NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:184k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penampilan Hana yang berbeda

Di sebuah apartemen mewah yang menjadi tempat persembunyiannya, Nyonya Inggit mondar-mandir dengan gelisah. Sudah dua hari ia berada di Jakarta setelah "diasingkan" oleh suaminya sendiri, Pak Ardiwinata, dan putra kandungnya, Cakra. Harga dirinya hancur, namun api dendam di hatinya justru semakin berkobar.

Ting!

Sebuah notifikasi masuk. Begitu membuka foto kiriman Jesika, napas Nyonya Inggit seolah terhenti. Tangannya gemetar hebat memegang ponsel.

"Ya ampun... anak ini," bisiknya dengan mata membelalak. "Wajahnya, sorot matanya... dia begitu mirip dengan Cakra sewaktu kecil!"

Ia terduduk lemas di sofa, namun sedetik kemudian seringai licik muncul di bibirnya. "Aku harus bisa merebut anak ini dari tangan wanita kampungan itu. Tapi... aku belum berani bertemu Cakra dan Mas Ardi sekarang. Mereka pasti masih murka padaku."

Ia meremas ponselnya kuat-kuat. "Sebaiknya aku tunggu Jesika pulang. Aku harus mengatur rencana dan strategi agar bisa kembali ke rumah itu. Dan harapan satu-satunya adalah bocah laki-laki ini. Cucuku! Darah daging keluarga Ardiwinata tidak boleh jatuh ke tangan sembarang pria!" batinnya mantap.

.

.

Sementara itu, di parkiran Mal, El benar-benar membawa pulang satu kotak pizza ukuran jumbo sesuai janji Tama. Wajah bocah itu memerah saking senangnya.

"El, kamu yakin masih sanggup makan pizza sebanyak itu di rumah nanti?" tanya Hana sambil membukakan pintu belakang mobil untuk putranya.

"Sanggup dong, Bunda! El kan butuh tenaga buat jadi kuat!" jawabnya dengan cengiran lebar sebelum melompat masuk ke dalam.

Hana hanya bisa menggelengkan kepala, lalu ia duduk di jok depan, tepat di sebelah Tama. Mesin mobil menderu halus, membelah jalanan Jakarta yang mulai padat merayap. Tak butuh waktu lama bagi El untuk terlelap di kursi belakang, kelelahan setelah hari yang penuh emosi dan perut yang terlampau kenyang.

Suasana mobil mendadak hening, hanya menyisakan suara musik instrumental pelan dari radio. Tama melirik ke samping, melihat Hana yang tampak melamun menatap jalanan.

"Mulai besok, kau sudah bekerja di perusahaannya Papah, ya?" buka Tama memecah kesunyian.

Hana mengangguk pelan, jemarinya bertautan di atas pangkuan. "Iya, Mas. Tapi..." kalimatnya menggantung di udara, seolah ada beban berat yang menahan lidahnya.

"Tapi apa, Han?" tanya Tama lembut, nada suaranya menuntut kejujuran.

"Aku masih tidak menyangka dengan semua ini. Rasanya seperti mimpi, Mas. Dan... aku takut. Aku takut tidak bisa menjalankan amanah dari Papah dengan baik. Aku ini siapa? Aku hanya wanita dari kampung yang mendadak diberi kursi CEO," ucap Hana lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyentuh punggung tangan Hana. Tama menggenggam tangan wanita itu, mencoba menyalurkan keberanian yang ia miliki.

"Kamu tidak usah berkata seperti itu, Han. Aku yakin kau mampu menjalani semua ini. Apakah kau lupa dengan pesanku dulu?"

Hana menoleh, menatap profil samping wajah Tama yang tegas namun menenangkan. Kebetulan, jalanan di depan mereka sedang macet total. Tama ikut menoleh, membiarkan mata mereka bertemu dalam durasi yang cukup lama. Genggamannya semakin erat.

"Iya, Mas. Jika ada masalah apapun, aku pasti cerita sama Mas Tama. Dan Mas Tama akan selalu ada buat aku... iya kan?" tanya Hana, mencari kepastian.

