Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ENAM: KEPASRAHAN KELINCI
Ciuman Orion menyambar bibir Seraphina seperti badai yang menghancurkan segala pertahanan. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya tuntutan murni dan klaim yang brutal dari seorang pria yang terbiasa memiliki dunia di bawah kakinya. Lidahnya yang panas memaksa masuk, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Seraphina dengan cara yang sangat mendominasi. Seraphina bisa merasakan sisa rasa scotch yang pahit dan maskulinitas liar yang menguar dari napas pria itu. Kepalanya terasa pening, pasokan oksigen di paru-parunya seolah menipis setiap kali Orion menghisap bibirnya dengan rakus.
Tangan Orion yang besar dan kuat melingkari pinggang Seraphina dengan cengkeraman yang nyaris membuat tulang rusuknya terasa sesak. Tubuh mungil Seraphina terangkat, menempel sempurna pada dada bidang Orion yang keras seperti baja. Di balik kain pakaian mereka, Seraphina bisa merasakan ketegangan luar biasa dari tubuh bagian bawah Orion yang kini menekan perutnya dengan cara yang sangat mengintimidasi. Panas menjalar ke seluruh saraf Seraphina, membuat kesadarannya perlahan limbung dalam kabut gairah dan ketakutan yang bercampur aduk.
"Milikku," Orion bergumam di sela ciumannya yang kasar. Suaranya terdengar seperti geraman rendah dari dasar tenggorokan. Bibirnya bergerak turun, meninggalkan jejak panas di dagu Seraphina sebelum beralih ke leher jenjang gadis itu yang seputih salju. "Jalang kecilku. Akhirnya aku mendapatkanmu di tempat yang seharusnya."
Seraphina meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangan kecilnya mendorong dada Orion, namun itu seperti mencoba merobohkan gunung batu. Ia merasa terjebak, tidak berdaya di bawah dominasi mutlak sang predator yang kini sedang mengulitinya dengan tatapan lapar. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama yang tak beraturan.
"Tolong, Orion... lepaskan aku," bisik Seraphina dengan suara yang bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.
Namun, Orion seolah tuli terhadap permohonan itu. Saat bibirnya menghisap kulit leher Seraphina dengan kekuatan yang menyakitkan namun mendebarkan, tubuh gadis itu justru bergetar hebat. Sensasi aneh menjalari setiap sarafnya, sebuah rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan terlarang yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Orion menghisap kulitnya dengan rakus, meninggalkan tanda merah keunguan yang mencolok di sana. Sebuah cupang. Sebuah cap kepemilikan yang akan memberitahu dunia bahwa Seraphina telah diklaim.
"Aku sudah kehilangan akal sehatku, Seraphina," Orion berbisik tepat di telinga gadis itu, suaranya serak dan berat oleh birahi yang sudah mencapai puncaknya. "Tubuhku sudah terlalu lama menunggumu. Jangan pernah berpikir untuk membuatku menunggu lebih lama lagi."
Tanpa peringatan, tangan Orion bergerak dengan sangat luwes. Satu tangannya menahan pinggang Seraphina, sementara tangan yang lain meluncur ke bawah, meremas bagian belakang tubuh Seraphina dengan cara yang sangat posesif. Ia meremasnya, memijat daging kenyal itu di balik gaun sutranya, seolah sedang memastikan bahwa setiap jengkal tubuh gadis itu adalah properti miliknya.
"Mmpphh!" Sebuah erangan tertahan keluar dari tenggorokan Seraphina. Malu, takut, dan rasa geli yang aneh membanjiri dirinya. Ia tidak pernah disentuh seperti ini. Pikirannya berteriak untuk lari, namun tubuhnya terasa lumpuh oleh pesona gelap pria di hadapannya.
"Kau sangat sempurna, kelinci," Orion terkekeh pelan, sebuah tawa gelap yang mengirimkan sensasi dingin ke tulang belakang Seraphina. "Aku bisa membayangkan bagaimana indah lukisan yang akan tercipta saat aku menghantam mu dari belakang nanti."
Tangan Orion kembali bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia mengangkat ujung gaun sutra Seraphina, menyingkap paha putih mulus gadis itu ke udara dingin kamar. Jemari panjangnya yang kasar menyentuh kulit paha bagian dalam Seraphina yang sangat sensitif. Seraphina menggigil hebat, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Jangan... aku mohon, jangan lakukan ini," Seraphina memohon, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan kamar.
"Shh," Orion membantah dengan suara rendah, bibirnya kembali menyerang leher Seraphina dengan ganas. "Ini bukan tentang penolakan, cantik. Ini tentang bagaimana kau akan belajar menikmati setiap rasa sakit yang kuberikan padamu."
Jemari Orion terus bergerak naik, membelai kulit halus Seraphina dengan penuh perhitungan. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang membakar jalan menuju pusat kewanitaan Seraphina. Gadis itu menggigil, kakinya terasa lemas, namun ia tidak bisa bergerak untuk menjauh. Seolah-olah aura Orion telah mengikatnya dalam jaring laba-laba yang tak terlihat.
Di dalam pikirannya, Orion sudah kehilangan kendali. Ia bisa mencium aroma kepolosan yang begitu murni dari Seraphina, aroma yang memicu insting gila nya untuk merusak dan mendominasi. Ia ingin melihat bagaimana wajah suci itu berubah saat ia memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan gadis itu sebelumnya. Ia ingin Seraphina menjeritkan namanya sampai suaranya habis.
