"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Ke esokan paginya, Keyla sudah siap dengan seragam putih abu-abu yang disetrika rapi. Ia memulas sedikit lipstik berwarna peach agar wajahnya tidak terlihat pucat karena begadang belajar matematika.
"Oke, Key. Fokus. Lo pinter, lo cantik, dan lo bakal makan enak sama Om Arlan," bisiknya di depan cermin.
Namun, saat ia mencoba membuka pintu kamarnya, gagang pintu itu tidak bergerak. Keyla menariknya lebih keras. Nihil. Pintu itu terkunci dari luar.
"Papa? Bi Ijah? Tolong buka!" teriak Keyla sambil menggedor pintu.
Hening sejenak, sampai terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang mendekat. Suara yang sangat Keyla kenali.
"Nggak usah teriak-teriak, Keyla. Papa kamu udah berangkat ke kantor sejak subuh tadi," suara Riana terdengar dari balik pintu, penuh dengan nada kemenangan.
"Tante! Buka pintunya! Gue ada ujian hari ini!" teriak Keyla panik.
"Ujian? Memangnya anak nakal kayak kamu perlu ijazah? Bukannya kamu cuma mau jadi simpanan om-om kaya di gym itu?" Riana tertawa kecil, "Lebih baik kamu di dalam aja. Renungkan kesalahan kamu yang sudah berani menghinaku di depan Papamu."
"Tante Riana, ini keterlaluan! Kalau gue telat, gue nggak bisa ikut ujian dan gue nggak bakal lulus!"
"Itu poin utamanya, Sayang. Biar Papa kamu tau kalau dia ngeluarin biaya sekolah mahal-mahal itu ternyata cuma buang-buang uang buat kamu. Udah ya, aku mau ke butik dulu. Kuncinya aku bawa." ucap Riana, yang langsung melangkah pergi.
Keyla menendang pintunya dengan frustrasi. "Sialan! Tante lampir bener-bener gila!"
Keyla melirik jam dinding. Pukul 06.45. Ujian dimulai pukul 07.30. Perjalanan ke sekolah butuh waktu tiga puluh menit dengan kondisi jalanan Jakarta yang tidak menentu.
Ia segera berlari ke arah jendela. Kamarnya ada di lantai dua. Terlalu tinggi untuk melompat, tapi ada pohon kamboja besar yang dahan-dahannya menjuntai dekat balkon kecilnya. Tanpa pikir panjang, Keyla mengambil tas sekolahnya, melemparnya ke bawah, lalu ia mulai memanjat pagar balkon.
"Ayo, Key. Jangan mati sekarang," gumamnya gemetar.
Dengan susah payah dan rok abu-abu yang sempat tersangkut dahan, Keyla berhasil turun. Kakinya sedikit lecet, tapi ia tidak peduli. Ia berlari menuju gerbang rumah, namun satpam di depan sudah dipesan oleh Riana untuk tidak membiarkannya keluar.
Keyla tidak punya pilihan. Ia merogoh ponselnya. Hanya satu nama yang terlintas di kepalanya. Bukan ayahnya, bukan Rena, tapi pria yang menjadi alasannya berjuang.
Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua diangkat pada nada terakhir.
"Halo?" suara berat Arlan terdengar.
"Om... tolongin aku," suara Keyla bergetar, hampir menangis.
Arlan terdiam sejenak. "Keyla? Ada apa? Suaramu kenapa?"
"Aku dikunciin di rumah sama Mama tiriku. Aku ada ujian hari ini, Om. Satpam di gerbang nggak kasih aku lewat. Aku nggak tau harus minta tolong siapa lagi. Papa nggak angkat telepon..."
"Dengar, tarik napas dalam-dalam," suara Arlan mendadak berubah menjadi sangat tenang dan memerintah. "Jangan lakukan hal konyol seperti melompati pagar tinggi itu. Kamu bisa terluka."
"Tapi ujiannya..."
"Tunggu di sana. Lima menit."
Panggilan telepon berakhir begitu saja. Keyla terpaku. Apa maksudnya lima menit? Apakah Arlan akan datang? Mustahil, kantornya jauh dari sini.
Namun, tepat tujuh menit kemudian, sebuah mobil hitam yang sangat familiar berhenti di depan gerbang rumah Keyla. Bukan Rolls Royce, melainkan sebuah SUV mewah yang lebih lincah. Pak Maman turun dari mobil itu dan berbicara dengan satpam rumah Keyla dengan nada yang sangat tegas, bahkan sempat menunjukkan sebuah kartu identitas yang membuat satpam itu ciut.
"Neng Keyla! Ayo naik!" seru Pak Maman sambil membuka gerbang.
Keyla berlari secepat kilat, masuk ke dalam mobil. Di kursi belakang, ia tidak menemukan Arlan. Hanya ada sebuah ponsel yang tergeletak dengan layar menyala.
Keyla mengambil ponsel itu. Wajah Arlan muncul di sana.
"Om Arlan?"
"Maman akan mengantarmu dengan kecepatan maksimal. Pakai sabuk pengamanmu," ucap Arlan lewat layar. "Dan jangan menangis. Wajahmu berantakan kalau menangis."
Keyla menghapus air matanya dengan kasar, lalu tersenyum lebar. "Om... Om beneran nolongin aku?"
"Aku hanya tidak ingin punya alasan untuk membatalkan janji makan malam itu karena kamu tidak lulus," jawab Arlan datar, namun Keyla bisa melihat sorot mata yang sedikit lebih lunak. "Sekarang, fokus pada soal ujianmu. Jangan pikirkan wanita itu dulu."
"Makasih, Om. Sumpah, Om Arlan itu pahlawan paling ganteng sedunia!"
"Berhenti memuji dan mulai belajar materi terakhir di mobil. Maman, jalan."
"Siap, Tuan Arlan!" ucap Pak Maman, yang langsung menginjak gas.
Selama perjalanan, Keyla merasa jantungnya seperti mau copot. Bukan karena takut telat, tapi karena Arlan tetap membiarkan panggilan video itu menyala. Pria itu tetap bekerja di mejanya, namun sesekali ia melirik ke layar untuk memastikan Keyla baik-baik saja.
"Om, kok nggak dimatiin teleponnya?" tanya Keyla pelan.
"Biar kamu nggak bawel dan ganggu Maman nyetir," jawab Arlan tanpa menoleh dari berkasnya.
Keyla tau itu hanya alasan. Arlan sedang menjaganya. Arlan sedang menemaninya melewati masa krisisnya.
Sesampainya di gerbang sekolah pukul 07.25, Keyla segera keluar dari mobil. Ia membawa ponsel itu bersamanya sebentar.
"Om! Aku masuk dulu ya! Doain aku!"
"Kerjakan dengan teliti. Jangan ceroboh," pesan Arlan. "Dan Keyla..."
"Ya?"
"Semangat."
Kata sederhana itu terasa lebih bertenaga daripada seribu mantra bagi Keyla. Ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Pak Maman, lalu berlari masuk ke dalam sekolah dengan semangat yang membara.
Di kantornya, Arlan menutup laptopnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, seraya menatap langit-langit ruangannya. Ia baru saja menggunakan pengaruhnya untuk urusan bocah SMA. Hal yang sangat tidak profesional.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan?"