Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Makan Malam yang Berbahaya
Restoran fine dining di puncak gedung itu tampak sangat eksklusif. Cahaya lampu kota Jakarta berpendar seperti hamparan berlian di bawah sana. Airin datang tepat waktu, mengenakan dress bunga sutra berwarna hitam dengan motif mawar merah yang samar terlihat lebih dewasa dan elegan dari biasanya.
Di meja sudut yang paling tersembunyi, Jordan sudah menunggu. Ia tidak lagi terlihat seperti dosen pengganti yang galak dengan setelan jas custom made berwarna arang tanpa dasi, ia memancarkan aura CEO yang absolut. Dingin, berkuasa, dan sangat tampan.
Namun, suasana tenang itu tidak bertahan lama. Baru saja Airin duduk, ia menyadari dua pria tegap berbaju safari hitam berdiri tak jauh dari meja mereka. Mata Airin membulat sempurna. Ia mengenali mereka. Itu adalah orang-orang kepercayaan ayahnya.
"Pak, kita harus pergi. Sekarang," bisik Airin, suaranya yang biasanya lembut kini terdengar bergetar karena panik.
Jordan melirik sekilas ke arah dua pria itu, lalu kembali menatap Airin sambil menyesap anggur merahnya dengan santai. "Kenapa? Makanannya bahkan belum datang, Airin."
"Mereka orang-orang ayahku! Kalau mereka melihatku bersamamu, mereka akan melaporkannya dan... dan aku bisa dipindahkan ke luar negeri malam ini juga!" Airin benar-benar kalang kabut. Jemarinya meremas serbet di pangkuannya dengan kuat.
Jordan justru tersenyum miring, sama sekali tidak terintimidasi. "Biarkan saja. Aku ingin tahu seberapa jauh keluarga Rodriguez bisa melindungimu dariku."
"Bapak gila!" desis Airin, wajahnya memerah antara marah dan takut.
Melihat ekspresi Airin yang seperti itu, pikiran Jordan tiba-tiba melayang. Di tengah keributan kecil itu, imajinasinya kembali mengambil alih. Dalam benak Jordan, ia tidak lagi duduk berseberangan dengan Airin. Ia membayangkan dirinya menarik tangan Airin, membawanya ke koridor sepi di belakang restoran.
Dalam hayalannya, Jordan mengurung tubuh mungil Airin di antara dinding dingin dan tubuh panasnya. Tanpa kata, ia membungkam bibir merah Airin dengan ciuman yang brutal dan penuh tuntutan.
Alih-alih menolak, dalam hayalan itu Airin justru melilitkan tangannya di leher Jordan, membalas ciumannya dengan hasrat yang sama besarnya. Mereka berdua larut dalam cumbuan panas yang seolah mampu membakar seluruh gedung tersebut.
"Pak? Pak Jordan?"
Suara lembut namun penuh kecemasan itu memukul kesadaran Jordan. Ia tersentak, mengerjapkan mata, dan mendapati dirinya masih duduk manis di kursinya. Airin sedang menatapnya dengan raut wajah bingung sekaligus takut, sementara kedua pengawal ayahnya mulai melangkah mendekat ke arah meja mereka.
"Hampir saja," gumam Jordan pelan, suaranya terdengar serak karena sisa hayalannya tadi.
"Apa yang hampir? Pak, mereka sudah dekat!" Airin sudah setengah berdiri, siap untuk melarikan diri lewat pintu belakang.
Jordan berdiri dengan tenang, menghalangi pandangan para pengawal itu dari Airin dengan tubuh tingginya yang tegap. Ia menoleh ke arah dua pria berbaju safari itu dengan tatapan yang begitu dingin dan mematikan tatapan seorang pemangsa yang sedang melindungi miliknya.
"Duduklah, Airin," perintah Jordan dengan nada mutlak. "Tidak akan ada yang membawamu pergi selama aku di sini. Bahkan ayahmu sekalipun."
Airin tertegun. Ia melihat bagaimana kedua pengawal ayahnya itu mendadak ragu dan berhenti melangkah saat beradu pandang dengan Jordan. Kekuatan karakter Jordan seolah menciptakan benteng yang tak kasat mata di sekeliling mereka.
"Tapi... kenapa Bapak melakukan ini?" tanya Airin lirih.
Jordan kembali duduk, menatap Airin dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Karena aku benci jika ada orang lain yang mengganggu waktu pribadiku dengan mahasiswi kesayanganku."