Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Baru Di Bumi Kreatif
Lima tahun setelah kampus Bumi Kreatif Indonesia resmi beroperasi, tempat ini telah menjadi salah satu pusat pendidikan kreatif terbaik di kawasan Asia Tenggara. Ribuan mahasiswa dari lebih dari 20 negara berkumpul di sini – tidak hanya untuk belajar seni, musik, tari, sastra, dan desain, tapi juga untuk mengembangkan karya yang memiliki dampak sosial bagi masyarakat.
Sistem pendidikan inklusif yang mereka jalankan menjadi contoh bagi banyak negara – anak-anak dengan disabilitas, dari keluarga kurang mampu, atau berasal dari daerah terpencil mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat mereka.
PAGI HARI – GEDUNG UTAMA KAMPUS
Nara berdiri di depan papan informasi besar yang menampilkan data perkembangan kampus. Dia mengenakan jas biru muda dengan logo kampus di dada, wajahnya penuh semangat namun tetap fokus. Di sisinya berdiri Lina yang kini telah menjadi Wakil Direktur Bidang Akademik – penampilan dia jauh lebih hangat dan penuh rasa tanggung jawab dibanding lima tahun yang lalu.
"Kak Nara, data penerimaan mahasiswa baru sudah keluar," ucap Lina sambil menunjukkan lembaran dokumen. "Kita menerima 527 pendaftar dari 15 negara berbeda – 30% di antaranya adalah anak-anak dari daerah terpencil, dan 15% memiliki kebutuhan khusus. Ini yang tertinggi sejak kampus berdiri."
Nara tersenyum bangga sambil melihat foto-foto mahasiswa dari tahun-tahun sebelumnya yang kini telah berkembang menjadi seniman, desainer, dan guru yang sukses. "Bagus sekali, Lin. Kamu tahu kan prinsip kita – setiap anak punya hak untuk belajar dan mengembangkan bakatnya. Pastikan proses seleksi tetap adil ya, terutama untuk mereka yang benar-benar membutuhkan."
Lina mengangguk dengan setuju. "Aku sudah beri instruksi ke tim untuk memberikan dukungan penuh – mulai dari bantuan administrasi hingga beasiswa bagi mereka yang tidak mampu."
SISI LAIN KAMPUS – RUANG KERJASAMA INTERNASIONAL
Dito yang menjabat sebagai Direktur Bidang Logistik dan Kerjasama Internasional sedang menerima delegasi pendidikan dari Jepang dan Korea Selatan. Ruangan yang penuh dengan karya seni dari berbagai negara menjadi latar belakang diskusi mereka tentang program pertukaran mahasiswa dan kerja sama penelitian.
"Kami sangat terkesan dengan bagaimana kalian mengintegrasikan seni tradisional dengan teknologi modern," ucap Profesor Tanaka dari Jepang, sambil melihat patung digital yang dibuat oleh mahasiswa tunanetra. "Di Jepang, kami juga sedang mengembangkan program serupa, tapi masih banyak tantangan yang harus diatasi."
"Kita bisa saling belajar satu sama lain," jawab Dito dengan senyum ramah. "Setiap negara punya keunikan budaya yang bisa menjadi inspirasi. Misalnya, mahasiswa kita dari Jawa berhasil mengembangkan wayang kulit digital yang bisa dinikmati oleh anak-anak di seluruh dunia melalui aplikasi."
Delegasi Korea Selatan mengangguk dengan kagum. "Itu ide yang luar biasa. Bisa kita diskusikan kerja sama untuk mengembangkan proyek serupa dengan seni tradisional Korea?"
LABORATORIUM SENI DIGITAL
Reza yang menjadi Direktur Bidang Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum sedang bersama beberapa mahasiswa menguji aplikasi baru yang mereka kembangkan. Layar komputer menunjukkan gambar karya seni yang bisa dirasakan melalui sentuhan dan suara untuk anak-anak tunanetra.
