"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Bungah menatap kotak kecil di atas meja itu dengan pandangan yang kabur karena air mata. Ia ingin sekali menyentuhnya, namun rasa hormat dan malunya jauh lebih besar. Ia mendongak, menatap mata Zidan yang tampak begitu kokoh, seolah tidak ada keraguan sedikit pun di sana.
"Kakak janji ya?" suara Bungah bergetar, kecil dan sangat memohon. "Jangan sampai... jangan sampai di sana Kakak dipaksa Abi untuk nikah sama anak Kyai lain. Jangan sampai Kakak bosan nunggu Bungah yang cuma gadis pantai ini."
Zidan terdiam sejenak, ia merasakan ketulusan sekaligus ketakutan yang besar dari gadis di depannya. Ia kemudian melafalkan kalimat yang membuat jantung Bungah seolah berhenti berdetak.
"Bungah, dengarkan saya," ucap Zidan dengan nada yang sangat tegas namun lembut. "Di hadapan Allah dan di hadapan kakakmu yang sedang mengawasi kita dari jauh, saya berjanji. Nama yang saya sebut dalam sujud di sepertiga malam saya selama empat tahun terakhir ini tidak pernah berubah. Hanya satu nama: Bungah."
Zidan menjeda, matanya tak lepas dari mata Bungah. "Saya tidak mencari anak Kyai yang alim, saya mencari wanita yang mau bertumbuh bersama saya. Dan wanita itu adalah kamu. Jadi, berhentilah ragu. Fokuslah pada belajarmu, karena di sini, di hati saya, posisi itu sudah terkunci rapat."
Bungah mengangguk pelan, ia menghapus air mata di sudut matanya dengan ujung jarinya. "Nggih, Kak. Bungah janji akan belajar lebih giat lagi. Bungah akan bawa ijazah kelulusan itu sebagai mahar bakti Bungah buat Kakak."
Tak lama kemudian, Mas Azam kembali dengan membawa nampan berisi makanan. Ia melihat suasana yang jauh lebih tenang namun penuh haru.
"Sudah selesai sesi janjinya?" goda Mas Azam sambil meletakkan makanan. "Gus, jangan terlalu manis bicaranya, nanti Bungah nggak mau belajar malah mau langsung pulang ke Indonesia."
Zidan hanya terkekeh pelan, sementara Bungah menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti sangat merah di balik cadar.
"Mas Azam, titip Bungah," ucap Zidan sungguh-sungguh. "Jaga dia sebagaimana Mas menjaga amanah ilmu. Saya harus kembali ke penginapan karena jadwal pertemuan dengan Syeikh Al-Azhar sudah dekat."
Zidan berdiri, ia memberikan isyarat pamit yang sangat sopan. Sebelum benar-benar melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Bungah.
"Simpan kotak itu baik-baik, Bungah. Itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah komitmen. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam..." jawab Bungah dan Mas Azam berbarengan.
Bungah menatap punggung Zidan yang perlahan menjauh dan hilang di tengah keramaian Kairo. Ia memegang kotak kecil itu, merasakannya di balik telapak tangannya. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh semangat baru. Ia tahu, di Jawa Timur sana, ada seorang "Kutub Utara" yang setia menunggunya pulang untuk selamanya.
Setelah Zidan menghilang dari pandangan, Bungah perlahan mengambil kotak kecil itu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas putih bermata satu yang sangat sederhana namun terlihat sangat elegan.
Bungah terpaku. Ini bukan sekadar cincin biasa. Di bagian dalam lingkaran emas itu, ada ukiran halus yang nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama: "Al-Muntazir" yang berarti Sang Penunggu.
"Mas Azam..." bisik Bungah sambil menunjukkan cincin itu pada kakaknya.
Mas Azam tersenyum, lalu duduk di hadapan adiknya. "Gus Zidan sudah memesan cincin itu jauh-jauh hari sebelum ke sini, dek. Dia bilang padaku lewat telepon bulan lalu, dia ingin kamu punya 'pegangan' agar hatimu tidak goyah saat melihat dunia luar yang luas."
Bungah menutup kembali kotak itu dengan khidmat. "Bungah nggak akan goyah, Mas. Malah sekarang Bungah merasa punya utang besar. Utang ilmu dan utang kesetiaan."
Sore itu, setelah Zidan kembali ke penginapannya, Bungah kembali ke asrama dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan kata-kata. Ia melewati jalanan yang sama, namun rasanya berbeda. Debu Kairo tak lagi terasa menyesakkan, dan terik matahari tak lagi terasa membakar.
Sesampainya di kamar, Bungah segera mengambil wudhu. Ia melaksanakan salat syukur atas pertemuan singkat namun bermakna itu. Dalam sujudnya yang panjang, ia menangis—kali ini bukan karena takut darah haid atau takut pelajaran yang sulit, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap.
Selesai salat, ia membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor Zidan.
Zidan: "Jangan dipakai dulu cincinnya di depan umum, simpan saja di tempat yang paling aman. Biarkan ia menjadi rahasia antara kamu, saya, dan Allah. Sampai nanti saya sendiri yang memakaikannya di jarimu setelah akad."
Bungah tersenyum lebar di balik cadarnya. Ia mengambil sebuah buku harian yang selama ini ia gunakan untuk menulis kerinduannya. Di halaman hari ini, ia menuliskan satu kalimat pendek:
"Hari ini, kutub utara mendatangi mentarinya di tengah padang pasir. Dan matahari itu berjanji, ia tidak akan terbenam untuk orang lain."
Bungah kemudian meletakkan kotak cincin itu di dalam laci yang terkunci, tepat di bawah tumpukan kitab-kitab sucinya. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian apakah ia layak menjadi pendamping seorang Gus Zidan.
"Tunggu Bungah, Kak," bisiknya pada angin yang berembus masuk lewat celah jendela asramanya. "Bungah akan pulang sebagai wanita yang paling pantas untuk bersanding di sebelah Kakak."