Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siapa bibi itu
Karakter Elena di dalam buku "THEOR" memang tewas di pertengahan bab. Layaknya seorang antagonis yang selalu menjadi kontra bagi protagonis, Elena akhirnya tewas di tangan pemeran utama yaitu Theor.
Alasan Elena tewas cukup klasik, yaitu karena Elena yang merupakan keturunan bangsawan jatuh cinta pada seorang Putra mahkota. Saat pertunangan politik antara Putra mahkota dan Elena akan di gelar, seorang gadis cantik dan polos yang berasal dari golongan rakyat jelata, datang ke pesta dalam keadaan hamil anak dari Putra mahkota.
Pertunangan itu tidak di batalkan, namun Elena harus menelan pil pahit saat calon suaminya sudah mengangkat selir dan memiliki anak dari perempuan lain sebelum menikahi nya. Elena yang di butakan cinta, tidak menyerah begitu saja dan melakukan banyak konspirasi untuk mencelakai selir dari calon suaminya.
Mulai dari menyewa pembunuh bayaran, penculikan, mengirim racun untuk menggugurkan janin, hingga bersekutu dengan penyihir gelap untuk melenyapkan saingan cintanya.
Putra mahkota yang murka akhirnya memberikan perintah pada anjing setianya yaitu Theor, untuk membunuh Elena di hutan perbatasan saat pulang menghadiri pesta. Begitu lah akhir dari karakter Elena dalam buku THEOR.
Alasan Elena menangis itu karena jalan cerita tidak sesuai dengan harapannya, dia berpikir Theor akan membawa Elena kabur dan menikahinya diam-diam. Tapi ternyata Theor sangat dingin, dia benar-benar menusukan pedang panjang miliknya pada jantung Elena.
Sedihnya lagi, fakta yang mulai terkuak perlahan jika selir putra mahkota merupakan cinta pertama Theor. Theor kecil pernah di selamatkan oleh seorang gadis saat tersesat di hutan, sejak hari itu Theor jatuh hati dan berniat menikahinya saat sudah dewasa.
Sayangnya dia terlambat, gadis yang dirinya cintai telah di nikahi oleh Tuannya sendiri. Karena sakit hati dan kecewa, Theor akhirnya merencanakan pemberontakan dan ingin merebut semua yang putra mahkota miliki.
Mulai dari tahta hingga wanita, Theor menjadi seorang tirani yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kembali cintanya. Ini lah alasan Elena menangis terisak, karena pria yang dirinya cintai memilih memperjuangkan wanita lain dan membunuhnya.
"Bibi itu jahat sekali." Gumam Elena sesegukan.
Meskipun sudah menangis, Elena tidak kapok dan membuka kembali buku itu untuk melanjutkan ceritanya. Dengan harapan semoga akhir dari Theor tidak terlalu menyakiti hatinya.
Dengan mata sembab dan wajah cemberut Elena membaca sampai akhir. Ekspresinya berubah-ubah, lalu dia tersenyum penuh kemenangan saat di akhir bab. Sepertinya taruhan Elena berhasil, akhir dari Theor sesuai dengan harapan Elena.
"Ahahahahahaha rasakan itu." Elena tertawa puas.
Pemberontakan Theor berhasil, dia berhasil merebut tahta dan juga wanita yang dirinya cintai dari tangan putra mahkota. Theor menjadi Kaisar tirani dan membawa perubahan besar pada wilayah kekuasaan nya, namun masalah kembali datang.
Theor tidak melihat tanda goresan pedang di bawah leher istrinya, dia sangat ingat jika gadis kecil yang menolongnya dulu memiliki bekas sayatan pedang yang cukup dalam, di bawah leher belakangnya.
Merasa tertipu, Theor mulai menjaga jarak dengan istri dan anak-anak nya. Dengan kekanakan dia mencari gadis kecil penyelamat nya yang asli, meskipun harus memakan waktu yang sangat lama.
Bertahun-tahun kemudian, saat Theor sudah menua dia baru mendapatkan fakta jika gadis kecil yang dulu menolong nya adalah Elena. Merasa sedih, bersalah, menyesal dan marah karena kebodohannya yang membunuh gadis yang dirinya cari selama ini.
Theor menjalani masa tuanya dengan depresi, terus memanggil nama Elena seperti orang gila. Sampai menutup mata Theor terus tenggelam dalam penyesalannya, itu akhir ending dari kisah "THEOR".
Elena tersenyum sangat puas, dia merasa senang dengan penderitaan Theor di akhir. Setidaknya rasa sakit yang diterima Theor jauh lebih lama dan menusuk, apalagi keterangan jika buku THEOR di buat dengan sudut pandang Antagonis pria utama.
"Jadi Theor juga pemeran jahat ya? pantesan dia kejam, kalau aja dia sadar lebih cepat pasti bisa hidup bahagia bersama." Gumam Elena, menutup buku dengan senyum hangat.
Elena mendongak, menatap senja yang sudah hilang sepenuhnya berganti menjadi langit malam. Dengan hati yang jauh lebih baik, Elena bersiap pulang kerumah.
tap
tap
tap
Langkah kaki Elena membelah trotoar jalan, masih banyak stand makanan dan orang-orang yang sedang berkencan. Elena hanya tersenyum menatap mereka semua, andai dia memiliki uang atau memiliki kekasih pasti dia bisa merasakan kebahagiaan itu.
Elena berhenti di depan zebra cross, menyebrang jalan besar bersama orang-orang yang lain. Padahal tadi terasa sangat ramai, tapi mendadak sepi dan suara teriakan orang bersahutan di telinga Elena.
Belum sempat Elena merespon, hantaman keras dirinya rasakan. Elena merasa tubuhnya terbang lalu terjatuh dengan keras, bau aspal dengan anyir darah bisa dirinya cium.
Elena perlahan merasakan sesak di dada, dan sakit di sekujur tubuhnya. Di sisa nafasnya itu, Elena memandang lurus ke samping, melihat sosok wanita yang memberikan buku padanya tadi tersenyum ke arahnya.
"Siapa sebenernya bibi itu...... aku...mat..i."
Elena tewas di lokasi kejadian akibat benturan keras dari truk molen. Elena tidak sedih ataupun menyesal, justru dia menantikan dirinya tewas dan pergi dari kehidupan nya yang menyedihkan.
PLAAKKKKK
Elena tersentak saat merasakan rasa perih dan panas di pipinya. Matanya buram, tapi dia bisa mendengar banyak suara yang mencemoohnya.
"A-apa ini di neraka? apa aku akan segera mendapatkan hukuman Tuhan? T-tapi yang jahat kan Ibuku, kenapa aku yang masuk neraka?." Batin Elena, mengerjapkan matanya berusaha melihat dengan jelas.
"Bukankah dulu aku sudah menasihati mu, untuk apa membawa gadis urakan sepertinya? lihat, dia hanya bisa membuat kekacauan dimanapun." Suara pria tua dan berat terdengar.
"Ayah, bagaimana pun Elena adalah Putriku. Dia hidup di desa karena di culik, kini dia sudah kembali seharusnya Ayah tidak terlalu keras padanya." Suara pria yang lebih hangat terdengar membela.
"Tapi kau lihat wataknya itu, dia selalu saja membuat masalah dan mempermalukan keluarga kita. Harusnya cukup kau berikan saja uang bulanan padanya, untuk apa sampai membawanya kembali. Dia sudah hidup seperti rakyat jelata, darah bangsawan dalam dirinya sudah melebur." Ucap si pria tua marah.
Elena terdiam mendengarkan, dia masih kebingungan. Dia baru saja mati tertabrak truk, tapi dia tiba-tiba merasakan tamparan keras dan matanya masih buram. Suara asing yang saling bersahutan membuatnya semakin bingung.
"Dimana ini?." Batin Elena.
"Elena! mau sampai kapan kau diam saja, apa kau paham apa kesalahan mu? jangan besar kepala karena Ayahmu selalu membela, sampai akhir hayatku aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai cucuku." Bentakan terdengar lagi.
Deg.
Elena tersentak, belum juga pandangannya menjadi jelas dia justru merasa pusing dan sakit kepala. Elena di telan kegelapan lagi, entah apa yang akan menghampiri nya setelah ini tapi rasanya memusingkan sekali.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