"Ini sangat menarik, Pak Reza," ucap Siti – salah satu mahasiswa tunanetra yang kini telah menjadi asisten peneliti. "Dengan aplikasi ini, aku bisa merasakan bentuk dan warna lukisan tanpa harus melihatnya. Rasanya seperti aku sedang menyentuh dunia yang baru."
Reza tersenyum bangga. "Itulah tujuan kita, Siti. Seni seharusnya bisa dinikmati oleh semua orang, tanpa batasan apapun. Kita akan terus mengembangkan aplikasi ini agar bisa menjangkau lebih banyak anak-anak tunanetra di seluruh Indonesia."
Mereka mulai menguji fitur baru yang bisa mengubah karya seni menjadi musik yang menggambarkan emosi dan makna di baliknya. Hasilnya sangat memukau – setiap goresan kuas dan warna menghasilkan nada dan irama yang berbeda.
RUANG KEUANGAN YAYASAN
Rendra yang menjabat sebagai Direktur Bidang Keuangan dan Pengelolaan Yayasan sedang bertemu dengan kelompok pengusaha muda dari berbagai daerah Indonesia. Mereka datang dengan tujuan menyumbangkan dana untuk beasiswa mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
"Kami melihat bagaimana kampus ini mengubah hidup banyak anak-anak," ucap Fahmi, pengusaha muda dari Medan. "Saat saya kecil, tidak ada tempat seperti ini di daerah kami. Banyak anak berbakat yang tidak punya kesempatan karena tidak mampu membayar biaya pendidikan. Kami ingin membantu agar hal serupa tidak terulang lagi."
Rendra sangat senang mendengar hal itu. "Dukungan seperti ini sangat berarti bagi kami. Setiap rupiah yang kalian berikan akan langsung digunakan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan. Selain itu, kami juga bisa bekerja sama untuk membuat produk dari karya mahasiswa agar mereka bisa mendapatkan penghasilan dan mandiri."
Pengusaha muda itu sangat antusias dengan ide tersebut. Mereka sepakat untuk membantu memasarkan karya seni mahasiswa ke pasar lokal dan internasional.
SIANG HARI – KAMPUS UTAMA
Kampus menerima kunjungan khusus dari 30 anak-anak dari desa terpencil di Jawa Tengah dan Sumatera Utara yang baru saja menyelesaikan program pendidikan kreatif tingkat dasar. Mereka datang dengan membawa karya seni yang mereka buat sendiri – dari patung tanah liat hingga anyaman bambu yang indah.
Dani yang kini telah menjadi Kepala Program Pendidikan Anak-anak sedang menemani mereka berkeliling kampus. Meski masih kesulitan berbicara dengan kata-kata, dia mampu berkomunikasi dengan baik melalui bahasa isyarat dan contoh nyata dari karyanya.
Zaki yang telah menjadi penerjemah bahasa isyarat profesional serta instruktur seni rupa sedang membantu menerjemahkan setiap penjelasan Dani kepada anak-anak.
"Kalau kamu rajin belajar dan berlatih, suatu hari nanti kamu juga bisa belajar di sini," ucap Dani dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Zaki. "Semua karya yang kamu buat sekarang adalah dasar yang kuat untuk masa depanmu."
Anak laki-laki kecil bernama Andi dengan mata yang bersinar penuh harap mengangkat tangan. "Pak Dani, bisa kah aku membuat patung sebesar itu suatu hari nanti?" dia tanya sambil menunjuk ke patung besar yang menghiasi halaman kampus.
"Tentu saja bisa, sayang," jawab Dani dengan senyum lembut. "Yang penting kamu tidak pernah menyerah dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh."
Rara yang telah menyelesaikan pendidikan seni di Italia dan kini menjadi Kepala Program Seni Rupa juga datang untuk menemani anak-anak. Dia membawa alat lukis dan langsung mengajari mereka cara menggambar dengan teknik yang sederhana namun efektif.
"Setiap orang punya cara sendiri untuk mengekspresikan diri," ucap Rara sambil menunjukkan lukisan yang dibuat oleh salah satu anak. "Yang penting kamu menikmati prosesnya dan tidak takut untuk mencoba hal baru."
