Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27: Kembali ke Realitas
Tiga hari setelah kembali dari pulau, kehidupan perlahan kembali ke rutinitas atau setidaknya mencoba kembali.
Arsen mulai pergi ke kantor lagi, meski ia menolak untuk tinggal lebih dari empat jam. Ia pulang untuk makan siang bersama Aluna, lalu kembali ke kantor, dan pulang lagi sebelum jam lima sore. Tidak ada lagi lembur. Tidak ada lagi meeting hingga malam. Prioritasnya jelas, Aluna.
Aluna sendiri mencoba mengerjakan tugas akhir dari rumah dosen pembimbingnya berbaik hati mengizinkan konsultasi online mengingat "kondisi kesehatan" Aluna pasca "kecelakaan" (versi resmi untuk menutupi penculikan).
Mereka sedang membangun rutinitas baru rutinitas yang lebih sehat dari sebelumnya, meski tetap dengan kedekatan yang intens.
Tetapi dunia luar tidak membiarkan mereka terus hidup dalam gelembung.
Pagi itu, ponsel Aluna berdering bukan ponsel pemberian Arsen, tetapi ponsel lama yang ia simpan dan nyalakan kadang-kadang untuk mengecek pesan keluarga.
Layar menampilkan nama "Kak Rara" kakak perempuannya.
Aluna menatap ponsel itu dengan perasaan bersalah. Ia sudah lama tidak bicara dengan kakaknya. Sudah lama tidak pulang ke rumah kontrakan keluarganya. Sudah lama tidak... menjadi anak dan adik yang baik.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat telepon.
"Halo, Kak?"
"ALUNA PRADIPTA!" Suara Rara meledak di seberang telepon campuran marah, khawatir, dan lega. "Kamu kemana saja?! Kami mencoba menghubungimu berkali-kali! Ibu sampai sakit karena khawatir!"
Aluna merasakan dadanya sesak.
"Maaf, Kak. Saya... saya sibuk dengan..."
"Sibuk dengan apa?!" potong Rara dengan suara yang semakin tinggi. "Sibuk dengan CEO kaya itu? Sibuk hidup di mansion mewah sampai melupakan keluarga sendiri?!"
Aluna terdiam. Bagaimana Rara tahu tentang Arsen?
Seperti bisa membaca pikiran adiknya, Rara melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih tenang tetapi tetap tajam.
"Kami tahu, Luna. Ibu pergi ke kampusmu seminggu lalu untuk mencari kamu karena kamu tidak mengangkat telepon. Temanmu Rini menceritakan semuanya. Tentang CEO yang menjemputmu. Tentang bodyguard yang mengikuti mu. Tentang... kehidupan barumu."
Jeda sejenak.
"Luna, apa yang terjadi padamu?" tanya Rara dengan suara yang mulai bergetar. "Ini bukan kamu. Kamu yang kami kenal tidak akan menghilang begitu saja. Tidak akan memutus kontak dengan keluarga. Tidak akan..."
"Saya baik-baik saja, Kak," potong Aluna dengan suara yang berusaha terdengar meyakinkan. "Saya hanya... sibuk. Dan tentang Arsen..."
"Arsen Mahendra," ucap Rara dengan nada yang sulit dibaca. "Kami mencari tahu tentangnya. CEO Mahendra Property Group. Orang kaya raya. Dan... pria yang pernah diduga terlibat dalam kematian tunangannya tiga tahun lalu."
Aluna merasakan darahnya membeku.
"Kak, itu hanya rumor. Dia tidak..."
"Luna, kumohon," potong Rara dengan suara yang pecah. "Pulang ke rumah. Bicara dengan kami. Biarkan kami mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ibu sangat khawatir. Aku sangat khawatir."
Aluna merasakan air mata menggenang di matanya.
"Kak..."
"Besok," ucap Rara dengan tegas. "Datang ke rumah besok. Jam dua siang. Jika kamu tidak datang... kami akan datang ke mansion itu dan mengeluarkan mu dengan paksa jika perlu."
