Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUGUP SEBELUM PERNIKAHAN
Lima hari sebelum pernikahan, Mayra terbangun tengah malam dengan jantung berdebar kencang.
Dia mimpi buruk.
Dalam mimpi itu, dia berdiri di altar menunggu Dev, tapi Dev tidak pernah datang. Lalu tiba-tiba Arman muncul, diikuti Zakia, Siska, Valerie, semua orang dari masa lalu yang mencoba merusak hari bahagianya.
Mayra duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Di sampingnya, Dev masih tertidur nyenyak. Mayra menatap wajah suaminya yang tenang, sangat berbeda dengan kecemasan yang sedang dia rasakan.
Dengan hati-hati supaya tidak membangunkan Dev, Mayra turun dari tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Terlalu dini untuk bangun, tapi Mayra tahu dia tidak akan bisa tidur lagi.
Dia duduk di sofa ruang tamu dengan selimut, menatap pemandangan Jakarta malam yang sepi dari jendela besar.
"Tidak bisa tidur?"
Mayra terlonjak. Dev berdiri di ambang pintu kamar dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah terpejam.
"Maaf, aku membangunkanmu?" tanya Mayra.
"Bukan kamu. Tempat tidur terasa dingin tanpa kamu," jawab Dev sambil berjalan menghampiri dan duduk di samping Mayra. "Ada apa? Mimpi buruk?"
Mayra mengangguk. "Bagaimana kamu tahu?"
"Karena aku kenal kamu," kata Dev sambil menarik Mayra ke dalam pelukannya. "Cerita."
Mayra menceritakan mimpinya. Dev mendengar dengan seksama, sesekali mengusap punggung Mayra dengan menenangkan.
"Itu hanya mimpi, sayang. Tidak akan terjadi. Aku akan ada di altar menunggumu. Tidak ada yang akan merusak hari kita," kata Dev dengan yakin.
"Tapi bagaimana kalau ada yang salah? Bagaimana kalau..."
"Mayra," potong Dev dengan lembut sambil memutar tubuh Mayra untuk menghadap dia. "Kenapa kamu cemas? Ini bukan pernikahan pertama kita yang penuh ketidakpastian. Ini pernikahan yang kita rencanakan dengan hati-hati, dengan cinta. Apa yang kamu takutkan sebenarnya?"
Mayra terdiam, mencoba mengidentifikasi kecemasan yang dia rasakan.
"Aku takut kebahagiaan ini sementara. Aku takut suatu hari nanti aku akan bangun dan sadar ini semua hanya mimpi indah yang akan berakhir," jawab Mayra dengan suara pelan.
Dev memegang wajah Mayra dengan kedua tangannya, memaksa Mayra menatap matanya.
"Dengarkan aku baik-baik. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Cinta kita nyata. Pernikahan kita nyata. Dan ini tidak akan berakhir. Aku tidak akan kemana-mana. Kamu mengerti?" kata Dev dengan serius.
"Tapi bagaimana kamu bisa yakin?" tanya Mayra dengan mata berkaca-kaca.
"Karena aku sudah hidup tanpa cinta selama sepuluh tahun setelah Valerie. Dan aku tahu persis bagaimana rasanya kehidupan yang hampa dan dingin itu. Sekarang aku punya kamu, aku punya kehangatan, kebahagiaan, tujuan hidup. Kamu pikir aku akan sia-siakan itu? Tidak akan pernah," jawab Dev dengan penuh keyakinan.
Air mata Mayra mulai jatuh. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dan karena itulah aku takut kehilangan."
"Dan karena aku mencintaimu juga, kamu tidak akan pernah kehilangan aku," kata Dev sambil menghapus air mata Mayra. "Sekarang, ini yang akan kita lakukan. Besok kita akan duduk bersama dan kamu akan buat daftar semua yang kamu khawatirkan tentang pernikahan. Lalu kita akan tangani satu per satu sampai kamu merasa aman. Oke?"
Mayra mengangguk. "Oke."
"Sekarang, kembalilah tidur. Kamu butuh istirahat. Lima hari lagi adalah hari besar kita," kata Dev sambil mengangkat Mayra dengan mudah, membuat Mayra tertawa kaget.
"Dev! Aku bisa jalan sendiri!"
"Aku tahu. Tapi aku suka membawa istriku," goda Dev sambil membawa Mayra kembali ke kamar.
***
Pagi harinya, seperti yang dijanjikan, Dev dan Mayra duduk di meja makan dengan buku catatan dan pulpen.
