NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:778
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota yang Lebih Luas

Malam itu, kafe sudah tutup, tetapi Alvaro dan Aurellia tidak terburu-buru untuk pulang. Lampu-lampu penerangan jalan mulai menyala, memantulkan dirinya di trotoar yang masih lembab akibat hujan sore. Bau aspal yang basah berpadu dengan aroma kopi dari kafe tempat mereka baru saja berada, menciptakan suasana yang hangat dan anehnya menenangkan.

“Kamu yakin nggak capek? ” tanya Alvaro sembari mengangkat ransel kameranya. Biasanya, ia tidak memilih untuk berjalan kaki di malam hari, terutama setelah seharian memotret.

“Capek sih, tapi nggak masalah. Mending jalan kaki daripada naik motor sendirian,” jawab Aurellia dengan santai. Ia menyesuaikan langkahnya agar sejajar dengan Alvaro, tidak ingin tertinggal.

Alvaro meliriknya sejenak. “Kamu selalu jalan sambil ngobrol kayak gini. Aku masih perlu ngatur napas. ”

Aurellia tertawa. “Ah, Var… tiap kali jalan kaki sama kamu rasanya begitu santai. Aku suka ngobrol tanpa buru-buru. ”

Mereka turun dari jalan utama kota, lalu belok ke gang kecil yang sedikit sepi. Lampu jalan terpacak jauh, tetapi cukup menerangi trotoar yang basah. Malam itu, suasana kota terasa ramah, kontras dengan siang yang kadang hiruk-pikuk. Orang-orang hanya melintas, kadang sebuah sepeda motor muncul, tetapi tidak ada yang terlalu dekat untuk mengganggu momen mereka.

“Eh, aku penasaran,” ucap Aurellia tiba-tiba, “kamu sering jalan malam sendirian, ya? ”

“Kadang,” jawab Alvaro singkat. “Tapi nggak sering. Biasanya aku motret, tapi malam kayak gini lebih milih sendiri. ”

Aurellia menoleh ke arahnya. “Kesepian sih, kalo sendirian, ya? ”

Alvaro tersenyum tipis. “Nggak juga. Kadang justru bikin hati seneng, bisa leluasa motret tanpa gangguan. ”

Mereka berjalan dalam diam sejenak. Aurellia memandangi lampu yang memantul di genangan air. Pantulan itu mengingatkannya pada sore di kafe. Alvaro yang tertawa ceria, Roni yang selalu usil, dan dirinya yang merasa sangat nyaman untuk pertama kalinya.

“Tau nggak,” kata Aurellia sambil menatap Alvaro, “kadang aku bingung kenapa selalu nunggu kamu dateng ke kafe. Rasanya… nggak cuma karena kopi. ”

Alvaro berhenti sejenak, menatapnya. “Oh? Kenapa, dong? ”

Aurellia menunduk, sedikit canggung. “Aku juga nggak paham. Rasanya kayak… kamu ada di sana, tapi nggak terlalu deket sampe aku ngerasa repot. Cukup buat aku bahagia. ”

Alvaro tersenyum. Ia menepuk ringan bahu Aurellia. “Aku juga ngerasain hal yang sama. Kadang aku nggak paham kenapa aku pengen terus ngobrol sama kamu, tapi… itu nyaman banget kok. ”

Percakapan mereka terus mengalir ringan—tentang kafe, hujan, jalanan yang basah, serta musik yang mereka dengarkan masing-masing. Aurellia sering kali menyenggol bahu Alvaro, kadang tertawa sendiri. Alvaro kadang menatapnya dalam diam, seolah ingin menyimpan semua detail itu dalam ingatannya.

“Eh, besok kita ketemu jam yang sama? ” tanya Alvaro setelah mereka melewati lampu persimpangan yang hangat.

Aurellia mengangguk. “Iya. Jam yang sama. Aku nggak mau telat. ”

Alvaro tersenyum. “Aku juga. ”

Mereka melanjutkan perjalanan. Aurellia memperhatikan cara Alvaro mengangkat ranselnya, langkah kakinya yang perlahan, dan matanya yang sesekali mengamati jalan yang akan mereka lalui. Semuanya tampak biasa, tetapi di matanya, itu semua terasa berbeda. Nyata. Dekat. Aman.

Tiba-tiba, Aurellia menoleh ke kanan, melihat gang kecil yang biasanya sepi. “Eh, kita coba ke situ tidak? ” tanyanya setengah bercanda.

Alvaro mengangkat alisnya. “Gang? Malam-malam? ”

“Tenang aja, aku cuma pengen ngeliat jalan lain,” kata Aurellia sambil tersenyum nakal.

Alvaro menghembuskan napas dalam-dalam. “Okee, tapi jangan kalo jika tiba-tiba gelap. ”

Mereka berjalan turun di jalur sempit itu, dan suasana terasa lebih tenang. Lampu-lampu tampak lebih redup, tetapi cukup untuk menciptakan bayangan panjang di trotoar. Aurellia menikmati sensasi tersebut—ada jarak yang aman, namun tetap terasa dekat. Tanpa dia sadari, tangan Aurellia menyentuh lengan Alvaro sejenak saat mereka melewati genangan air kecil. Tidak terlalu lama, tetapi cukup untuk membuat Alvaro memandangnya.

