Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
[ INFORMASI RANAH PRAJURIT ]
Prajurit awal -> Prajurit menengah -> Prajurit akhir
Poin kumulatif di butuh kan ( prajurit akhir ) : 5.000.000 poin kekuatan.
Radit mengerut kan alis nya tipis. Lima juta poin?? Arti nya Lima triliun rupiah, angka itu cukup besar, bahkan untuk ukuran dunia orang kaya. Namun bagi Radit yang memiliki sistem kekayaan unlimited, angka itu hanyalah soal waktu dan keputusan.
" Berarti aku masih butuh empat juta poin lagi. " Gumam nya pelan.
Namun sistem belum selesai.
[ SARAN ]
Host di saran kan memiliki kontrol sempurna atas kekuatan prajurit awal sebelum melanjut kan.
Radit menutup mata. Ia mengingat kejadian di perpustakaan, refleks yang terlalu cepat. Kursi yang hancur hanya karna genggaman ringan. Dunia manusia biasa terlalu rapuh bagi tubuh Radit yang terus menguat.
" Aku harus siap. " kata nya pelan.
Ia berdiri, melangkah ke tengah kamar, lalu mengambil posisi kuda kuda sederhana. Gerakan nya lambat, ter kontrol. Setiap tarikan napas ia rasakan hingga ke ujung jari. Setiap hembusan ia jaga agar tidak bocor ke luar.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Keringat menetes dari dahi nya, bukan karena lelah fisik , melain kan sesungguh nya , bukan meningkat kan kekuatan, tetapi mengurung nya. Ketika ia membuka mata, jam menunjukan lewat tengah malam.
Kontrol meningkat.
Radit duduk kembali.
"Empat juta poin . " kata nya dalam hati.
" Tidak bisa sembarangan. "
"Sistem." panggil nya.
" Beri aku simulasi metode perolehan empat juta poin tanpa memicu konflik langsung. "
[ SIMULASI AKTIF ]
Pembelian aset mewah.
Investasi properti.
Akuisisi saham.
Radit mengangguk pelan.
" Baik. " katanya.
" Aku akan naik... Tapi tidak gegabah. "
Ia menatap layar terakhir kali nya malam itu.
Target : ranah prajurit akhir
Sisa poin di butuh kan : 4.000.000
Radit tersenyum tipis bukan senyum bahagia, melain kan senyum seorang prajurit yang melihat garis depan pertempuran.
" Dunia lama sudah kutinggal kan. " gumam nya.
" Sekarang aku akan menguasai pondasi nya. "
Di luar, kota tetap tertidur dengan ketidak tahuan.
Namun di dalam kamar kos sederhana itu, seorang mahasiswa yatim piatu sedang menyiap kan diri untuk melompati batas manusia sekali lagi, walau pun dia sudah memiliki rumah yang besar serta halaman yang sangat luas di tambah lagi di dalam nya ada kolam berenang dan taman , tetapi Radit belum bisa meninggal kan kamar kos nya secepat itu. Dia memiliki pertimbangan yang matang untung pindah ke rumah baru nya.
Dan ketika Radit akhir nya melangkah ke Ranah prajurit akhir , ia tidak lagi sekedar kuat. Ia akan menjadi stabil.
Pagi itu langit di kota di selimuti awan tipis. Di dalam kamar kos nya Radit duduk di depan laptop, layar menampil kan laporan keuangan sebuah perusahaan yang hampir terlupakan oleh pasar. Angka angka merah mendominasi layar, hutang menumpuk, arus kas negatif, saham nya nyaris tak bergerak.
Nama perusahaan itu sederhan.
Pt. Alkatiri investama TBK.
Perusahaan lama.
Manajemen usang.
Hampir bangkrut.
Namun justru di situlah letak nilai nya. Radit menyesap kopi hitam perlahan. Mata nya menelusuri setiap baris laporan dengan ketenangan yang tidak sesuai dengan status nya yang sebagai mahasiswa.
" Masalah utama bukan produk nya. " gumam nya.
Ia menutup laporan keuangan dan membuka dokumen lain, peta kepemilikan saham, daftar kreditur , dan catatan gugatan hukum. Semua ia pelajari dalam diam.
Bai Radit, ini bukan sekedar bisnis. Ini adalah langkah perang, jika ia membeli aset mewah terus menerus, lonjakan pengeluaran akan terlalu jelas. Namun perusahaan yang hampir bangkrut adalah tempat yang paling sempurna untuk menyerap uang dalam jumlah besar , perlahan legal, dan tersebar.
" Sistem. " panggil nya dalam hati.
" Analisis potensi akuisisi Pt . Alkatiri Investama.
[ ANALISIS AKTIF ]
Nilai perusahaan sat ini : Sangat rendah.
Potensi pemulihan : tinggi ( jika modal segar masuk).
" Cocok! "
Gedung per kantoran tua itu berdiri di sudut kota, terjepit diantara bangunan yang lebih modern dan bercahaya. Cat dinding nya mulai memudar, kaca jendela nya tidak lagi bening sepenuh nya. Namun di dalam gedung itulah, keputusan besar akan di ambil.
Di lantai tujuh ruang rapat utama masih menyala walau pun malam sudah hampir larut. Beberapa pria ber jas duduk mengelilingi meja panjang, wajah merek tegang, di ujung meja seorang pria paruh baya dengan rambut nya yang mulai memutih menatap dokumen di depan nya tanpa benar benar membaca nya.
Dia lah pemilik utama perusahaan itu, seorang pengusaha yang telah menghabis kan puluhan tahun membangun bisnis nya, hanya untuk melihat nya perlahan runtuh.
Pintu ruangan rapat terbuka.
Semua mata tertuju ke arah sosok orang yang masuk. Ia mengenakan setelan hitam sederhana, tanpa logo, tanpa hiasan, nakun yang membuat ruangan itu seketika sunyi adalah topeng putih polos yang menutupi seluruh wajah nya. Tidak ada ekspresi, tidak ada celah emosi. Hanya permukaan yang putih bersih serta lubang mata yang gelap.
Beberapa direktur saling bertukar pandang.
" Siapa anda ? " tanya salah satu dari mereka, suara nya tidak sepenuh nya tenang.
Sosok bertopeng itu berjalan dengan langkah terukur, lalu duduk di kursi yang telah di siapkan di seberang pemilik perusahaan.
Bersambung......
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