Sambungan terputus.
Aluna menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk rasa bersalah, ketakutan, dan... kemarahan. Kemarahan karena keluarganya mencampuri hubungannya dengan Arsen.
Tetapi di saat yang sama, ia tahu mereka hanya khawatir. Mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu bagaimana Arsen benar-benar mencintainya, bagaimana ia benar-benar memilih pria itu.
"Ada apa?"
Aluna terlonjak. Ia menoleh dan menemukan Arsen berdiri di pintu kamar kerja ia baru saja pulang dari kantor untuk makan siang.
"Arsen... sejak kapan Anda..."
"Cukup lama untuk mendengar percakapanmu dengan kakakmu," jawab Arsen sambil melangkah masuk, ekspresinya tidak terbaca. "Mereka ingin kamu pulang."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aluna mengangguk pelan.
"Mereka... mereka mencari tahu tentang Anda. Tentang Anjani. Mereka..."
"Mereka pikir aku berbahaya," lanjut Arsen dengan nada datar. "Mereka pikir aku menahan kamu di sini. Mereka pikir aku... monster yang harus dijauhkan darimu."
Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Aluna yang masih duduk di kursi kerja.
"Dan mungkin mereka benar," bisiknya dengan suara yang penuh rasa sakit.
"Jangan," ucap Aluna cepat sambil bangkit dari kursi, tangannya menyentuh wajah Arsen. "Jangan katakan itu. Mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu..."
"Apa yang harus kita lakukan?" potong Arsen sambil tangannya memegang tangan Aluna yang ada di pipinya. "Jika kamu tidak datang, mereka akan datang ke sini. Jika kamu datang... mereka akan mencoba membujuk mu untuk meninggalkanku."
Matanya menatap dalam ke mata Aluna.
"Apa kamu ingin pergi?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik. "Apa kamu ingin bertemu mereka dan... mungkin menyadari bahwa hidupmu bersama mereka lebih normal? Lebih sehat?"
Aluna merasakan dadanya sesak melihat ketakutan di mata Arsen ketakutan kehilangan yang begitu nyata.
"Saya ingin bertemu mereka," jawabnya dengan jujur. "Bukan untuk meninggalkan Anda. Tetapi karena mereka keluarga saya. Mereka berhak tahu bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya... bahagia."
Ia tersenyum tipis.
"Dan saya ingin memperkenalkan tunangan saya pada mereka dengan cara yang benar."
Sesuatu berkilat di mata Arsen campuran lega dan ketakutan.
"Jika mereka tidak menerimaku?" tanyanya. "Jika mereka memaksamu memilih antara aku dan mereka?"
Aluna menatapnya lama, lalu menarik Arsen ke dalam pelukannya.
"Maka saya akan memilih Anda," bisiknya dengan tegas. "Karena Anda adalah pilihan saya. Pilihan yang sadar. Pilihan yang tidak akan saya sesali."
Arsen memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di leher Aluna.
"Aku akan ikut," ucapnya. "Besok. Aku akan ikut denganmu menemui keluargamu."
Aluna tersentak.
"Arsen, mungkin lebih baik jika..."
"Tidak," potong Arsen dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Mereka berhak bertemu denganku. Berhak menghakimi aku langsung. Dan aku... aku akan menunjukkan pada mereka bahwa aku mencintaimu. Dengan cara apa pun."
Keesokan harinya, pukul 14.00 WIB, Bentley hitam Arsen berhenti di depan rumah kontrakan keluarga Pradipta rumah sederhana dengan cat yang mulai mengelupas, pagar besi yang berkarat, tetapi bersih dan terawat.
Kontras yang sangat jelas dengan mansion Arsen.
Aluna menatap rumah kecil yang sudah bertahun-tahun menjadi rumahnya dengan perasaan nostalgia dan rasa bersalah.
