NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Bungah menatap kotak kecil di atas meja itu dengan pandangan yang kabur karena air mata. Ia ingin sekali menyentuhnya, namun rasa hormat dan malunya jauh lebih besar. Ia mendongak, menatap mata Zidan yang tampak begitu kokoh, seolah tidak ada keraguan sedikit pun di sana.

"Kakak janji ya?" suara Bungah bergetar, kecil dan sangat memohon. "Jangan sampai... jangan sampai di sana Kakak dipaksa Abi untuk nikah sama anak Kyai lain. Jangan sampai Kakak bosan nunggu Bungah yang cuma gadis pantai ini."

Zidan terdiam sejenak, ia merasakan ketulusan sekaligus ketakutan yang besar dari gadis di depannya. Ia kemudian melafalkan kalimat yang membuat jantung Bungah seolah berhenti berdetak.

"Bungah, dengarkan saya," ucap Zidan dengan nada yang sangat tegas namun lembut. "Di hadapan Allah dan di hadapan kakakmu yang sedang mengawasi kita dari jauh, saya berjanji. Nama yang saya sebut dalam sujud di sepertiga malam saya selama empat tahun terakhir ini tidak pernah berubah. Hanya satu nama: Bungah."

Zidan menjeda, matanya tak lepas dari mata Bungah. "Saya tidak mencari anak Kyai yang alim, saya mencari wanita yang mau bertumbuh bersama saya. Dan wanita itu adalah kamu. Jadi, berhentilah ragu. Fokuslah pada belajarmu, karena di sini, di hati saya, posisi itu sudah terkunci rapat."

Bungah mengangguk pelan, ia menghapus air mata di sudut matanya dengan ujung jarinya. "Nggih, Kak. Bungah janji akan belajar lebih giat lagi. Bungah akan bawa ijazah kelulusan itu sebagai mahar bakti Bungah buat Kakak."

Tak lama kemudian, Mas Azam kembali dengan membawa nampan berisi makanan. Ia melihat suasana yang jauh lebih tenang namun penuh haru.

"Sudah selesai sesi janjinya?" goda Mas Azam sambil meletakkan makanan. "Gus, jangan terlalu manis bicaranya, nanti Bungah nggak mau belajar malah mau langsung pulang ke Indonesia."

Zidan hanya terkekeh pelan, sementara Bungah menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti sangat merah di balik cadar.

"Mas Azam, titip Bungah," ucap Zidan sungguh-sungguh. "Jaga dia sebagaimana Mas menjaga amanah ilmu. Saya harus kembali ke penginapan karena jadwal pertemuan dengan Syeikh Al-Azhar sudah dekat."

Zidan berdiri, ia memberikan isyarat pamit yang sangat sopan. Sebelum benar-benar melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Bungah.

"Simpan kotak itu baik-baik, Bungah. Itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah komitmen. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam..." jawab Bungah dan Mas Azam berbarengan.

Bungah menatap punggung Zidan yang perlahan menjauh dan hilang di tengah keramaian Kairo. Ia memegang kotak kecil itu, merasakannya di balik telapak tangannya. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh semangat baru. Ia tahu, di Jawa Timur sana, ada seorang "Kutub Utara" yang setia menunggunya pulang untuk selamanya.

Setelah Zidan menghilang dari pandangan, Bungah perlahan mengambil kotak kecil itu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas putih bermata satu yang sangat sederhana namun terlihat sangat elegan.

Bungah terpaku. Ini bukan sekadar cincin biasa. Di bagian dalam lingkaran emas itu, ada ukiran halus yang nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama: "Al-Muntazir" yang berarti Sang Penunggu.

"Mas Azam..." bisik Bungah sambil menunjukkan cincin itu pada kakaknya.

Mas Azam tersenyum, lalu duduk di hadapan adiknya. "Gus Zidan sudah memesan cincin itu jauh-jauh hari sebelum ke sini, dek. Dia bilang padaku lewat telepon bulan lalu, dia ingin kamu punya 'pegangan' agar hatimu tidak goyah saat melihat dunia luar yang luas."

Bungah menutup kembali kotak itu dengan khidmat. "Bungah nggak akan goyah, Mas. Malah sekarang Bungah merasa punya utang besar. Utang ilmu dan utang kesetiaan."

Sore itu, setelah Zidan kembali ke penginapannya, Bungah kembali ke asrama dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan kata-kata. Ia melewati jalanan yang sama, namun rasanya berbeda. Debu Kairo tak lagi terasa menyesakkan, dan terik matahari tak lagi terasa membakar.

Sesampainya di kamar, Bungah segera mengambil wudhu. Ia melaksanakan salat syukur atas pertemuan singkat namun bermakna itu. Dalam sujudnya yang panjang, ia menangis—kali ini bukan karena takut darah haid atau takut pelajaran yang sulit, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap.

Selesai salat, ia membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor Zidan.

Zidan: "Jangan dipakai dulu cincinnya di depan umum, simpan saja di tempat yang paling aman. Biarkan ia menjadi rahasia antara kamu, saya, dan Allah. Sampai nanti saya sendiri yang memakaikannya di jarimu setelah akad."

Bungah tersenyum lebar di balik cadarnya. Ia mengambil sebuah buku harian yang selama ini ia gunakan untuk menulis kerinduannya. Di halaman hari ini, ia menuliskan satu kalimat pendek:

"Hari ini, kutub utara mendatangi mentarinya di tengah padang pasir. Dan matahari itu berjanji, ia tidak akan terbenam untuk orang lain."

Bungah kemudian meletakkan kotak cincin itu di dalam laci yang terkunci, tepat di bawah tumpukan kitab-kitab sucinya. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian apakah ia layak menjadi pendamping seorang Gus Zidan.

"Tunggu Bungah, Kak," bisiknya pada angin yang berembus masuk lewat celah jendela asramanya. "Bungah akan pulang sebagai wanita yang paling pantas untuk bersanding di sebelah Kakak."

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!