"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Murka Sang Jembatan
Aku sejenak mendengar langkah kaki seolah sedang mendekat ke arah kami. Ruang bawah tanah yang sedang kami periksa.
Pintu ruang bawah tanah perlahan terbuka, bukan dengan paksaan, seolah dia adalah pemilik Rumah ini.
Tak lama Seorang pria muda seumuranku muncul dari balik kabut debu. Ia mengenakan setel kemeja dan rompi abu-abu yang sempurna tanpa noda sedikit pun.
Wajahnya tampan, namun matanya menunjukkan dia tidak punya empati sama sekali.
Dia adalah Kaito, pemimpin tertinggi The Eraser yang baru, sosok yang sepuluh tahun lalu merasa dunianya hancur karena penolakan Sayuri.
"Sepuluh tahun," Kaito memulai, suaranya halus namun memuakkan.
"Aku menghabiskan sepuluh tahun hanya untuk mencari sepotong 'properti' yang hilang dari tanganku."
Ia melangkah mendekat, mengabaikan moncong senjata Ken. Matanya tertuju hanya pada Sayuri yang bergetar di pelukanku.
"Wah...wah....Hebat!" ucap nya sembari bertepuk tangan.
"Akhirnya kalian datang juga ya! "
"Jadi, kau yang bernama Kaito? " tanyaku menatap dengan penuh kebencian.
"Hahahaha..... Benar, Ini aku"
Aku sontak langsung menarik Sayuri ke dekapanku
"Sayuri... Ternyata kau masih seindah dulu ya, persis saat kau menolak perjodohan kita sepuluh tahun lalu. Tapi lihat dirimu sekarang," Kaito mencibir, "bersandar pada seorang 'perantau' gagal yang memori aslinya saja harus dihapus hanya agar bisa bertahan hidup."
"Berhenti di situ, Kaito!" teriakku.
Energi jingga di tanganku mulai berderak keras, memercikkan cahaya yang menyinari ruang bawah tanah yang remang-remang itu.
Kaito tertawa kecil sebuah tawa dingin yang merendahkan. Hanya dengan satu lambaian tangan yang malas, gelombang tekanan gravitasi menghantam Ken dan Mona.
Tubuh mereka terpaku ke dinding dengan dentuman keras, seolah ditahan oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Mereka terengah-engah, tak mampu bergerak sedikit pun.
"Kau bukan tandinganku, Subjek 00," ucap Kaito dingin.
Ia menatap Sayuri dengan obsesi yang tak lagi tertutup.
"Kau tahu, Sayuri? Aku tidak butuh cintamu lagi. Aku hanya butuh eksistensimu. Aku akan memilikimu, mencabik-cabik jiwamu, dan memastikan kau tak akan pernah bisa bermimpi tentang pria ini lagi."
Dengan gerakan kilat, Kaito menarik Sayuri dari pelukanku menggunakan kekuatan pergeseran dimensinya.
Sayuri menjerit saat Kaito mencengkeram kasar wajahnya, memaksa gadis itu menghadapnya. Tangan Kaito mulai meraba bahu Sayuri yang bergetar hebat karena ketakutan.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Tolong aku, Alexian!" teriak Sayuri di sela tangisnya yang pecah.
Melihat tangan kotor itu menyentuh Sayuri, sesuatu di dalam dadaku meledak. Itu bukan lagi sekadar energi jingga yang berderak melainkan api kemurnian yang menghancurkan segala batas logika.
Ruangan bawah tanah itu seketika bergetar hebat, seolah-olah semesta pun murka melihat pemandangan itu.
"KAITO!!!"
Suaraku tak lagi terdengar seperti manusia.
Seluruh bangunan tua itu bergetar hebat. Tiang-tiang kayu penyangga rumah berderit kencang seolah akan runtuh.
Aku melesat seperti kilatan cahaya, menghantam dada Kaito dengan kepalan tangan yang dibalut energi dimensi murni.
BRAAAKKK!!!
Tubuh Kaito terpental hebat, menghancurkan pintu-pintu geser shoji hingga kertas-kertasnya hancur berkeping-keping.
Ia terhempas hingga ke ujung lorong kayu, namun aku tidak membiarkannya berhenti.
Napas kusengal, aku sempat berpaling ke arah Sayuri yang masih terduduk lemas di atas lantai tatami. Hatiku perih melihat wajahnya yang sembab.
"Kau baik-baik saja, Sayuri?" tanyaku singkat.
Namun, rasa khawatirku menjadi celah yang fatal. Belum sempat Sayuri menjawab, udara di belakangku berdesir dingin. Kaito telah berpindah menggunakan kekuatan pergeseran dimensinya.
DUAKH!
Sebuah tendangan keras menghantam punggungku, membuatku terseret di atas lantai kayu hingga menghantam pilar utama rumah dengan telak.
Darah pun perlahan keluar dari mulutku. Aku pun menyerangnya lagi dengan satu pukulan.
Ternyata kekuatan pergeseran dimensinya begitu kuat, membuatku terhuyung saat ingin meninju mukanya.
"Ayo, Pukul lagi... ayo!" meremehkanku.
"Hanya itu kemampuanmu, Alexian?" Kaito berdiri dengan angkuh di atas lantai tatami yang kini berantakan.