SORE HARI – AULA UTAMA KAMPUS
Seluruh tim eksekutif kampus berkumpul untuk merencanakan acara besar yang akan datang – Festival Kreativitas Asia Tenggara yang akan diadakan di kampus mereka dalam waktu tiga bulan lagi. Acara ini akan menjadi ajang untuk menunjukkan karya seni terbaik dari mahasiswa dan seniman muda dari seluruh kawasan.
"Kita harus membuat acara ini berbeda dari tahun sebelumnya," ucap Nara kepada seluruh tim yang ada di ruangan – Dito, Reza, Rendra, Lina, Clara, dan beberapa kepala program lainnya. "Ini bukan hanya tentang menampilkan karya seni, tapi juga tentang menunjukkan bagaimana kreativitas bisa menjadi solusi untuk masalah sosial dan ekonomi di daerah kita."
Mereka mulai merencanakan berbagai kegiatan yang akan diadakan selama festival:
- Pameran seni dengan tema "Kreativitas untuk Masyarakat"
- Pertunjukan musik dan tari kolaborasi antar negara
- Lomba menulis cerita dan membuat film pendek tentang lingkungan dan kesetaraan
- Lokakarya kreatif untuk masyarakat umum dan anak-anak dari daerah sekitar
- Pameran produk kreatif yang bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat lokal
"Kita juga akan mengundang pemerintah daerah dan pengusaha lokal untuk berpartisipasi," tambah Dito. "Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa pendidikan kreatif tidak hanya tentang seni, tapi juga bisa berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah."
MALAM HARI – KAFE KREATIF KAMPUS
Setelah hari yang panjang dan padat kegiatan, Nara dan tiga orang terbaiknya – Dito, Reza, Rendra – duduk di Kafe Kreatif, tempat yang sering menjadi lokasi berkumpul mereka untuk berdiskusi atau sekadar bersantai. Tempat ini dihiasi dengan karya seni mahasiswa dan memiliki suasana yang hangat serta ramah.
Mereka duduk di meja luar ruangan yang menghadap ke taman kampus yang indah. Lampu-lampu kecil yang terpasang di antara pepohonan menciptakan suasana yang romantis namun tetap nyaman.
"Siapa yang menyangka kita bisa sampai sejauh ini?" ucap Reza sambil melihat foto-foto lama yang terpajang di dinding kafe – foto mereka saat masih merintis program di taman kota kecil.
"Dulu kita hanya bermimpi membantu beberapa anak di sekitar kita," tambah Dito dengan senyum nostalgi. "Sekarang kita sedang merencanakan festival yang akan diikuti oleh ribuan orang dari seluruh kawasan Asia Tenggara. Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan."
Rendra mengambil gelas jus buah segar dan mengangkatnya ke atas. "Ini semua tidak mungkin terjadi tanpa kerja sama kita yang solid dan dukungan dari banyak orang. Mari kita bersulang untuk kesuksesan kita sejauh ini, dan untuk masa depan yang lebih baik lagi. Untuk Bumi Kreatif Indonesia dan untuk semua anak-anak yang kita bantu!"
Mereka bersulang dan minum bersama, tertawa dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka selama ini – mulai dari tantangan awal yang hampir membuat mereka menyerah, hingga saat-saat bahagia ketika melihat anak-anak yang mereka bantu berhasil meraih impiannya.
Namun suasana hangat tersebut tiba-tiba berubah saat seorang staf kampus bernama Ani datang dengan wajah yang cemas dan berkeringat.
"Bu Nara, maaf mengganggu," ucapnya dengan suara yang sedikit gemetar. "Ada kabar buruk dari pusat pendidikan kreatif cabang di Karo, Sumatera Utara. Beberapa mahasiswa yang sedang menjalankan program pengabdian masyarakat di sana mengalami masalah dengan masyarakat sekitar. Mereka bahkan mengancam untuk menutup pusat tersebut dan tidak mengizinkan kita kembali ke daerah itu!"
