💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — KANTOR PANIK, GRUP WA GILA, DAN KONTRAK PALING NGACO
Alinea baru melangkah keluar dari ruang Arsenio selama tiga detik.
TIGA.
Dan hidupnya sudah berubah.
Ponselnya bergetar tanpa ampun. Getarannya bukan yang sopan satu-dua kali. Ini tipe getaran “selamat, kamu viral”.
Dia mendadak matung di koridor. Bau karpet kantor yang baru selesai di-vakum langsung nusuk hidung—khas banget, perpaduan antara bau apek debu lama sama wangi pembersih lantai yang kimianya kuat banget.
Asli, AC kantor lagi dingin-dinginnya sampai bikin bulu kuduk berdiri. Tapi jujur ya, yang bikin dia lebih merinding disko bukan suhu ruangannya, melainkan pas dia ngintip layar HP: 99+ notifikasi. Fix, dunianya serasa runtuh seketika.
GRUP: KANTOR VOLT-TECH 🔥 (A.K.A Group Lambe Turah)
Anonim: WOI, ITU CEWEK BARU KAN?!
Anonim: YANG TADI MENYIRAM PAK ARSENIO?! BENERAN DIA?! 😱
Rizky IT: Bro... emang dia masih napas??? Berani banget nyari mati di hari Senin.
Dina HR: Tolong ya semuanya, baru juga jam 9 pagi, jangan bikin drama yang memicu darah tinggi HR dulu pliss! 🧘♀️💢
Anonim: GUE LIAT PAKE MATA KEPALA SENDIRI! Dia beneran ngelap dada Pak Arsenio... nangis banget gue liatnya 😭😭😭
Anonim: Ini enaknya kita laporkan ke atasan apa langsung booking tenda kuning buat yasinan? Kayaknya bentar lagi dia "lewat" deh.
Alinea memejamkan mata.
Oke. Tarik napas, Lin. Ini cuma kantor. Bukan TKP pembunuhan.
Dia nyoba jalan senormal mungkin ke cubicle-nya, meskipun kakinya udah kayak jeli. Sumpah, setiap langkah tuh berasa lagi parade, tapi bukan parade dapet medali, melainkan parade ditontonin satu kantor.
Semuanya tiba-tiba jadi "artis" dadakan. Ada yang pura-pura ngetik kenceng banget tapi matanya ngelirik tajam ke samping. Ada yang senyum-senyum nahan tawa kayak abis nonton komedi gratis. Yang paling lucu, ada yang mukanya pucat seolah-olah dia yang baru menyiram Pak Arsenio. Tapi puncaknya, ada satu temannya yang terang-terangan ngasih thumbs up kecil di bawah meja—antara bangga sama mau ngucapin "selamat tinggal".
Apaan sih? Gue abis ngelakuin apa?
Akhirnya sampai juga Alinea di kursinya. Begitu duduk, kursinya bunyi krieeet pelan—kayak ikut ngetawain nasib dia hari ini.
Mejanya masih bersih banget, bener-bener polos karena dia belum sempat naruh perintilan apa pun, apalagi mau ngehias pakai tanaman gemas atau foto estetik. Laptop kantor yang hitam kaku itu juga masih ketutup, dingin, belum dia sentuh sama sekali. Tapi jujur ya, sekarang semua urusan kerjaan itu jadi nggak penting lagi. Mau laptopnya meledak atau mejanya ilang juga dia nggak peduli, soalnya isi kepalanya cuma satu: "Gue baru aja ngelap dada bos gue di depan semua orang.”
Dan bukan kontrak biasa.
Staf Konsultan Image.
Humanity Coaching.
Gue ngapain barusan? pikir Alinea.
Harusnya gue minta waktu mikir. Harusnya gue pura-pura pingsan. Harusnya—
“Lin.”
Alinea kaget. Hampir jatuhin HP.
Belum juga Alinea narik napas, tiba-tiba Dina HR udah berdiri tegak di samping cubicle-nya. Mukanya sih senyum, tipe senyum formal yang biasa dipakai buat nyapa karyawan baru, tapi matanya nggak bisa bohong—tegang banget kayak lagi nahan beban satu divisi.