Ia meludah ke arahku dengan jijik. dan menahanku tanpa bisa bergerak sedikitpun.
"Lepaskan aku!!" teriakku.
"Kau pikir kau lebih kuat dariku, Subjek 00? Lihatlah pria ini, Sayuri. Dia terlalu lemah untuk menjadi musuhku. Chuih!"
Sayuri perlahan berdiri. Wajahnya yang semula penuh ketakutan kini berubah drastis. Ada amarah yang dingin menyelimuti tatapannya.
"Tindakanmu... sudah tidak bisa dimaafkan, Kaito!" ucap Sayuri dengan suara yang bergetar hebat karena emosi.
"Hahaha... Lihatlah, Alexian. Wanita kesayanganmu ini membelamu seolah kau adalah orang yang paling ia cintai di dunia ini," cemooh Kaito sambil menatap langit-langit, tawanya meremehkan.
"Cukup, Kaito... Cukup. Kau sudah melewati batas!" suara Sayuri bergetar, ia bicara di sela isak tangis yang mulai berubah menjadi ketegasan.
"Iya... iya... kau ingin menyelamatkan pria malang ini, kan?" Kaito kembali menatap wajahku dengan tatapan menghina.
"Aku mencintainya!!!" teriak Sayuri, suaranya mengguncang keheningan ruangan.
"Aku menolakmu karena aku hanya mencintai Alexian! Dia adalah Sora Mizuki-ku, sepuluh tahun lalu, sekarang, dan selamanya!"
Sontak Kaito melepasku dan mendekati Sayuri sekali lagi. Ia ingin melakukan hal yang sama sebelumnya pada Sayuri.
"Apa kau bilang??, Coba katakan sekali lagi". Ken mencengkeram rahang Sayuri begitu kuat.
"Iya... Aku sangat mencintainya, Aku gak takut sedikitpun padamu". ucap Sayuri menahan rasa sakit akibat cengkeraman Kaito.
"Aku bisa saja menghabisimu disini sekarang juga, Sayuri. Apa kau mau merasakannya?? " tawa Kaito dengan ekspresi begitu kejam.
"Jangan paksa seseorang untuk menyukai atau mencintaimu Kaito" ucapku tertawa seolah meledeknya walau aku terjatuh tercampak.
"Terimalah nasibmu sekarang" lanjutku mencoba berdiri walau punggungku masih begitu sakit.
"Kau masih sanggup berdiri ya, Subject 00"
"Sini mari, Sini.. " ucap Kaito meremehkanku sekali lagi.
Di tengah keterbatasanku melangkah akibat Luka yang belum sembuh disertai dadaku terasa sesak akibat serangan Kaito.
Aku menguatkan diri mencoba muncul tiba tiba di depan Ken dan menggunakan Kekuatan jembatan yang tersisa, berharap Aku bisa mengalahkannya dan bisa membakarnya menjadi debu.
Wusss!!!
"Kaito, aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Tapi satu hal yang harus kau camkan baik-baik," desisku tepat di depan wajahnya yang pucat.
"Kau sudah berani menyentuh Sayuri dengan tangan kotormu. Aku bersumpah akan menghabisimu di sini, sekarang juga!"
KRETAK!
Aku memutar tangan kanan Kaito tangan yang tadi menyentuh Sayuri dengan satu pusaran energi Jembatan tersisa. Suara retakan tulang yang patah memenuhi ruangan, diikuti jeritan kesakitan Kaito yang memecah malam di Kyoto.
"Aku lari bukan karena takut padamu, Tapi karena Eksperimen Kakek sayuri lah yang membuat ingatanku hilang," kataku dengan suara dingin yang dalam. Aku menekan telapak tanganku ke dadanya, membiarkan energi panas membakar rompi dan kemeja hitamnya sampai habis terbakar.
"Tapi hari ini, aku akan memastikan tidak ada satu sel pun dari tubuhmu yang tersisa di sini!"
Aku melepaskan ledakan energiku yang tersisa.
Cahaya jingga menyilaukan melahap tubuh Kaito.
Ia mencoba berteriak, memohon ampun, suaranya hilang saat tubuhnya perlahan menjadi partikel cahaya yang buyar ditiup angin dimensi.
Boss besar The Eraser dan bawahannya yang berkeliaran di luar rumah kini telah lenyap, terhapus oleh kekuatan "Jembatan" yang ia remehkan.
Aku terengah-engah, berbalik dengan mata yang masih berpendar jingga tajam. Aku menghampiri Sayuri yang terduduk lemas, langsung mendekapnya erat.
"Dia tidak akan menyentuhmu lagi. Tidak akan pernah," bisikku sambil menciumi keningnya.
Miyuki, Ken, dan Mona terbebas dari tekanan gravitasi dan menatapku dengan takjub sekaligus ngeri. Mereka baru saja melihat sisi lain dari diriku seorang pelindung yang tak segan-segan menjadi iblis demi cintanya.
"Lex..." Mona berbisik.
"Kau... Itu kau, Sumpah... Kau manusia kan? "
"Ya manusia lah, Apa lagi" ucapku tertawa bercanda.
Aku menatap sisa-sisa debu Kaito di lantai.
Berharap semua akan baik-baik saja tanpa ada bayang-bayang ketakutan yang menghampiri Sayuri dan Miyuki.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.