NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Yang Mengintai

“Nona…”

Shuang Shuang menangis tersedu-sedu. Tangannya gemetar saat mengoleskan salep ke lutut Bai Ruoxue yang lebam kebiruan. Setiap sentuhan membuat gadis itu meringis, namun ia menahan diri agar tidak bersuara. Gadis itu perlahan dan lembut menyentuh kulit bak putih susu itu. Sambil sekali-kali memberikan tiupan pelan seolah berharap akan meringankan sedikit rasa sakitnya.

“Sekarang apa lagi?”

Suara Bai Ruoxue terdengar sangat lemah, nyaris seperti bisikan. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, bukan hanya karena luka, tetapi karena kelelahan yang menumpuk tanpa jalan keluar. Tubuhnya sangat dingin karena terlalu lama terkena air hujan. Namun napasnya terasa sangat panas.

“Anda terluka…”

Shuang Shuang terisak.

“Dan…” suaranya tercekat, “…Anda sudah berurusan dengan Permaisuri.”

Bai Ruoxue menutup matanya sejenak.

Ia tidak bodoh. Meski bukan orang dari dunia ini, ia bisa membaca situasi. Permaisuri bukan wanita bodoh yang bertindak karena emosi. Wanita itu berdiri di puncak istana bukan karena kecantikan semata, melainkan karena kecerdikan dan kesabaran yang kejam. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Setiap senyum adalah senjata.

Dan sekarang, ia—Bai Ruoxue—telah masuk ke dalam pandangannya.

“Aku tidak pernah berniat berurusan dengannya,” gumam Bai Ruoxue lirih.

Namun niat tidak pernah berarti apa-apa di istana. Tidak ada yang menilai niatnya baik atau tidak. Tapi orang-orang selalu mencari kesempatan yang sama, kesempatan untuk menjatuhkan seseorang.

Ia menghela napas panjang, lalu membuka mata dan menatap langit di luar paviliun. Langit malam itu cerah, biru tanpa awan. Penuh bintang bersinar setelah hujan yang begitu deras. Kontras dengan dadanya yang terasa sesak.

Apa yang harus ia lakukan?

Ia sama sekali tidak tahu apa-apa.

Tidak tahu aturan tak tertulis.

Tidak tahu siapa kawan, siapa musuh.

Tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup di lingkungan yang setiap orangnya tersenyum sambil menyiapkan pisau di balik lengan.

“Kaisar memang terlihat membelaku,” ucap Bai Ruoxue pelan, namun suaranya terdengar getir. “Tapi pria itu… justru awal dari kehancuranku.”

Shuang Shuang terdiam. Ia tidak berani menyela.

“Mengapa Yang Mulia begitu perhatian padaku?”

Pertanyaan itu meluncur tanpa benar-benar ditujukan pada siapa pun. Tatapan kosong sambil mengingat kejadian selama ini.

Perhatian itu terasa seperti boomerang. Setiap tatapan Kaisar, setiap pembelaan kecil, setiap panggilan khusus—semuanya berubah menjadi undangan bagi kebencian.

“Aku bisa merasakannya,” lanjut Bai Ruoxue. “Tatapan para selir. Senyum mereka. Cara mereka membicarakanku seolah aku ini penyakit yang harus disingkirkan.”

Ia mengepalkan tangan.

“Dia seharusnya membiarkan,” katanya lirih namun penuh emosi.

“Harusnya dia diam saja.”

“A—apa maksud Anda?” Shuang Shuang akhirnya memberanikan diri bertanya.

Bai Ruoxue tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung sedikit pun kegembiraan.

“Di tempat seperti ini,” katanya, “perhatian dari pria paling berkuasa bukanlah hadiah. Itu adalah tanda sasaran.”

Ia menatap Shuang Shuang dengan mata yang redup, namun penuh kesadaran pahit.

“Jika aku selir biasa, jika aku tidak pernah dipanggil, tidak pernah dibela, tidak pernah disebut namaku di hadapan orang lain… mungkin aku bisa hidup tenang. Dilupakan. Aman.”

Shuang Shuang menelan ludah. “Tapi sekarang…”

“Sekarang aku dianggap ancaman,” potong Bai Ruoxue. “Bukan karena aku menginginkannya. Tapi karena mereka menganggap aku bisa mengambil sesuatu dari mereka.”