"Kamu yakin?" tanya Arsen sambil tangannya menggenggam tangan Aluna.
Aluna mengangguk.
"Saya yakin. Mari kita hadapi bersama."
Mereka keluar dari mobil Aluna mengenakan dress sederhana (bukan dari koleksi mewah Arsen, tetapi pakaian lama yang ia bawa dari rumah), dan Arsen mengenakan kemeja dan celana bahan kasual tanpa jas (usahanya untuk terlihat tidak terlalu intimidating).
Pak Budi menunggu di dalam mobil, memberi mereka privasi.
Aluna mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Rara berdiri di sana.
Kakak dan adik saling menatap untuk sesaat, lalu Rara menarik Aluna ke dalam pelukannya yang erat.
"Bodoh," bisik Rara sambil menangis. "Kamu bodoh karena membuat kami khawatir."
"Maaf, Kak," bisik Aluna sambil membalas pelukan. "Maaf."
Saat mereka terpisah, mata Rara jatuh pada Arsen yang berdiri beberapa langkah di belakang Aluna berdiri dengan postur yang tegang, mata yang waspada.
"Jadi ini dia," ucap Rara dengan nada datar. "Arsen Mahendra."
Arsen melangkah maju, mengulurkan tangannya.
"Selamat siang. Senang bertemu dengan Anda, Rara. Aluna banyak bercerita tentang Anda."
Rara menatap tangan itu lama sebelum akhirnya menjabatnya jabatan yang singkat dan dingin.
"Masuk," ucapnya sambil melangkah menyingkir. "Ibu sudah menunggu di dalam."
Di ruang tamu yang sempit, Wulan ibu Aluna duduk di sofa lama dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran. Saat melihat Aluna, ia langsung bangkit dan memeluk putrinya dengan erat.
"Luna, anakku," bisiknya sambil menangis. "Kamu kemana saja? Ibu sangat khawatir."
"Maaf, Bu," bisik Aluna sambil memeluk ibunya erat. "Maaf membuat Ibu khawatir."
Saat Wulan melepaskan pelukan dan melihat Arsen, ekspresinya berubah dari lega menjadi waspada.
"Anda pasti Arsen Mahendra," ucapnya dengan nada yang sopan tetapi dingin.
Arsen membungkuk sopan.
"Selamat siang, Bu Wulan. Maafkan saya karena membuat Ibu khawatir tentang Aluna. Itu bukan niat saya."
Wulan menatapnya lama, lalu duduk kembali di sofa.
"Duduk," ucapnya bukan undangan ramah, tetapi perintah.
Aluna dan Arsen duduk di sofa berhadapan. Rara duduk di samping ibunya, menciptakan "barisan pertahanan" yang jelas.
Keheningan yang tidak nyaman turun di ruangan kecil itu.
"Luna," akhirnya Wulan membuka pembicaraan, menatap putrinya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. "Ceritakan pada Ibu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu... menghilang dari kehidupan kami?"
Aluna menarik napas dalam.
"Saya tidak menghilang, Bu. Saya hanya... sibuk. Dan saya tidak ingin membuat Ibu dan Kakak khawatir dengan..."
"Dengan tinggal bersama pria yang bahkan tidak kami kenal?" potong Rara dengan nada tajam. "Dengan putus kontak selama berminggu-minggu? Dengan "
"Rara," Wulan memperingatkan dengan lembut, lalu menatap Aluna lagi. "Luna, Ibu tidak marah. Ibu hanya... khawatir. Kamu masih muda. Dan pria ini..." ia melirik Arsen, "dia jauh lebih tua darimu. Dia sangat kaya. Dia punya masa lalu yang... kelam."
"Ibu mencari tahu tentang saya," ucap Arsen bukan pertanyaan, pernyataan.
Wulan menatapnya langsung.
"Tentu saja. Putri saya menghilang dengan pria asing. Tentu saja kami mencari tahu."
Ia melipat tangannya di pangkuan.