Terus ya, parfumnya itu lho. Wangi floral manis yang kuatnya minta ampun langsung menusuk hidung, tipe wangi yang kalau di hirup lama-lama bukannya bikin tenang malah bikin Alinea pusing tujuh keliling. Baunya kayak nyampur sama rasa deg-degan di tenggorokan.
“Kamu abis dari ruang Pak Arsenio?” tanya Dina pelan.
“Iya,” jawab Alinea jujur.
Dina narik kursi kosong di sebelah, terus duduk nyamping—gayanya udah kayak mau ajak deep talk tapi auranya horor. "Kamu ngomong apa aja sama dia, hah?" tanya Dina langsung to the point.
Alinea mendadak buntu. Pilihannya cuma dua: jujur sekarang atau mati pelan-pelan karena rasa bersalah.
"Ngomong... biasa aja kok," jawab Alinea pelan, suaranya agak getar. "Cuma ya... ada debat kecil sedikit.”
"Sedikit, kamu bilang?" Dina langsung ngebuang napas kasar, antara mau marah atau mau ketawa. "Al, satu lantai ini udah panik berjamaah. Grup WA kantor kita tuh udah kayak live report bencana alam, tahu nggak? Semua orang lagi mantau kamu!”
Alinea ngelirik HP-nya lagi. Gila, notifnya masih terus-terusan masuk kayak antrean sembako—nggak berhenti-berhenti.
“Tenang dulu, tarik napas,” kata Dina, suaranya dipelanin jadi setengah bisik-bisik biar nggak kedengeran cubicle sebelah. “Selama kamu belum dapet email resmi dari aku atau atasan, itu artinya kamu belum dipecat kok. Aman... kayaknya.”
“Belum?” Alinea ngulang kata itu dengan nada horor. Bukannya tenang, kata 'belum' itu malah kedengeran kayak bom waktu yang siap meledak kapan aja.
Dina cuma nepuk-nepuk bahu Alinea, gayanya udah kayak lagi ngasih semangat ke prajurit yang mau berangkat perang. “Well, selamat datang di Volt-Tech, ya. Enjoy the ride.”
Jam makan siang dateng tanpa permisi, bener-bener nggak tahu diri. Padahal mental Alinea masih ketinggalan di insiden "nyiram bos" tadi pagi.
Sumpah, dia nggak laper sama sekali. Perutnya malah mulas melilit, dan ini bukan gara-gara kopi susu sasetan yang dia minum tadi subuh. Ini murni karena dia baru sadar sepenuhnya: dia udah kecemplung di sesuatu yang gede banget—dan bau-baunya mencurigakan parah. Vibe-nya tuh udah nggak bener, kayak lagi masuk ke plot film konspirasi tapi dia pemeran figuran yang bakal mati di menit pertama.
From: Arsenio
Subject: Kontrak
Singkat. Kejam.
Alinea ngeklik.
File PDF terbuka. Judulnya bikin dia nyaris keselek.
PERJANJIAN KERJA TAMBAHAN
Program Humanity Coaching
“Astaga,” gumam Alinea.
Dia scroll
Isi emailnya rapi banget, formal, dan ketikan orang pinter yang bahasanya kaku. Tapi jujur, isinya tuh random parah. Ini tipe ide gila yang biasanya cuma muncul di jam dua pagi pas lagi high kafein, tapi ini beneran dikirim lewat email resmi kantor!
Pihak Pertama (Arsenio) menunjuk Pihak Kedua (Alinea) sebagai... Konsultan Image Pribadi.
Alinea ngebaca baris itu sambil terus ngunyah roti selai kacangnya.
Sumpah, rotinya mendadak hambar banget, kayak lagi ngunyah kertas HVS. Dia sampai berhenti ngunyah bentar, matanya melotot natap layar.
"Konsultan Image? Gue? Yang tadi nyiram dia pake kopi?" batinnya. Ini Pak Arsenio emang jenius, udah gila, atau emang lagi nyari tumbal buat projek eksperimen sosial dia sih?
Durasi: 3 bulan.
Kompensasi: (angka yang bikin Alinea berhenti ngunyah)
“…HAH?”
Dia baca ulang. Pelan. Fokus.
Oke. Ini bukan prank. Ini gaji setara setahun kerja gue sebelumnya.
Tangannya agak gemetar.
Gue bisa bayar kos tepat waktu. Bisa upgrade skincare. Bisa hidup.
Notifikasi masuk lagi.
Arsenio: Baca. Datang ke ruang saya jam 13.00.
Alinea menelan ludah.
Jam 12.59.
Alinea sekarang berdiri lagi di depan pintu kaca ruang CEO yang auranya kayak gerbang menuju dunia lain. Kali ini dia tobat, nggak ada aksi tendang-tendangan maut. Dia ngetuk pintunya pelan banget, sopan, kayak ngetuk pintu kamar kosan ibu galak.
“Masuk.”
Suara itu terdengar singkat, padat, dan jelas. Pas Alinea melangkah masuk, Pak Arsenio udah stay di belakang meja gedenya. Dia pake kemeja hitam lagi. Sumpah ya, Alinea pengen banget nanya, ini koleksi bajunya emang cuma warna mamba doang atau dia emang punya stok selusin modelan yang sama?
Muka Pak Arsenio tenang banget. Tapi ya itu, tenangnya tuh tenang yang mencurigakan, tipe tenang yang bikin kita nungguin kapan bomnya bakal meledak.
“Kamu baca kontraknya?” tanya Arsenio.
“Iya.”
“Dan?”
“Bapak serius?”
“Sangat.”
Alinea akhirnya duduk, dan fix, kursinya empuk banget. Tipe kursi mahal yang kalau didudukin bikin badan kerasa "ditelan". Jujur, kursinya terlalu nyaman buat ukuran percakapan hidup-dan-mati begini.
Rasanya nggak adil banget—bokong dimanjain, tapi jantung udah kayak lagi ikut lomba lari maraton.
Dia jadi ngerasa tenggelam di kursi itu, yang makin bikin dia ngerasa kecil di depan meja raksasa Pak Arsenio. Vibe-nya tuh kayak lo lagi mau diputusin pacar tapi tempatnya di restoran fine dining yang kursinya sofa beludru. Enak sih, tapi ya tetep aja mau nangis!
"Oke, saya mau klarifikasi dulu ya, Pak," kata Alinea, berusaha nahan tremor supaya suaranya nggak kedengeran kayak kambing kejepit. "Ini beneran deskripsi kerjaan saya, kan? Maksud saya, ini bukan bagian dari eksperimen sosial atau konten sosmed rahasia Bapak, kan?"
Arsenio pelan-pelan ngangkat alisnya, mukanya datar banget kayak tembok baru dicat. "Saya nggak main sosmed."
Alinea langsung nyeletuk tanpa filter, "Ya... kelihatan sih.”
Arsenio menghela napas panjang—tipe hela napas orang sabar yang hampir habis masa berlakunya. "Alinea," katanya pelan, suaranya berat banget kayak lagi mikul beban satu perusahaan. "Kamu tuh punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain di kantor ini."
Alinea langsung membatin, Apaan? Bakat buat bikin Bapak darah tinggi?
“Mulut tanpa filter?”
“Keberanian.”
Alinea mendengus. “Itu versi sopannya.”
“Versi jujurnya, kamu tidak takut sama saya.”
Alinea terdiam.
Oh. Jadi ini masalahnya.
“Dan itu masalah?” tanyanya.
“Buat saya,” jawab Arsenio, “itu solusi.”
Pak Arsenio tiba-tiba berdiri dari kursi mahalnya. Dia mulai jalan muter mendekat ke arah Alinea. Lantai kayu di ruangan itu bunyi kriet halus pas diinjek sepatunya—sumpah, suaranya doang udah kedengeran mahal.
