NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sementara di sisi lain, Valeri sedang di hukum untuk mengitari lapangan. Dia telat masuk ke dalam kelas dan berujung mendapat hukuman dari wali kelasnya, Valeri jatuh berlutut di tepi lapangan outdoor. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.

"Aargh." Valeri memukul lantai dengan kasar menggunakan tangan kirinya.

Menyalurkan kekesalan yang membuat dadanya sesak, tadi pagi ibunya pulang dalam keadaan mabuk dan membawa seorang pria ke dalam rumah mereka.

Dari kejauhan Flora muncul, dia menaikan satu alisnya ketika melihat Valeri memukuli lantai yang tidak bersalah.

"Bukannya itu Valeri? Dia kenapa lagi?" gumam Flora.

Dengan langkah santai, Flora mendekat. Dia tahu Valeri tidak dalam keadaan baik, dan dia merasa khawatir.

"Eh, Valeri! lo baik-baik aja?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian Valeri dari kemarahan yang meluap.

Valeri menoleh, matanya tampak merah dan basah. "Apa lo lihat gue lagi baik-baik aja," jawabnya dengan nada sarkastik, berusaha menyembunyikan perasaannya di balik topeng ketidakpedulian.

Flora menggelengkan kepala, tidak terpengaruh oleh sikap Valeri. Mereka sudah bersahabat cukup lama, dan Flora tahu jelas jika Valeri sedang di landa emosi.

"Lo jelas-jelas nggak baik. Kenapa sih lo harus menghukum diri sendiri kayak gini? lo mau ngelakuin ini seharian? Yang ada tangan lo luka."

Valeri menggeram sebelum berdiri, menatap Flora dengan pandangan tajam.

"Lo nggak ngerti! lo nggak tahu apa yang gue rasakan!" Teriaknya, suaranya pecah, mencerminkan semua emosi yang terpendam.

Flora terdiam sejenak, menyadari bahwa Valeri benar-benar sedang dalam kondisi yang buruk. "Oke, gue mungkin nggak tahu persis apa yang lo rasakan. Tapi lo harus tahu, tindakan lo yang kayak gini nggak bakal bikin masalah selesai."

Valeri menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Makasih, Flora. Tapi gue nggak butuh di kasihan. Yang gue butuhkan adalah... entahlah, mungkin semuanya kembali normal?"

"Normal? lo udah normal, Val," kata Flora lembut.

Valeri menatap Flora sejenak. Dia tahu teman baiknya itu tulus, tapi dia merasa terlalu lemah untuk berbagi cerita padanya.

Hingga pandangan Valeri menangkap siluet Ozil yang sedang bercengkrama dengan Elsa. Tanpa pikir panjang, Valeri bergegas lari ke arah mereka dan mendorong tubuh Elsa kasar hingga menabrak tembok.

"Berapa kali gue bilang, jangan deketin Ozil, brengsek!" bentak Valeri kalap.

Ozil terperanjat, matanya melebar saat melihat Valeri yang tampak marah. Dia segera melangkah maju, berusaha melindungi Elsa yang terjepit di antara dinding dan tubuhnya.

"Valeri, tunggu! Elsa nggak ngelakuin apa-apa! kenapa lo dorong dia?" serunya, suaranya tegas meskipun ada ketegangan yang jelas.

Elsa yang terkejut dengan serangan mendadak itu, mencoba berdiri tegak meskipun lututnya terasa lemas.

"Valeri, ini bukan seperti yang lo pikirkan," ujarnya, suaranya bergetar berusaha menjelaskan situasi.

Namun, Valeri sudah terlanjur terbakar emosi. "Gue nggak peduli! lo selalu cari cara buat merusak segala yang gue miliki! Ozil itu milik gue bukan milik lo!"

Ozil menatap Valeri dengan tajam, merasakan ketidakadilan dari tuduhan itu. "Lo nggak bisa mengendalikan siapa yang boleh dekat sama gue, lo nggak malu sama tingkah menjijikan lo itu hah?!"

Valeri merasa jantungnya berdetak kencang, mengabaikan kata-kata Ozil. Ketidakadilan ini membuatnya semakin marah. Dia kembali berbicara pada Elsa.

"Lo pikir gue bakal biarin lo ambil dia dari gue? jangan mimpi Elsa, dari awal lo udah nyusahin hidup gue! harusnya lo mati!" bentak Valeri, meluapkan amarahnya pada Elsa.

Plak!

Tanpa di duga, Ozil menampar pipi Valeri hingga gadis itu terhuyung. Ozil menarik rambut Valeri dengan kasar, memaksa gadis itu mendongak ke arahnya.

"Jangan bikin gue makin jijik sama lo, Val! yang harusnya mati itu lo, bukan Elsa!" sentak Ozil kalap.

Di tengah ketegangan yang memuncak, Elsa merasa terjepit antara dua orang itu. "Zil, cukup. Kasihan Valeri!"

Namun, kata-kata Elsa tampak sia-sia. Valeri dan Ozil saling menatap, seolah-olah siap untuk saling menyerang. Ketika situasi mulai memanas, Valeri kembali terdengar.

"Kenapa lo benci sama gue, Zil? salah gue apa? lo bahkan nggak pernah mau dengerin penjelasan gue." Protes Valeri, kali ini air mata tak bisa lagi dia bendung.

"Karena lo kotor, lo murahan, Val. Lo nggak pantas hidup, lo menjijikan!"

Degh.

