NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 14

Rencana untuk segera menyantap es krim dengan topping termahal terpaksa ditunda. Penyebabnya sederhana: mata Raka menangkap kilatan cahaya dari sebuah mesin arcade raksasa di sudut ruangan yang baru saja kosong. Mesin itu bernama *Crisis City: The Last Stand*, sebuah simulator tembak-tembakan dengan layar setinggi dua meter dan senapan plastik berat yang dirancang menyerupai aslinya.

"Tunggu," Raka menahan langkah, tumit sneakers-nya berdecit di lantai keramik mal yang licin. Matanya berbinar, bukan dengan kehangatan romantis seperti di bilik foto tadi, melainkan dengan antusiasme bocah lima tahun yang melihat tumpukan hadiah. "Satu ronde. Gue tantang lo."

Keyra menaikkan sebelah alisnya, melipat tangan di dada. Potongan foto yang baru saja mereka ambil sudah aman terselip di saku celana jinsnya. "Es krim gue bisa cair duluan kalau nungguin lo main ginian, Ka. Lagian, itu game buat dua orang. Gue nggak jago nembak zombie atau alien atau apalah itu."

"Justru itu," Raka menyeringai, sebuah senyum miring yang penuh provokasi. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu gesek permainan yang masih memiliki saldo cukup banyak. "Kalau lo kalah, lo yang harus traktir popcorn caramel buat besok. Kalau lo menang... gue bakal jawab satu pertanyaan jujur dari lo. Apapun."

Tawaran itu menggantung di udara, lebih menarik daripada sekadar es krim. Keyra tahu Raka penuh rahasia. Cowok itu muncul entah dari mana, selalu tahu kapan Julian akan marah, selalu tahu di mana Keyra bersembunyi. Satu jawaban jujur adalah mata uang yang sangat mahal dalam hubungan aneh mereka.

"Deal," jawab Keyra cepat. Dia menyambar senapan plastik berwarna biru di sisi kiri, sementara Raka mengambil yang merah di sisi kanan.

"Siap-siap kalah, Tuan Misterius," ejek Keyra sambil mengokang senapan plastiknya. Suara *clack-clack* terdengar memuaskan.

Permainan dimulai. Layar menyala terang, menampilkan reruntuhan kota futuristik yang dipenuhi monster biomekanik. Musik techno dengan tempo cepat memacu adrenalin seketika. Keyra langsung menekan pelatuk, memberondong musuh yang muncul dari balik mobil yang terbakar. Dia cukup bangga dengan refleksnya; beberapa monster jatuh sebelum sempat menyerang.

Namun, lima menit berlalu, Keyra mulai kewalahan. Musuh datang dari segala arah—langit-langit, gorong-gorong, bahkan melompat dari belakang layar. Bar nyawanya (HP) di sudut kiri bawah layar mulai berkedip merah. Dia panik, menembak membabi buta, sering kali meleset karena recoil simulasi dari senapan itu cukup mengganggu.

"Kiri atas, Key! Reload!" seru Raka.

Di situlah Keyra mulai menyadari sesuatu yang ganjil.

Raka tidak sekadar bermain. Dia menari.

Di tengah hiruk-pikuk ledakan digital dan raungan monster, Raka berdiri dengan tenang. Posturnya santai, namun senapan di tangannya bergerak dengan presisi yang menakutkan. Dia tidak menembak secara acak. Setiap peluru yang keluar dari moncong senjata plastiknya memiliki tujuan.

*Dor.* Headshot.

*Dor.* Musuh di kejauhan jatuh.

*Dor.* Benda peledak di latar belakang hancur, membunuh lima musuh sekaligus.

Yang membuat bulu kuduk Keyra meremang bukanlah akurasinya, melainkan *antisipasinya*.

Pada satu momen, layar menjadi gelap sejenak sebelum adegan *boss battle*. Biasanya, pemain akan menunggu musuh muncul baru menembak. Tapi Raka sudah mengarahkan senjatanya ke titik kosong di pojok kanan atas layar, titik di mana tidak ada apa-apa.

Sedetik kemudian, *boss* monster itu melompat tepat ke titik bidikan Raka. Sebelum monster itu mendarat atau bahkan terlihat sepenuhnya, Raka sudah melepaskan tiga tembakan fatal.

*Bam. Bam. Bam.*

Monster itu meledak dalam hujan piksel bahkan sebelum sempat meraung.

Keyra berhenti menembak. Bar nyawanya sudah habis, karakternya mati di layar dengan tulisan *CONTINUE?* berkedip-kedip. Tapi dia tidak peduli. Matanya terpaku pada Raka.

Cowok itu tidak melihat ke layar dengan tatapan panik seorang gamer yang sedang terdesak. Tatapannya kosong, hampir bosan, seolah dia sedang menonton film yang sudah dia tonton ratusan kali dan hafal setiap dialognya. Tangannya bergerak otomatis.

Dia menembak musuh yang bersembunyi di balik tong *sebelum* musuh itu muncul. Dia melakukan *reload* tepat sepersekian detik sebelum pelurunya habis, tanpa melihat indikator amunisi.

Keyra menyadari Raka sangat jago main game tembak-tembakan, seolah dia sudah memainkannya ribuan kali. Bukan, ini bukan sekadar 'jago'. Ini hafalan. Ini memori otot yang terbentuk dari repetisi yang menyiksa.

"Raka..." panggil Keyra pelan, suaranya tenggelam oleh suara ledakan dari *speaker* mesin.

Raka tidak menoleh. Dia sedang sibuk membersihkan gelombang musuh terakhir sendirian. Gerakannya efisien, tanpa satu pun gerakan yang sia-sia. Keringat tidak menetes di pelipisnya. Napasnya teratur. Seolah dia sedang melipat baju, bukan membantai ribuan monster digital.

*GAME OVER. PLAYER 2 WINS. NEW RECORD.*

Layar menampilkan skor Raka yang melesat jauh melampaui rekor tertinggi sebelumnya. Mesin itu mengeluarkan bunyi *fanfare* yang heboh, menarik perhatian beberapa anak kecil di sekitar mereka.

Raka menurunkan senjatanya, menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Keyra dengan senyum kemenangan yang kembali terpasang di wajahnya. Topeng keceriaannya kembali sempurna.

"Gue menang," kata Raka bangga. "Siapin dompet lo buat popcorn besok."

Keyra tidak membalas senyuman itu. Dia menatap Raka dengan sorot mata menyelidik, mengabaikan tulisan *INSERT COIN* yang meminta mereka bermain lagi.

"Lo sering ke sini?" tanya Keyra, nadanya tajam.

Raka mengangkat bahu, meletakkan senapan plastik itu kembali ke tempatnya. "Nggak juga. Kadang-kadang kalau lagi suntuk."

"Bohong," potong Keyra. Dia melangkah maju, mempersempit jarak, memaksa Raka menatap matanya. "Tadi itu bukan refleks, Ka. Lo tau musuhnya bakal muncul di kanan atas sebelum layarnya nyala. Lo nembak tong peledak itu tanpa liat. Lo bahkan nggak kaget waktu ada *jumpscare*."

Keyra menunjuk mesin arcade yang kini hening. "Lo main ini seolah-olah lo yang bikin kodenya. Atau... seolah lo udah main level yang sama, persis sama, berulang-ulang sampai lo muak."

Senyum Raka sedikit memudar di sudut bibirnya. Ada kilatan emosi yang sulit dibaca di matanya—mungkin kelelahan, mungkin kesedihan—sebelum dia menutupinya lagi dengan tawa renyah yang terdengar sedikit dipaksakan.

"Key, ini cuma game. Polanya gampang ditebak. Namanya juga komputer, algoritmanya pasti repetitif," elak Raka sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Gue emang berbakat aja. Jangan cemburu gitu dong kalau kalah."

"Algoritma emang repetitif," balas Keyra, tidak mau kalah. "Tapi manusia nggak sepresisi itu. Kecuali manusia itu udah ngelakuin hal yang sama ribuan kali."

Keyra teringat ucapan Raka di bilik foto tadi. *Kalau Julian mulai ngereset waktu lagi...*

Sebuah pemikiran gila melintas di benak Keyra. Bagaimana jika bukan hanya hari ini? Bagaimana jika Raka sudah menjalani hari ini—momen di arcade ini, permainan ini—berkali-kali? Apakah itu sebabnya dia begitu santai menghadapi kemarahan Julian? Apakah itu sebabnya dia tahu Keyra akan menyukai boneka di mesin capit sebelumnya?

"Lo... lo udah pernah ngelakuin hari ini sebelumnya, kan?" bisik Keyra. Suara bising di sekitar mereka seolah tersedot vakum.

Raka terdiam. Dia memandang Keyra lamat-lamat. Cahaya neon dari mesin arcade memantul di wajahnya, menciptakan bayangan yang membuat ekspresinya terlihat lebih tua dari usianya.

Untuk sesaat, Keyra mengira Raka akan jujur. Bahwa dia akan mengakui segalanya. Bahwa dia akan menggunakan 'satu jawaban jujur' yang dia janjikan tadi.

Tapi kemudian, ponsel Keyra bergetar hebat di sakunya, memecahkan gelembung ketegangan di antara mereka. Nama 'KETUA OSIS - JULIAN' terpampang jelas di layar, disertai deretan pesan yang masuk bertubi-tubi.

Raka melirik layar ponsel itu, lalu mendengus pelan. Topengnya kembali terpasang.

"Tuh, 'Sutradara' lo udah nyariin," kata Raka, mengalihkan topik dengan mulus. Dia menyentil dahi Keyra pelan. "Jangan kebanyakan mikir, Key. Nanti otak lo konslet kayak mesin ini. Anggap aja gue emang jenius game. Udah, ayo cari es krim. Keburu mal tutup, nanti kita diusir satpam."

Raka berbalik dan mulai berjalan menjauh, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Langkahnya ringan, seolah beban pembicaraan tadi tidak pernah ada.

Keyra berdiri mematung di sana selama beberapa detik, menatap punggung Raka yang menjauh. Ponselnya masih bergetar, menuntut perhatian, menuntutnya kembali ke realitas dan aturan sekolah. Tapi pikiran Keyra tertinggal pada skor tinggi di layar mesin arcade itu.

*999.999 poin.*

Angka yang sempurna. Angka yang mustahil dicapai hanya dengan 'bakat' dan 'keberuntungan'.

Keyra mematikan ponselnya, membiarkan Julian dan amarahnya menunggu di dimensi lain. Dia berlari kecil menyusul Raka. Raka mungkin tidak mau menjawab sekarang, tapi Keyra tahu satu hal: Raka bukan sekadar variabel acak dalam hidupnya. Raka adalah pemain yang sudah memegang *walkthrough* dari permainan takdir ini, dan Keyra bertekad untuk mencari tahu berapa banyak 'koin' yang sudah Raka habiskan untuk sampai di titik ini.

"Woi, tungguin!" seru Keyra, menyejajarkan langkahnya di samping Raka.

"Es krim cokelat, *double scoop*," kata Raka tanpa menoleh, tapi senyum kecil terbit di bibirnya. "Dan lo yang bayar topping-nya."

"Iya, iya. Cerewet lo, *Cheater*," gumam Keyra, tapi tangannya tanpa sadar menyentuh saku tempat foto mereka tersimpan. Di sana, di dalam saku itu, waktu berhenti. Tapi di luar sini, di samping Raka, waktu terasa berlari kencang menuju sesuatu yang belum Keyra pahami sepenuhnya.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!