Tama tersenyum tipis, sebuah senyum yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Hana. "Itu sebabnya kau harus bisa menjalani kehidupan barumu. Hana yang dulu telah bermetamorfosis menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian."

Kata-kata itu bekerja seperti keajaiban. Rasa sesak di dada Hana perlahan menguap, berganti dengan semangat baru yang ditiupkan oleh pria di sampingnya.

.

.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus jendela kamar Hana. Di depan cermin besar, Hana berdiri mematung. Ia mengenakan setelan kerja formal yang elegan, hijabnya tertata rapi, memberikan kesan profesional sekaligus berwibawa.

Namun, di balik penampilannya yang sempurna, tangannya masih terasa dingin.

"Kau bisa, Hana. Demi El, demi Papa, dan demi dirimu sendiri," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.

Ia menghela napas panjang, mencoba menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang bak genderang perang. Hari ini bukan lagi tentang mengurus dapur atau kebun di kampung. Hari ini adalah hari pertamanya memimpin ribuan orang di Global Energi.

Hana mengambil tasnya, melangkah keluar kamar dengan dagu tegak. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, ada banyak mata yang menunggu, baik yang ingin mendukungnya, maupun yang ingin menjatuhkannya.

Suara langkah kaki Hana di anak tangga lantai marmer itu terdengar berirama oleh langkah sepatu high heels nya, memecah keheningan pagi di kediaman Pak Sutoyo. Di ruang makan, Tama yang sedang menyesap kopi hitamnya mendadak terpaku. Cangkir di tangannya tertahan di udara, matanya tak berkedip menatap sosok yang sedang turun dengan anggunnya.

Hana tampak sangat berbeda. Ia mengenakan setelan kantor muslimah yang modis, perpaduan tunik satin berwarna dusty rose yang lembut dengan celana bahan berwarna putih tulang. Hijabnya tertata rapi, membingkai wajahnya yang dipoles makeup natural namun tegas. Kesan wanita kampung yang rapuh telah hilang, berganti dengan aura CEO yang elegan dan berkelas.

"Wah, Bunda cantik sekali! Aku dan Om Tama sampai tak berkedip loh!" goda El sambil tertawa kecil dari kursinya.

Sontak, Tama tersedak kopinya sendiri. Ia langsung salah tingkah, buru-buru meletakkan cangkir dan memijat tengkuknya yang mendadak terasa kaku. Wajah sang Polisi itu memerah, ia merutuki dirinya sendiri karena tertangkap basah sedang mengagumi Hana secara terang-terangan.

"Ehem... iya, maksud El... baju itu sangat cocok untukmu, Han," ujar Tama gugup, berusaha menjaga wibawanya meski tatapannya tetap sulit beralih.

Pak Sutoyo yang sudah rapi dengan setelan jas mahalnya hanya tersenyum simpul melihat interaksi itu. Beliau bangga melihat transformasi putrinya.

"Ayo Hana, duduklah. Setelah kita sarapan, kita segera berangkat ke kantor. Aku akan memperkenalkan mu dengan para pemimpin dan pemegang saham. Jangan takut, aku yakin mereka akan sangat menyukaimu karena kecerdasanmu, bukan hanya penampilanmu," ucap Pak Sutoyo memberikan semangat.

Hana hanya bisa mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering karena gugup, namun dukungan dari ayahnya dan tatapan kagum dari Tama memberinya sedikit keberanian.

Selesai sarapan, suasana menjadi sedikit sibuk. Hari ini Tama berbagi tugas, ia yang akan mengantarkan El ke sekolah karena Pak Sutoyo dan Hana harus tiba lebih awal di kantor Global Energi.

"Sudah siap, El? Bunga anggreknya jangan sampai ketinggalan," tanya Tama sambil membantu El memakai tas ranselnya.

El mengangguk antusias. Di tangannya, ia memeluk sebuah pot keramik berisi bunga anggrek bulan berwarna putih yang mekar dengan indahnya. "Sudah, Om! Ini bunga paling cantik di taman Kakek. Pasti Axel dan Bu Guru suka!"

Hana menghampiri putranya, berjongkok untuk mencium kening El. "Hati-hati di sekolah ya, sayang. Nurut sama Om Tama."

"Siap, Bunda CEO!" seru El dengan gaya hormat yang menggemaskan, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

Tama menatap Hana sejenak sebelum berpamitan. "Semangat untuk hari pertamamu, Han. Fokus saja pada pekerjaan, urusan El biar aku yang jaga. Aku akan menjemputnya tepat waktu."

"Terima kasih, Mas," jawab Hana tulus.

Mobil Pak Sutoyo pun meluncur meninggalkan halaman rumah, membawa Hana menuju tantangan terbesarnya di gedung pencakar langit Jakarta. Sementara itu, Tama menuntun El menuju mobil dinasnya.

"Om Tama, kenapa tadi Om melihat Bunda lama sekali? Seperti melihat hantu ya?" tanya El polos saat mereka mulai berjalan.

Tama terkekeh sambil mengacak rambut El. "Bukan hantu, El. Om cuma kaget saja... ternyata Bundamu itu kalau dandan seperti bidadari."

"Hahaha, Om Tama naksir Bunda ya?"

Tama terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa menjawab, fokus memacu mobilnya menuju sekolah elit tempat El menuntut ilmu.

Bersambung...

1
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Teh Euis Tea
mudah2an persahabatan el dan ghazi sampe dewasa ya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: mantap 👍😁
total 7 replies
Patrick Khan
mewek liat pertemanan gizi dan El😭😭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: dimaafkan akak 🤣🤭
total 3 replies
Dessy Lisberita
dari pada di bawa ke mantan lebih baik ikut papa kandung mu hana
Dessy Lisberita
hah ternyata ya Thoor 🤣ana dan tama bukan adik kaka legah semoga mereka berjodoh🤣🤣
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Dessy Lisberita
coba ga adik kakak dngan tama ya Thoor jadi ya pdkt gitu jngan balik sama mantan thoor
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 🤭
total 1 replies
Dessy Lisberita
suka yg timur Tengah ad bewoknya🤣🤣🙏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: beda selera ya kak 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
cakra semoga km mencintai ratna ya, dan berubah ke yg lebih baik
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: aamiin 😊
total 1 replies
Nar Sih
semoga setelah kmu bebas dri hukuman mu bisa jdi orang yg lebih baik lgi dan hidup bahagia besama ratna juga ank kalian ya cakra
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: Aamiin 😊
total 1 replies
Patrick Khan
salut sm pertemanan gizi dan El..🤗🤗🤗
Patrick Khan: 😂😂😂😂😂😂😂
total 2 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu dan rezeki nomplok ya kak ros ,puas,,deh mkn coklat catbury dri el ganteng😂☺️
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: mantap kak 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
neny
udh lunas ya ka ros utang coklat el,,adan el pun sdh bertemu dengan ayah nya,,dan tau knp ibu nya sm ayah nya tdk hidup bersama,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 😊
total 1 replies
Rusmini Mini
ku kira Ghazi sepantaran dgn El ternyata masih kecil... kak Ros manis... aq suka visualnya produk dlm negri /Heart//Heart/
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: ghazi seumuran kak sama El, cuma badan El bongsor kak 🤣
total 1 replies
Rusmini Mini
gantengnya El /Sneer//Sneer//Sneer/
Teh Euis Tea
dulu kan di el nyamar jd ditektif dgn bayaran coklat, nah sekarang baru bayar hutang😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
ria rosiana dewi tyastuti
tempat buyut di desa bangorejo👍...... jd kangen bwi 👍
salam laros mania
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: salam juga kak 😊
total 1 replies
neny
🥰😍😘🤍
Larasati
akhirnya El bisa main ke kampung halaman bisa bayar coklat ke KA ros🥰🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak 🤭
total 1 replies
Anonymous
lah gini doang? mana tersiksa nya? mana rasa sakit nya?? enak doang langsung kawin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!