Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjagaan yang Ketat
Fajar baru saja menyingsing, menyebarkan warna keunguan yang dingin di cakrawala Jakarta yang tertutup polusi. Di dalam kamar utama, Arash masih duduk mematung di sisi ranjang, membiarkan tangan kirinya mati rasa karena terus digenggam erat oleh Raisa yang kini tertidur jauh lebih tenang. Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel Raisa yang tergeletak di nakas kembali bergetar hebat.
Arash melirik layar. Nama Vino muncul di sana, memicu gelombang kemarahan yang seketika menghapus sisa-sisa kantuk di matanya. Pria itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. Arash melirik Raisa, memastikan wanita itu tidak terusik, lalu dengan gerakan perlahan ia melepaskan genggaman tangan Raisa—sebuah tindakan yang membuatnya merasa kehilangan secara instan—dan menyambar ponsel tersebut.
Arash tidak membiarkan panggilan itu mati. Ia menggeser tombol hijau dan membawa ponsel itu menjauh menuju balkon kamar, menutup pintu kaca rapat-rapat agar suaranya tidak menembus masuk.
"Akhirnya kau mengangkat teleponnya juga, Raisa! Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sangat khawatir--"
"Dia sedang tidur sekarang," pangkas Arash, rendah dan setajam mata pisau.
Di seberang sana, keheningan menyambut selama beberapa detik. Vino jelas terkejut mendengar suara bariton yang berat dan penuh otoritas milik atasannya, alih-alih suara lembut Raisa yang ia harapkan.
"Pak ... Pak Arash?" Vino bertanya dengan nada ragu yang segera berubah menjadi penuh selidik. "Kenapa ponsel Raisa ada pada Bapak? Di mana dia? Kenapa dia tidak mengangkat telepon saya sejak semalam?"
Arash menyandarkan punggungnya pada pagar balkon, matanya menatap tajam ke arah dalam kamar melalui kaca transparan, mengawasi sosok Raisa yang masih terbaring lemah.
"Raisa sedang tidak bisa diganggu. Dia sedang mengambil hak cuti sakitnya, dan sebagai atasannya, saya memastikan tidak ada gangguan pekerjaan yang masuk ke ponsel pribadinya selama masa pemulihan."
"Ini bukan urusan pekerjaan, Pak!" Vino membalas, suaranya naik satu oktav, kehilangan rasa hormat formalnya. "Saya mengkhawatirkannya sebagai teman. Saya tahu dia pingsan kemarin. Kenapa Bapak harus menyita ponselnya? Apa yang Bapak lakukan padanya?"
Arash mendengus sinis, tawa kecil yang meremehkan lolos dari bibirnya. "Apa yang saya lakukan? Saya sedang memastikan aset perusahaan saya tidak hancur karena gangguan dari orang-orang yang tidak kompeten sepertimu, Vino. Raisa butuh istirahat total, bukan rentetan pesan sampah dan telepon penuh kecemasan yang tidak berguna."
"Bapak terlalu berlebihan!" teriak Vino. "Sejak kapan seorang CEO ikut campur sampai ke urusan privasi kesehatan staf administrasi tingkat rendah? Ada yang tidak beres di sini. Bapak membawanya pergi dari kantor kemarin dan sekarang Bapak memegang ponselnya. Berikan ponsel itu pada Raisa. Saya ingin bicara dengannya sekarang juga!"
"Kau tidak punya hak untuk memerintahku, Vino," desis Arash. "Dan jangan berani-berani mempertanyakan motifku. Raisa di bawah pengawasanku sekarang. Aku yang bertanggung jawab atas keselamatannya karena dia adalah tanggung jawab profesional saya. Jika kau terus menghubungi nomor ini, aku akan menganggapnya sebagai tindakan pelecehan terhadap rekan kerja dan aku tidak akan segan-segan mengurus surat pemecatanmu pagi ini juga."
Vino terdiam sejenak, napasnya terdengar memburu di telepon. "Bapak melindunginya atau sedang mengurungnya? Saya tidak bodoh, Pak Arash. Cara Bapak menatapnya, cara Bapak membawanya pergi ... itu bukan sekadar atasan dan bawahan. Bapak menyembunyikan sesuatu."
Kilat amarah menyambar di mata Arash. Posesivitas yang selama ini ia tekan kini meledak secara verbal. "Dengar baik-baik, Vino. Raisa tidak butuh 'pahlawan' sepertimu. Dia butuh ketenangan yang hanya bisa diberikan oleh orang yang memiliki otoritas untuk melindunginya. Berhenti bertingkah seolah kau adalah orang paling penting dalam hidupnya. Kau hanya butiran debu di dalam kariernya, dan jika kau tidak mundur sekarang, aku akan memastikan debu itu menghilang selamanya dari Dirgantara Group."
"Bapak mengancam saya?"
"Aku memberimu fakta," Arash memutus kalimat itu dengan dingin. "Jangan hubungi nomor ini lagi. Dan jangan pernah berani muncul di mana pun untuk mencarinya. Jika aku sampai melihatmu muncul atau menghubunginya lagi, kau tidak akan hanya kehilangan pekerjaan, tapi kau akan kehilangan masa depanmu di industri ini."
Tanpa menunggu balasan dari Vino, Arash mematikan sambungan telepon dengan gerakan kasar. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh kombinasi antara amarah dan rasa posesif yang tak masuk akal. Ia menatap ponsel Raisa di tangannya, melihat daftar panggilan tak terjawab dari Vino yang begitu panjang.
Tanpa ragu, Arash menekan tombol power dan memilih opsi Shut Down. Layar itu menggelap, memutuskan satu-satunya jembatan antara Raisa dan dunia luar—terutama dari jangkauan Vino.
Arash masuk kembali ke kamar, meletakkan ponsel yang sudah mati itu ke dalam laci nakas yang paling bawah dan menguncinya. Ia kembali duduk di samping Raisa, menatap wajah lelap wanita itu. Posesivitasnya kini berada di level yang menakutkan bagi dirinya sendiri. Ia merasa seolah ia ingin membangun dinding baja di sekeliling kamar ini agar tidak ada satu pun suara dari luar yang bisa menyentuh Raisa.
"Kau hanya milikku untuk saat ini, Raisa," gumam Arash sembari kembali meraih tangan Raisa, menggenggamnya jauh lebih erat dari sebelumnya. "Tidak ada Vino, tidak ada kantor, tidak ada siapa pun. Hanya kau dan aku di ruangan ini."
Namun, di tengah keheningan itu, Arash menyadari sesuatu. Vino bukan orang bodoh. Kecurigaan pria itu bisa menjadi bumerang jika tidak ditangani dengan hati-hati. Dan yang lebih mengkhawatirkan, bagaimana reaksi Raisa saat dia terbangun nanti dan menyadari bahwa Arash telah mematikan dunianya?
Arash tidak peduli. Untuk saat ini, rasa bersalahnya karena telah membuat Raisa sakit telah bermutasi menjadi keinginan untuk memiliki yang mutlak. Ia akan menjadi obat bagi Raisa, sekaligus penjara yang paling mewah bagi wanita itu.
Tiba-tiba, kelopak mata Raisa bergerak-gerak. Ia mulai sadar dari tidur nyenyaknya. Arash segera memasang wajah tenangnya, meski badai di dalam hatinya belum benar-benar reda.
Raisa membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar sebelum pandangannya jatuh pada Arash yang sedang menggenggam tangannya. "Arash ..." suaranya masih sangat lemah. "Jam berapa sekarang? Di mana ponselku? Aku harus mengabari kantor ...."
Arash mengusap punggung tangan Raisa dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang menenangkan namun penuh dominasi.
"Kau tidak perlu mengabari siapa pun, Raisa. Aku sudah mengurus semuanya. Fokus saja pada pemulihanmu. Kau tidak akan pergi ke mana-mana hari ini ... dan tidak ada yang akan bisa menghubungimu."
Raisa mengernyit, mencoba mencari kejujuran di mata Arash. "Apa maksudmu? Arash, ponselku—"
"Ponselmu mati, dan biarkan tetap seperti itu," potong Arash, suaranya tidak menerima bantahan. "Untuk hari ini, dunia luar tidak ada bagimu. Kau hanya perlu melihatku, mengerti?"
Raisa terpaku melihat intensitas di mata Arash. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini; sesuatu yang jauh lebih gelap dan mendalam daripada sekadar kontrak pernikahan. Raisa merasa aman, namun di saat yang sama, ia merasa seperti seekor burung yang baru saja menyadari bahwa sangkarnya tidak hanya terbuat dari emas, tapi juga terkunci rapat tanpa kunci cadangan.