Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSIDEN MAKAN MALAM.
"Bisa tidak dalam sehari kamu tidak bertingkah seperti kapten geng motor?"
Adnan menatap nanar pada sosok di depannya. Nayla baru saja turun dari motor sport 250cc berwarna hitam pekat yang baru dibelikan Adnan kemarin. Gadis itu melepas helm full-face-nya, mengibaskan jilbabnya yang tertutup debu jalanan, lalu menyeringai lebar. Di belakangnya, gerbang sekolah SMA Garuda Bangsa tampak riuh; para siswa berbisik-bisik melihat "siswi juara umum" mereka berangkat sekolah dengan tunggangan yang lebih mahal dari mobil kepala sekolah.
"Pak Adnan jangan protes deh. Ini kan kesepakatan kita. Motor keren, nyali paten, prestasi nggak bakal absen," sahut Nayla sambil mencangklong tas sekolahnya.
"Prestasimu hampir tertutup oleh catatan kriminal di ruang kepala sekolah, Nayla," desis Adnan. Ia merapikan dasinya, mencoba menjaga wibawa di depan publik. "Sore ini dandan yang benar. Saya ada jamuan makan malam penting dengan kolega bisnis dari luar negeri. Jangan sampai kamu pakai jaket kulit penuh emblem itu ke restoran bintang lima."
Nayla memutar bola matanya. "Siap, Bos! Saya bakal dandan secantik bidadari sampai Bapak lupa cara kedip. Tapi kalau nanti saya salah pakai garpu, jangan marahin saya di depan umum ya? Malu tahu, nanti harga diri petarung saya jatuh."
Adnan hanya bisa memijat pelipisnya. Ia benar-benar merasa sedang mengasuh anak macan yang bisa menggigitnya kapan saja.
Malam itu, restoran fine dining di puncak gedung pencakar langit Jakarta menjadi saksi bisu perjuangan hidup dan mati seorang Nayla Safira Hanin. Nayla tampil sangat berbeda. Ia mengenakan gamis satin berwarna dusty rose dengan hijab senada yang ditata anggun. Adnan sempat terpaku selama lima detik saat melihat istrinya keluar dari kamar, meskipun kekaguman itu langsung buyar saat Nayla bertanya, "Pak, ini kainnya licin banget, kalau saya keringetan apa nggak bakal melorot?"
Di meja makan, Adnan duduk berhadapan dengan Tuan Smith dan istrinya. Suasana sangat formal. Nayla duduk di samping Adnan, menatap tumpukan garpu dan pisau di depannya dengan dahi berkerut.
"Jadi, Mrs. Adnan, apa hobi Anda?" tanya Mrs. Smith dengan aksen Inggris yang kental.
Nayla tersenyum manis, teringat pesan Adnan untuk tetap anggun. "Hobi saya... Self-defense, Ma'am. Especially melumpuhkan orang yang coba-coba memeras keluarga saya."
Adnan langsung tersedak wine yang sedang diminumnya. Ia terbatuk kecil sambil mengelap bibirnya dengan serbet. "Maksud istri saya, dia sangat menyukai olahraga ketangkasan dan disiplin fisik," koreksi Adnan dengan senyum paksa.
Nayla menyenggol lengan Adnan dengan sikutnya. "Lho, bener kan Pak? Kemarin aja saya hampir bikin orang masuk UGD," bisiknya yang masih bisa didengar satu meja.
"Nayla, makan supmu," perintah Adnan lewat gigi yang terkatup.
Pertarungan sebenarnya dimulai saat hidangan utama keluar. Sepotong steik daging sapi premium dengan saus jamur. Nayla menatap pisau kecil di tangannya, lalu menatap daging di piringnya yang tampak tebal. Ia mencoba memotongnya perlahan, tapi daging itu seolah melawan.
"Pak, ini dagingnya belum mati apa gimana? Keras amat," bisik Nayla frustrasi.
"Pegang pisaunya dengan benar, tekan bagian atasnya," instruksi Adnan tanpa menoleh, tetap fokus berbincang dengan Tuan Smith.
Nayla mencoba menekan lebih keras. Saking bersemangatnya menggunakan tenaga otot MMA-nya, pisau itu tergelincir. Sret! Potongan daging itu meluncur indah dari piring Nayla, terbang melewati kepala pelayan, dan mendarat tepat di atas piring kosong Tuan Smith.
