Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sandi di Antara Bintang Mati
Keheningan di dalam kapsul Navigasi Langit setelah ledakan interferensi tadi terasa hampir memekakkan telinga. Alana duduk di depan meja kristalnya, menatap ujung jarinya yang masih memerah. Ia baru saja menyadari bahwa setiap kata yang ia kirimkan ke bumi kini memiliki harga. Bukan lagi sekadar tinta dan kertas, melainkan energi murni yang bisa memicu kiamat kecil atau keselamatan bagi mereka yang berada di bawah sana.
"Kita tidak bisa lagi mengirimkan pesan secara terbuka, Alana," Arlo memecah kesunyian. Ia berdiri di depan peta bintang holografik yang berputar pelan di tengah ruangan. "Para Penjaga yang Lebih Tua telah menandai frekuensi emosimu. Setiap kali kau menulis dengan hati yang membara, kau seperti menyalakan suar di tengah kegelapan yang membuat mereka bisa melacak lokasi kita."
Alana bangkit, kakinya masih terasa sedikit lemas. "Lalu bagaimana kita bisa membimbing Elian? Dia sendirian di bawah sana. Para Penjemput Fajar mungkin mundur sementara, tapi mereka akan kembali dengan teknologi yang lebih berbahaya."
Arlo menunjuk ke sebuah area di peta yang tampak gelap, tanpa ada satu pun bintang yang bersinar terang. "Kita akan menggunakan Rasi Bintang Mati. Ini adalah sisa-sisa energi dari bintang yang sudah meledak jutaan tahun lalu. Cahayanya sudah hilang dari mata manusia, tapi frekuensinya masih ada. Jika kita menyisipkan pesan di sana, para Penjaga tidak akan menyadarinya karena bagi mereka, itu hanya sampah angkasa."
"Tapi bagaimana Elian bisa membacanya?" tanya Alana bingung. "Dia tidak punya teleskop dimensi."
"Dia punya apa yang ditinggalkan kakekmu," Arlo tersenyum misterius. "Lensa Fresnel di mercusuar bukan hanya untuk memancarkan cahaya, tapi untuk menangkap bayangan. Kau harus mengajarinya sebuah sandi."
Alana mulai memahami. Ia mengambil selembar membran bening dan mulai menggambar pola rasi bintang Cygnus sang angsa. Namun, ia tidak menggambarnya secara utuh. Ia hanya menitikkan pola-pola tertentu yang jika dihubungkan akan membentuk huruf atau simbol instruksi.
"Ini akan menjadi bahasa kita, Arlo. Bahasa yang hanya diketahui oleh mereka yang pernah menatap langit dengan rasa sakit yang sama."
Alana mulai bekerja. Ia menenun pesan pertamanya menggunakan metode baru ini. Ia tidak lagi menggunakan kata-kata puitis yang panjang. Ia menggunakan presisi. Setiap titik cahaya yang ia sematkan pada rasi mati itu mewakili sebuah peringatan atau instruksi untuk Elian.
Titik di sayap kiri: Bahaya mendekat dari arah barat.
Titik di leher: Gunakan ruang bawah tanah rumah kakek sebagai tempat perlindungan.
Titik di ekor: Tunggu sinyal dariku saat bulan mencapai puncaknya.
Di Bumi – Puncak Mercusuar Navasari
Elian berdiri di balkon mercusuar, menatap langit malam yang mendadak terasa sangat asing. Udara masih berbau ozon sisa ledakan energi tadi. Ia memegang sebuah alat tua milik Pak Surya sebuah deodolit kuno yang telah dimodifikasi dengan kaca kristal hitam.
Saat ia mengarahkan alat itu ke bagian langit yang tampak kosong di sebelah utara, sebuah keajaiban terjadi. Melalui lensa kristal hitam itu, ia tidak melihat kegelapan. Ia melihat titik-titik cahaya ungu redup yang membentuk pola-pola geometris.
"Kau jenius, Alana," bisik Elian.
Ia mengambil buku catatan kecilnya dan mulai menerjemahkan pola-pola itu. Ia menyadari bahwa Alana sedang mengajaknya berkomunikasi tanpa harus memicu deteksi dari musuh. Ini adalah korespondensi rahasia yang melampaui batas fisika.
Namun, saat Elian sedang asyik mencatat, ia mendengar suara langkah kaki di tangga besi mercusuar. Langkah itu ringan, teratur, dan sangat tenang berbeda dengan langkah kasar para agen sebelumnya.
Elian segera menyembunyikan buku catatannya dan berbalik. Di ambang pintu, beridiri seorang wanita tua yang mengenakan jubah abu-abu panjang. Wajahnya dipenuhi kerutan, namun matanya bersinar dengan kecerdasan yang tajam.
"Kau tidak seharusnya berada di sini, anak muda," suara wanita itu terdengar seperti gesekan daun kering.
"Siapa Anda?" tanya Elian waspada.
"Aku adalah bagian dari sejarah yang coba dihapus oleh orang-orang bersenjata itu. Aku adalah salah satu dari mereka yang dulu membantu Arlo membangun tempat ini sebelum ia 'pergi'. Namaku Martha."
Elian menurunkan kewaspadaannya sedikit. "Arlo menyebutkan tentang para pendahulu. Jadi Anda masih hidup?"
Martha berjalan mendekati lensa Fresnel raksasa. "Aku bertahan hidup hanya untuk memastikan bahwa ketika 'Sang Navigator' kembali, ia tidak sendirian. Alana sudah berada di sana, bukan? Aku bisa merasakan riak di atmosfer."
Elian mengangguk. "Dia mengirimkan pesan melalui bintang-bintang mati."
Martha tersenyum tipis. "Gadis yang cerdas. Tapi sampaikan padanya melalui sandimu itu, Elian: Para Penjaga tidak hanya mengawasi dari langit. Mereka memiliki 'mata' di bumi yang menyamar sebagai manusia biasa. Perjanjian rahasia ini tidak boleh bocor, atau mercusuar ini akan benar-benar dipadamkan selamanya."
Di Dalam Navigasi Langit
Alana merasakan sebuah getaran aneh saat ia menyelesaikan sandinya. Layar kristal di hadapannya menampilkan sebuah pesan balik yang sangat lemah, namun bukan dari Elian. Pesan itu berbentuk pola spiral yang melingkar di sekitar rasi Cygnus.
"Arlo, ada gangguan di jalurnya," kata Alana cemas.
Arlo memeriksa konsolnya. "Itu bukan gangguan. Itu adalah balasan dari bumi. Tapi frekuensinya sangat tua... seolah-olah berasal dari masa laluku."
"Martha?" bisik Arlo pelan, matanya membelalak tak percaya. "Apakah dia masih menunggu di sana?"
Alana menatap Arlo. "Siapa Martha?"
"Dia adalah navigator asliku sebelum kecelakaan itu terjadi, Alana. Dia yang seharusnya berada di kursi yang kau duduki sekarang. Aku pikir dia sudah lama tiada."
Ketegangan di Bab 13 ini meningkat bukan karena serangan fisik, melainkan karena munculnya pemain lama dalam papan catur dimensi ini. Alana kini menyadari bahwa ia bukan orang pertama yang mencoba mencintai "Langit", dan ia mungkin bukan yang terakhir jika ia gagal menjaga rahasia ini.
"Tuliskan satu kode lagi untuk Elian," perintah Arlo dengan suara yang sedikit bergetar. "Beritahu dia agar jangan mempercayai siapa pun sepenuhnya, bahkan mereka yang mengklaim sebagai teman dari masa lalu. Perang ini baru saja dimulai."
Alana kembali menulis, jemarinya kini bergerak dengan keraguan yang mulai merayap. Di antara bintang-bintang mati, ia mulai menyadari bahwa langit menyimpan lebih banyak pengkhianatan daripada yang bisa ia bayangkan.
Keheningan yang menyelimuti kapsul Navigasi Langit setelah ledakan interferensi pada malam sebelumnya terasa seperti beban fisik yang menekan bahu Alana. Ruangan itu biasanya dipenuhi dengan harmoni frekuensi yang menenangkan, namun kini ada nada sumbang yang tertinggal—sisa-sisa amarah dan darah yang ia gunakan sebagai senjata. Alana duduk di kursi kristalnya, menatap ujung jarinya yang masih memerah. Ia baru saja menyadari bahwa setiap kata yang ia kirimkan ke bumi kini memiliki harga. Bukan lagi sekadar tinta dan kertas, melainkan energi murni yang bisa memicu kiamat kecil bagi mereka yang berada di bawah sana.
"Alana, kau harus bangun dari lamunanmu," suara Arlo memecah kesunyian. Ia berdiri di depan peta bintang holografik yang berputar pelan di tengah ruangan, memproyeksikan ribuan titik cahaya ke dinding kapsul. "Kita tidak bisa lagi mengirimkan pesan secara terbuka. Para Penjaga yang Lebih Tua telah menandai frekuensi emosimu. Setiap kali kau menulis dengan hati yang membara, kau seperti menyalakan suar raksasa di tengah kegelapan yang membuat mereka bisa melacak koordinat kita dengan presisi milimeter."
Alana bangkit, kakinya masih terasa sedikit lemas. "Lalu bagaimana kita bisa membimbing Elian? Dia sendirian di bawah sana. Para Penjemput Fajar mungkin mundur sementara karena peralatan mereka rusak, tapi mereka akan kembali dengan teknologi yang lebih berbahaya. Aku tidak bisa membiarkannya menebak-nebak dalam gelap."
Arlo menunjuk ke sebuah area di peta yang tampak gelap, sebuah lubang hitam di antara rasi bintang yang biasanya bersinar terang. "Kita akan menggunakan Rasi Bintang Mati. Ini adalah sisa-sisa energi dari bintang yang sudah meledak jutaan tahun lalu. Cahayanya sudah lama hilang dari mata manusia, tapi jejak frekuensinya masih tertinggal di struktur ruang-waktu. Jika kita menyisipkan pesan di sana, para Penjaga tidak akan menyadarinya karena bagi mereka, itu hanya sampah angkasa, residu masa lalu yang tidak lagi memiliki nyawa."
"Tapi bagaimana Elian bisa membacanya?" tanya Alana bingung. "Dia tidak punya mata indigo, Arlo. Dia hanya manusia biasa dengan teleskop tua."
"Dia punya apa yang ditinggalkan kakekmu," Arlo tersenyum misterius, meski matanya menyiratkan kelelahan. "Lensa Fresnel di mercusuar itu bukan hanya untuk memancarkan cahaya, tapi untuk menangkap bayangan dari dimensi yang tak terlihat. Kakekmu, Surya, telah memodifikasi lensa itu dengan lapisan karbon meteorit. Ia dirancang untuk melihat apa yang seharusnya sudah mati."
Alana mulai memahami tingkat kerumitan permainan ini. Ia mendekati meja tulisnya, namun kali ini ia tidak mengambil membran bening. Ia menyentuh permukaan meja, memanggil antarmuka navigasi kosmik. Ia mulai memetakan pola rasi bintang Cygnus sang angsa yang membentangkan sayap di langit utara. Namun, ia tidak menggambarnya secara utuh. Ia mulai menitikkan pola-pola tertentu pada koordinat bintang yang sudah padam.
Proses ini membutuhkan konsentrasi luar biasa. Alana harus menyinkronkan pikirannya dengan detak energi bintang mati tersebut. Setiap kali ia menitikkan "tinta" cahayanya, ia merasakan denyut dingin yang menusuk tulang, seolah-olah bintang yang sudah mati itu mencoba menghisap panas dari tubuhnya.
"Ini akan menjadi bahasa rahasia kita, Arlo," bisik Alana. "Bahasa yang lahir dari kehampaan. Sebuah sandi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah menatap langit dengan rasa kehilangan yang sama."
Di Bumi – Puncak Mercusuar Navasari
Elian berdiri di balkon mercusuar, menatap langit malam yang mendadak terasa sangat asing dan menakutkan. Udara masih berbau ozon yang menyengat, sisa dari ledakan frekuensi yang hampir merenggut nyawanya semalam. Tangannya yang terbalut perban akibat luka bakar memegang sebuah alat tua milik Pak Surya sebuah deodolit kuno yang lensa depannya telah diganti dengan kaca kristal hitam yang pekat.
Awalnya, ia hanya melihat kegelapan. Namun, saat ia memutar sekrup halus pada alat itu dan mengarahkannya ke koordinat rasi Cygnus, sebuah keajaiban muncul. Di balik kaca hitam itu, langit tidak lagi kosong. Ia melihat titik-titik cahaya ungu redup yang berkedip dalam pola geometris yang aneh. Titik-titik itu tidak ada di langit nyata; mereka hanya muncul melalui lensa khusus tersebut.
"Kau jenius, Alana," bisik Elian, napasnya membentuk uap putih di udara dingin.
Ia mengambil buku catatan kecilnya dan mulai menerjemahkan pola-pola itu berdasarkan ingatan tentang kode-kode rasi bintang yang pernah diajarkan Pak Surya padanya. Ia menyadari bahwa Alana sedang mengiriminya instruksi militer dalam bentuk seni astronomi.
Titik di sayap kiri yang berkedip tiga kali: Bahaya mendekat dari arah barat bukit.
Titik di leher angsa: Gunakan ruang rahasia di bawah menara.
Titik di ekor yang berpendar stabil: Aku masih di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.
Namun, saat Elian sedang asyik mencatat, sebuah perasaan dingin merayap di punggungnya. Suara jangkrik di sekitar mercusuar mendadak diam. Dari tangga besi di belakangnya, terdengar suara langkah kaki yang sangat tenang. Bukan langkah sepatu boot militer yang berat, melainkan langkah ringan yang diseret pelan, seperti suara daun kering yang tertiup angin.
Elian segera menyembunyikan buku catatannya di balik jaket dan berbalik. Di ambang pintu balkon, berdiri seorang wanita tua yang mengenakan jubah abu-abu panjang yang tampak berat oleh debu jalanan. Wajahnya adalah labirin kerutan, namun matanya... matanya bersinar dengan cahaya perak yang sangat mirip dengan tinta surat-surat Alana.
"Kau memiliki mata kakekmu, anak muda," suara wanita itu terdengar parau namun berwibawa.
"Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa melewati pagar tanpa memicu alarm?" tanya Elian waspada, tangannya meraba senter berat di pinggangnya.
"Nama itu tidak lagi penting," wanita itu melangkah maju ke dalam pendaran lampu mercusuar. "Tapi dahulu, orang-orang di proyek ini memanggilku Martha. Aku adalah Navigator sebelum gadis itu lahir. Aku adalah orang yang seharusnya berada di atas sana, di samping Arlo, sebelum pengkhianatan kakekmu merampas segalanya dariku."
Elian tertegun. Nama Martha ada dalam catatan rahasia Pak Surya sebagai "Navigator yang Hilang". "Anda... Anda masih hidup? Pak Surya bilang Anda tertangkap oleh militer tahun 75."
Martha tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Tertangkap adalah istilah yang halus. Aku dijadikan subjek penelitian oleh orang-orang yang kini kau lawan. Mereka ingin tahu bagaimana jiwaku bisa terhubung dengan frekuensi langit. Aku selamat hanya karena satu alasan: dendam."
Martha mendekati lensa Fresnel raksasa dan mengelusnya dengan jemari yang panjang dan kurus. "Katakan pada gadis di atas sana, Elian. Katakan padanya melalui sandi bintang matinya itu... bahwa langit memiliki memori yang panjang. Dan apa yang dicuri oleh keluarganya, akan segera diminta kembali oleh sejarah."
Di Dalam Navigasi Langit
Alana merasakan getaran dingin yang luar biasa saat ia menyelesaikan baris terakhir sandinya. Layar kristal di hadapannya mendadak berkedip liar. Sebuah pola spiral muncul di peta bintang, mengelilingi rasi Cygnus miliknya. Pola itu bukan berasal dari tangannya.
"Arlo, ada gangguan di jalur bintang mati," kata Alana dengan nada panik. "Sesuatu... sesuatu sedang mencoba menimpa sandiku."
Arlo melompat ke arah konsol, wajahnya berubah pucat pasi saat melihat struktur spiral tersebut. "Itu bukan gangguan, Alana. Itu adalah Feedback Karakter. Seseorang di bumi memiliki pemancar frekuensi yang sama dengan kapsul ini. Seseorang yang tahu protokol kuno kita."
Arlo menatap pola itu lebih dekat, matanya membelalak tak percaya. "Martha... Itu tanda tangan Martha. Dia menggunakan frekuensi pribadinya untuk mengganggu sinyalmu."
"Siapa Martha, Arlo? Kenapa kau begitu takut?"
Arlo menoleh pada Alana, dan untuk pertama kalinya, Alana melihat air mata di mata sang pilot abadi itu. "Martha adalah alasan aku bisa selamat, Alana. Dia adalah navigator asliku. Dan jika dia masih hidup di bumi setelah lima puluh tahun... maka dia bukan lagi orang yang kukenal. Dia telah menjadi bagian dari bayangan yang selama ini kita takuti."
Alana menatap kembali ke arah bumi, ke arah mercusuar yang tampak seperti titik cahaya kecil yang kesepian. Ia menyadari bahwa sandi di antara bintang mati itu bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia adalah medan tempur baru. Di bawah sana, Elian sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu, dan di atas sini, Alana harus bertarung melawan seorang legenda yang ingin merebut kembali posisinya.
Alana yang kembali memegang pena kristalnya, namun kali ini tangannya tidak lagi gemetar. Ia mulai menulis sebuah perintah perang di antara bintang-bintang yang sudah padam, sadar bahwa dalam cinta dan dimensi, terkadang musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang pernah kita anggap sebagai pahlawan.