Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Cakra terhadap ibunya
Malam itu, heningnya kamar El terasa begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Hana menghilang, El segera menarik selimut hingga menutupi kepala, menciptakan ruang kecil yang remang-remang bagi dirinya sendiri.
Dengan jari gemetar, ia menyalakan smartwatch pemberian Cakra. Sinyal terhubung, dan wajah Cakra muncul di layar kecil itu. Wajah yang biasanya tegas, kini melunak penuh kasih saat menatap putranya.
"El? Kamu belum tidur, Jagoan?" tanya Cakra lembut. Namun, senyumnya memudar saat melihat mata El yang sembap. "Kamu kenapa, Nak? Suaramu terdengar sedih. Coba ceritakan sama Ayah kejadian hari ini."
El menghela napas panjang, berusaha menahan tangis yang hampir pecah. "Tadi aku jalan-jalan sama Bunda ke Mall, Yah. Kami makan di restoran, tapi tiba-tiba ada dua orang wanita yang datang. Mereka... mereka sangat menakutkan."
Cakra menajamkan pendengarannya, firasat buruk mulai merayapi hatinya. "Dua wanita? Apa yang mereka lakukan?"
"Wanita yang lebih tua mengaku sebagai Nenekku, dia marah-marah pada Bunda. Dia bahkan mau menampar Bunda, Yah! El takut sekali," cerita El dengan suara serak. "Dan wanita yang satunya lagi terus-terusan menghina Bunda. Beruntungnya Om Tama datang di saat yang tepat, Yah. Om berhasil mencegah nenek sihir itu menampar wajah Bunda. Emang betul nenek sihir... ops, maksudku, Nyonya Inggit itu adalah Nenekku, Yah?"
Brak!
Di seberang panggilan, Cakra tanpa sadar memukul meja kerjanya. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di tangannya menonjol saat ia mengepalkan tinju. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun.
Ada dua hal yang membuat darahnya mendidih: Pertama, kenyataan bahwa lagi-lagi Tama yang menjadi pahlawan bagi Hana di saat ia sendiri tidak ada di sana. Kedua, ibunya, yakni Nyonya Inggit yang baru saja kembali namun sudah berani mengusik ketenangan Hana dan membuat El trauma.
"Ayah? Kenapa diam?" tanya El lirih.
Cakra menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam amarahnya agar tidak menakuti putranya. "Maafkan Ayah, El. Ya... Nyonya Inggit memang ibuku, tapi apa yang dia lakukan itu sangat salah. Ayah janji, Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Bunda atau kamu lagi. Kamu tenang ya, tidurlah. Ayah akan urus semuanya."
Setelah panggilan berakhir, Cakra melempar ponselnya ke sofa. Ruang kerjanya yang luas terasa menyesakkan.
"Brengsek!" umpat Cakra dengan suara rendah yang mengancam. "Mamah benar-benar sudah kelewat batas. Aku sedang berusaha menghapus luka lama Hana, dan sekarang Mamah justru menambah luka baru di depan mata anakku sendiri!"
Ia teringat betapa Tama selalu berada di posisi terdepan untuk melindungi Hana. Rasa cemburu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membakar jiwanya. Cakra sadar, jika ia tidak segera bertindak tegas pada ibunya, ia akan kehilangan kesempatan selamanya untuk membawa Hana dan El kembali ke pelukannya.
Langkah Cakra menghentak lantai marmer mansion dengan penuh amarah. Malam yang seharusnya tenang berubah menjadi badai saat ia sampai di depan kamar tamu. Tanpa peduli sopan santun, ia menggedor pintu kayu jati itu dengan keras.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
"Mah, buka pintunya! Aku ingin bicara!" teriak Cakra, suaranya menggema hingga ke kamar Papahnya.
Nyonya Inggit tersentak bangun dari tidurnya dengan jantung berdegup kencang. Di saat yang sama, Pak Ardi keluar dari kamar utama dengan wajah tegang, segera menghampiri putra tunggalnya.
Begitu pintu terbuka, Cakra langsung menatap ibunya dengan mata merah padam. "Mah, berani sekali Mamah menghina Hana di tempat umum, bahkan Mamah tega ingin menamparnya, iya kan?"