Semakin deket dia jalan, bau parfumnya makin kecium jelas banget. Bukan lagi floral manis pusing kayak Dina HR tadi, tapi ini bau yang manly, mahal, dan dominan banget. Baunya tuh bener-bener memenuhi seisi ruangan sampai bikin kepala Alinea mendadak pening dikit. Rasanya kayak lagi dikurung di dalam botol parfum harga puluhan juta, tapi situasinya lagi diambang pemecatan (atau malah dapet jabatan baru yang aneh).
“Keluarga saya,” lanjut Arsenio, “tidak percaya saya bisa punya hubungan normal.”
“Fair.”
“Mereka pikir saya rusak.”
Alinea akhirnya berani natap balik, bener-bener eye contact yang lama. Dan buat pertama kalinya, dia kayak nemu celah di balik tembok es-nya Pak Arsenio. Ternyata di balik muka lempeng itu, matanya nggak cuma dingin doang.
Ada rasa capek yang mendalam banget, terus kayak ada sisa-sisa... sepi? Iyasih, tipe sepi yang biasanya cuma dirasain orang yang ngerasa sendirian meskipun di tengah keramaian kantor. Alinea jadi mikir, "Ni orang sebenernya butuh pelukan apa butuh liburan ke Bali sih?”
“Dan Bapak pikir saya bisa benerin itu?” tanya Alinea pelan.
“Tidak,” jawab Arsenio jujur. “Saya pikir kamu bisa membuatnya terlihat tidak rusak.”
Itu lebih jujur. Dan lebih menyedihkan.
Sore itu, kantor makin heboh.
Entah dari mana, rumor menyebar.
GRUP: KANTOR VOLT-TECH 🔥 (Edisi Gosip Terpanas)
Anonim: WOI, KATANYA TUH CEWEK BARU LANGSUNG JADI ASISTEN PRIBADI?!
Anonim: Gila sih, speedrun banget naik jabatannya! Baru juga setengah hari kerja udah dapet akses VIP.
Rizky IT: Confirmed, Bro. Gue liat barusan dia masuk lagi ke ruangan Pak Arsenio. Pintunya ditutup rapet pula. 👀
Anonim: Fix sih, ini mah kalau bukan 'orang dalam' bawaan petinggi, ya 'orang dalam' yang lain...
Anonim: Maksud lo... ORANG DALAM HATI??? Aduh, tolong ya, ini kantor apa set syuting drakor?! 😭😭😭
Alinea baca sambil nyengir kecut.
Dalam hati? Kalo iya, itu masalah besar.
Jam 17.30, Arsenio keluar dari ruangannya.
“Alinea,” panggilnya.
Semua kepala menoleh.
“Besok kamu ikut saya pulang.”
Satu kantor: ERROR 404.
Alinea berkedip. “Hah?”
“Meeting keluarga. Latihan.”
“Latihan apa?”
“Jadi manusia.”
Beberapa staf nyaris jatuh dari kursi.
Alinea berdiri. Mengambil tasnya.
Menatap Arsenio.
“Bapak sadar ini gila, kan?”
“Ya.”
“Dan Bapak tetep mau?”
“Iya.”
Alinea menarik napas. Panjang.
“Yaudah,” katanya. “Tapi jangan salahin saya kalau nanti ibu Bapak lebih suka saya daripada Bapak.”
Untuk pertama kalinya—
Arsenio tertawa kecil.
Dan jantungnya berdetak terlalu cepat.
Glitch lagi. Sumpah, otak Alinea rasanya kayak laptop lama yang kebanyakan buka tab Chrome terus mendadak freeze.
Dia nggak tahu lagi harus gimana. Tapi satu hal yang dia paham banget, hari ini tuh bukan cuma orang satu kantor doang yang lagi panik berjamaah gara-gara gosip. Perasaannya sendiri juga udah mulai ikut rusak, berantakan, dan nggak jelas bentukannya. Kayak ada kabel yang konslet di dalem dadanya, antara mau nangis, mau ketawa, atau mau resign detik itu juga.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