Keheningan menyelimuti paviliun. Lentera-lentera mulai dinyalakan satu per satu di luar, cahayanya menembus tirai tipis, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak seperti sosok yang mengintai. Angin malam memasuki ruangan yang dipenuhi kesunyian itu. Mulai menyentuh kulitnya dan kini menggoyangkan rambut hitamnya.

Bai Ruoxue merasa muak.

Muak dengan lingkungan ini.

Muak dengan kelicikan yang dibungkus kesopanan.

Muak dengan rasa iri dan dengki yang lebih berbahaya daripada pedang.

Muak dengan kenyataan bahwa kekuasaan adalah segalanya—dan ia tidak memilikinya.

“Di sini,” katanya perlahan, “orang tidak bertanya apakah kau benar atau salah. Mereka hanya bertanya, kau berguna atau tidak. Kau menguntungkan atau mengganggu.”

Shuang Shuang menggenggam ujung lengan bajunya. “Nona… jangan seperti itu. Pelan-pelan anda pasti akan mendapatkan kekuasaan itu. Anda selalu bisa memecahkan sesuatu kan?"

Pertanyaan itu membuat Bai Ruoxue terdiam lama.

Masalahnya ia bukanlah Bai Ruoxue yang asli. Bukan perempuan dari dunia ini yang sudah memiliki 'pengetahuan umum' tentang sesuatu atau kerajaan ini. Tidak tahu bagaimana 'kekuasaan' itu bekerja.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara mendapatkan kekuasaan itu. Ia tidak punya keluarga besar di istana. Tidak punya faksi. Tidak punya pendukung. Satu-satunya ‘perlindungan’ yang dimilikinya hanyalah Kaisar—dan justru itulah sumber bencana.

Langkah kaki terdengar di luar paviliun.

Bukan tergesa. Teratur. Berwibawa.

Shuang Shuang langsung berdiri, wajahnya pucat. “Siapa di sana?”

“TITAH PERMAISURI.”

Suara itu dingin, tanpa emosi. Menggelegar keras diantara kesunyian paviliun itu.

Jantung Bai Ruoxue berdegup keras. Ia sudah menduga akan ada 'sesuatu hal' yang kembali menghampirinya. Apalagi, ada kata 'permaisuri' di sana.

“Selir Xue diminta hadir besok pagi di Aula Phoenix.”

Aula Phoenix.

Tempat di mana Permaisuri menerima selir-selir. Tempat di mana pujian bisa berubah menjadi hukuman sosial. Tempat di mana seseorang tidak dibunuh secara fisik—namun dihancurkan martabat dan posisinya.

“Besok pagi?” Shuang Shuang memberanikan diri bertanya.

“Jangan terlambat.”

Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang diajukan, seolah-olah satu pengumuman itu sudah sangat cukup untuk memberi informasi.

Langkah kaki itu menjauh, meninggalkan udara yang terasa semakin berat.

Shuang Shuang berbalik dengan wajah panik. “Nona… itu jelas jebakan.”

Bai Ruoxue mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Jika Anda salah bicara—”

“Aku akan dianggap lancang.”

“Jika Anda terlalu patuh—”

“Aku akan diinjak.”

Bai Ruoxue menatap langit-langit paviliun. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sendirian.

“Permaisuri ingin melihatku,” katanya. “Bukan untuk menghukumku lagi. Tapi untuk mengukurku.”

“Mengukur?” Shuang Shuang bingung.

“Mengukur seberapa mudah aku dihancurkan.”

Malam itu, Bai Ruoxue tidak tidur. Ia duduk di depan meja kecil, menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajah itu tampak rapuh, namun di balik mata yang lelah, ada sesuatu yang mulai mengeras.

Jika ia terus menjadi korban, ia akan mati cepat atau lambat.

Jika ia ingin hidup…

ia harus berubah.

Bukan menjadi licik seperti mereka.

Bukan menjadi kejam tanpa arah.

Namun cukup berbahaya untuk membuat orang lain berpikir dua kali sebelum menyentuhnya.

“Kaisar,” gumamnya pelan. “Jika kau tidak sadar bahwa perhatianmu adalah racun…”

Ia tersenyum pahit.

“Maka aku tidak bisa terus mengandalkanmu.”

Besok pagi, di Aula Phoenix, Bai Ruoxue tidak akan datang sebagai gadis berani yang kebingungan.

Ia akan datang sebagai seseorang yang tahu satu hal pasti: di istana ini, yang tidak punya kekuasaan akan dijadikan korban.

Dan jika ia harus memilih… ia lebih baik belajar menjadi ancaman, daripada terus menjadi mangsa.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!