Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 . Hantu numpang pulang
Kiara berjalan cepat menyusuri trotoar, helm masih menggantung di tangannya, langkahnya kaku, rahangnya mengeras.
Di belakangnya,atau lebih tepatnya, melayang santai tanpa suara langkah,Sky mengikuti dengan wajah cemas.
“Kiara, tunggu-”
“Jangan ngomong,” potong Kiara tanpa menoleh.
“Aku lagi berusaha berpikir.”
“Tapi kamu jalannya makin cepat.”
“Supaya kamu ketinggalan.”
Sky menatap sekeliling. “Aku bisa teleport, sebenarnya.”
Kiara berhenti mendadak.Menoleh perlahan.
"Kamu bisa apa?”
Sky mengangkat bahu. “Aku belum coba sih. Tapi rasanya bisa.”
Kiara menatapnya datar. Sangat datar.
“Oke. Catatan baru. Hantu cerewet. Mungkin bisa teleport. Makin mantap.”
Sky meringis. “Maaf.”
Kiara menghela napas.
“Aku nggak butuh permintaan maaf. Aku minta kamu nggak ikut aku.”
Sky membuka mulut, menutupnya lagi. Wajahnya terlihat… bingung. Dan untuk sesaat, ada sesuatu di ekspresinya yang bukan sekadar bercanda. Ada kosong. Ada takut.
“Aku nggak tahu harus ke mana,” katanya pelan.
Kiara terdiam.
Sial.
Kenapa dia harus bilang begitu dengan suara seperti itu? Batinnya.
“Bukannya kamu hantu? Harusnya… muncul aja di tempat kematianmu atau apa kek,” gumam Kiara.
Sky mengernyit. “Itu mitos, kan?”
“Ya aku juga nggak tahu aturan dunia per-hantuan,” balas Kiara ketus.
Mereka sampai di depan rumah Kiara. Rumah kecil, cat krem yang mulai pudar, pot bunga plastik di teras, dan sandal-sandal berserakan.
Kiara berhenti.
Sky ikut berhenti.
“Jangan masuk,” kata Kiara cepat.
“Kenapa?”
“Ini rumahku.”
“Oh.” Sky melihat sekeliling. “Bagus.”
“Jangan nilai.”
“Refleks.”
Kiara memijat pelipis. “Aku serius. Orang tuaku nggak boleh tahu.”
“Tenang,” kata Sky cepat. “Mereka nggak bisa lihat aku, kan?”
“Harusnya.”
“Harusnya?” Sky mengulang.
Kiara melirik tajam. “Kamu mau tes?”
Sky langsung menggeleng. “Nggak. Nggak. Kita percaya teori.”
Kiara membuka pagar, masuk. Sky mengikutinya tanpa menyentuh apa pun, melewati dinding seperti itu hal paling normal sedunia.Di dalam, suara televisi menyala.Rafa sedang duduk selonjoran, main game di tablet.
“Kak?” Rafa menoleh. “Cepet banget pulangnya.”
“Capek,” jawab Kiara singkat.
Sky berdiri di dekat pintu, menatap Rafa dengan mata berbinar.
“Itu adikmu?” bisiknya.
“Jangan bisik,” desis Kiara. “Nanti kelihatan kayak aku skizo.”
“Oh. Maaf.”
Rafa menatap Kiara. “Kak, kamu ngomong sama siapa?”
Jantung Kiara langsung turun ke perut.
"Sama diri sendiri,” jawabnya cepat.
Rafa mengangguk santai. “Oke.”
Lalu kembali ke game.
Kiara: Anak ini terlalu santai buat dunia yang penuh kemungkinan horor.
Kiara masuk ke kamarnya, menutup pintu. Menjatuhkan tas ke lantai, lalu duduk di tepi kasur.Sky berdiri kikuk di dekat lemari, seperti tamu yang nggak tahu harus duduk atau berdiri.
“Duduk aja,” kata Kiara lelah.
Sky mencoba duduk.Dan menembus kasur.
"Oh...”
Kiara mendengus. “Lupa.”
Sky akhirnya jongkok di lantai, walau itu juga secara teknis tidak menyentuh lantai.
Hening.
Lama.
Kiara menatap lantai. “Jadi. Kamu hantu. Amnesia. Nggak tahu mati karena apa. Nggak tahu kenapa cuma aku yang bisa lihat kamu.”
“Ringkasan yang bagus,” kata Sky.
“Ini hidupku sekarang?” gumam Kiara.