"Oke, tulis semua kekhawatiranmu," kata Dev sambil mendorong buku catatan ke arah Mayra.
Mayra mulai menulis:
Bagaimana kalau cuaca buruk di hari pernikahan?
Bagaimana kalau ada penyedia jasa yang tidak datang atau ada masalah?
Bagaimana kalau Siska benar-benar datang dan membuat keributan?
Bagaimana kalau gaunku tidak pas atau ada masalah?
Bagaimana kalau aku tersandung saat berjalan di altar?
Bagaimana kalau aku lupa janji pernikahan?
Dev membaca daftar itu dengan seksama, lalu tersenyum.
"Oke, mari kita tangani satu per satu," kata Dev sambil mengambil pulpen dan menulis solusi di samping setiap poin.
"Nomor satu, cuaca. Kita sudah sewa tenda transparan sebagai cadangan. Hujan atau cerah, kita akan tetap punya tempat yang indah. Plus, Karina bilang prakiraan untuk hari itu cukup bagus. Jadi kemungkinan hujan kecil."
"Nomor dua, penyedia jasa. Karina dan timnya sudah mengecek ulang tiga kali dengan semua penyedia jasa. Mereka semua dikonfirmasi dan punya rencana cadangan untuk setiap kemungkinan. Kita membayar mereka dengan baik, mereka tidak akan mengecewakan."
"Nomor tiga, Siska. Keamanan sudah diberitahu. Ada foto dari Siska dan Zakia yang sudah diberikan ke mereka. Kalau mereka mencoba masuk tanpa undangan, keamanan akan menangani dengan profesional dan bijaksana."
"Nomor empat, gaun. Kamu sudah fitting tiga kali. Madame Elise adalah orang profesional. Gaun akan sempurna. Plus, Dina akan ada untuk membantu dengan hingga sesuai di menit terakhir."
"Nomor lima, tersandung. Kamu akan pakai sepatu yang nyaman dan sudah dipraktekkan. Plus, Papa akan ada di sampingmu untuk dukungan. Dan bahkan kalau kamu tersandung, yang penting kamu sampai ke aku dengan selamat. Aku tidak peduli bagaimana caranya."
"Nomor enam, lupa janji pernikahan. Kita sudah menulis dan membaca janji kita berkali-kali. Tapi kalau kamu lupa, aku akan bisikkan ke kamu. Atau kita bisa bilang dari hati saja di saat itu. Kata-katanya tidak harus sempurna selama perasaannya ada."
Mayra menatap solusi yang Dev tulis dengan perasaan lega.
"Kamu sudah memikirkan semua ini?" tanya Mayra dengan terharu.
"Tentu saja. Aku juga gugup, Mayra. Tapi aku gugup karena bersemangat, bukan karena takut. Dan sekarang, apakah daftar ini membuatmu merasa lebih baik?" tanya Dev.
"Jauh lebih baik," jawab Mayra dengan senyum. "Terima kasih sudah sabar dengan kecemasanku."
"Kapan saja, sayang," kata Dev sambil mencium kening Mayra.
***
Tiga hari sebelum pernikahan, Mayra dan Dev pergi ke Taman Eden untuk latihan.
Karina dan timnya sudah ada di sana, mengatur semua detail untuk memastikan semuanya berjalan lancar di hari yang ditentukan.
"Oke, jadi ini akan seperti uji coba untuk hari Sabtu nanti," jelas Karina sambil memegang papan klip. "Kita akan menelusuri seluruh alur upacara dan resepsi."
Pak Bambang, Dina, dan Marco juga datang untuk latihan sebagai bagian dari rombongan pernikahan.
"Baiklah, Papa dan Mayra, silakan mulai dari sini," instruksi Karina sambil menunjuk titik awal di ujung lorong yang sudah ditandai.
Band langsung mulai memainkan lagu pilihan Mayra untuk prosesi masuk, versi instrumental dari "A Thousand Years" yang lembut dan romantis.
Bambang meraih lengan Mayra dan mereka mulai berjalan perlahan di lorong yang ditandai dengan tali putih sementara.
Mayra menatap ke depan di mana Dev berdiri di gazebo dengan Marco di sampingnya. Meskipun ini hanya latihan, meskipun Dev hanya memakai kaos dan jeans, meskipun tidak ada tamu, jantung Mayra tetap berdebar melihat Dev menunggunya di sana.
Dev tersenyum melihat Mayra berjalan mendekat. Dan Mayra tahu, di hari sebenarnya nanti, momen ini akan seribu kali lebih emosional.