Jemari Orion akhirnya tiba di perbatasan yang paling intim. Ia merasakan kehangatan yang lembap dari balik kain tipis yang masih melindungi Seraphina. Tanpa ragu, ibu jarinya menekan lembut bagian paling sensitif dari gadis itu, memberikan tekanan yang membuat Seraphina terkesiap dan melengkungkan tubuhnya secara refleks.
"Kau sudah basah," Orion bergumam dengan nada kemenangan yang kental. "Tubuhmu jauh lebih jujur daripada bibirmu yang terus memohon itu, bukan? Kau sudah siap menyambutku."
Tangan Orion yang lain kini beralih ke bagian dada Seraphina. Ia meremasnya melalui kain gaun, merasakan detak jantung Seraphina yang berpacu tepat di bawah telapak tangannya. Seraphina merintih, kepalanya mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar yang mewah dengan pandangan yang mulai kabur oleh air mata dan gairah.
"Ini adalah bagian favoritku," desis Orion. Ia meraba puting mungil Seraphina yang kini telah menegang di balik kain. Ia memutarnya, menariknya dengan lembut namun tegas menggunakan ibu jari dan telunjuknya.
"Ah!" Seraphina menjerit pelan, tubuhnya kejang karena gelombang sensasi yang menghujam pusat sarafnya. Ini terlalu kuat. Ia merasa dunianya sedang berputar hebat.
"Sangat indah," Orion mengagumi reaksi tersebut. "Putingmu merespons sentuhanku dengan sangat baik. Aku akan menghisapnya sampai kau tidak bisa lagi menyebutkan namamu sendiri."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphina untuk bernapas, Orion mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Seraphina yang sudah lemas hanya bisa melingkarkan lengannya di leher Orion, mencari pegangan di tengah badai yang melanda dirinya. Orion melangkah menuju ranjang king size yang dilapisi seprai hitam elegan di tengah ruangan.
Ia menjatuhkan Seraphina ke atas kasur yang empuk dengan gerakan yang tegas. Gaun sutra itu tersingkap berantakan, memperlihatkan paha dan sebagian pinggul Seraphina. Orion segera merangkak di atasnya, mengurung tubuh Seraphina di bawah bayangannya yang besar. Matanya membara, menatap Seraphina dengan intensitas yang sanggup membakar siapa pun.
"Sekarang, kau adalah kelinciku yang terjebak di dalam lubang serigala," Orion berbisik dengan nada yang penuh janji kegelapan. "Dan aku akan memburumu sampai kau benar-benar tidak bisa lagi mengenal dunia luar."
Dengan satu gerakan cepat, Orion menarik pakaian bawah Seraphina hingga terlepas sepenuhnya. Kepolosan Seraphina kini terekspos secara brutal di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Klitorisnya yang mungil dan bibir kewanitaannya yang masih tertutup rapat seolah memohon untuk tidak diganggu, namun Orion tidak mengenal kata kasihan.
"Sempurna," Orion mendesis dengan suara parau. "Ini jauh lebih indah dari apa yang aku bayangkan."
Ia segera menanggalkan celananya sendiri, membebaskan miliknya yang sudah menegang hebat dan tampak begitu mengerikan bagi mata Seraphina yang masih suci. Ukurannya yang besar dan urat-urat yang menonjol membuat Seraphina gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa organ pria bisa terlihat seintimidasi itu.
"Apa... apa itu..." Seraphina tergagap, air matanya kini mengalir deras membasahi bantal.
"Ini adalah hukuman sekaligus hadiahmu malam ini," Orion berkata dengan suara kejam namun penuh gairah. Ia meraih paha Seraphina, membukanya lebar-lebar hingga memberikan akses penuh ke arah inti tubuh gadis itu.
"Aku akan masuk ke dalam dirimu sekarang, Seraphina," Orion berbisik tepat di depan wajah Seraphina. "Aku akan memastikan kau merasakan setiap inci dari ukuranku. Kau akan merasakannya merobek pertahananmu, memenuhi rahimmu, dan membuatmu lupa akan arti kata kesucian. Kau akan mendesah, kau akan mencakar punggungku, dan kau akan memohon agar aku tidak pernah berhenti."
Ia menempelkan ujung miliknya yang panas ke bibir kewanitaan Seraphina. Gadis itu merasakan sensasi panas yang luar biasa, seolah ada besi panas yang menyentuh kulitnya yang paling lembut. Ia merinding, seluruh tubuhnya menegang seperti busur panah yang siap melesat.
"Aku takut... tolong, jangan..." tangis Seraphina pecah.
"Takutlah, kelinci kecil. Karena rasa takutmu akan membuat dindingmu menjepitku dengan lebih nikmat," jawab Orion dengan seringai haus darah. "Aku akan menghancurkanmu malam ini, lalu aku akan membangunmu kembali sebagai tawananku yang paling setia."
Dan dengan satu dorongan yang penuh tenaga dan tanpa ampun, Orion menekan masuk, menembus lapisan terakhir yang melindungi kehormatan Seraphina. Jeritan memilukan pecah di dalam kamar yang sunyi itu, menandai berakhirnya masa polos Seraphina Elara Purnama.