***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Atas Pengorbanan
Willie menghembuskan nafas kasar, mata nya menatap Rea dengan campur iba dan perasaan tak menentu, dia teringat video yang di tonton nya semalam, tentang bagaimana gadis di depan nya ini harus menanggung luka dan sakit sendirian.
Hati nya terasa sesak, kenapa hidup sekejam itu sama dia ?? pikir Willie dalam diam, dia menggenggam tangan nya perlahan, mencoba menahan emosi yang tiba tiba menyeruak.
Suasana di kamar itu kembali hening, Willie bingung harus membicarakan apa lagi dengan Rea, begitu juga sebaliknya.
" Kalau begitu, kamu istirahat saja, aku duduk di sofa sebelah sana ya, kalau ada apa apa panggil saja aku." ucap Willie sambil menunjuk sofa di ujung ruangan itu.
Rea hanya mengangguk pelan, pandangan nya tanpa sadar mengikuti Pria tampan itu hingga duduk dan menyandarkan tubuh nya di sofa, mata nya terpejam seolah sedang menenangkan diri.
sudah lima tahun tapi dia tidak banyak berubah, malah semakin tampan, batin Rea, bibir nya mengangkat membentuk senyum samar.
Namun suasana tenang itu seketika buyar ketika terdengar suara lembut seorang gadis memenuhi ruangan itu.
" Mama." seru suara polos itu, membuat Willie dan Rea serempak menoleh, di ambang pintu terlihat sella berlari kecil sambil menggandeng tangan mama Lina yang tersenyum lembut melihat keluguan cucu nya.
" Mama sudah bangun??? Mama gak sakit lagi kan ?? ." ucap sella dengan mata berbinar, menggenggam erat tangan Rea yang berbaring.
Willie segera menegur lembut. " Sella sayang, jangan memanggil kakak Rea mama ya, nanti kakak bisa marah loh."
Sella langsung cemberut. " Gak mau."
Rea terkekeh kecil dan menggeleng. " Tidak apa apa, tuan Willie, saya tidak keberatan." ucap nya lembut, membuat sella tersenyum lebar kembali.
" Mama terimakasih ya, karena mama sudah nolongin sella." lanjut gadis kecil itu dengan polos. " sella, mau mama Rea jadi mama nya sella, karena kata nenek , seorang mama itu rela mengorbankan diri nya demi anak nya, mama Rea kan udah melindungi sella, jadi mulai sekarang sella menganggap mama Rea itu mama sella ." ucap nya jujur dari hati kecil itu membuat seisi ruangan terdiam, Willie, Rea dan mama Lina sama sama terpaku, gak menyangka kata kata polos itu membuat udara di ruangan itu tiba tiba terasa hangat dan juga haru.
Mama Lina hanya bisa menatap ke dua nya sambil tersenyum penuh arti, sementara Willie sendiri diam membeku, menatap putri nya dan Rea bergantian, seolah baru menyadari sesuatu yang tidak bisa dia ungkap kan dengan kata kata.
Willie langsung beranjak dari duduk nya saat melihat sosok sang putri bersama mama nya, sementara itu, Rea hanya bisa tersenyum lembut menatap wajah cantik gadis kecil di hadapan nya.
Di belakang sella, mama Lina berdiri dengan memandang rea penuh haru, dia merasa bersyukur sekaligus tersentuh melihat perempuan yang kemarin telah menyelamat kan nyawa cucu nya itu, meski tubuh nya masih tampak penuh luka.
" Nama mu sella sayang ?? Kamu gak terluka ?? ." tanya Rea pelan sambil mengelus pipi chubby sella dengan lembut.
" Enggak, mama, sella baik baik saja, karena mama Rea yang bantuin sella kemarin, jadi sella gak terluka, terimakasih ya mama." jawab sella polos, tangan nya yang mungil terulur menyentuh tangan Rea yang masih tampak bengkak.
" Sama sama sayang, mana mungkin kakak biarkan gadis secantik sella terluka." ucap Rea tersenyum manis.
Namun Rea masih cemberut. " Bukan kakak, tapi mama !! Mulai sekarang kakak Rea itu cuma mama sella." kata nya dengan nada manja.
Ucapan itu membuat Rea menoleh ke arah Willie, yang kini wajah nya menegang.
" Kalau sella mau panggil kakak, mama, kakak sih gak masalah ." ucap Rea pelan sambil tersenyum. " tapi .. Gimana dengan papa, mama Rea mereka pasti keberatan kan."
Sella hanya tersenyum lebar, begitu juga dengan mama Lina yang menatap pemandangan itu dengan perasaan hangat.
Berbeda dengan Willie, padangan nya tetap sama, datar dan dingin, seolah menahan sesuatu yang tak ingin dia tunjukan.
" Mama sama papa gak akan keberatan kalau sella manggil kakak 'Mama' ." ucap sella pelan, mata nya berkaca kaca. " soal nya mama sama papa udah gak sama sama lagi, mama gak sayang sama papa dan sella, mama juga gak pernah jenguk sella di rumah papa, mama udah pergi sama suami baru nya, mama sudah gak sayang lagi sama sella."
Kata kata polos itu membuat suasana ruangan mendadak hening, Willie membuang nafas berat, sedangkan Rea tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala sella dengan lembut.
" Ya sudah, kalau begitu tanya sama papa dulu ya, kalau papa mengizinkan, sella boleh panggil kakak 'Mama'." ucap Rea dengan lembut.
Sella menoleh, menatap ayah nya yang diam di tempat. " papa, boleh kan sella panggil kakak Rea ' Mama ' sella janji mulai sekarang sella gak akan nakal lagi, gak akan kabur kabur lagi, soal nya sekarang sella sudah punya mama Rea." ucap nya dengan suara bergetar sambil menggoyang goyang kan tangan Willie.
Willie menghela napas nya kasar, lalu menatap wajah putri nya itu.
" Terserah kamu saja." jawab nya datar.
Mama Lina yang mendengar nada dingin dari putra nya itu hanya bisa menggeleng geleng pelan menahan kesal, sedang kan Rea diam diam menyembunyikan senyum kecil di wajah nya.
" Horee !! Sekarang sella punya mama cantik !! Mama Rea !! ." seru sekolah girang sambil menepuk nepuk tangan Rea. " sella janji gak akan minta mama vera pulang lagi, sella sudah punya mama Rea."
Willie hanya bisa menelan napas dalam dalam, sebenar nya dia tidak menyukai jika putri nya begitu mudah memanggil wanita lain dengan sebutan mama, tapi mengingat gimana sella merajuk hingga hampir celaka, dia memilih menahan diri.
" Nak Rea ." ucap mama Lina, kemudian langkah nya mendekat. " Tante cuma ingin berterimakasih karena kamu sudah mempertaruhkan nyawa demi cucu Tante, mulai hari ini anggap Tante, seperti mama kamu sendiri, Dan kamu juga boleh manggil Tante ' Mama ' ya."
" Iya Tante ... Ehh mama." jawab Rea lirih suaranya bergetar. " Rea gak punya mama dan papa, Rea sebatang kara, Rea bahagia banget kalau ada seseorang yang mau Rea panggil ' Mama' ." Air mata Rea menetes mengalir pelan di pipi nya, mama Lina segera mengusap lembut air mata itu, senyum nya penuh kasih, sementara itu Willie masih terdiam di tempat yang sama, terdiam, dingin dan menyimpan sesuatu di balik sorot mata nya yang sulit terbaca.
" sudah jangan sedih nak." ucap mama Lina dengan lembut sambil mengusap air mata di pipi Rea. " mulai sekarang, anggap mama dan keluarga ini, sebagai keluarga mu sendiri."
Beliau menatap Rea dengan penuh kasih, lalu melanjutkan.
" Nanti kalau dokter sudah membolehkan pulang, kamu harus tinggal bersama mama, sampai kamu benar benar pulih, biar kan mama dan sella yang merawat kamu, Nak, anggap ini sebagai balasan atas pengorbanan kamu karena sudah menyelamat kan sella." Rea tertegun, kedua mata nya memanas oleh haru.
walau kau menjauh dari jule itupun kau tak akan pernah mendapatkan rea. tidak sekarang juga tidak nanti. karena hati rea saat ini sudah terpaut sama duda beranak satu.
jadi nikmatilah penyesalanmu itu.
jule itu cuma memanfaatkan hartamu saja. kau dijadikan mesin ATM berjalan. kau harus ingat semua kekayaanmu itu bukanlah milikmu. itu semua milik rea. harus kau ingat itu.
ayo dong thor up lagi yang banyak hari ini?