NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah selesai menikmati bakso, Luna dan Pratama memutuskan untuk segera pulang.

Tak lama setelah mereka sampai di rumah, sebuah mobil bak terbuka datang membawa pesanan Luna.

Panci besar, tumpukan mangkok porselen, gelas, serta perlengkapan soto lainnya.

Pak Wandi yang sejak tadi mengawasi dengan mata penuh rasa ingin tahu, segera mengikuti mereka hingga ke depan rumah.

Tetangga lainnya pun mulai berkumpul, berbisik-bisik melihat barang-barang baru yang tampak mahal itu masuk ke rumah kontrakan kecil Pratama.

"Wah, Pratama! Dapat pesugihan dari mana kamu? Baru menikah sehari barangnya sudah mewah begini," celetuk Pak Wandi dengan nada iri yang kental.

Luna hanya melirik tajam tanpa membalas perkataan Pak Wandi.

Ia segera duduk di lantai beralaskan tikar, mengambil pisau, dan mulai membantu suaminya mengupas tumpukan bawang putih.

"Dik, Mas bersihkan ayam di dapur dulu ya, sekalian cuci soun sama bumbu lainnya," ucap Pratama lembut.

"Iya, Mas," jawab Luna sambil tersenyum.

Begitu Pratama menghilang ke arah dapur, Luna segera merogoh ponselnya.

Ia mengetik pesan singkat dengan sangat cepat kepada Arini.

[Arini, cari ruko kosong yang strategis tepat di depan Rumah Sakit Husada sekarang juga. Aku mau Mas Pratama jualan di sana mulai lusa. Tapi ingat, jangan pernah bilang kalau ruko itu dariku. Atur skenario sedemikian rupa, entah itu pemiliknya sedang berbaik hati atau ada undian, pokoknya buat Mas Pratama tidak curiga sedikit pun. Ini perintah!]

Luna kembali menyimpan ponselnya saat mendengar suara air dari dapur.

Ia harus memastikan suaminya mendapatkan tempat terbaik tanpa melukai harga dirinya yang tinggi.

Sambil mengupas bawang, Luna membayangkan bagaimana ekspresi Pratama nanti jika ia berhasil berjualan di depan rumah sakit besar, tempat di mana calon pelanggannya pasti sangat ramai.

Aroma gurih kaldu ayam mulai memenuhi dapur kecil itu.

Pratama baru saja menyelesaikan tahap pertama; membersihkan ayam kampung pilihan Luna dan merebusnya dalam panci besar yang baru saja tiba.

Uap panas mengepul, membawa harapan baru bagi hidupnya yang selama ini terasa buntu.

Setelah memastikan api kompor stabil, Pratama menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil dan melangkah kembali ke ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah pemandangan yang menyentuh relung hatinya.

Di atas tikar pandan, Luna terduduk dengan kepala yang terkulai lemas ke arah bahunya sendiri.

Matanya terpejam rapat, napasnya teratur dan halus.

Di pangkuannya masih ada wadah berisi bawang putih, dan tangannya masih memegang sebuah pisau kecil yang hampir terlepas dari jemarinya.

Luna tampak begitu kelelahan. Sebagai wanita yang sebenarnya tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar, aktivitas di pasar dan mengupas bumbu di bawah panasnya udara kampung benar-benar menguras tenaganya.

"Masya Allah, Dik..." bisik Pratama pelan dengan tatapan penuh haru.

Ia merasa sangat bersalah sekaligus bersyukur. Ia merasa bersalah karena membiarkan istrinya yang cantik harus bekerja keras di hari pertama pernikahan mereka, namun ia juga bersyukur karena menemukan wanita sehebat Luna yang tidak mengeluh sedikit pun meskipun hidup dalam kesederhanaan bersamanya.

Pratama mendekat dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Ia mengambil pisau dari tangan Luna dengan hati-hati, lalu menyingkirkan wadah bawang ke samping.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Pratama menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Luna.

Ia membopong tubuh istrinya yang terasa ringan itu dengan penuh kasih sayang.

