Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan dalam Dinginnya Julius
Pagi di kampus dimulai dengan keriuhan yang tertata rapi. Geng somplak sudah berkumpul di parkiran fakultas, namun suasana hari ini berbeda. Ada aura misi rahasia yang menyelimuti mereka.
Jane berjalan menuju mobil SUV Julius dengan perasaan campur aduk. Sejak pesan terakhirnya tadi malam tentang sepatu bot, Mr. A benar-benar hilang kabar. Tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada ramalan cuaca. Jane sesekali mengecek ponselnya, merasa ada sesuatu yang hilang saat si peramal anonim itu diam.
"Jane! Ayo masuk!" seru Lucia yang sudah berdiri di samping mobil, penampilannya tetap modis meski hari ini dia mengenakan jaket outdoor bermerek. "Kita harus ke toko perlengkapan sekarang. Gue nggak mau lo naik gunung pakai sneakers tekstil lo yang tipis itu!"
Di kursi pengemudi, Julius duduk dengan kacamata hitamnya, wajahnya sedingin es, seolah pembicaraan di klub semalam tentang perasaan tidak pernah terjadi. Di sampingnya, Clark sibuk dengan daftar logistik di tabletnya.
"Gue udah cek ramalan cuaca, Jules. Di atas bakal minus dua derajat malam hari," lapor Clark tanpa mengalihkan pandangan. "Gue harap lo nggak lupa beli sleeping bag yang bisa digabung."
Julius hanya berdehem pendek, "Beli yang terbaik, Clark. Jangan tanya soal harga."
Sambil mobil melaju menuju pusat perlengkapan outdoor, ponsel Jane, Lucia, dan yang lainnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari grup WhatsApp mereka meledak.
[Grup: Geng Somplak Anti Wacana]
Henry: WOOIIIIII!!!!
Henry: Kok lo semua udah di jalan?! Gue baru bangun dan liat lokasi Lucia di mall outdoor!
Henry: TEGA BANGET LO SEMUA! GUE YANG PUNYA IDE, GUE YANG DITINGGAL?!
Henry: @Julius_Randle Bos, gue nggak diajak beli tenda? Gue ahli dalam memilih tenda yang nyaman buat... ehem... berdua!
Henry: PARAH! GUE LAGI MARAH BESAR SEKARANG. GUE BAKAL MOGOK JADI PLAYBOY SEHARI!
Lucia: Brisik lo, Hen! Lo kelamaan dandan. Lagian ini urusan cewek sama cowok-cowok yang beneran kerja. Lo mending siapin logistik makanan aja!
Henry: @Lucia Gue nggak mau! Gue mau ikut milih sepatu buat Jane! Gue tau ukuran kaki cewek cantik!
Julius: (Sent a voice note) Henry, diam atau namamu dicoret dari daftar pendakian.
Seketika grup itu hening. Henry hanya membalas dengan emoji menangis.
Di toko perlengkapan, Lucia benar-benar menjadi ibu negara yang cerewet. Ia menarik Jane ke sana kemari, mencoba berbagai macam jaket waterproof.
"Jane, ini bagus! Warnanya senada sama kalung lo," ucap Lucia sambil memakaikan jaket berwarna biru langit ke tubuh Jane.
Jane merasa canggung. Apalagi saat ia mencoba sebuah sepatu gunung, dan tiba-tiba Julius berjongkok di hadapannya. Tanpa kata, pria itu mengambil alih tali sepatu yang sedang Jane ikat dengan kikuk.
Jane membeku. Seluruh urat sarafnya seolah berhenti berfungsi saat jari-jari panjang Julius menyentuh kakinya, mengencangkan tali sepatu itu dengan sangat teliti agar Jane tidak cedera nantinya.
"Sepatu ini harus kuat menyangga kakimu," ucap Julius dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Jane. "Gunung tidak semudah naskah yang kau baca di buku."
Jane menunduk, menatap puncak kepala Julius. Mr. A meramalkan aku akan mencari kehangatan pada orang terdekat. Apakah orang itu adalah kau, Julius?
Saat Julius mendongak, matanya bertemu dengan mata Jane. Masih ada tatapan misterius yang sulit diartikan itu, tatapan yang terasa sangat familiar bagi Jane, namun otak pintarnya masih menolak menghubungkan pria sedingin kutub ini dengan Mr. A yang hangat.
"Ukurannya pas?" tanya Julius.
"Pas... terima kasih, Julius," bisik Jane.
"Bagus. Bayar semua ini dengan kartu Clark, Jane. Jangan membantah," ucap Julius sambil berdiri kembali menjadi sosok yang tak tersentuh.
Clark yang berdiri di belakang mereka hanya bisa menghela napas. "Lagi-lagi kartu gue. Gue bener-bener harus bilang ke nyokap kalau gue lagi buka yayasan amal buat Jane."
Persiapan selesai! Hutan dan gunung sudah menanti.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