Deg! Jantung Inggit seolah berhenti berdetak. Ia mematung, mencari alasan untuk berkelit. "K.. kau itu bicara apa sih Cakra? Jangan suka ngaco dan mengada-ada!"
Pak Ardi melangkah maju, wajahnya tampak sangat serius. "Betulkah apa yang kau katakan barusan, Cakra?"
"Betul, Pah! Barusan El menghubungiku. Dia menceritakan semua kejadian tadi sore padaku!"
Mendengar nama El disebut, suasana mendadak senyap. Inggit dan Pak Ardi terbelalak tak percaya.
"Cakra... jadi kau sudah bertemu dengan putramu? El Barack, cucuku?" suara Pak Ardi bergetar karena haru.
"Betul sekali, Pah. Cakra sudah dua kali bertemu dengan El," jawab Cakra dengan nada yang sedikit melunak saat menyebut nama putranya.
Pak Ardi memegang bahu Cakra dengan tangan gemetar. "Nak, tolong atur pertemuan Papah dengannya. Papah sangat ingin bertemu dan memeluknya!"
Cakra mengangguk pelan. "Nanti ya, Pah. Aku pasti akan atur pertemuan Papah dengan El." Namun tatapannya kembali berubah tajam saat menoleh ke arah ibunya.
"Dan untukmu, Mah... aku tahu Mamah pergi dengan siapa ke mall. Sekali lagi aku peringatkan, jika sampai Mamah berani mengusik El dan Hana lagi, Mamah silakan angkat kaki dari rumah ini! Paham, Mah?!"
Nyonya Inggit hanya bisa tertunduk diam, mengepalkan tangannya di balik piyama mahalnya. Ia merasa terpukul karena rencananya untuk menjadi "penyelamat" dengan membawa El secara sepihak kini hancur total. Namun di balik tundukan nya, otaknya yang licik mulai menyusun rencana lain bersama Jesica.
Perusahaan Global Energi
Keesokan paginya, ruangan kantor Hana berubah menjadi taman bunga dadakan. Puluhan buket anggrek bulan putih, bunga favorit Hana sejak dulu telah berjajar rapi, memenuhi setiap sudut meja dan sofa. Cakra sengaja memilih bunga itu sebagai permohonan maaf terselubung atas kelakuan ibunya, meski ia tak berani menuliskan alasan sebenarnya karena takut rahasia komunikasinya dengan El terbongkar.
Hana melangkah masuk, namun langkahnya terhenti. Aroma anggrek yang lembut yang biasanya ia sukai kini terasa menyesakkan. Ia mengambil kartu ucapan kecil di tengah buket utama.
"Maafkan aku untuk segalanya. Biarkan bunga ini mewakili penyesalanku."
- Cakra Ardiwinata -
Hana meremas kartu itu hingga tak berbentuk. Matanya yang jernih kini memancarkan kebencian yang dingin.
"Indah!" panggil Hana dengan suara meninggi. Sekretarisnya segera masuk dengan wajah cemas. "Tolong kau singkirkan bunga-bunga ini ke tong sampah. Jangan ada satu pun yang tersisa di dalam ruanganku!"
"Tapi Bu... ini anggrek bulan kualitas premium, harganya sangat mah..."
"Aku tidak peduli harganya! Buang sekarang juga!" potong Hana tegas.
Indah segera memanggil petugas keamanan. Dalam hitungan menit, keindahan anggrek-anggrek itu berakhir mengenaskan di tempat sampah besar di lobi gedung.
Hana kembali ke kursi kerjanya, memutar kursi menghadap jendela kaca besar yang memperlihatkan hutan beton Jakarta. Ia tersenyum sinis, sebuah senyuman yang lahir dari luka yang belum mengering.
"Maaf? Tak semudah itu kau aku maafkan, Cakra," batinnya tajam. "Kau harus merasakan rasa sakit yang telah aku rasakan selama enam tahun ini. Enam tahun telah banyak mengubah ku, membuatku menjadi wanita yang mati rasa, dan aku tidak percaya akan cinta, apalagi cinta dari pria sepertimu,ck... Permainan baru saja dimulai Cakra Ardiwinata."
Bersambung...