"Dan yang kami temukan... tidak menenangkan. Tunangan Anda yang meninggal dalam kecelakaan mencurigakan. Investigasi polisi. Rumor. Dan sekarang putri saya... tinggal bersama Anda."
Arsen tidak melarikan pandangan. Ia menatap balik Wulan dengan tatapan yang tegas.
"Saya mengerti kekhawatiran Ibu," ucapnya dengan tenang. "Jika saya di posisi Ibu, saya akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin lebih."
Ia menarik napas dalam.
"Tetapi saya ingin Ibu tahu saya tidak membunuh Anjani. Investigasi ditutup karena tidak ada bukti, bukan karena saya menggunakan uang atau kekuasaan untuk menutupinya. Dan tentang Aluna..."
Ia melirik Aluna sejenak, lalu kembali menatap Wulan.
"Saya mencintai putri Anda. Dengan cara yang mungkin tidak sempurna. Dengan cara yang mungkin terlalu intens. Tetapi cinta saya tulus."
"Cinta?" Rara tertawa sinis. "Atau obsesi? Kami dengar Anda mengurung Luna. Tidak membiarkan dia kuliah. Mengontrol setiap aspek hidupnya. Itu bukan cinta itu penjara!"
Arsen tidak bisa menyangkal itu. Karena itu benar.
"Kakak," Aluna akhirnya angkat bicara, suaranya tegas. "Tolong jangan bicara seolah-olah saya tidak ada di sini. Seolah-olah saya tidak punya suara sendiri."
Ia menatap kakak dan ibunya dengan tatapan yang serius.
"Ya, Arsen possessive. Ya, dia mengontrol. Ya, hubungan kami tidak sempurna. Tetapi saya di sini bukan karena dipaksa. Saya di sini karena saya memilih."
"Luna..." Wulan mencoba memotong.
"Biarkan saya selesai, Bu," potong Aluna dengan lembut tetapi tegas. "Saya tahu kalian khawatir. Saya tahu kalian pikir saya dimanipulasi. Tetapi saya sudah dewasa. Saya sudah membuat pilihan dengan mata terbuka."
Ia mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin berlian di jari manisnya.
"Arsen melamar saya. Dan saya menerima. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut. Tetapi karena saya mencintainya."
Wulan dan Rara menatap cincin itu dengan ekspresi shock.
"Tunangan?" bisik Wulan. "Luna, kamu... kamu bahkan belum lulus kuliah. Kamu masih..."
"Saya sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri," potong Aluna dengan tegas. "Dan keputusan saya adalah menikahi Arsen."
Keheningan yang berat turun di ruangan itu.
Lalu Rara bangkit dari duduknya, menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak percaya kamu," bisiknya dengan suara bergetar. "Kamu berubah, Luna. Kamu bukan lagi adikku yang mandiri, yang punya mimpi, yang..."
"Saya masih saya, Kak," potong Aluna sambil bangkit juga. "Saya hanya... menemukan prioritas baru."
"Prioritas atau belenggu?" tanya Rara tajam.
Aluna merasakan air mata menggenang di matanya.
"Kenapa Kakak tidak bisa menerima bahwa saya bahagia?" tanyanya dengan suara pecah. "Kenapa kalian tidak bisa melihat bahwa meski hubungan kami tidak sempurna, kami saling mencintai?"
"Karena kami tidak ingin kamu berakhir seperti Anjani!" teriak Rara akhirnya, air mata mengalir di pipinya. "Karena kami takut suatu hari kami akan mendapat telepon bahwa kamu meninggal dalam kecelakaan!"
Kata-kata itu menggantung di udara seperti bom.
Arsen bangkit dari duduknya gerakan yang lambat, terkontrol.
"Saya mengerti ketakutan Anda," ucapnya dengan suara yang sangat tenang terlalu tenang. "Dan saya tidak bisa menjamin bahwa Aluna akan aman 100% dengan saya. Dunia berbahaya. Musuh saya banyak."