Luna sempat menggumam kecil dalam tidurnya, kepalanya secara alami bersandar di dada tegap Pratama, mencari kenyamanan.

Pratama membawanya masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan Luna di atas tempat tidur sederhana mereka.

Ia menyelimuti tubuh istrinya dengan kain panjang, memastikan Luna bisa beristirahat dengan tenang.

"Selamat istirahat, Dik. Terima kasih sudah mau menemaniku," bisik Pratama sambil mengecup kening Luna singkat sebelum ia kembali ke dapur untuk melanjutkan meracik bumbu soto.

Detik demi detik berganti hingga jarum jam menunjukkan pukul lima sore.

Cahaya matahari yang mulai jingga masuk melalui celah ventilasi kamar, mengenai wajah Luna.

Ia mengerjap, membuka matanya perlahan, dan seketika terperanjat saat menyadari dirinya sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur.

"Ya Allah, bawangnya!" serunya panik.

Ia teringat terakhir kali dirinya sedang berjuang melawan kantuk saat mengupas tumpukan bawang putih di ruang tamu.

Luna segera bangkit dan keluar dari kamar dengan terburu-buru. Namun, pemandangan di depannya membuatnya terpaku.

Ruang tamu sudah bersih, dan aroma soto yang sangat harum menyeruak dari arah dapur.

Pratama sedang merapikan beberapa perlengkapan ke dalam rak kecil.

"Mas, sudah selesai semuanya?" tanya Luna dengan nada tidak enak hati.

Pratama menoleh, wajahnya tampak lelah namun senyumnya begitu cerah. "Alhamdulillah sudah, Dek. Ayam sudah disuwir, bumbu sudah ditumis, dan sambalnya juga sudah jadi. Besok pagi kita tinggal berangkat jualan."

Luna menunduk, meremas jemarinya. "Maaf ya, Mas... aku malah ketiduran. Harusnya aku yang selesaikan itu semua."

Pratama melangkah mendekat, menepuk bahu Luna dengan lembut. "Nggak apa-apa, Dek. Kamu pasti capek sekali hari ini. Mas senang bisa melakukannya sendiri, apalagi melihat kamu bisa istirahat tenang tadi."

Pratama kemudian melirik jam dinding. "Ayo, kita makan dulu sambil menunggu azan Maghrib. Mas sudah siapkan nasi dan sedikit kuah soto buat kita cicipi."

Mereka berdua duduk lesehan di ruang tamu yang kini terasa lebih hangat.

Sambil menikmati makan sore yang merangkap makan malam itu, Luna kembali teringat akan pesannya kepada Arini.

Ia berharap besok kejutan tentang ruko di depan Rumah Sakit Husada bisa berjalan lancar tanpa membuat suaminya curiga.

Luna duduk di samping suaminya, menyendok nasi ke piring. Namun, baru saja ia hendak menyuap, matanya tiba-tiba membulat.

Ia menepuk jidatnya pelan, teringat satu elemen krusial yang hampir terlupakan.

"Ya Allah, Mas! Kita lupa buat koyanya!" seru Luna panik.

Bagi Luna yang berinsting bisnis tajam, soto tanpa koya adalah kesalahan besar.

Pratama menghentikan suapannya, tampak bingung.

"Koya? Mas dulu kan tidak pakai koya, Dik, sotonya. Cuma kuah bening saja sudah banyak yang beli."

"Justru itu, Mas. Dengan ayam kampung yang kita beli tadi, kalau ditambah koya gurih dari kerupuk udang, rasanya akan naik kelas. Setelah shalat Magrib kita beli kerupuk udang ya, Mas."

"Dik, kamu tidak capek?" tanya Pratama khawatir melihat istrinya yang baru saja bangun tidur tapi sudah kembali sibuk memikirkan jualan.

"Nggak, Mas. Semangatku malah baru muncul sekarang," jawab Luna mantap. Ia lalu teringat sesuatu.

"Mas punya blender?"

Pratama menggelengkan kepalanya ke arah istrinya.

