NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Motor sport Alano berhenti dengan halus di depan pagar rumah Ayra. Suasana malam yang tadinya terasa sangat manis setelah makan sate bersama, mendadak berubah drastis saat lampu depan motor menyorot ke arah garasi rumah Alano.

Di sana, terparkir sebuah mobil SUV mewah yang sangat familiar. Ayra mengenali plat nomornya—itu milik Om Ryan, saudara dari Mama Alano. Namun, yang membuat jantung Ayra mencelos bukan mobilnya, melainkan sosok gadis yang berdiri di samping pintu mobil tersebut.

Gadis itu tampak sepantaran dengan mereka. Rambutnya dicat kecokelatan, mengenakan pakaian kasual yang sangat modis, dan wajahnya langsung cerah saat melihat Alano datang.

"Lano! Sini!" seru gadis itu dengan nada yang sangat akrab, bahkan terdengar sangat manja. Ia melambaikan tangannya dengan semangat, seolah sudah menunggu kedatangan Alano sejak lama.

Ayra, yang baru saja turun dari motor, merasa ada sesuatu yang panas merayap di dadanya. Perasaan hangat yang ia rasakan sepanjang perjalanan tadi menguap begitu saja. Ia melirik Alano melalui sudut matanya.

Alano tampak terkejut. "Lho, Siska? Om Ryan di sini juga?"

"Iya! Baru sampai sepuluh menit yang lalu. Buruan sini, gue kangen tau!" sahut gadis bernama Siska itu tanpa mempedulikan keberadaan Ayra di sana.

Mendengar kata "kangen" keluar dari mulut gadis lain untuk Alano, pertahanan Ayra runtuh. Gengsinya kembali memuncak. Ia tidak peduli siapa Siska, entah itu saudara jauh atau teman masa kecil, yang jelas nada bicaranya membuat Ayra merasa "terancam".

Tanpa sepatah kata pun, Ayra langsung melepaskan helm cadangannya dan menyodorkannya ke arah Alano dengan kasar.

"Eh, Ay? Mau ke mana? Kenalan dulu—"

Bruk!

Ayra tidak menjawab. Ia menghentakkan kakinya ke aspal dengan keras, suaranya terdengar jelas di keheningan malam. Ia membuka pagar rumahnya dengan gerakan emosional dan masuk ke dalam tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alano maupun Siska.

Brak!

Ayra menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras. Ia melempar tasnya ke atas kasur dan langsung berdiri di depan jendela balkon. Napasnya memburu.

"Apa-apaan sih itu cewek? 'Lano sini! Gue kangen tau!'" Ayra menirukan suara Siska dengan nada mengejek yang sangat ketus. "Dasar genit! Baru juga tadi bilang cuma mau sama aku, sekarang udah ada yang nungguin di rumah."

Ia mengintip dari balik gorden. Di bawah sana, ia melihat Alano sudah masuk ke halaman rumahnya. Siska langsung menyambutnya dengan rangkulan di lengan—meskipun Alano tampak sedikit menghindar, tapi fakta bahwa Siska berani menyentuhnya membuat Ayra semakin geram.

"Tahu gitu tadi aku nggak usah kasih hasduk! Biar aja dia dijemur besok!" gumam Ayra sambil menggigiti kukunya.

Rasa penasaran Ayra mengalahkan gengsinya. Ia membuka sedikit pintu balkonnya agar bisa mendengar percakapan di bawah.

"Lano, kamu makin tinggi aja ya! Makin ganteng juga semenjak masuk tim basket," suara Siska terdengar sangat jelas.

"Biasa aja, Sis. Lo sendiri kenapa tiba-tiba ikut Om Ryan? Biasanya males ke sini," suara Alano terdengar santai, tapi bagi Ayra, itu terdengar terlalu ramah.

"Ya kan mau ketemu kamu. Papa bilang mau ada urusan bisnis sama Om Johan, jadi aku ikut deh. Kita besok jalan yuk? Mumpung hari Sabtu."

Ayra memejamkan matanya rapat-rapat. Jalan? Besok Sabtu? Itu kan waktu biasanya Alano mengganggunya di rumah.

Ponsel Ayra bergetar di atas kasur. Ia segera menyambarnya, berharap itu pesan dari Alano yang menjelaskan siapa Siska. Namun, yang muncul adalah notifikasi grup WhatsApp angkatan.

@Bima_Sakti: Woi Lan! Tadi gue liat Siska sepupu lo yang dari Bandung itu ada di depan rumah lo ya? Cantik bener sekarang, udah nggak cupu kayak pas SMP!

Ayra terdiam. Sepupu?

Jadi Siska itu sepupunya Alano? Seperti dirinya?

Namun, bukannya merasa tenang, Ayra justru merasa semakin kesal. Ia teringat statusnya sendiri yang juga "sepupu" namun Alano memperlakukannya lebih dari itu. Bagaimana jika Alano juga memperlakukan Siska dengan cara yang sama? Apalagi Siska terlihat jauh lebih luwes dan tidak kaku sepertinya.

Ting!

Sebuah pesan pribadi masuk dari Alano.

Alano: "Ay? Kok langsung masuk sih? Marah ya?"

Alano: "Itu Siska, sepupu gue dari Bandung. Anaknya Om Ryan. Jangan cemberut gitu dong, kedengeran lho sampe sini suara hentakan kaki lo tadi."

Ayra mengetik balasan dengan cepat, jarinya seolah menari di atas layar dengan penuh emosi.

Ayrania.J: "Ngapain minta maaf ke aku? Sana urusin aja tamu kamu yang 'kangen' itu. Nggak usah chat-chat aku lagi, aku mau ngerjain laporan."

Setelah mengirim pesan itu, Ayra langsung mematikan ponselnya. Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk. Ada rasa malu karena ia baru saja menunjukkan kecemburuan yang begitu terang-terangan, tapi ada juga rasa takut kehilangan perhatian Alano yang selama ini ia miliki sendirian.

"Dasar Alano menyebalkan! Dia itu magnet masalah!" seru Ayra sambil membenamkan wajahnya di bantal.

Di seberang sana, Alano yang sedang duduk di ruang tamunya hanya bisa menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis. Ia tahu betul, Ayra sedang cemburu buta. Dan bagi Alano, kecemburuan Ayra adalah tanda paling nyata bahwa gadis itu sudah benar-benar jatuh ke dalam "perangkap" kasih sayangnya.

"Lucu banget sih kalau lagi cemburu," gumam Alano pelan, sementara Siska masih terus berceloteh di sampingnya tanpa ia dengarkan sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!