Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencairkan Belenggu
Dinding es raksasa yang diciptakan Todoroki memenuhi hampir seluruh arena, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke bangku penonton baris terdepan. Namun, di puncak menara es itu, Mitsuki berdiri dengan posisi jongkok yang santai, matanya yang kuning menatap tajam ke bawah, ke arah Todoroki yang mulai terengah-engah.
"Kau membekukan dunia di sekitarmu, Todoroki-kun," ucap Mitsuki, suaranya terdengar jernih di tengah kesunyian stadion. "Tapi kau juga membekukan dirimu sendiri. Lihat tangan kananmu, es itu mulai merambat ke kulitmu. Sirkulasi energimu terhambat."
Todoroki mendongak, wajahnya mengeras. "Diam! Aku bisa menang tanpa menggunakan 'itu'!"
Todoroki kembali menghentakkan kakinya. Kali ini, ia tidak membuat dinding es, melainkan ribuan duri es tajam yang melesat ke arah Mitsuki seperti peluru.
Teknik Tanpa Jejak
Mitsuki tidak melompat mundur. Ia justru menjatuhkan dirinya dari puncak es, meluncur vertikal ke bawah. Di tengah udara, ia melakukan gerakan memutar.
"Fūton: Reppūshō!" (Elemen Angin: Telapak Angin Puyuh).
Mitsuki menepukkan kedua telapak tangannya, menciptakan gelombang tekanan udara yang sangat padat. Alih-alih menghancurkan es, tekanan angin itu ia gunakan untuk mengubah lintasan tubuhnya di udara secara instan. Ia bergerak meliuk-liuk di antara celah duri es dengan kelenturan yang tidak masuk akal.
Hanya dalam hitungan detik, Mitsuki sudah mendarat di hadapan Todoroki. Jarak mereka kurang dari satu meter.
"Jika kau adalah eksperimen Ayahku," bisik Mitsuki sambil mengayunkan gagang pedangnya yang masih terbungkus sarung, "kau akan dianggap sebagai produk gagal karena menolak setengah dari potensimu sendiri."
PLAK!
Gagang pedang Mitsuki menghantam perut Todoroki. Todoroki terlempar ke belakang, namun ia berhasil menahan dirinya dengan menciptakan dinding es kecil di belakang punggungnya.
"Jangan... sebut aku eksperimen!" raung Todoroki. Amarahnya memuncak. Es yang keluar dari sisi kanannya menjadi lebih liar, namun juga lebih tidak terkontrol.
Mitsuki berjalan mendekat, setiap langkahnya tenang namun memberikan tekanan psikologis yang berat.
"Kau benci api itu karena itu milik ayahmu, Endeavor, bukan?" Mitsuki memiringkan kepalanya. "Logika yang sangat kekanak-kanakan. Di duniaku, kami menggunakan apa pun untuk bertahan hidup. Jika musuhmu menggunakan api untuk membunuh teman-temanmu, apakah kau akan tetap menolak menggunakan apimu hanya karena harga diri?"
"Kau tidak tahu apa-apa!" Todoroki menyerang secara fisik, melayangkan pukulan es.
Mitsuki menangkap tangan kanan Todoroki yang sudah membeku. Dinginnya luar biasa, namun Mitsuki tidak melepaskannya. "Aku tahu bahwa tubuhmu sedang sekarat karena hipotermia. Sisi kananmu sudah mencapai batas. Jika kau tidak melepaskan panas sekarang, kau akan pingsan sebelum pertempuran ini benar-benar dimulai."
Mitsuki menekan titik saraf di pergelangan tangan Todoroki, memaksanya untuk merasakan sakit yang tajam. "Lihat ke arah tribun, Todoroki-kun. Lihat All Might. Lihat Izuku. Mereka tidak melihat 'Endeavor' saat melihatmu. Mereka melihat pahlawan yang sedang berjuang. Tapi aku? Aku hanya melihat seorang budak yang dirantai oleh masa lalunya sendiri."
Todoroki gemetar. Ingatan tentang ibunya, tentang latihan keras yang menyiksa, dan tentang kebenciannya pada ayahnya berputar di kepalanya. Namun, kata-kata Mitsuki tentang "budak masa lalu" menghantamnya lebih dalam daripada pukulan fisik mana pun.
"Aku... aku bukan budak!"
Detik itu juga, suhu di arena melonjak drastis. Es yang menyelimuti stadion mulai retak dan mencair secara instan. Uap putih tebal menyelimuti mereka berdua. Dari sisi kiri Todoroki, api merah yang murni dan dahsyat meledak ke udara, melahap segala kedinginan yang ada.
"ITU DIA! API TODOROKI AKHIRNYA KELUAR!" teriak Present Mic dengan histeris.
Endeavor berdiri dari kursinya di tribun pahlawan, tertawa dengan nada kemenangan yang menyeramkan. "SHOTO!!! KAU AKHIRNYA MENERIMANYA!"
Di tengah uap panas, Mitsuki berdiri dengan senyum tipis. Ia merasakan panas yang luar biasa, namun ia tidak mundur. Pakaian birunya sedikit hangus di bagian ujung, namun matanya kuningnya berkilat penuh kepuasan.
"Bagus," ucap Mitsuki. "Sekarang kau sudah lengkap. Mari kita lihat, mana yang lebih kuat... apimu, atau instingku."
Todoroki menatap tangannya yang terbakar api. Ia merasa lega, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. Ia menatap Mitsuki dengan rasa hormat yang baru. "Terima kasih, Mitsuki. Tapi aku tidak akan kalah sekarang!"
Todoroki menyiapkan serangan gabungan. Es di sisi kanan dan api di sisi kiri. Udara di stadion mulai berputar hebat karena perbedaan suhu yang ekstrem. Ini adalah serangan pemungkas.
Mitsuki meletakkan pedangnya kembali ke punggung. Ia tidak akan menggunakan senjata. Ia merendahkan tubuhnya, tangan kirinya menyentuh tanah, sementara tangan kanannya membentuk segel petir.
"Izuku, perhatikan ini," gumam Mitsuki pelan.
"Senpō: Hebi Mikazuchi!" (Teknik Sage: Petir Ular).
Todoroki meluncurkan ledakan termal raksasa. Mitsuki melesat maju, petir biru di tangannya membelah api dan es di hadapannya seperti pisau panas membelah mentega.
BOOM!!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh stadion UA. Kaca-kaca bergetar, dan debu serta uap menutupi pandangan semua orang. Saat asap perlahan menipis, terlihat satu sosok berdiri di tengah arena, dan satu sosok lagi tergeletak tepat di garis batas luar arena.
Hasil Pertandingan: Mitsuki berdiri dengan napas sedikit berat, lengan bajunya robek total, namun ia masih berada di dalam area. Shoto Todoroki tergeletak di luar garis, pingsan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Pemenangnya... Mitsuki!" teriak Midnight.
Seluruh stadion terdiam sejenak sebelum akhirnya meledak dalam sorakan yang paling meriah sepanjang festival. Mereka baru saja melihat salah satu pertarungan tingkat tinggi yang pernah terjadi dalam sejarah UA.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen