Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Ujung Pemulihan
Semburat jingga di langit Jakarta sore itu tampak seperti lukisan cat air yang tumpah, menyapu cakrawala dengan warna emas dan ungu yang dramatis. Di dalam apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin seperti galeri seni yang tak berpenghuni, suasana terasa berbeda. Ada kehangatan yang merambat perlahan, bukan dari pemanas ruangan, melainkan dari deru napas dua orang yang sedang berjuang melawan batas fisik dan ego mereka masing-masing.
Raisa mencengkeram lengan kemeja Arash yang digulung hingga siku. Kain katun berkualitas tinggi itu terasa sedikit kusut di bawah jemarinya yang gemetar. Kakinya, yang selama beberapa hari ini terasa seperti benda asing yang berat dan tak bernyawa, kini mulai merasakan kembali tekstur lantai marmer yang dingin. Setiap inci pergeseran tumitnya adalah sebuah pertempuran melawan rasa sakit dan trauma.
"Pelan-pelan, Raisa," suara Arash rendah, hampir seperti bisikan yang bergetar di dekat pelipis wanita itu. "Aku memegangimu. Kau tidak akan jatuh."
Raisa menarik napas dalam, aroma maskulin yang bercampur dengan sisa aroma kopi dari tubuh Arash menyerbu indranya. "Aku bisa, Arash. Jangan terlalu kencang memegangnya, aku ingin merasakan keseimbanganku sendiri."
Arash sedikit melonggarkan pelukannya di pinggang Raisa, namun tangannya tetap siaga, seolah-olah wanita itu adalah porselen retak yang paling berharga di dunia ini. Mereka bergerak perlahan menuju pintu kaca besar yang membatasi ruang tengah dengan balkon. Pintu itu terbuka lebar, membiarkan angin sore bertiup masuk, menerbangkan ujung rambut Raisa dan tirai sutra yang menjuntai.
Ketika kaki Raisa akhirnya menginjak permukaan lantai balkon yang kasar, ia melepaskan napas yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Ia sampai. Ia tidak lagi terkurung di balik dinding kaca. Arash membimbingnya menuju pagar balkon, lalu membantu Raisa duduk di kursi santai berbahan rotan yang telah disiapkan.
"Kau melakukannya," ujar Arash. Ia tidak langsung berdiri tegak, melainkan tetap membungkuk di depan Raisa untuk memastikan wanita itu merasa nyaman. Matanya yang biasanya tajam dan sedingin es, kini memantulkan cahaya senja yang melembutkan garis-garis tegas di wajahnya.
"Terima kasih," jawab Raisa pelan. Ia menatap Arash, bukan sebagai bawahan yang menatap majikan dengan rasa takut atau sungkan, tapi sebagai seseorang yang baru saja diselamatkan dari kegelapan. "Tanpa bantuanmu, aku mungkin masih akan meringkuk di tempat tidur itu, membenci diriku sendiri."
Arash menarik napas panjang, lalu alih-alih duduk di kursi di seberang, ia memilih untuk bersandar pada pagar balkon, tepat di samping Raisa. Ia menatap hamparan gedung pencakar langit yang mulai menyalakan lampu-lampu kecilnya.
"Kadang-kadang, Raisa ... aku juga merasa ingin berlari," gumam Arash. Ini adalah pertama kalinya ia membuka percakapan tanpa nada memerintah. "Bukan karena kaki atau tubuhku sakit, tapi karena kepalaku yang terlalu penuh."
Raisa menoleh, mengamati profil samping wajah Arash yang tampak sangat manusiawi di bawah remang cahaya. "Apa yang membuat kepalamu penuh? Bukankah kau memiliki segalanya, Arash? Apartemen ini, perusahaan itu, kekuasaan untuk mengatur hidup orang lain ...."
Arash tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti rintihan yang dipendam. "Kekuasaan? Itu hanya ilusi yang dijual orang tuaku padaku sejak aku masih bisa memegang pensil. Mereka tidak memberiku kekuasaan, mereka memberiku beban. Setiap keputusan yang kuambil, setiap kontrak yang kutandatangani, itu bukan untukku. Itu untuk menjaga nama baik keluarga yang sebenarnya sudah keropos di dalam."
Raisa terdiam. Ia baru menyadari bahwa pria di depannya ini, yang selalu ia anggap sebagai diktator tak berperasaan, sebenarnya hanyalah seorang tawanan dalam penjara yang jauh lebih mewah daripadanya.
"Mereka menekanku, Raisa," lanjut Arash, suaranya semakin berat. "Setiap kali aku pulang ke rumah utama, yang mereka tanyakan bukan bagaimana kabarku, tapi berapa angka pertumbuhan saham bulan ini. Ibuku ... dia bahkan sudah menjadwalkan hidupku hingga sepuluh tahun ke depan, termasuk dengan siapa aku harus menikah demi memperluas imperium bisnis mereka. Aku merasa seperti robot yang dipaksa memiliki detak jantung."
"Lalu kenapa kau tidak berhenti?" tanya Raisa dengan keberanian yang baru ditemukannya. "Kau punya segalanya untuk memulai hidupmu sendiri, tanpa mereka."
Arash menoleh perlahan, menatap Raisa dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan keraguan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Berhenti berarti menghancurkan harapan ribuan karyawan yang bergantung pada nama keluargaku. Berhenti berarti mengakui kekalahan di depan orang-orang yang ingin melihatku jatuh. Aku dibesarkan untuk menjadi pemenang, Raisa. Tapi tidak ada yang memberitahuku bahwa puncak kemenangan itu adalah tempat yang paling sepi di dunia."
Tangan Arash yang mencengkeram pagar balkon tampak memutih di bagian buku jarinya. Raisa secara impulsif mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Arash. Sentuhan itu ringan, namun bagi Arash, itu terasa seperti jangkar di tengah badai.
"Kau tidak sendirian sekarang," bisik Raisa. "Di sini, saat ini, kau bukan CEO atau ahli waris. Kau hanya Arash. Dan aku hanya Raisa."
Arash menurunkan pandangannya ke arah tangan mereka yang bersentuhan. Perlahan, ia membalikkan telapak tangannya, menangkup jemari Raisa dengan lembut. Keheningan yang tercipta di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan sebuah pengakuan bisu tentang kesamaan luka.
Matahari kini telah tenggelam sepenuhnya, menyisakan gurat warna nila di langit. Angin bertiup lebih kencang, membawa hawa dingin yang membuat Raisa sedikit menggigil. Arash segera menyadarinya. Ia melepaskan kemeja luarnya, menyisakan kaos dalam berwarna hitam yang melekat di tubuh atletisnya, lalu menyampirkan kemeja itu di bahu Raisa.
"Jangan sakit lagi," ucap Arash dengan nada yang sangat protektif.
Raisa mengeratkan kemeja Arash di tubuhnya, menghirup aroma tubuh pria itu yang kini menyelimutinya. "Aku akan berusaha. Aku ingin kembali berjalan, berlari, dan mungkin ... kembali melihat dunia dengan cara yang berbeda."
Arash berlutut di depan Raisa, sekali lagi memposisikan dirinya lebih rendah dari wanita itu. Ia memegang kedua tangan Raisa, menatap matanya dengan intensitas yang membuat jantung Raisa seakan berhenti berdetak sesaat.
"Raisa, dengarkan aku," suara Arash terdengar sangat bersungguh-sungguh, seolah-olah apa yang akan dikatakannya adalah sebuah sumpah. "Duniaku sangat kotor dan penuh dengan kepalsuan. Orang-orang sepertiku seringkali secara tidak sengaja menghancurkan hal-hal indah yang ada di sekitar kami karena ambisi dan tekanan."
Ia meremas tangan Raisa, mencari kepastian di mata wanita itu. "Melihatmu berjuang untuk berjalan kembali, melihat semangatmu yang tidak pernah padam meski aku bersikap buruk padamu ... itu memberikan cahaya kecil di kepalaku yang gelap ini."
"Apa maksudmu, Arash?" Raisa bertanya dengan suara bergetar.
"Berjanjilah padaku satu hal," Arash mendekat, hingga dahi mereka hampir bersentuhan. "Berjanjilah bahwa apapun yang terjadi nanti, seberat apapun cobaan yang mungkin datang dari duniaku atau orang-orang di sekitarku, kau akan tetap menjadi Raisa yang sekarang. Jangan biarkan siapapun memadamkan api di matamu. Teruslah menjadi Raisa yang bersemangat dan kuat. Bisakah kau berjanji untuk tetap seperti itu ... demi dirimu sendiri?"
Raisa terpaku. Permintaan itu terdengar lebih seperti sebuah permohonan dari seorang pria yang sedang tenggelam dan meminta tali penyelamat. Sebelum Raisa sempat mengucapkan janji itu, lampu-lampu di balkon tiba-tiba berkedip dan padam, menyisakan mereka dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh pantulan cahaya kota dari kejauhan.
Di tengah kegelapan itu, Arash tidak melepaskan tangan Raisa. Ia justru menariknya sedikit lebih dekat, seolah-olah ia takut Raisa akan menghilang bersama padamnya lampu.
"Aku berjanji."