Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ~ Tidak Akan Memberitahunya
Huwekk...
Marvin berdiri di depan wastafel, memuntahkan isi perutnya. Dia sudah merasa lemas, tapi entah kenapa seharian ini hanya terus muntah. Setiap ada makanan yang masuk ke mulutnya, dia akan langsung muntah. Apalagi mencium bau yang tajam.
"Vin, kau baru minum satu gelas, masa sudah muntah. Lemah sekali" Ejek Davin yang melihat sahabatnya kembali ke ruang tengah dengan wajah pucat. "Kau seperti orang yang sedang hamil saja. Terus muntah. Haha"
"Mungkin memang dia hamil" ucap Andreas santai, membuat Marvin langsung melempar bantal sofa padanya.
"Sial, aku ini laki-laki dan mana bisa hamil. Gila ya!"
Semua orang hanya tertawa, tapi tidak dengan Andreas. Wajah pria itu benar-benar terlihat serius. "Maksud aku bisa saja Raina hamil, dan kau yang ngidam. Sejenis kehamilan simpatik"
Seketika semua orang terdiam, Marvin pun terlihat terkejut. Langsung terdiam, ucapan Andreas cukup mengejutkan semua orang. Bahkan Marvin jadi terus berpikir, apa mungkin Raina benar hamil anaknya? Tapi kalau benar, kenapa dia tidak memberitahu Marvin?
"Mana mungkin, memangnya Marvin sudah melakukannya dengan Raina? Bukankah dia tidak mencintai gadis itu, dan membencinya" ucap Davin.
Marvin hanya diam, mengingat kembali malam pertama yang mengerikan pastinya bagi Raina. Namun, dia menyadari jika saat itu memang rasa benci begitu besar, hingga hanya ingin menyiksanya. Melihatnya menangis dan kesakitan, seperti sebuah kepuasan baginya. Tapi sekarang ... Marvin menyadari jika perlakuannya itu hanya sebuah sikap yang tidak manusiawi.
Andreas menatap Marvin dengan satu alis terangkat, seperti sudah curiga dan tahu apa yang sudah pernah terjadi. "Kau yakin tidak mengambil hakmu? Aku rasa meski kau membencinya, tidak mungkin jika sampai tidak menidurinya"
Semua orang langsung menoleh pada Marvin, mereka memang hanya berpikir jika Marvin hanya menyiksa fisik Raina karena kebenciannya, tidak berpikir sampai Marvin akan meniduri gadis itu juga.
"Aku hanya melakukannya sekali di malam pernikahan"
Bugh... Bayu langsung melayangkan tinju pada wajah Marvin. Benar-benar terlihat marah mendengar jawaban Marvin barusan. Dia menindih tubuh Marvin di atas sofa dengan amarah, mencengkram kerah baju pria itu dengan kuat.
"Kau memang berengsek Marvin! Bahkan lebih berengsek dariku yang pemain wanita sialan! Kenapa kau menidurinya?"
Bara langsung menarik tubuh Bayu agar turun dan berhenti menindih tubuh Davin. Semua orang juga cukup terkejut dengan sikap Bayu yang seperti ini. Biasanya dia tidak pernah sensitif seperti ini jika hanya soal tidur dengan wanita. Apalagi status Marvin dan Raina sudah menikah saat itu.
"Bay, udah Bay. Kenapa kau begitu marah? Lagian itu hanya praduga Andreas saja, belum tentu benar Raina hamil. Hanya melakukan satu kali, tidak selalu menjadi hamil" ucap Davin.
Bayu menghempaskan tangan Bara dan Davin yang memeganginya. Menatap Marvin dengan tajam dan menunjuk wajahnya. "Kau tahu apa saja yang sudah Raina lakukan? Kau tahu dia sudah banyak berkorban, tapi kau .... Arghh... Sudahlah"
Bayu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena dia sudah terlanjur berjanji pada Raina. Dan melihat gadis rapuh itu, Bayu hanya ingin melindunginya seperti pada seorang saudara perempuan. Akhirnya Bayu memilih pergi dari sana, jika terus berada disana, dia takut akan tidak sengaja membocorkan apa yang sudah Raina lakukan, dan mungkin hanya akan membuatnya melanggar janji pada gadis itu.
"Kenapa Bayu bisa semarah itu? Aku baru melihatnya marah seperti ini" ucap Bara sambil menatap kepergian sahabatnya itu.
