NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Seyra menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, saat berada di pertengahan Seyra berpapasan dengan Elsa. Awalnya Seyra berniat pergi saja, tapi anehnya Elsa mendadak menghadang langkahnya.

"Kenapa, ya?" tanya Seyra bingung.

Seingatnya dia tak memiliki urusan dengan gadis itu, untuk interaksi saja mereka jarang lantas kenapa Elsa mendadak menghalangi langkahnya.

"Lo masih sama Arthur?" Elsa bertanya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Kening Seyra berkerut halus. "Masih, emang kenapa?"

"Putusin dia."

Jawaban itu membuat Seyra semakin keheranan. "Gue nggak mau."

Elsa mendengus pelan, matanya menajam menatap Seyra dari atas ke bawah seolah sedang menilai sesuatu yang tidak ia sukai.

"Lo pikir dia serius sama lo?" ucap Elsa sinis. "Arthur cuma jadiin lo bahan taruhan."

Seyra terdiam sepersekian detik. Lalu dia tertawa kecil. Bukan tawa terkejut. Bukan tawa marah. Tapi tawa mengejek.

"Oh? Itu doang?" Seyra memiringkan kepala, menatap Elsa dengan tatapan santai. "Gue udah tahu."

Elsa membeku.

"Apa?"

"Gue udah tahu," ulang Seyra ringan. "Soal taruhan itu. Jadi kalau lo datang cuma buat ngasih info basi, sayang banget. Lo terlambat."

Wajah Elsa berubah, jelas tak menyangka respons itu.

"Lo tahu tapi masih sama dia?" suara Elsa meninggi. "Lo nggak punya harga diri apa?"

Senyum Seyra melebar tipis. "Harga diri gue nggak ditentuin sama lo, El."

"Konyol banget! Dia ngejadiin lo objek taruhan, bukan cewek yang dia suka!"

"Dan lo peduli banget kenapa?" Seyra menyela, tatapannya kini mulai tajam.

Elsa terdiam sesaat, lalu kembali menyerang. "Karena gue nggak mau lo dipermainkan!"

"Atau…" Seyra melangkah turun satu anak tangga, kini tinggi mereka sejajar. "Lo nggak mau gue tetap sama dia?"

Elsa terlihat tersentak.

"Jangan geer," katanya cepat.

Seyra terkekeh pelan. "Gue cuma penasaran. Dari tadi lo maksa gue buat putus. Kenapa, sih? Kenapa lo segitu pengennya gue sama Arthur selesai?"

Elsa membuka mulut, tapi tak ada kata yang langsung keluar.

"Lo… lo cuma terlalu bodoh buat lihat kenyataan!" sergahnya akhirnya.

"Jawab pertanyaan gue."

Seyra menatap lurus ke mata Elsa. Tatapan yang tidak lagi santai, melainkan menekan. "Kenapa lo peduli banget sama hubungan gue?"

Elsa terlihat gelagapan. Tangannya yang tadi terlipat kini turun perlahan. "Gue cuma… cuma nggak suka lihat cewek direndahin."

"Atau lo nggak suka lihat Arthur sama gue?"

Wajah Elsa memucat sepersekian detik sebelum ia buru-buru memalingkan wajah. "Itu nggak ada hubungannya!"

Seyra menyeringai tipis. "Oh, jadi nggak ada hubungannya?"

"Lo tuh nyebelin banget, tau nggak sih! Padahal gue pikir lo beda sama kakak lo, ternyata sama aja. Sama-sama murahan!" Elsa berseru frustrasi.

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Elsa, meninggalkan jejak kemerahan di kulit putihnya.

"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue pastiin gigi bakal hilang tiga." Ancam Seyra.

"Lo... Nampar gue?"

Seyra melangkah turun satu anak tangga lagi, kini justru berdiri sedikit lebih rendah namun tetap mendominasi dengan sorot matanya.

"Iya, kalo lo nggak buta harusnya lo nggak perlu nanya," ucap Seyra santai. "Lagian kalau emang Arthur cuma jadiin gue taruhan, itu urusan gue sama dia. Bukan urusan lo."

"Lo terlalu percaya diri."

"Dan lo terlalu menye-menye jadi cewek."

Elsa membisu.

Seyra terkekeh. "Jadi ini wujud asli lo? Ternyata lo orangnya muka dua. Btw makasih udah nunjukin sikap asli lo, jadi gue nggak perlu repot-repot buat nyari tahu."

Setelah mengatakan hal itu, Seyra berlalu dari sana sambil bersiul pelan sepanjang koridor menuju kelasnya.

***

"Ar, lo beneran nggak apa-apa?"

Suara khawatir dari Jazi menggema di telinga Arthur, mereka sedang berkumpul di basecamp tempat biasa kelima pemuda itu nongkrong. Arthur menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.

Basecamp mereka berada di gudang tak terpakai belakang sekolah, ruangan itu sudah di desain sedemikian rupa layaknya kamar. Di sana terdapat kulkas berisi berbagai camilan, dan juga televisi.

Tidak ada yang tahu ruangan itu, sebab Ozil sebagai anak pemilik sekolah melarang siapa pun datang ke gudang itu.

"Gue baik-baik aja " Arthur memejamkan mata. "Siapa yang ngasih tau Elsa kalo gue masuk UKS?"

Arthur tahu jika Elsa tadi datang ke UKS ketika Seyra sudah pergi, dia tidak benar-benar tidur hanya pura-pura tidur saat Elsa memasuki ruangan tempatnya berbaring.

Jazi dan Raga saling menatap satu sama lain, seakan sedang melakukan telepati. Kedua pemuda itu memang tahu bahwa ada salah satu murid yang mengatakan jika Arthur berada di UKS bersama Seyra.

"Eh... itu... mungkin dia tahu sendiri." Ucap Jazi yang sedang bermain ponsel bersama Raga, "Iya nggak, Ga?"

"Benar banget." Jawab Raga.

Arthur menghela napas, merasakan ketegangan di dalam ruangan. Bukan tanpa alasan dia bertanya, karena belakangan ini dia merasa jika Elsa seperti menguntitnya, meski dia belum menemukan bukti sebenarnya.

"Oh, ngomong-ngomong kenapa kalian semua ada di sini? bukannya kalian harusnya di kelas?" Ujar Arthur heran.

Raga mengangkat bahu, tampak santai. "Ah, pelajaran sejarah lagi membosankan. Mending kita nongkrong di sini, kan? lagi pula, kita khawatir sama lo."

"Ya, lo harusnya lebih peduli sama kesehatan lo," Jazi menambahkan dengan nada serius. "Lo tahu kan, akhir-akhir ini tubuh lo kayak mayat. Kalo nggak ada Seyra, pasti lo udah datang ke rumah gue kayak dulu."

Arthur membuka matanya perlahan. "Gue cuma butuh waktu sendiri. Gue nggak bakal mati sekarang."

"Mulut lo minta di ganjel huh? lo tadi pingsan, bro!" Raga menegaskan, membuat Arthur tertawa sinis. "Gue rasa ini lebih dari sekadar sakit biasa deh. Pasti lo kena tekanan mental kan?"

"Ya, ya. Cuma tekanan sedikit, nggak ada yang perlu dikhawatirkan," Arthur mencoba meredakan kekhawatiran teman-temannya.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa ada lebih dari sekadar tekanan yang mengganggu pikirannya. Ada sesuatu yang selama ini dia sembunyikan dari semua orang, termasuk keluarganya.

Jazi berdiri dan memutuskan untuk membuka kulkas. "Gue rasa kita perlu cemilan untuk mengangkat suasana. Lo mau apa, Ar? makan sedikit bisa bikin lo merasa lebih baik."

Raga melihat Jazi yang sedang mengatur makanan ringan di atas meja. "Kita nggak seharusnya menghabiskan waktu di sini. Kita bisa pergi ke kafe atau ke taman. Suasana di luar pasti lebih enak."

Raga mengangguk setuju. "Ide bagus! kita bisa bawa makanan ini, terus piknik sebentar. Lo butuh udara segar, Ar."

Arthur tersenyum tipis. "Males, lo aja sana."

Galen menatap Arthur yang sibuk bermain ponsel, sesaat Galen bisa melihat senyum tipis di bibir Arthur. Pemuda itu menggeleng pelan, dia ikut senang hubungan Arthur dan Seyra masih baik-baik aja.

Arthur bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju pintu keluar. Meninggalkan teriakan sahabatnya, yang meminta dia berhenti melangkah.

Dia berjalan melewati koridor sekolah, berniat untuk kembali ke kelas. Ketika Arthur hendak berbelok ke arah kanan, tiba-tiba dia mendengar suara gaduh dari arah kelas Seyra.

Merasa penasaran Arthur mengurungkan niatnya masuk ke dalam kelas, dia berbelok menuju kelas Seyra yang berada di sebelah kelasnya.

Setibanya di depan pintu, Arthur terkejut melihat Seyra sedang menarik kerah baju salah satu murid di kelas itu. Terlihat jelas bahwa Seyra sedang marah, dari tatapan matanya saja muncul kilatan kebencian pada pemuda di depannya.

"Lo punya mata, kan?! lo nggak lihat badan gue yang menjulang tinggi begini hah?" bentak Seyra.

Pemuda di depannya menelan ludahnya kasar, dia menunduk sambil gemetaran. "M-maaf, Sey. G-gue nggak sengaja."

Brak.

Seyra mendorong pemuda itu ke arah tembok, menekan leher pemuda tersebut dengan lengannya. "Nggak sengaja? lo pikir gue bodoh, liat gara-gara lo seragam gue basah brengsek!"

Seketika pandangan Arthur turun ke arah seragam gadis itu, benar saja baju gadis itu basah hingga memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna hitam.

"A-ampun, Sey. G-gue beneran nggak senga-"

Plak.

Tamparan keras mendarat di wajah pemuda itu, membuat suasana semakin mencekam. "Ini bayaran karena lo bikin masalah sama gue, awas aja lo. Gue tandain lo sialan!"

Saat itu juga tarikan halus di lengan Seyra membuatnya menoleh, dia melihat Arthur yang sudah melepaskan seragamnya dan menutupi bagian dada Seyra.

"Ikut gue." Ajaknya tak terbantahkan.

Seyra menurut, dia malas berdebat. Hingga setibanya di kelas Arthur, pemuda itu mengambil hoodie hitam dari tas dan mengajak Seyra menuju kamar mandi.

"Nih pake baju gue dulu." Ujarnya menyodorkan hoodie itu.

"Oke." Seyra menerima hoodie tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi.

Sedangkan Arthur menunggu di depan pintu, beberapa saat kemudian Seyra kembali keluar setelah berganti baju. Arthur menatap Seyra hangat, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di wajah gadis itu.

"Kondisi lo gimana, Ar?" tanya Seyra ketika menyadari wajah Arthur kian memucat.

1
Whana Park
.
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
eh aron deh namanya😅 kirain xander
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bukannya xander yang celakai seorang ya thor
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, seru
Dedi Dahlia
sip lanjut senangat.,up datenya💪💪🙂🙂
falea sezi
ya masak mati lagi
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
palingan adeknya aron suka sama Arthur dan cinta di tolak makanya si alya bundir. jd dya dendam sama Arthur, weh aron cinta tidak bisa di paksakan, gilaaa memang
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
waduh thor jangan sampe terjadi apa apa sama seorang dunk
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
milik siapa thor🤭
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
cerita bagus, aq suka
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
g bisa berkata-kata thor🥺
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
elsa ini pelaku nya, dya suruh Arthur untuk di lepas
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut Thor, and semangat💪
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bener val, lupakan ozil biar ozil menyesal🤬
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
val, jadi perempuan mandiri, stop kejar kejar ozil. biar ozil yang balik kejar kami, biar dya menyesal
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
thor buat pala Arthur tau dunk prestasi anaknya kl dya lebih jago dr gio
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kasian seyra mamanya pilih kasih untuk ayahnya sayang sama dya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
hahahaha....
ngebut aq bacanya thor🤣
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
nah kan udah jatuh cinta tuh 🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Arthur ambil kesempatan dalam kesempitan, bakalan jatuh cinta beneren nih bocah sama seyra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!