Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Han Feng meletakkan kembali pedang itu dan mencoba tombak, lalu kapak. Semuanya sama. Senjata-senjata ini dibuat untuk kultivator yang mengandalkan aliran Qi, bukan kekuatan fisik murni.
"Tidak ada yang bagus di sini," kata Han Feng kecewa.
"Hei! Kau mau beli atau cuma mau menghina barang dagangan kami?" bentak pelayan itu, kesal melihat Han Feng memegang-megang senjata lalu membuangnya seolah itu sampah. "Jika kau tidak punya uang, keluar sana! Jangan mengotori lantai."
"Aku mencari senjata yang berat," kata Han Feng tenang. "Sangat berat. Apakah kalian punya?"
Pelayan itu tertawa mengejek. "Senjata berat? Tubuh kurusmu itu mengangkat pedang baja saja sudah gemetar. Jangan berlagak kuat."
"Minggir."
Han Feng malas berdebat. Han Feng hendak berjalan menuju tangga ke lantai dua, tapi pelayan itu menghalangi jalannya.
"Lantai dua khusus untuk murid inti atau mereka yang memiliki setidaknya 100 koin emas!" seru pelayan itu.
Han Feng merogoh sakunya, mengeluarkan kantong uang, dan melemparkannya ke meja kasir.
BRAK!
Kantong itu mendarat dengan bunyi berat yang memuaskan. Ikatan talinya terbuka sedikit, memperlihatkan kilauan emas murni di dalamnya.
Mata pelayan itu hampir copot. 50 koin emas! Itu jumlah yang sangat besar. Meskipun belum mencapai 100, itu cukup membuktikan daya beli Han Feng.
"A-Ah... Tuan Muda..." Pelayan itu tergagap, keringat dingin mengucur. Sikapnya berubah 180 derajat dalam sekejap.
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan serak terdengar dari sudut ruangan yang gelap di belakang tangga.
"Biarkan dia naik."
Seorang pria tua bertubuh kekar dengan satu mata tertutup penutup mata hitam keluar dari bayangan. Dia mengenakan apron kulit yang hangus di beberapa tempat. Otot lengannya yang telanjang sebesar paha orang dewasa, penuh dengan bekas luka bakar.
Itu adalah Tetua Tie, pandai besi utama Keluarga Han. Dia jarang muncul di depan umum karena sifatnya yang eksentrik dan pemarah.
"Tetua Tie!" Pelayan itu membungkuk hormat dengan gemetar.
Tetua Tie tidak mempedulikan pelayan itu. Satu matanya yang tajam menatap Han Feng, seolah sedang menaksir nilai sepotong logam mentah.
"Kau bilang senjata di sini terlalu ringan, Bocah?" suara Tetua Tie seperti parutan besi. "Ikut aku ke gudang belakang. Di sana ada rongsokan yang mungkin cocok dengan seleramu yang aneh."
Han Feng merasakan aura yang kuat dari orang tua ini. Ini bukan kultivator biasa. Tetua Tie setidaknya berada di ranah Pengumpulan Qi (Qi Gathering). Han Feng mengangguk hormat dan mengikuti Tetua Tie.
Gudang belakang Paviliun Senjata penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Di sini tersimpan senjata-senjata gagal, senjata rusak, atau senjata yang materialnya terlalu sulit untuk ditempa ulang.
Tetua Tie menunjuk ke sebuah sudut yang gelap. Di sana, bersandar pada dinding batu, terdapat sebuah benda panjang yang terbungkus kain kusam.
"Benda itu sudah ada di sini sejak sepuluh tahun lalu," kata Tetua Tie. "Aku menemukannya di reruntuhan tambang kuno. Itu adalah sebilah pedang besar, tapi tidak ada murid yang mau menggunakannya."
"Kenapa?" tanya Han Feng sambil mendekat.
"Karena beratnya tidak masuk akal," dengus Tetua Tie. "Pedang itu tidak memiliki ketajaman, tidak bisa dialiri Qi dengan lancar, dan beratnya mencapai 300 Jin (150 kg). Bagi kultivator Qi, pedang ini sampah. Menggunakan Qi untuk mengangkatnya hanya membuang tenaga."
Han Feng menarik kain penutup itu.