"Lalu di sini, Papa akan serahkan Mayra ke Dev," kata Karina saat mereka sampai di gazebo. "Papa akan mengangkat kerudung Mayra, mencium kening atau pipi Mayra, lalu menaruh tangan Mayra di tangan Dev."
Bambang mempraktekkan gerakan itu, meskipun tidak ada kerudung, dia tetap berpura-pura mengangkat dan mencium kening Mayra dengan lembut. Lalu dia menaruh tangan Mayra di tangan Dev.
"Jaga putriku," bisik Bambang pada Dev, bukan bagian dari naskah, tapi itu perasaan tulus.
"Dengan seluruh hidupku," jawab Dev dengan serius.
Papa tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu mundur untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan.
"Lalu kalian berdua akan menghadap Pastor, yang akan berdiri di sini," lanjut Karina sambil menunjuk posisi. "Pastor akan membuka upacara, lalu pembacaan, lalu pertukaran janji pernikahan."
Dev dan Mayra berlatih berbalik dan menghadap ke depan,dengan tangan tetap bergandengan.
"Saat pertukaran janji, kalian akan saling berhadapan. Dev akan bilang janjinya dulu, lalu Mayra," instruksi Karina.
Dev berbalik menghadap Mayra, kedua tangan memegang tangan Mayra.
"Haruskah aku praktekkan janjiku sekarang?" tanya Dev dengan senyum nakal.
"Tidak!" protes Mayra sambil tertawa. "Aku mau dengar untuk pertama kalinya di hari sebenarnya!"
"Baiklah," kata Dev sambil terkekeh. "Tapi aku bisa kasih gambaran, janjiku akan buat kamu menangis."
"Aku sudah menduga itu," kata Mayra sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan latihan, pertukaran cincin, pengumuman sebagai suami istri, ciuman, prosesi keluar, lalu alur resepsi dengan tarian pertama, pidato, pemotongan kue, dan sebagainya.
Semuanya berjalan lancar. Tidak ada masalah berarti, semua orang tahu posisi dan waktu mereka.
"Sempurna!" kata Karina dengan puas di akhir latihan. "Kalian semua luar biasa. Hari Sabtu akan berjalan dengan sempurna."
***
Malam itu, setelah makan malam latihan dengan keluarga dekat dan rombongan pernikahan di restoran yang nyaman, Dev dan Mayra duduk di balkon penthouse dengan secangkir wine, menatap bintang.
"Tiga hari lagi," kata Mayra dengan pelan.
"Tiga hari lagi," ulang Dev sambil menggenggam tangan Mayra. "Kamu masih gugup?"
"Sedikit. Tapi bersemangat juga. Dan siap. Aku benar-benar siap untuk menikah denganmu lagi, Dev. Dengan cara yang benar kali ini," jawab Mayra.
"Aku juga siap. Aku sudah siap sejak aku menyadari aku jatuh cinta padamu," kata Dev.
"Kapan tepatnya itu terjadi?" tanya Mayra dengan penasaran. "Kapan kamu sadar kamu jatuh cinta padaku?"
Dev berpikir sejenak. "Aku pikir saat kamu merawat aku waktu aku pulang larut malam dari kantor karena krisis itu. Kamu menyelimutiku, memasak sup, dan bilang aku juga penting. Bukan karena kontrak atau kewajiban, tapi karena kamu benar-benar peduli. Saat itu aku sadar ini bukan lagi transaksional. Ini nyata."
"Untukku," kata Mayra, "saat kamu bilang 'tapi kamu juga' waktu kamu setengah tidur itu. Aku tahu kamu mungkin tidak sepenuhnya sadar, tapi kata-kata itu membuatku sadar bahwa perasaanku padamu bukan sepihak. Dan aku mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, kita bisa punya sesuatu yang nyata."
Dev menarik Mayra lebih dekat, membiarkan kepala Mayra bersandar di bahunya.
"Tiga hari lagi, kita akan resmi menyatakan cinta kita di depan semua orang yang kita sayangi. Dan aku sudah tidak sabar," bisik Dev.
"Aku juga," bisik Mayra balik.
Dan duduk di sana, di bawah bintang-bintang, dengan wine di tangan dan cinta di hati, Mayra tahu, semua kecemasan, semua kekhawatiran, semuanya tidak ada artinya.
Yang penting adalah mereka berdua, bersama, siap untuk memulai bab baru dalam kehidupan mereka.
Dengan cara yang benar.
Dengan cinta yang tulus.
Selamanya.
********
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi