Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gula Saset dan Jumat yang Tidak Biasanya
Jam dinding digital di sudut ruangan menunjukkan pukul 16.55. Bagi sebagian besar karyawan di lantai tujuh gedung perkantoran ini, lima menit terakhir sebelum jam pulang adalah waktu paling lambat dalam seminggu. Suara ketikan 键盘 (*keyboard*) mulai jarang terdengar, digantikan oleh suara ritsleting tas, kursi yang didorong mundur, dan bisik-bisik rencana akhir pekan.
Raka duduk diam memandangi layar komputernya yang sudah menampilkan *desktop* kosong. Ia sudah menyimpan semua pekerjaannya sepuluh menit lalu. Mejanya rapi, terlalu rapi bahkan. Tidak ada foto keluarga, tidak ada kaktus hias, hanya tumpukan dokumen yang sudah disortir dan sebuah gelas tumbler kosong.
Biasanya, begitu angka 17.00 muncul, Raka akan menjadi orang pertama yang berdiri, berjalan cepat menuju lift, dan menghilang ke dalam perut stasiun kereta. Ia memiliki urgensi yang tidak rasional untuk segera sampai di apartemennya, mengunci diri, dan membiarkan kesunyian memeluknya.
Namun, hari ini berbeda. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas sisa demam kemarin lusa, tapi bukan itu yang menahannya. Ada rasa berutang yang mengganjal di dadanya. Bubur ayam dan sari kurma yang dikirim Bayu waktu ia sakit kemarin terasa seperti beban moral yang harus segera dilunasi. Raka tidak suka berutang, baik itu uang maupun perasaan.
"Ka, bengong aja."
Suara itu membuyarkan lamunan Raka. Bayu sudah berdiri di samping kubikelnya, tas ransel tersampir di satu bahu. Kemejanya sudah digulung hingga siku, menampilkan jam tangan *sporty* yang selalu ia pakai.
Raka menoleh, mencoba tersenyum tipis. "Enggak. Cuma nunggu jam."
"Tumben belum *packing*," komentar Bayu santai, matanya melirik meja Raka yang bersih. "Biasanya lo kayak peserta lari estafet nunggu peluit bunyi."
"Lagi males desak-desakan di *gate* depan," alibi Raka. Padahal ia tahu, jam berapapun ia keluar, stasiun akan tetap penuh sesak.
Bayu mengangguk-angguk, lalu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja Raka. Gestur itu terlihat begitu akrab, sesuatu yang membuat Raka sedikit tidak nyaman tapi tidak lagi merasa terancam seperti dulu.
"Gue mau mampir ngopi bentar di kedai bawah, yang deket parkiran motor. Lo mau gabung? Gue traktir deh, ngerayain lo sembuh," ajak Bayu. Nadanya ringan, seolah penolakan Raka tidak akan menyakiti hatinya, tapi cukup tulus untuk membuat Raka berpikir dua kali.
Raka terdiam sejenak. Insting pertamanya selalu menolak. Pulang, mandi air hangat, lalu tidur. Itu rutinitas amannya. Tapi bayangan bubur ayam yang hangat di perutnya saat ia menggigil sendirian di apartemen kembali muncul.
"Gue yang bayar," kata Raka tiba-tiba.
Bayu mengangkat alis. "Hah?"
"Gue ikut. Tapi gue yang bayar. Gantinya bubur kemarin," Raka menegaskan, suaranya datar namun serius. Ia bangkit dari kursi dan meraih tas kerjanya.
Bayu tertawa kecil, tawa yang renyah dan tidak dibuat-buat. "Oke, Bos. Sesuai *budget* lo aja kalau gitu. Yuk."
***
Kedai kopi itu tidak terlalu besar, terletak menyempil di antara gedung parkir dan minimarket. Isinya penuh dengan asap rokok dan suara tawa para pekerja yang melepas penat. Aroma biji kopi yang digiling bercampur dengan bau samar hujan yang baru saja reda di luar.
Mereka mendapat meja kecil di sudut, dekat jendela kaca yang berembun. Raka duduk berhadapan dengan Bayu. Ia memesan *Americano* panas, sementara Bayu memesan es kopi susu dengan gula aren yang banyak.
"Lo selalu pesen kopi item ya, Ka?" tanya Bayu setelah pelayan pergi. "Hidup udah pait, masa minumannya pait juga."
"Biar melek," jawab Raka singkat.
Itu setengah bohong. Alasan sebenarnya adalah karena dulu, perempuan itu selalu memesan minuman manis—cokelat panas, *latte* vanila, atau apapun yang penuh krim. Raka biasa menghabiskan sisa minuman manis itu karena perempuan itu jarang menghabiskannya. Sekarang, rasa manis hanya mengingatkannya pada sisa-sisa yang ditinggalkan. Kopi pahit adalah cara Raka mendisiplinkan lidahnya untuk tetap berada di masa kini.
"Gimana rasanya balik ngantor setelah *bedrest*?" Bayu membuka topik, tangannya memainkan tisu di atas meja.
"Lumayan. Masih agak pegel dikit," jawab Raka jujur. Ia memandang ke luar jendela. Lampu-lampu kendaraan mulai menyala, memantul di aspal basah. Pemandangan kota Jakarta yang klise namun selalu berhasil membuatnya merasa kecil.
"Lo tahu nggak," kata Bayu, nadanya sedikit lebih serius. "Pas lo nggak masuk dua hari, kantor sepi banget. Bukan sepi suara, ya. Lo kan emang jarang ngomong. Tapi kayak... ada aura yang ilang."
Raka menoleh, keningnya berkerut. "Maksudnya?"
"Lo itu kayak... apa ya," Bayu mencari kata yang tepat, "kayak jangkar. Lo diem, lo kerja, lo pulang. Stabil banget. Pas lo nggak ada, si Bos jadi uring-uringan nyariin *file* yang cuma lo yang tahu naruhnya di mana."
Raka mendengus pelan, hampir menyerupai tawa. "Itu karena Bos aja yang nggak rapi."
"Mungkin," Bayu tersenyum. "Tapi gue sadar, gue nggak tahu banyak soal lo selain lo orangnya rapi dan suka kopi pait. Lo tinggal sendiri di apartemen itu?"
Pertanyaan pribadi. Raka menegakkan punggungnya, mekanisme pertahanannya kembali aktif. "Iya."
"Nggak sepi?"
"Biasa aja."
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, menyelamatkan Raka dari keharusan menjelaskan lebih lanjut. Raka meraih cangkir kopinya, meniup uap panas yang mengepul.
Di meja sebelah mereka, sepasang muda-mudi sedang duduk berhadap-hadapan. Si perempuan sedang sibuk menyusun gula saset menjadi menara kecil sambil tertawa, sementara si laki-laki memperhatikannya dengan tatapan memuja.
Tangan Raka terhenti di udara.
Ingatan itu datang tanpa permisi. Sebuah kafe di Bandung, hujan deras, dan tawa renyah seseorang yang menyusun saset gula, garam, dan merica menjadi benteng pertahanan untuk melindungi sepotong kue.
*"Liat, Ka! Ini benteng pertahanan kita dari serangan semut!"* katanya dulu, matanya berbinar jenaka.
Raka merasakan dadanya sesak. Suara tawa di meja sebelah terdengar seperti gema dari masa lalu. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke piring tatakan dengan bunyi *denting* yang agak keras.
Bayu, yang sedang mengaduk es kopinya, berhenti. Matanya yang jeli menangkap perubahan ekspresi Raka. Ia melirik ke meja sebelah, lalu kembali menatap Raka. Bayu tidak bertanya "kenapa", dan untuk itu Raka bersyukur.
"Gue juga ngekos sendiri," kata Bayu tiba-tiba, mengalihkan fokus. "Kadang kalau malem Minggu, gue ngomong sama tembok biar nggak lupa cara ngomong."
