Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Awas diambil orang
...SELAMAT MEMBACA!...
..."Kalau marah jangan lama-lama, nanti diambil orang."...
Ketika pagi tiba, Dino sudah berpakaian rapi. Ia menghampiri istrinya yang sedang mengikat rambut di kamar. "Ra," panggil Dino, berdiri di belakang Dara. Lalu, Dara berbalik badan menghadap suaminya. "Gue mau keluar."
"Ke mana?" tanya Dara.
"Ambil motor."
"Motor kamu ke mana emangnya?"
"Ketinggalan di bar semalem. Darwin udah amanin di sana," ucap Dino.
Dara tidak berucap, menatap suaminya dengan wajah datar. Ia jelas masih mengingat semua, dia yang telah membuat kesalahan besar. "Maaf ya, No. Aku udah buat kamu kayak gini," seloroh Dara, sambil menundukkan kepala.
Dino tahu, semua yang terjadi ini semua adalah kesalahan dari kedua pihak. Ia tak pernah menyalakan Dara, tetapi hanya sedikit kecewa. Kalimat menyakitkan dengan mudah Dara ucapkan saat itu, padahal Dino sangat membenci perpisahan. "Masalah itu cukup selesai di sini aja, Ra," ujar Dino.
"Gue gak mau perpanjang. Kita cuma perlu perbaiki semuanya," tutur Dino, seraya mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Gue cuma gak mau denger kalimat lo waktu itu. Rasanya sakit, Ra." Manik keduanya saling beradu, menatap sedalam-dalamnya.
Dara menarik kedua sudut bibirnya, kemudian menganggukkan cepat kepalanya. "Aku janji, nggak akan kayak gitu lagi," kata Dara, dengan senyuman lebarnya. Lantas membuat Dino menariknya ke dalam pelukan.
Pelukan erat, saling mendekap dan menautkan perasaan di hati keduanya. Dara menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya, sedangkan Dino memeluk istrinya sambil membelai surai rambut Dara.
"Kamu juga janji, No! Jangan minum alkohol lagi!" celetuk Dara.
"Janji, Sayang," jawab Dino, kemudian melepaskan pelukan yang erat itu. Ia menatap manik istrinya sejenak, sebelum mengecup kening Dara dengan sangat lama.
Dara terbuai, dibuat terbang oleh suaminya, yang telah ia sadari bahwa dirinya sangat mencintai lelaki itu.
Setelah semua terjadi, Dara menjadi mempunyai ketakutan tersendiri. Ia masih menghawatirkan suaminya yang hendak kembali ke sebuah tempat, untuk mengambil motor. Dengan memaksa, Dara berhasil ikut pergi ke tempat tersebut. Padahal, Dino sudah melarangnya, tetapi Dara merengek minta menemani.
Dino pun mengiyakan permintaan istrinya itu. Lalu, mereka naik kendaraan yang diorder melalui online.
Dara sekarang sering mendapatkan libur untuk pekerjaannya, ia pun jadi malas pergi sekarang karena status barunya sebagai seorang istri. Selain meladeni suaminya, ia perlu mengurus rumah dan banyak hal lagi. Dara pikir, menikah hanya tentang cinta, memasak, bersih-bersih. Namun, pernikahan lebih dari sekadar kata.
Gadis yang masih memiliki pemikiran sekecil debu, tentu sering sekali mengeluh akan yang ia lakukan sekarang. Namun, Dara sedikit menikmati karena tidak lagi menjadi beban di rumah orang tuanya. Dara puas sekali, sebab dirinya menjadi beban Dino sekarang.
Dara pernah mengatakan kepada Dino, "Kalau capek sama aku, bilang ya, No."
Dengan ringan Dino menjawab ujaran istrinya, "Iya, biar nanti gue buang lo di sungai."
Cinta tidak selalu buruk, ia bisa jadi penyemangat dan merubah yang gelap menjadi terang. Hanya perlu santai dalam menjalaninya, seperti Dara. Seorang istri pemberani, setidaknya karena Dino lemah terhadapnya.
Tidak menghabiskan banyak waktu untuk sampai di bar itu. Dara dan Dino turun dari mobil. Tempat tersebut terlihat sepi dari luar. Dino menarik pergelangan tangan Dara, membawanya ke depan bar, tepatnya di teras. "Lo tunggu di sini, ya?" ucap Dino.
"Kamu mau masuk, No?" tanya Dara, dengan mata membulat.
"Bentar doang. Cuma bilang ke temen gue."
"Temen?"
Dino menganggukkan kepala. "Iya, bar ini punya temen lama gue."
Dara hanya menganggukkan kepala, sambil mengedarkan pandangannya. "Ya udah, aku tunggu di sini tapi jangan lama!"
Lelaki itu mengulas senyum tipis, mengelus pucuk kepala Dara sebelum pergi. Punggung Dino kemudian hilang di balik pintu, mungkin ia berbaur dengan orang di dalam membuat Dara sedikit gelisah.
Gadis yang terlihat polos berdiri sendirian di depan bar. Dara seperti seorang anak tersesat. Sebuah spanduk panjang di dinding membuat Dara mengerutkan kening. "Bar young passion," gumamnya. "Mungkin, kartu diskon waktu itu dari temennya."
