NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—13

Malam ini terasa aneh untuk Arumi. Bagaimana tidak, saat ini dia masih dalam dekapan Bumantara, berdiri didepan lemari pendingin dengan tangan bumantara yang mengusap perut sampai naik keatas area dada nya.

Arumi bahkan mendongak, membiarkan lidah dan bibir Bumantara bermain di area leher nya, sampai ke tekuk nya. "Emmm, Bumantara," lirih Arumi, memejam, dia seperti lupa diri, dia juga lupa dengan siapa orang yang ada belakang nya, yang saat ini memainkan ujung kecil dada nya.

"Arumi ..." bisik Bumantara dengan suara serak, lalu ia memutar badan Arumi menjadi menghadapi nya, mengangkat tubuh kecil Arumi ala gendongan kuala. Menyadarkan tubuh Arumi di lemari pendingin mata mereka saling pandang, tatapan teduh milik Arumi membuat perasaan Bumantara menghangat.

"Kamu sangat cantik, Arumi."

Bumantara memajukan wajahnya, sehingga hembusan napas hangat mereka saling bertabrakan, ia memiringkan wajahnya, di sambut Arumi dengan memejam kan mata.

Lalu cium lembut itu tak terelakan lagi, bibir saling menghisap atas bawah, dan ciuman itu berubah ritme menjadi saling melumat, lidah saling terlilit, mengekspor semua celah-celah gigi. Napas Arumi semakin terasa sesak, ia menepuk-nepuk punggung Bumantara, supaya bisa melepas kan tautan bibir mereka.

"Hah ... hah ... hahhhh...."

Bumantara tersenyum, melihat bibir merah Arumi membengkak, lalu ia berjalan kearah tempat tidur sambil membawa Arumi dalam gendongan nya. Bumantara membaringkan Arumi dengan pelan, dengan ia yang menindih tubuh kecil itu, sambil mengusap sudut bibir Arumi yang masih sedikit tersisa saliva mereka tadi.

"Bibir ini terasa manis, baby," kata Bumantara, tersenyum, menatap wajah Arumi yang memerah, bahkan wajah cantik itu selalu menghindari padangan nya.

Arumi tersentak saat merasakan benda milik Bumantara menekan bagian paha dalam nya, ia bisa melihat tatapan Bumantara yang terlihat sayu, manik abu-abu itu seperti memberikan hipnotis untuk nya.

"Kamu bisa merasakan nya, Arumi?" tanya Bumantara sambil mengecup semua wajah Arumi dengan cara lembut.

Arumi mengangguk, ia tidak bisa menjawab setiap ucapan lembut Bumantara, ia seperti kalah dalam pesona milik murid nya — si berondong tampan. Saat bibir mereka hampir menyatu, suara dering telepon didalam kamar Arumi terdengar nyaring, menghentikan niat Arumi yang hendak kembali membalas ciuman Bumantara.

Arumi berdeham, sambil mendorong tubuh Bumantara dari atas tubuhnya, pipi nya mungkin masih merona karena malu. "A — awas Bumantara, aku mau ke kamar," lirih Arumi, ia malu dengan dirinya, karena kemaren-kemaren ia menolak Bumantara dengan tegas, mengusir nya, marah-marah.

Tapi, lihat sekarang! Dia bahkan dengan rela memberikan bibirnya, tubuh nya, yang juga harus di sentuh sama Bumantara, ia sudah seperti perempuan munafik yang awal nya menolak dengan keras, lalu dengan gampang juga memberikan dirinya hanya karena ia terpesona tatapan teduh dan wajah tampan rupawan itu. Tidak hanya itu, ia juga baper karena kelembutan Bumantara kepada nya, sialnya itu justru membuat ia terlena.

Bumantara mendesah, lalu membaringkan tubuh nya di sebelah Arumi. "Kita bisa tidur di sini Arumi. Bawa ponsel mu," kata Bumantara dengan lembut.

"Enggak mau. Aku mau tidur di kamar," tolak Arumi, menggeleng beberapa kali, lali beranjak dari rebahan nya sambil merapikan baju nya yang kusut karena di naik kan Bumantara sampai dibawah dada nya, membuat pipi Arumi semakin merona dan panas.

"Hei baby, pipi mu merah! Apa kamu sedang sakit?" goda Bumantara, tersenyum sambil mengerlingkan sebelah matanya.

"Jangan panggil aku baby! Aku lebih tua dari kamu, Bumantara," seru Arumi kesal.

Bumantara mengangguk-ngangguk sambil menatap langit-langit plafon yang banyak bolong, "Kalau gitu, aku bisa panggil sayang aja. Jika baby menurut mu enggak cocok, Arumi," saran Bumantara, setelah ia berpikir beberapa detik.