Sky tersenyum kecil. “Aku bisa pergi kalau kamu mau.”
Kiara menatapnya.
“Kamu bisa?”
Sky terdiam. “Mungkin. Tapi… aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku pergi… aku bakal hilang. Beneran.”
Kata itu menggantung di udara.
Hilang.
Bukan pergi. Bukan pindah. Tapi… lenyap.
Kiara menelan ludah.
“Kamu masih pengen ada?” tanyanya pelan.
Sky mengangguk. “Aku pengen tahu aku siapa. Aku pengen tahu kenapa aku begini.”
Kiara memejamkan mata sebentar.
Oke. Ini gila. Ini harusnya nggak terjadi. Tapi kalau dia mengusir Sky sekarang, dan Sky benar-benar… menghilang?
Sial. Hatinya terlalu lemah buat itu.
“Kamu boleh… stay,” kata Kiara akhirnya. “Tapi ada aturan.”
Mata Sky langsung berbinar. “Aturan?”
“Pertama. Jangan bikin aku keliatan makin gila di depan keluargaku.”
“Oke!”
“Kedua. Jangan teriak-teriak.”
“Oke.”
“Ketiga. Jangan… terlalu dekat.”
Sky berkedip. “Kenapa?”
Kiara menoleh. “Karena ini udah aneh tanpa kamu nambah aneh.”
Sky tersenyum kecil. “Baik, Nona Normal.”
“Jangan manggil aku gitu.”
“Oke, Kiara.”
Malam itu, Kiara berbaring di kasur, menatap langit-langit, lampu dimatikan.
Sky berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
“Sky,” panggil Kiara pelan.
“Iya?”
“Kamu beneran gak ingat apa pun? Sedikit aja?”
Sky berpikir. Lama.
"Aku ingat hujan.”
“Hujan?”
“Iya. Bau aspal basah. Lampu jalan. Suara klakson.”
Kiara menoleh. “Kecelakaan?”
Sky menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Tapi rasanya… dadaku sakit.”
Ruangan terasa lebih dingin.
Kiara menggigit bibir. “Oke. Itu petunjuk.”
“Kamu nggak takut?” tanya Sky pelan.
Kiara tertawa kecil tanpa humor. “Takut. Tapi aku juga penasaran.”
“Kenapa?”
“Karena hidupku terlalu normal.”
Ia menatap ke arah Sky dalam gelap.
“Dan kamu… gangguan paling besar yang pernah masuk ke rutinitasku.”
Sky tersenyum lembut. “Aku merasa terhormat.”
“Jangan bangga.”
-
Keesokan paginya, Kiara bangun dengan kepala berat.
Dan selama setengah detik.Dia berharap semua ini mimpi.Lalu ia melihat Sky berdiri di depan cermin, mencoba menyentuh bayangannya sendiri.
"Aku nggak punya refleksi,” gumam Sky.
Kiara menutup wajah dengan bantal.
“Oke. Masih nyata.”
“Selamat pagi.”ujar Sky.
“Ini bukan pagi yang selamat.”balas Kiara dingin.
-
Di sekolah, masalah baru muncul.
Sky ikut.
Secara harfiah.
Dia berdiri di samping Kiara sepanjang jalan ke kelas, mengomentari segalanya.
“Temanmu itu ekspresinya galak.”
“Itu Nayla. Dia ramah.”
“Ramah versi dunia hidup ya.”
Kiara menahan tawa.
Di kelas, Nayla melirik Kiara. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Lucu,” jawab Kiara singkat.
“Lucu apa?”
“Hidup.”
Nayla menyipit. “Kamu aneh.”
“Iya. Aku tahu.”
Sky duduk di meja kosong, menatap sekeliling dengan kagum.
“Ini tempat kamu belajar?”
“Iya.”
“Keren. Aku nggak ingat sekolahku dulu.”
Kiara menoleh. “Kamu sekolah?”
“Harusnya. Aku kelihatan muda, kan?”
“Kelihatan 18–20.”
“Syukurlah. Aku kira 40.”
Kiara nyengir tipis.
Dan tanpa dia sadari.Untuk pertama kalinya sejak lama.Rutinitasnya tidak terasa membosankan.
Karena sekarang…Ia tidak lagi sendirian.
Tapi bersama seseorang yang bahkan bukan lagi bagian dari dunia ini.
Dan entah kenapa...Itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena takut.
Tapi karena sesuatu yang lebih berbahaya.
Harapan.