Dara menghembuskan napas panjang, kegelisahannya menjadi sedikit hilang. Ia memang tidak perlu terlalu mencurigai suaminya, sebab bertahannya sebuah hubungan harus didasari kepercayaan.
"No, udah?" tanya Dara, ketika melihat suaminya keluar dari dalam sana dan mendapatkan kunci motornya.
Dino mengangguk, kemudian mengelus kepala Dara. Ia selalu melakukannya untuk membuat istrinya tersenyum. "Mau langsung pulang, atau main dulu?" tawar Dino.
"Terserah," jawab Dara.
"Lo itu, Ra! Kalau ditawarin selalu terserah." Dino menggerutu, alisnya saling bertautan. "Waktu itu, gue tawarin mau jam tangan merah atau hitam, jawabnya terserah," seloroh Dino.
"Gue tawarin mau beli TV baru gak, jawabnya terserah." Dino menghembuskan napas gusar, ia menatap tajam istrinya yang hanya tersenyum tipis itu. "Banyak-banyak senyum ya, Ra," celetuk Dino. Wajah kesalnya berubah seketika.
Sekarang giliran Dara yang mengerutkan dahi. "Kamu aneh, No! Abis ngamuk-ngamuk, sekarang senyum-senyum kayak gitu!"
"Biar pun aneh, lo cinta sama gue," seloroh Dino, menarik tubuh Dara dan mendekapnya erat.
Dara mencoba memberontak, tetapi tubuh kecilnya tidak berpengaruh apapun terhadap kekuatan berotot Dino. "No, lepasin! Dilihat orang!" tegur Dara, sambil memukul-mukul suaminya yang tersenyum lebar itu.
"Lo beneran cinta sama gue kan, Ra?" tanya Dino. "Bilang kalau lo cinta sama gue dulu! Baru gue lepasin." Lelaki itu semakin mengeratkan tautan tangannya.
Sesak, membuat Dara berhenti karena sudah lelah untuk melepaskannya. Dara mendongak, menatap melas ke arah suaminya yang tersenyum lebar. "Iya, aku cinta sama kamu," kata Dara. Pelukan tersebut mengendur, lantas Dara menghela napas lega. "Tapi boong!" Lalu, dia berlari ke arah parkiran meninggalkan Dino.
Menggelengkan kepala dengan heran, kemudian menggaruk tengkuknya lehernya. Lalu, Dino mengejar sambil berjalan istrinya yang berlari pelan itu. "Lari atau jalan, Ra? Lambat banget!" cecar Dino.
Dara menghentikan langkahnya, melotot ke arah suaminya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, melihat Dino berjalan ke arahnya.
"Hai, Dino." Suara wanita dari belakang membuat Dara menoleh dengan cepat.
Wanita itu berhenti tepat di depan Dino, membelakangi Dara yang memasang wajah terkejut. "Masih ingat aku? Angelia, yang semalem," kata wanita dengan pakaian seksi berwarna merah itu. Tubuhnya tinggi, seukuran pundak Dino. Bibir seksi dia olesi lipstik merah muda cerah, bulu matanya panjang, dan alisnya terukir rapi.
Dino bergeming, memandang ke arah sang istri sebelum menanggapi sapaan Angelia. "Hai," ujar Dino, dengan wajah datar.
"Buru-buru mau ke mana, nih?" tanya Angelia, dengan suaranya yang nyaring.
"Gue harus pergi." Dino melenggang melewati Angelia, tetapi wanita itu malah menahan lengan tangan Dino. Lalu, dengan cepat Dino menepis tangan Angelia.
Saat Angelia menyadari keberadaan Dara yang berdiri di belakang Dino, ia mengangkat kepalanya dan mengangguk untuk menyapa Dara. "Istri kamu?" tanya Angelia, kepada Dino.
Dino hanya menganggukkan kepala. Ia melirik ke arah Dara yang memasang wajah jutek. Lalu, Dino merangkul pundak Dara untuk menunjukkan bahwa gadis pendek di sampingnya benar-benar istrinya. "Istri gue, namanya Dara," ujar Dino.
"Hai," sapa Angelia, sedangkan Dara hanya membalasnya dengan senyum tipis. "Jaga suami kamu, jangan biarin pergi sendirian kayak semalam kalau kamu gak mau dia diambil orang lain. Penampilan seperti suaminya kamu ini, bisa membuat semua wanita hilang akal dan pasti melakukan apapun untuk mendapatkannya."
Ucapan Angelia sontak membuat Dara melebarkan mata, jantungnya berdebar seketika. "Dan kamu beruntung, sudah mendapatkan kesetiaan suaminya kamu ini," kata Angelia. "Jangan biarin dia diambil orang lain!" Lalu, Angelia melambaikan tangan dengan anggun dan melenggang dari hadapan Dara dan Dino.
Setelah wanita berpenampilan dewasa itu benar-benar tak terlihat, Dara mendongak dan menatap tajam suaminya. "Gue gak ngapa-ngapain, sumpah!" ujar Dino. Namun, Dara menepis tangan Dino yang berada di pundaknya, kemudian melenggang meninggalkan Dino.
"RA! GUE CUMA MILIK LO!" teriak Dino, sambil mengejar istrinya.
...🦕...