Arumi mendengus, berkacak pinggang menatap Bumantara dibawah, "Kamu murid di tempat aku mengajar, Bumantara. Dan ... lupakan soal tadi, aku, aku hanya hilaf. Iya aku hilaf, jadi lupakan aja!" seru Arumi sambil berlalu menjauh meninggal kan Bumantara, yang saat ini mengeraskan rahangnya, tangan nya terkepal.

"Melupakan ya? Hmm ... Enggak segampang itu, Arumi," ucap Bumantara, menyeringai, dengan tatapan nya yang selalu mengikuti langkah kaki Arumi kearah kamar nya.

Arumi mengambil ponselnya di atas meja, "Mas Dipta," gumam Arumi, setelah melihat nama di layar ponsel nya.

"Siapa Arumi?" tanya Bumantara sambil melipat tangan di depan dada, berdiri di ambang pintu memperhatikan Arumi.

"Jika tidak penting, tidak usah di angkat. Dan ... kita harus istirahat Arumi, besok kamu mengajar kan, sayang, karena ada aku murid mu yang harus kamu ajar dengan benar. Seperti ciuman, mungkin," ujar Bumantara, menyeringai, sambil melangkah kan kedua kaki nya masuk ke kamar Arumi, lalu mendudukkan dirinya di atas kasur Arumi.

Dan Arumi yang melihat itu, hanya bisa memutar kan kedua bola mata nya, ia kesal dengan kelancangan Bumantara, tapi lebih kesal lagi dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengusir laki-laki itu.

"Jangan seperti itu, sayang. Kamu terlihat menggemaskan jika seperti itu. Ayo kesini ... kita harus tidur, sebelum menyambut hari esok," kata Bumantara, terkekeh, sambil membaringkan tubuhnya, lalu menepuk sisi sebelah nya untuk Arumi.

Sekarang Bumantara benar-benar mengganti panggilan 'baby' menjadi 'sayang' hanya untuk Arumi - perempuan milik nya.

Arumi menghembuskan napas berat, sambil berjalan menghampiri Bumantara, dan kembali meletakan ponselnya diatas meja, "Kamu merasa ini seperti rumah mu Bumantara. Seenak nya keluar masuk ke dalam kamar ku," kata Arumi sambil menendang pelan kaki Bumantara, sebelum menundukkan dirinya disebelah Bumantara.

Bumantara yang melihat kelakuan Arumi seperti itu, menjadi terkejut, sebelum tersadar, lalu terkekeh. "Kamu sangat berani sayang, tapi aku suka."

Bumantara langsung menarik tangan Arumi, sehingga dia terjatuh diatas dada Bumantara, dengan sigap Bumantara memeluk Arumi supaya tidak terlepas dari dekapan nya.

"Ih ... Lepas! Jangan begini, aku gerah, Bumantara," seru Arumi, mendelik tidak suka, sambil memukul pelan dada Bumantara yang tak mengenakan apapun.

"Sstt ... Sakit Arumi. Tolong jangan ditekan," ujar Bumantara meringis, saat paha Arumi menekan miliknya, yang sedang menegang.

Arumi yang kembali merasakan benda itu, menjadi terdiam, mata nya membulat lucu. "Bumantara, lepas. Aku mau tidur," lirih Arumi sambil menggeliat pelan, setelah berhasil dilepas kan Bumantara, ia langsung berbaring membelakangi pria itu.

Tapi yang nama Bumantara, dia tidak akan kehilangan sedikit pun moment yang indah itu, dia memeluk pinggang Arumi dengan sebelah tangan nya ia selipkan di bawah kepala Arumi.

"Boleh tangan ku naik, sayang?" bisik Bumantara iseng, tanpa menunggu jawaban Arumi, ia langsung memasukkan tangannya kedalam pakaian Arumi dan tepat berlabuh di dada Arumi yang bebas tanpa penghalang.

"Bumantara!" seru Arumi kesal, sambil mencoba menarik tangan Bumantara dari dada nya. Namun tidak bisa, karena Bumantara sudah berpegangan dengan erat di benda bulat namun lembut itu.

Arumi mendesah frustasi, sambil menjambak rambut Bumantara dengan posisi tetap seperti tadi. "Ihhh ... Kesal banget aku tu sama kamu...."

Arumi menarik rambut itu sekuat tenaga, sedangkan Bumantara meringis sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Arumi dari rambutnya.

"Hei sayang, jangan seperti ini, kulit kepala ku sakit. Kamu punya dendam apa sama aku, sayang?" ujar Bumantara dengan suara nya yang dalam.

"Banyak ... Bumantara, banyak. Ini rasakan, rasa sakitnya," teriak Arumi, dengan tangan masih seperti tadi.

Karena Bumantara tidak tau cara melepaskannya, dengan terpaksa ia meremas dada Arumi lalu langsung memajukan wajah nya ke celah-celah leher Arumi, dan mulai menghisap nya. "Aaahhh ... Sakit!"

Plak!!!

——

Bersambung....

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!