“Ada apa? ” tanya Alvaro.

“Nggak ada,” jawab Aurellia cepat. “Aku cuma… hati-hati aja. ”

Alvaro tersenyum kecil, diam, namun hatinya berpenuh kehangatan. Mereka melanjutkan langkah, percakapan kembali ringan, tetapi terasa ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kedekatan yang perlahan tumbuh, lembut, namun autentik.

“Kalo kota ini sebuah buku,” kata Aurellia tiba-tiba, “aku pengen kita baca sama-sama. ”

Alvaro menatapnya. “Oh, itu kedengerannya… romantis. ”

Aurellia tersenyum. “Bukan, maksudku… melakukan perjalanan ini bareng. Ngeliat hal-hal yang biasanya nggak kita lihat. ”

Alvaro tersenyum. “Okee. Aku bakal ikut. ”

Mereka terus bergerak. Kota yang lebih luas, jalan yang sepi tetapi bersahabat, membuat setiap langkah terasa ringan. Ada rasa aman di sana—meskipun hanya sementara—dan mereka berdua menyadari: ini bukan malam biasa. Ini adalah malam di mana dunia terasa sedikit lebih besar, dan hati mereka terasa sedikit lebih dekat.

Walaupun belum ada yang terucap, Aurellia sudah merasakan satu hal: dia ingin malam seperti ini selalu ada, dengan Alvaro di sampingnya. Tanpa perlu diumumkan, tanpa perlu paksaan, sudah cukup rasanya untuk perlahan menumbuhkan perasaan.

Malam itu, sesaat setelah mereka berpisah di ujung jalan, Aurellia melangkah masuk ke rumah dengan hati-hati. Ia menutup pintu tanpa membuat suara berlebihan, melepas sepatunya, dan bersandar sejenak pada daun pintu. Jantungnya masih berdetak hangat, seolah obrolan yang belum tuntas masih mengisi pikirannya meski mereka telah berpisah.

“Kenapa aku ngomong kayak gitu…” bisiknya pelan.

Dalam perjalanan pulang sebelumnya, secara impulsif, tanpa berpikir lama, ucapan itu muncul begitu saja dari mulutnya. “maksudku… melakukan perjalanan ini bareng. Ngeliat hal-hal yang biasanya nggak kita lihat. ” Kalimat yang terlihat sederhana, tetapi sudah cukup membuat kepalanya bergetar antara rasa panas dan dingin saat ia mengingatnya.

Aurellia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bahkan tidak yakin dari mana asal keberanian tersebut. Biasanya, ia adalah orang yang menunggu, yang menahan diri, dan membiarkan waktu melakukan segala hal. Namun, malam itu—entah mengapa—ia tidak ingin waktu bergerak sendirian.

Ia melangkah menuju kamarnya, duduk di tepi tempat tidur, dan menatap kosong pada dinding. Ada campuran rasa terkejut dan senang. Ternyata aku mampu ungkapin pendapat sejauh itu, pikirnya. Dan yang lebih mengejutkan—Alvaro tidak menjauh.

Di tempat lain, Alvaro baru saja tiba di kosnya. Ia meletakkan tasnya sembarangan, duduk di kursi dekat jendela, dan tertawa kecil sendiri.

“Gila… barusan itu beneran terjadi, kan? ” ucapnya pelan.

Ia mengingat ekspresi wajah Aurellia saat mengucapkan itu. Tidak berlebihan. Tidak dramatis. Justru terlihat tenang, tulus, dan apa adanya. Dan entah kenapa, hal itu membuatnya sangat gugup.

Sudah lama sekali Alvaro tidak berada dalam keadaan di mana seorang perempuan lebih dulu menunjukkan ketertarikan. Biasanya, dialah yang mengatur jarak dan menjaga diri. Namun kali ini, ia justru merasa kikuk, bingung tentang seberapa jauh harus melangkah.

“Seharusnya aku yang ngomong duluan,” bisiknya, sedikit menyesal.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit. Ada rasa malu, tetapi bukan yang tidak nyaman. Melainkan semacam malu karena merasa diperhatikan lagi, merasa diinginkan lagi, setelah sekian lama ia percaya bahwa dirinya sudah merasa nyaman sendiri.

Alvaro membaringkan diri di tempat tidurnya, menatap plafon. Aurellia tidak memaksa, pikirnya. Dia hanya jujur. Dan justru kejujuran itulah yang membuat dadanya terasa penuh.

Malam itu, tanpa ada pesan atau percakapan lanjutan, kedua orang yang berada di tempat yang berbeda terjaga lebih lama dari biasanya. Dengan satu pemikiran yang sama: bahwa ada sesuatu yang perlahan berubah—dan untuk pertama kalinya, perubahan itu tidak terasa menakutkan.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!