"Tidak punya, Dik. Mas biasanya cuma pakai ulekan kayu kalau buat bumbu."

Luna tersenyum tipis. Ini saatnya ia menggunakan "dana darurat" lagi.

"Nanti kita beli sekalian ya, Mas. Oh iya, ini tadi ada titipan kado pernikahan berupa uang dari Arini untuk kita. Katanya buat modal awal."

Luna menunjukkan sejumlah uang yang sudah ia siapkan agar terlihat seperti pemberian sahabat.

"Dik, itu uang dari sahabatmu, hak kamu. Jangan dipakai buat kepentingan Mas. Mas tidak enak kalau terus-terusan pakai uang dari pihak kamu."

"Mas, uang bisa dicari lagi, tapi soal kualitas koya ini jangan dilewatkan. Ini kunci supaya soto Mas Pratama jadi yang nomor satu di kampung ini. Kita sudah suami istri, jadi tidak ada lagi hitungan uang aku atau uang kamu."

Pratama terdiam, hatinya luluh oleh kata-kata Luna.

Ia merasa sangat dihargai sebagai suami, meski ia tahu istrinya jauh lebih cerdas dalam merancang strategi jualan.

Setelah makan malam yang sederhana, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid terdekat.

Pratama dan Luna lekas mengambil wudhu, lalu melaksanakan salat Maghrib berjamaah di ruang tamu.

Untuk pertama kalinya, Luna merasakan kedamaian yang luar biasa saat mengaminkan doa suaminya yang begitu tulus memohon keberkahan untuk keluarga kecil mereka.

Selesai berdoa, mereka berboncengan menuju pasar induk yang masih ramai di waktu malam.

Luna tampak sangat bersemangat memilih kerupuk udang kualitas terbaik dan bawang putih bubuk.

Tak lupa, mereka mampir ke toko elektronik untuk membeli sebuah blender.

Sesampainya di rumah, dapur kecil itu kembali sibuk.

Pratama dengan cekatan menggoreng kerupuk udang hingga mekar sempurna, sementara Luna menyiapkan blender baru mereka.

Suara bising blender yang menghaluskan kerupuk udang menjadi bubuk koya yang gurih memenuhi ruangan.

"Mas, besok aku ikut jualan ya di jam-jam awal. Aku kan masuk mengajar jam delapan pagi, jadi jam setengah enam aku sudah bisa ikut bantu berangkat," ucap Luna sambil memasukkan koya yang sudah jadi ke dalam toples.

Pratama menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bangga.

"Iya Dik, terima kasih ya sudah mau bantu Mas sejauh ini."

Luna hanya tersenyum manis. Di dalam hatinya, ia sedang menghitung waktu menunggu kabar dari Arini mengenai ruko di depan Rumah Sakit Husada.

Ia ingin kejutan itu menjadi batu loncatan besar bagi suaminya.

Setelah semua persiapan untuk besok pagi selesai, mereka masuk ke dalam kamar.

Seperti malam sebelumnya, ada guling yang diletakkan sebagai pembatas di tengah tempat tidur. Namun, suasana malam ini terasa berbeda, jauh lebih dekat dan hangat.

Saat mereka sudah berbaring, Pratama tiba-tiba bersuara.

"Dik, mendekatlah sedikit."

"Ada apa, Mas?" tanya Luna ragu, namun ia menggeser posisinya mendekat ke arah suaminya.

Tanpa diduga, Pratama bangkit sedikit lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lembut dan lama.

Sebuah kecupan yang penuh dengan rasa hormat dan terima kasih.

Seketika, pipi Luna langsung memerah seperti kepiting rebus.

Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia memimpin rapat besar di perusahaannya.

"Ayo kita istirahat, Dik. Besok hari besar kita. Selamat mimpi indah," bisik Pratama sambil kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan mata.

Luna terdiam dengan wajah yang masih terasa panas, namun sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya sebelum ia akhirnya ikut terlelap di samping pria yang kini telah mencuri hatinya.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!