumal.

Sang kusir berteriak memerintahkan Kuda bergerak. Di depannya sudah ada mobil yang mulai melaju.

Malam ini, untuk pertama kalinya – Tukiran, Daryo merasa harga diri serta martabat keluarga diinjak-injak. Mereka dipermainkan, dan dibuat penasaran.

Sementara bu Mamik dan Citranti, ketakutan. Tak menyangka bakalan melihat hal mengerikan.

“Siapa manusia jahat yang berani menyiksa suamiku layaknya binatang, ki Ageng …?”

.

.

Bersambung.

1
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
Aprisya
karma itu nyata ya pak gi🤣🤣🤣🤣
ora
Siapa juga yang bakal nolongin😂😂
ora
Haduh ... nambah-nambahi kejahatan ....
neni nuraeni
lnjuut
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
mantap ih suka deh 🤭
FiaNasa
wadawwww...minum air campur kotoran anjing hiiiii
Gadis misterius
Baru 1x dikacih minum dicampur kotoran sugianto sdh marah2 apa lagi ainur yg puluhn tahun
.
...Smua dpt giliran dan tdk boleh ada yg selamat
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tapi benar juga sih, setan lebih menggemaskan dari pada mereka manusia² b4ngs4t yg tengah ketakutan menanti hukuman😏
lyani
bukan anak Ainur kan y?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!