Hening. Tuan Smith menatap daging nyasar itu, lalu menatap Nayla.
"Ops! Target locked!" seru Nayla spontan sambil menutup mulutnya. "Maaf, Mister! Itu namanya teknik 'Daging Terbang'. Di desa saya, kalau suka sama orang, kita bagi-bagi lauk lewat udara."
Adnan memejamkan matanya, ingin rasanya ia menghilang ke bawah meja saat itu juga. Namun, di luar dugaan, Tuan Smith justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! You are very funny, young lady! Adnan, istrimu benar-benar menyegarkan. Biasanya orang-orang di sini bersikap sangat kaku dan membosankan," ucap Tuan Smith sambil menusuk daging pemberian Nayla dan memakannya.
Adnan menghela napas lega, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ia melirik Nayla yang kini sedang cengar-cengir bangga karena "kesalahannya" justru membawa suasana cair.
Setelah acara makan malam selesai, mereka berjalan menuju parkiran. Nayla melepas sepatu hak tingginya dan menjinjingnya, berjalan tanpa alas kaki di atas karpet lobi.
"Nayla, pakai sepatumu. Malu dilihat orang," tegur Adnan.
"Aduh, Pak Es, kaki saya ini didesain buat nendang sansak, bukan buat dijepit di sepatu runcing begini. Berasa jalan di atas paku tahu nggak?" omel Nayla.
"Kamu tadi hampir mengacaukan kontrak jutaan dolar saya dengan atraksi daging terbang itu," ucap Adnan, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.
Nayla berhenti melangkah, menatap Adnan dengan mata bulatnya. "Tapi akhirnya kontraknya dapet kan? Harusnya Bapak terima kasih sama saya. Berkat saya, Tuan Smith jadi nggak stres mikirin kerjaan."
Adnan terdiam. Ia menatap wajah Nayla yang diterangi lampu jalan. Gadis ini memang kacau, berisik, dan tidak punya aturan, tapi entah kenapa kehadirannya membuat dunia Adnan yang selama ini hanya berisi angka dan kesedihan menjadi lebih berwarna.
"Iya, terima kasih," ucap Adnan pelan, hampir tak terdengar.
"Hah? Apa? Bapak ngomong apa? Telinga saya agak budek gara-gara kena angin motor tadi," pancing Nayla sambil mendekatkan telinganya ke mulut Adnan.
"Tidak ada pengulangan," sahut Adnan ketus sambil berjalan mendahului.
"Ih, pelit banget! Bilang 'Makasih Sayang' gitu kek, biar kayak suami-suami normal," teriak Nayla sambil mengejar Adnan dengan langkah pincang karena tidak memakai sepatu.
Tiba-tiba, Adnan berhenti mendadak. Ia berbalik dan menatap Nayla dengan serius. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa saja lari atau bersikap buruk agar saya menceraikanmu. Tapi kamu malah mengajari Adiva mengaji, menghibur kolega saya... kenapa?"
Nayla tertegun. Ia merapikan hijabnya, senyum tengilnya menghilang sejenak digantikan raut wajah yang tulus. "Karena Ayah saya salah, dan saya mau menebusnya dengan cara yang benar. Bukan cuma dengan tanda tangan di atas kertas, tapi dengan jadi bagian dari keluarga ini. Lagian..." Nayla kembali menyeringai jahil. "Kasihan Mas suami kalau sendirian terus, nanti kalau mati nggak ada yang doain karena judesnya minta ampun."
Adnan mendengus, tapi kali ini sebuah senyum tipis benar-benar terukir di wajahnya. Ia meraih tangan Nayla, mengambil sepatu hak tinggi yang dijinjing gadis itu.
"Naik ke mobil. Besok saya belikan sepatu yang lebih nyaman," ucap Adnan.
"Motor sport lagi boleh nggak, Pak?"
"Jangan melunjak, Nayla!"
"Hehe, canda Bos!"
Di dalam mobil yang melaju membelah malam Jakarta, Adnan menyadari satu hal. Nayla mungkin dikirim sebagai bentuk penebusan dosa, tapi bagi Adnan, ia mulai terasa seperti sebuah anugerah yang tidak pernah ia minta, namun sangat ia butuhkan.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