Perasaan Valeri mencelos, dia seperti mendapatkan ribuan pisau yang menancap di dalam dadanya. "Apa gue sehina itu di mata lo, Zil?"

Tanpa ragu Ozil mengangguk, "Ya, lo mahluk paling hina yang pernah gue temui!"

Suasana mendadak sunyi. Seolah angin pun enggan berembus ketika kalimat itu terucap.

Valeri terpaku. Dunia di sekelilingnya terasa kabur. Sorakan siswa yang mulai berkerumun terdengar seperti gema jauh yang tak berarti. Yang dia dengar hanya satu kalimat yang terus berulang di kepalanya.

Makhluk paling hina.

Dadanya naik turun tidak teratur. Tenggorokannya terasa kering. Dia menatap Ozil tanpa berkedip, berharap pemuda itu akan menarik kembali ucapannya dan meminta maaf serta mengatakan itu hanya emosi sesaat.

Namun Ozil tetap berdiri tegak. Wajahnya dingin. Tatapannya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.

Valeri tersenyum kecut. "Ternyata segitu ya nilai gue di mata lo," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Flora yang sejak tadi berlari menyusul, segera berdiri di sisi Valeri. Tangannya mencengkeram lengan sahabatnya itu, merasakan tubuh Valeri gemetar.

"Val, udah. Ayo pergi dari sini," bisiknya cemas.

Valeri tidak bergerak. Dia justru tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangis.

"Kotor? Murahan?" ulangnya, menatap Ozil lurus. "Lo pikir gue mau hidup kayak gini?"

Ozil terdiam sesaat, tetapi wajahnya tetap keras.

"Gue nggak peduli alasan lo apa," jawabnya datar. "Lo selalu bikin masalah. Lo selalu nyakitin orang. Dan sekarang lo berharap gue percaya sama lo? Dasar ratu drama."

Valeri menggigit bibirnya keras hingga hampir berdarah.

"Gue nyakitin orang?" suaranya bergetar. "Gue yang tiap hari disakitin, Zil. Tapi lo nggak pernah mau lihat itu."

Elsa menunduk, merasa situasi semakin tidak nyaman. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik, merekam dengan ponsel mereka. Lapangan yang tadinya hanya menjadi tempat hukuman, kini berubah menjadi panggung pertunjukan.

Valeri melangkah mendekat. "Apa lo pernah ngasih gue kesempatan untuk cerita? Nggak," katanya lirih. "Lo lebih milih percaya omongan orang lain. Lo milih ninggalin gue waktu gue paling butuh lo, Zil."

Ozil mengepalkan tangannya. "Jangan memutar balikan fakta, seolah gue penjahatnya."

"Fakta?" Valeri tertawa lagi. Kali ini air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Fakta mana yang lo tahu? Lo tahu nggak tiap malam gue harus ngeliat ibu gue pulang mabuk bawa laki-laki beda-beda? Lo tahu nggak gue harus pura-pura nggak dengar suara berisik dari kamar sebelah? Lo tahu nggak rasanya punya rumah tapi nggak pernah ngerasa pulang? Lo nggak tahu semua itu, dan lo bilang gue nyakitin orang lain? Apa karena gue bersikap buruk sama Elsa?"

Suasana mendadak hening. Flora menatap Valeri dengan mata membesar. Dia tidak pernah mendengar cerita itu secara langsung.

Ozil tampak terkejut. Untuk sepersekian detik, ekspresinya goyah. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengalah.

"Itu bukan urusan gue," kata Ozil akhirnya.

Kalimat itu seperti palu terakhir yang menghantam pertahanan Valeri.

Valeri mengangguk pelan. "Iya. Bukan urusan lo," ulangnya lirih.

Dia menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya berubah. Bukan lagi marah, bukan lagi memohon tapi dia seolah hidup tanpa nyawa.

"Oke," katanya singkat.

Flora merasa firasatnya buruk. "Val…"

"Gue capek," potong Valeri. "Capek ngejar orang yang jelas-jelas jijik sama gue."

Ozil menatapnya, ada sesuatu yang terasa berbeda dari nada suara Valeri kali ini.

"Buat lo yang pengen gue mati," lanjut Valeri pelan, menatap Ozil lurus, "tenang aja. Gue nggak sekuat itu buat bertahan lama di dunia yang bahkan nggak mau nerima gue."

Flora langsung mencengkeram kedua bahu Valeri.

"Jangan ngomong kayak gitu!" tegurnya tegas. "Lo marah boleh, sedih boleh, tapi jangan pernah ngerendahin diri lo sendiri."

Valeri menoleh ke Flora. Untuk pertama kalinya hari itu, sorot matanya melembut.

"Gue nggak ngerendahin diri gue, Flo," katanya pelan. "Gue cuma sadar posisi."

Dia melepaskan tangan Flora secara perlahan.

"Lapangannya udah gue kelilingin cukup banyak hari ini," gumamnya hambar. "Sekarang gue mau kelilingin hidup gue sendiri. Tanpa lo, Zil."

1
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut Thor, seru and semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut thor, and semangat
Wahyuningsih
q mampir thor, mga2 critanya bagus bla perlu dot bonus ruang dimensi atau sistem buar mkin sru
Zee✨: bsk deh kalo udah bisa wkwk harus belajar cara nulisnya dulu klo sistem kak wkwk
total 1 replies
Aria Sabila
hadir
Mey Abimanyu
sering typo penyebutan nama ya kak .. Nino jadi nini😂
Zee✨: wkwk iya kak, padahal udh bolak balik revisi masih aja typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!