Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
PERTEMUAN DI RAK BUKU
Khatulistiwa menatap jam di layar ponselnya sambil berlari melewati lorong-lorong ramai di dalam Gramedia Makassar. Jam menunjukkan pukul 15.47 – dia hanya punya tiga puluh menit lagi sebelum harus kembali ke sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler pramuka. Rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat sedikit mengganggu pandangannya, namun dia tidak punya waktu untuk menyisirnya. Tujuan dia jelas: mencari buku tentang sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas akhir mata pelajaran Sejarah.
Setelah beberapa menit mencari di rak-rak buku pelajaran, dia akhirnya menemukan bagian sejarah daerah. Tangannya meraba-raba sampul buku yang tertata rapi, hingga jari-jarinya menyentuh sampul buku berwarna coklat tua dengan judul Kerajaan Gowa-Tallo: Jejak Budaya dan Peradaban. Saat dia hendak mengambilnya, tangan lain yang lebih besar juga meraih buku yang sama.
"Maaf, saya juga mencari buku ini," suara lembut namun jelas terdengar di sebelahnya.
Khatulistiwa menoleh dan melihat seorang pemuda berusia sekitar akhir SMA atau awal kuliah dengan rambut pendek yang rapi dan mengenakan kemeja flanel biru muda. Wajahnya tampak sedikit terkejut, sama seperti dirinya.
"Saya perlu buku ini untuk tugas sekolah," ujar Khatulistiwa dengan nada sedikit tergesa-gesa.
"Saya juga membutuhkannya untuk makalah kuliah saya di Universitas Hasanuddin," jawab pemuda tersebut sambil sedikit tersenyum. "Nama saya Tenggara."
"Khatulistiwa," jawab dia sambil mengangguk. Kedua orangnya masih memegang bagian berbeda dari sampul buku yang sama. Suasana menjadi sedikit canggung ketika mereka menyadari bahwa itu adalah satu-satunya eksemplar yang tersedia di rak tersebut.
"Aku bisa pinjamkan setelah aku selesai membacanya," ajak Tenggara dengan senyum hangat. "Kamu butuh buku ini untuk kapan?"
"Besok pagi harus dikumpulkan," ucap Khatulistiwa dengan wajah sedikit murung.
"Aku sudah mencari di beberapa toko buku lain, tapi tidak ada yang punya stok."
Tenggara terdiam sejenak, memikirkan pilihan. Makalahnya juga harus dikumpulkan hari esok sore, namun melihat wajah khawatir Khatulistiwa membuatnya merasa perlu membantu. "Kalau begitu, mungkin kita bisa membacanya bersama saja di sini. Seperti itu kita bisa keduanya mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Bagaimana?"
Khatulistiwa melihat ke arah area ruang baca yang terletak di sudut lantai dua, lalu kembali melihat ke wajah Tenggara yang tampak tulus. "Baik saja, itu ide bagus. Terima kasih banyak."
Mereka kemudian pergi ke ruang baca dan duduk di meja sudut yang cukup sepi. Tenggara membuka buku dengan hati-hati dan mulai membaca bagian awal tentang asal-usul kerajaan Gowa. Khatulistiwa mengambil catatan dengan cepat menggunakan pena dan buku catatan kecil yang selalu ada di dalam tasnya. Kadang-kadang mereka berhenti untuk membahas poin-poin penting, seperti bagaimana sistem pemerintahan kerajaan tersebut bekerja atau peran perdagangan dalam perkembangannya.
"Kamu tahu tidak, nenek moyang saya berasal dari daerah Gowa," ujar Tenggara tiba-tiba sambil menutup buku sebentar. "Dia sering bercerita tentang tradisi dan cerita rakyat dari sana. Itu sebabnya saya sangat tertarik dengan sejarah kerajaan ini."
Khatulistiwa mengangkat alisnya dengan rasa kagum. "Wah, itu menarik. Aku sendiri baru mulai menyukai sejarah daerah setelah guru kita memberi tugas ini. Semula aku berpikir sejarah itu membosankan, tapi ternyata banyak cerita menarik yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya."
Seiring berjalannya waktu, mereka lupa akan waktu yang berlalu. Tenggara menjelaskan dengan jelas tentang beberapa konsep yang sulit dipahami Khatulistiwa, sementara Khatulistiwa menemukan beberapa detail penting di bagian akhir buku yang belum diperhatikan Tenggara. Kedua mereka saling melengkapi dengan cara yang tidak mereka duga sebelumnya.
Hingga suara bunyi notifikasi dari ponsel Khatulistiwa membuat mereka terkejut kembali. Jam menunjukkan pukul 16.15 – dia sudah terlambat sepuluh menit untuk ekstrakurikuler.
"Aduh, aku terlambat!" teriak Khatulistiwa dengan tergesa-gesa mengemas buku catatannya ke dalam tas.
"Aku harus segera pergi. Terima kasih banyak atas bantuannya, Tenggara. Tanpamu, aku tidak akan selesai mengambil catatan ini."
"Tidak apa-apa," jawab Tenggara dengan senyum. "Semoga tugasmu berjalan lancar. Kalau kamu perlu bantuan lagi tentang sejarah daerah ini, bisa saja kita bertemu lagi di sini atau aku bisa mengirimkan catatan saya lewat pesan."
Khatulistiwa mengangguk dengan senyum lebar. "Itu sangat baik dari kamu. Bolehkah aku mendapatkan nomor ponselmu?"
Setelah bertukar nomor, Khatulistiwa berlari keluar dari toko buku dengan hati yang penuh rasa terima kasih dan sedikit kebingungan. Dia tidak bisa menjelaskan mengapa pertemuan dengan orang asing tersebut membuat hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Tenggara tampak tidak hanya pintar, tapi juga sangat baik hati dan mudah diajak bicara.
Sementara itu, Tenggara kembali membuka buku dan melanjutkan membacanya, namun pikirannya sering terganggu oleh wajah Khatulistiwa yang sedang fokus mengambil catatan atau tertawa kecil ketika dia menjelaskan sesuatu dengan cara yang lucu. Dia tersenyum sendiri tanpa sadar – ini adalah hari yang sangat menyenangkan baginya, jauh lebih baik daripada menghabiskan waktu sendirian untuk membaca buku.
Keesokan harinya, Khatulistiwa berhasil mengumpulkan tugasnya tepat waktu dan bahkan mendapatkan pujian dari gurunya karena catatannya sangat rinci dan jelas. Setelah pulang sekolah, dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Tenggara: "Halo Tenggara, ini Khatulistiwa. Tugas saya diterima dengan baik, terima kasih lagi ya. Kamu sudah sangat membantu saya."
Dalam hitungan detik, balasan datang: "Senang mendengarnya! Makalah saya juga sudah selesai dan dikumpulkan. Mau tidak kita bertemu lagi di Gramedia minggu depan? Aku punya beberapa buku lain tentang sejarah Sulawesi yang mungkin kamu suka."
Khatulistiwa tersenyum sambil membaca pesan tersebut. Pertemuan yang tidak sengaja di rak buku Gramedia ternyata telah membuka pintu untuk persahabatan baru yang penuh dengan rasa ingin tahu dan saling pengertian. Dia cepat menjawab pesan tersebut dengan senang hati: "Baik saja, saya tunggu ya. Sampai bertemu minggu depan!"