Debu beterbangan. Di balik kain itu, terungkaplah sebuah pedang besar berwarna hitam pekat. Panjangnya hampir setinggi tubuh Han Feng, dan lebarnya selebar telapak tangan dewasa. Permukaannya kasar, tidak berkilau, dan penuh dengan lubang-lubang kecil seperti permukaan meteor. Tidak ada mata pedang yang tajam; kedua sisinya tumpul dan tebal.
Ini bukan pedang. Ini lebih mirip lempengan besi balok yang dibentuk menyerupai pedang.
Namun, saat Han Feng melihatnya, Sutra Hati Naga Purba di dalam tubuhnya bergetar pelan.
[Terdeteksi Material: Besi Meteor Inti Bintang] [Kepadatan Tinggi. Cocok untuk penyaluran Kekuatan Fisik Murni.]
Mata Han Feng berbinar. Ini dia.
Han Feng mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram gagang pedang yang dingin dan kasar itu.
"Hup!"
Han Feng mengerahkan tenaga dari pinggang dan bahunya. Otot-otot lengannya menegang. Tanpa menggunakan Qi, hanya mengandalkan kekuatan otot murninya.
Kreeet...
Pedang hitam itu terangkat dari lantai.
Tetua Tie, yang bersiap mengejek Han Feng jika gagal mengangkatnya, terdiam. Matanya membelalak. Dia melihat dengan jelas bahwa tidak ada fluktuasi Qi di tubuh Han Feng. Pemuda kurus ini mengangkat beban 150 kg dengan satu tangan murni menggunakan kekuatan otot?
"Monster kecil..." gumam Tetua Tie.
Han Feng mengayunkan pedang itu perlahan. Wuuung! Suara angin berat terdengar saat pedang itu membelah udara.
"Beratnya pas," kata Han Feng sambil tersenyum puas. "Dengan pedang ini, aku tidak perlu teknik memotong. Hantam saja, dan tulang musuh akan menjadi bubuk."
Han Feng menoleh pada Tetua Tie. "Berapa harganya, Tetua?"
Tetua Tie menyeringai, memperlihatkan gigi yang sebagian ompong. "Benda itu sudah lama menjadi sampah di gudangku. Tapi melihat kau bisa mengangkatnya... 30 koin emas. Anggap saja biaya material."
"Sepakat."
Han Feng tidak menawar. Baginya, senjata yang cocok tak ternilai harganya. Han Feng membayar 30 koin emas, menyisakan 20 koin di kantongnya.
"Siapa namamu, Bocah?" tanya Tetua Tie saat Han Feng mengikatkan pedang besar itu di punggungnya menggunakan tali kulit tebal.
"Han Feng."
"Han Feng..." Tetua Tie mengangguk-angguk. "Nama yang sering kudengar sebagai bahan lelucon. Tapi sepertinya lelucon itu akan segera berubah menjadi mimpi buruk bagi beberapa orang. Hati-hati dengan pedang itu, nak. Benda itu haus darah."
"Aku akan memberinya makan," jawab Han Feng singkat.
Dengan pedang raksasa di punggungnya yang membuat penampilannya terlihat aneh—seperti semut yang memanggul batang korek api raksasa—Han Feng berjalan keluar dari Paviliun Senjata.
Setiap langkah kaki Han Feng kini meninggalkan jejak yang sedikit lebih dalam di tanah karena beban tambahan itu. Tapi Han Feng tidak merasa terbebani. Beban ini justru menjadi latihan konstan bagi tubuhnya.
"Senjata sudah dapat. Teknik sudah ada. Sekarang..."
Han Feng menatap ke arah Hutan Binatang Buas di kejauhan.
"Masih ada tiga minggu sebelum turnamen. Aku harus mencapai puncak batas tubuh ini. Dan cara tercepat untuk naik tingkat..."
Mata Han Feng berkilat.
"...adalah dengan berburu."
Han Feng memutuskan untuk meninggalkan kediaman klan dan masuk ke dalam Hutan Binatang Buas untuk pelatihan neraka selama tiga minggu ke depan. Di sana, tidak ada aturan klan, tidak ada politik. Hanya ada hukum rimba: membunuh atau dibunuh. Dan itu adalah habitat alami bagi pewaris Dewa Naga.