Raka menatap Bayu. Ada kejujuran yang melucuti di sana. Bayu yang selalu terlihat ceria dan mudah bergaul, ternyata juga mengenal rasa sepi.
"Gue kira lo tipe yang tiap malem nongkrong sama temen sekampung," komentar Raka, suaranya sedikit parau.
Bayu tertawa. "Capek, Ka. Di kantor kita udah harus pasang muka ramah, ngeladenin klien, ngeladenin bos. Kalau di luar juga harus *perform* jadi orang asik terus, batre gue abis. Kadang gue cuma butuh duduk, minum kopi enak, terus diem. Kayak gini."
Raka tertegun. Ia selalu mengira orang-orang seperti Bayu memiliki hidup yang penuh warna dan tanpa celah. Ternyata, garis waktu setiap orang memiliki lubang-lubang sunyinya sendiri.
"Gue..." Raka ragu sejenak, lalu memutuskan untuk sedikit membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat. "Gue nggak suka keramaian karena itu bikin gue inget kalau gue sendirian."
Bayu menatapnya lurus, tidak menghakimi. "Masuk akal. Tapi sendirian di keramaian itu pilihan, Ka. Kayak sekarang, lo di keramaian, tapi lo nggak sendirian. Ada gue, si manusia paling ganteng sedivisi *marketing*."
Sudut bibir Raka terangkat. Senyum yang nyata, meski tipis. "Pede lo kelebihan."
"Harus. Modal hidup di Jakarta," sahut Bayu sambil menyeruput kopinya.
Mereka menghabiskan satu jam di sana. Obrolan mengalir tidak terlalu lancar, banyak jeda diam di antaranya, tapi itu adalah jenis diam yang nyaman. Raka tidak merasa dipaksa untuk bercerita tentang masa lalunya, tentang kenapa ia membenci tanggal 14, atau tentang kenapa ia menyimpan pembatas buku dari tiket bioskop. Bayu hanya membicarakan hal-hal remeh: harga bensin yang naik, kucing liar di parkiran kantor yang baru melahirkan, dan rekomendasi film *action* bodoh yang tidak perlu mikir.
Saat mereka memutuskan untuk pulang, hujan kembali turun rintik-rintik. Raka berjalan menuju kasir. Sesuai janjinya, ia membayar kedua minuman itu. Saat menerima kembalian, ia merasa beban utang budi soal bubur ayam itu terangkat. Transaksi selesai.
Namun, saat mereka berjalan keluar menuju area penjemputan ojek *online*, Raka menyadari sesuatu. Perasaannya lebih ringan. Bukan bahagia yang meledak-ledak, tapi rasa sesak di dadanya sedikit melonggar.
"Makasih traktirannya, Ka," kata Bayu sambil mengecek ponselnya. "Minggu depan gantian gue yang ajak makan bakso. Ada tempat enak di belakang gedung sebelah."
Raka tidak langsung menolak. Ia hanya mengangguk pelan. "Liat nanti."
"Hati-hati di jalan. Jangan kebanyakan ngelamun," Bayu menepuk bahu Raka sekilas sebelum berlari kecil menuju pengemudi ojek yang memanggilnya.
Raka berdiri di trotoar basah, menunggu jemputannya sendiri. Ia melihat punggung Bayu menjauh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak merasa takut menghadapi akhir pekan. Sabtu dan Minggu masih akan sepi, apartemennya masih akan dingin tanpa kehadiran *dia* yang sudah pergi, tapi setidaknya Jumat malam ini ia menutup harinya sebagai manusia yang berinteraksi dengan manusia lain, bukan sebagai robot yang rusak.
Raka merogoh saku celananya, menyentuh layar ponsel. Tidak ada pesan dari masa lalu. Hanya ada notifikasi grup kantor dan operator seluler. Ia memasukkan kembali ponselnya, menarik napas dalam-dalam menghirup aroma petrikor, dan melangkah maju saat mobil jemputannya tiba. Garis waktu terus berjalan, dan malam ini, Raka berhasil melangkah bersamanya, bukan tertinggal di belakangnya.