Ia menatap Rara langsung.
"Tetapi yang bisa saya jamin adalah saya akan mati melindunginya. Saya akan menghancurkan siapa pun yang berusaha menyakitinya. Saya akan..."
"Itu yang kami takutkan!" potong Wulan dengan suara yang bergetar. "Kekerasan. Obsesi. Kepemilikan. Itu bukan cinta sehat, Tuan Arsen. Itu... itu berbahaya."
Arsen terdiam. Karena ia tidak bisa membantah itu.
Aluna melangkah maju, berdiri di samping Arsen, tangannya meraih tangan pria itu.
"Ibu, Kakak," ucapnya dengan suara yang bergetar tetapi tegas. "Saya datang ke sini bukan untuk minta izin. Saya datang untuk memberi tahu bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya membuat pilihan sendiri. Dan pilihan saya adalah Arsen."
Ia menatap keluarganya dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kalian tidak bisa menerima itu, jika kalian tidak bisa menerima dia... maka saya..." suaranya tercekat, "maka saya tidak bisa datang ke sini lagi."
"Luna!" Wulan bangkit, menatap putrinya dengan horor. "Jangan bilang seperti itu. Kamu memilih dia di atas keluarga sendiri?"
Aluna merasakan air mata mengalir di pipinya.
"Saya tidak ingin memilih, Bu," bisiknya. "Saya ingin kalian menerima kami berdua. Tetapi jika saya dipaksa memilih..."
Ia melirik Arsen yang menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi rasa sakit dan... cinta.
"maka saya memilih dia."
Wulan jatuh duduk kembali, menangis. Rara menatap adiknya dengan tatapan yang tidak percaya.
"Kamu benar-benar sudah hilang," bisik Rara. "Adikku sudah hilang."
Kata-kata itu menusuk Aluna tepat di jantung.
"Kak..."
"Pergi," ucap Rara dengan suara datar. "Jika kamu sudah membuat pilihan, maka pergi. Kami tidak bisa menghentikan mu."
Aluna menatap kakak dan ibunya yang menangis, hatinya hancur berkeping-keping.
Tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Arsen dengan erat.
Karena ia sudah membuat pilihan.
Pilihan yang menyakitkan. Pilihan yang mungkin salah.
Tetapi pilihan yang ia buat dengan sadar.
"Maafkan saya," bisiknya pada keluarganya. "Maafkan saya karena tidak bisa menjadi putri dan adik yang kalian inginkan."
Dengan hati yang hancur, ia berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu dengan Arsen di sampingnya, dengan masa lalunya yang ditinggalkan di belakang, dengan masa depan yang gelap namun ia pilih.
Di dalam mobil, Aluna menangis dalam pelukan Arsen—menangis untuk keluarga yang ia kehilangan, untuk hubungan yang rusak, untuk pilihan yang menyakitkan.
"Aku bisa kembali," bisik Arsen di rambutnya. "Aku bisa bicara dengan mereka lagi. Aku bisa..."
"Tidak," bisik Aluna sambil menggeleng. "Mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak akan pernah menerima kita."
Ia mendongak menatap Arsen dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tetapi saya tidak menyesal," bisiknya. "Saya memilih Anda. Saya akan selalu memilih Anda."
Arsen merasakan dadanya hancur melihat rasa sakit di mata Aluna rasa sakit yang ia sebabkan, meski tidak langsung.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena membuat kamu harus memilih."
Aluna menggeleng, tersenyum melalui air matanya.
"Jangan minta maaf. Karena bahkan jika saya harus memilih seribu kali... saya akan selalu memilih Anda."
Dan di dalam Bentley hitam yang melaju meninggalkan rumah kontrakan itu, dua jiwa yang terluka berpelukan erat dengan cinta yang gelap, dengan pilihan yang menyakitkan, dengan masa depan yang tidak pasti.
Tetapi bersama.
Selalu bersama.
Karena itulah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup mereka yang gelap ini.