Nara dan timnya langsung menjadi serius. Pusat cabang di Karo adalah salah satu pusat pertama yang mereka bangun setelah kampus utama beroperasi. Selama tiga tahun terakhir, pusat tersebut telah membantu ratusan anak-anak dari desa-desa di sekitar Gunung Sinabung yang terkena dampak erupsi dan kesulitan ekonomi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nara dengan suara yang tegas namun tetap tenang.
"Masyarakat sekitar merasa bahwa program kita hanya fokus pada seni dan tidak memberikan manfaat nyata bagi daerah," jawab Ani sambil menyerahkan sebuah surat yang diterima dari pemuka masyarakat. "Mereka mengatakan bahwa yang mereka butuhkan bukanlah pelajaran melukis atau membuat kerajinan tangan, tapi pekerjaan yang bisa memberi penghasilan stabil dan bantuan untuk membangun infrastruktur daerah."
Selain itu, ada laporan bahwa beberapa karya seni yang dibuat oleh mahasiswa dan anak-anak lokal telah dirusak oleh orang yang tidak dikenal. Beberapa tulisan kebencian juga ditemukan di tembok pusat pendidikan kreatif tersebut.
Nara menyadari bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. "Kita harus pergi ke sana langsung besok pagi. Kita tidak bisa membiarkan semua usaha kita di sana sirna begitu saja. Dan yang terpenting, kita harus mendengar keluhan mereka dengan sungguh-sungguh dan mencari solusi yang baik bagi semua pihak."
Sebelum mereka bisa membicarakan lebih lanjut, Nara melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenali di ponselnya:
"Jangan berpikir bahwa kamu bisa selalu berhasil dengan programmu. Ada banyak orang yang tidak senang dengan apa yang kamu lakukan. Jika kamu tetap bersikeras menjalankan program di Karo, maka kamu akan kehilangan lebih dari yang kamu bayangkan."
Nara merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pesan ini bukan hanya dari masyarakat yang marah – ada nuansa yang lebih mengkhawatirkan, seperti seseorang yang sengaja ingin menghancurkan program mereka.
Pada hari berikutnya, Nara dan tim berangkat ke Karo, Sumatera Utara dengan hati yang penuh kekhawatiran namun tetap penuh semangat. Saat mereka tiba di pusat pendidikan kreatif cabang, mereka menemukan bahwa situasi jauh lebih kompleks dari yang mereka duga.
Masyarakat sekitar memang merasa tidak puas, tapi ada juga beberapa elemen yang sengaja menyebarkan kabar bohong dan memicu emosi masyarakat agar melawan program mereka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa program pendidikan kreatif tersebut adalah cara untuk mengambil alih tanah masyarakat dan menjadikannya milik kampus.
Selain itu, Nara bertemu dengan seorang pemuda lokal bernama Malik yang menjadi suara utama masyarakat. Dia adalah anak muda yang cerdas, memiliki pengaruh besar di daerah tersebut, dan juga seorang seniman lokal yang berbakat. Namun dia merasa bahwa program dari kampus tidak memahami budaya dan kebutuhan sebenarnya dari masyarakat Karo.
"Kalian datang dengan konsep dari Jakarta yang mungkin cocok untuk kota besar," ucap Malik dengan suara yang tegas saat bertemu dengan Nara di depan pusat pendidikan kreatif. "Tapi kalian tidak memahami bahwa di sini, kita butuhkan yang bisa langsung membantu kita keluar dari kemiskinan – bukan pelajaran seni yang tidak bisa kita jual!"
Saat Nara mencoba menjelaskan bahwa program mereka juga fokus pada pengembangan produk kreatif yang bisa menjadi sumber penghasilan, dia melihat seseorang yang berdiri di balik kerumunan dengan wajah yang sangat akrab – Rio Pratama, pria yang dulu pernah mencoba menghancurkan program mereka di Swiss dan telah dikirim ke penjara karena tuduhan pemalsuan dokumen. Namun dia kini bebas dan tampaknya telah kembali untuk menghalangi jalannya program mereka...