Bayu adalah orang yang jarang serius ketika berkumpul dengan teman-temannya. Meski ketika dia sedang menjalani profesinya sebagai pengacara, maka tidak akan ada yang menyangka jika sebenarnya dia hanya pria cassanova yang suka bermain wanita.
"Entahlah, sudah seperti istrinya di rebut pria lain saja" timpal Davin.
Bara menoleh pada Marvin yang mengusap darah segar di sudut bibirnya karena pukulan keras Bayu. Dia duduk disamping Marvin, dan menatap sahabatnya dengan lekat. Menepuk bahunya hanya untuk memberikan semangat baru, karena dia juga pernah melakukan kesalahan, dan beruntung masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan istrinya mau menerimanya kembali.
"Sekarang kalian sudah berpisah, jadi lebih baik memang jangan mengganggunya lagi, Vin. Karena ini yang kalian inginkan"
Marvin tidak menjawab, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang menerawang. Ucapan Andreas beberapa saat lalu cukup memenuhi pikirannya sekarang. Sampai akhirnya dia tidak bisa fokus lagi.
Mungkinkah dia benar hamil? Tapi kenapa tidak memberitahuku jika dia mengandung anakku?
Marvin menghembuskan napas kasar sambil memijat pelipisnya. Bayangan Raina memang selalu sering muncul akhir-akhir ini. Bahkan seperti berputar-putar dalam ingatan Marvin. Seolah menolak untuk dilupakan.
*
Dengan di antar Ibu dan Wahyu, Raina akhirnya pulang ke rumah. Masih merasa ling-lung ketika dia tahu jika dirinya hamil. Dihitung dari terakhir dia menstruasi dan berhubungan dengan Marvin, memang sesuai dengan usia kandungannya. Raina sempat menyadari terlambatnya dia menstruasi, namun memang hormonnya yang terkadang tidak stabil, membuat dia tidak terlalu mengambil pusing tentang itu. Hanya berpikir terlambatnya menstruasi hanya karena dia sedang banyak pikiran dan sedikit stres saja. Tapi ternyata, sudah ada calon bayi dalam kandungannya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Nak. Kandungan kamu masih rentan, dan harus di jaga dengan baik"
"Iya Bu, terima kasih"
Setelah menangis di rumah sakit tadi, Raina masih belum sempat menceritakan yang sebenarnya pada Ibu dan Wahyu. Rasanya dia juga belum siap untuk bercerita.
"Jadi siapa Ayahnya?" tanya Wahyu yang sejak di rumah sakit tadi berubah sedikit dingin pada Raina. Bahkan dari tatapan mata dan cara bicaranya sudah menunjukan itu semua.
"Emm..."
Raina memang sulit untuk menceritakan semua kisah hidupnya. Baru saja dia bercerai dan mulai terlepas dari penjara pernikahan Marvin, sekarang untuk bercerita dan mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya, rasanya masih sangat sulit. Membuatnya hanya bisa bungkam, karena semuanya tercekat di tenggorakan.
Ibu berdiri dan menghampiri Wahyu yang berdiri bersandar di dinding. "Kita pulang saja, biarkan Neng Sahila istirahat. Kita juga tidak berhak memaksanya bercerita apa yang sudah terjadi, semua orang punya privasi masing-masing"
Menghela napas kasar, Wahyu akhirnya pulang bersama Ibunya. Meninggalkan Raina sendirian yang sedang merenung dan masih shock atas apa yang terjadi pada dirinya. Tangan yang tiba-tiba mengelus perut ratanya, membuat air mata kembali menetes di pipinya.
"Ibu pernah menjadi anak yang tidak di inginkan. Tapi Ibu tidak akan melakukan itu padamu, Nak. Kamu akan Ibu rawat dengan penuh kasih sayang. Meski kita hidup berdua dan pas-pasan, tapi Ibu tidak akan memberikan kamu pada Ayahmu"
Ketakutan masa kecilnya akan terulang pada anaknya sendiri. Raina akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Meski dia harus bekerja keras dan berjuang, dia tidak akan pernah memberikan anaknya pada Marvin, seperti yang pernah dilakukan Ibunya saat dia masih kecil.
"Karena Ibu yakin, Ayahmu tidak akan menginginkan kehadiranmu. Daripada kamu harus tersiksa hidup dengannya, lebih baik kita hidup sederhana berdua saja"
Raina mengusap kasar air matanya, sebelah tangannya yang lain masih mengelus lembut perutnya yang masih rata. Kehadiran bayi ini tidak salah, dan dia akan menyayanginya sepenuh hati tanpa harus memberitahu Marvin sebagai Ayah kandungnya.
Bersambung