NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:38.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penampilan Hana yang berbeda

Di sebuah apartemen mewah yang menjadi tempat persembunyiannya, Nyonya Inggit mondar-mandir dengan gelisah. Sudah dua hari ia berada di Jakarta setelah "diasingkan" oleh suaminya sendiri, Pak Ardiwinata, dan putra kandungnya, Cakra. Harga dirinya hancur, namun api dendam di hatinya justru semakin berkobar.

Ting!

Sebuah notifikasi masuk. Begitu membuka foto kiriman Jesika, napas Nyonya Inggit seolah terhenti. Tangannya gemetar hebat memegang ponsel.

"Ya ampun... anak ini," bisiknya dengan mata membelalak. "Wajahnya, sorot matanya... dia begitu mirip dengan Cakra sewaktu kecil!"

Ia terduduk lemas di sofa, namun sedetik kemudian seringai licik muncul di bibirnya. "Aku harus bisa merebut anak ini dari tangan wanita kampungan itu. Tapi... aku belum berani bertemu Cakra dan Mas Ardi sekarang. Mereka pasti masih murka padaku."

Ia meremas ponselnya kuat-kuat. "Sebaiknya aku tunggu Jesika pulang. Aku harus mengatur rencana dan strategi agar bisa kembali ke rumah itu. Dan harapan satu-satunya adalah bocah laki-laki ini. Cucuku! Darah daging keluarga Ardiwinata tidak boleh jatuh ke tangan sembarang pria!" batinnya mantap.

.

.

Sementara itu, di parkiran Mal, El benar-benar membawa pulang satu kotak pizza ukuran jumbo sesuai janji Tama. Wajah bocah itu memerah saking senangnya.

"El, kamu yakin masih sanggup makan pizza sebanyak itu di rumah nanti?" tanya Hana sambil membukakan pintu belakang mobil untuk putranya.

"Sanggup dong, Bunda! El kan butuh tenaga buat jadi kuat!" jawabnya dengan cengiran lebar sebelum melompat masuk ke dalam.

Hana hanya bisa menggelengkan kepala, lalu ia duduk di jok depan, tepat di sebelah Tama. Mesin mobil menderu halus, membelah jalanan Jakarta yang mulai padat merayap. Tak butuh waktu lama bagi El untuk terlelap di kursi belakang, kelelahan setelah hari yang penuh emosi dan perut yang terlampau kenyang.

Suasana mobil mendadak hening, hanya menyisakan suara musik instrumental pelan dari radio. Tama melirik ke samping, melihat Hana yang tampak melamun menatap jalanan.

"Mulai besok, kau sudah bekerja di perusahaannya Papah, ya?" buka Tama memecah kesunyian.

Hana mengangguk pelan, jemarinya bertautan di atas pangkuan. "Iya, Mas. Tapi..." kalimatnya menggantung di udara, seolah ada beban berat yang menahan lidahnya.

"Tapi apa, Han?" tanya Tama lembut, nada suaranya menuntut kejujuran.

"Aku masih tidak menyangka dengan semua ini. Rasanya seperti mimpi, Mas. Dan... aku takut. Aku takut tidak bisa menjalankan amanah dari Papah dengan baik. Aku ini siapa? Aku hanya wanita dari kampung yang mendadak diberi kursi CEO," ucap Hana lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyentuh punggung tangan Hana. Tama menggenggam tangan wanita itu, mencoba menyalurkan keberanian yang ia miliki.

"Kamu tidak usah berkata seperti itu, Han. Aku yakin kau mampu menjalani semua ini. Apakah kau lupa dengan pesanku dulu?"

Hana menoleh, menatap profil samping wajah Tama yang tegas namun menenangkan. Kebetulan, jalanan di depan mereka sedang macet total. Tama ikut menoleh, membiarkan mata mereka bertemu dalam durasi yang cukup lama. Genggamannya semakin erat.

"Iya, Mas. Jika ada masalah apapun, aku pasti cerita sama Mas Tama. Dan Mas Tama akan selalu ada buat aku... iya kan?" tanya Hana, mencari kepastian.

Tama tersenyum tipis, sebuah senyum yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Hana. "Itu sebabnya kau harus bisa menjalani kehidupan barumu. Hana yang dulu telah bermetamorfosis menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian."

Kata-kata itu bekerja seperti keajaiban. Rasa sesak di dada Hana perlahan menguap, berganti dengan semangat baru yang ditiupkan oleh pria di sampingnya.

.

.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus jendela kamar Hana. Di depan cermin besar, Hana berdiri mematung. Ia mengenakan setelan kerja formal yang elegan, hijabnya tertata rapi, memberikan kesan profesional sekaligus berwibawa.

Namun, di balik penampilannya yang sempurna, tangannya masih terasa dingin.

"Kau bisa, Hana. Demi El, demi Papa, dan demi dirimu sendiri," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.

Ia menghela napas panjang, mencoba menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang bak genderang perang. Hari ini bukan lagi tentang mengurus dapur atau kebun di kampung. Hari ini adalah hari pertamanya memimpin ribuan orang di Global Energi.

Hana mengambil tasnya, melangkah keluar kamar dengan dagu tegak. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, ada banyak mata yang menunggu, baik yang ingin mendukungnya, maupun yang ingin menjatuhkannya.

Suara langkah kaki Hana di anak tangga lantai marmer itu terdengar berirama oleh langkah sepatu high heels nya, memecah keheningan pagi di kediaman Pak Sutoyo. Di ruang makan, Tama yang sedang menyesap kopi hitamnya mendadak terpaku. Cangkir di tangannya tertahan di udara, matanya tak berkedip menatap sosok yang sedang turun dengan anggunnya.

Hana tampak sangat berbeda. Ia mengenakan setelan kantor muslimah yang modis, perpaduan tunik satin berwarna dusty rose yang lembut dengan celana bahan berwarna putih tulang. Hijabnya tertata rapi, membingkai wajahnya yang dipoles makeup natural namun tegas. Kesan wanita kampung yang rapuh telah hilang, berganti dengan aura CEO yang elegan dan berkelas.

"Wah, Bunda cantik sekali! Aku dan Om Tama sampai tak berkedip loh!" goda El sambil tertawa kecil dari kursinya.

Sontak, Tama tersedak kopinya sendiri. Ia langsung salah tingkah, buru-buru meletakkan cangkir dan memijat tengkuknya yang mendadak terasa kaku. Wajah sang Polisi itu memerah, ia merutuki dirinya sendiri karena tertangkap basah sedang mengagumi Hana secara terang-terangan.

"Ehem... iya, maksud El... baju itu sangat cocok untukmu, Han," ujar Tama gugup, berusaha menjaga wibawanya meski tatapannya tetap sulit beralih.

Pak Sutoyo yang sudah rapi dengan setelan jas mahalnya hanya tersenyum simpul melihat interaksi itu. Beliau bangga melihat transformasi putrinya.

"Ayo Hana, duduklah. Setelah kita sarapan, kita segera berangkat ke kantor. Aku akan memperkenalkan mu dengan para pemimpin dan pemegang saham. Jangan takut, aku yakin mereka akan sangat menyukaimu karena kecerdasanmu, bukan hanya penampilanmu," ucap Pak Sutoyo memberikan semangat.

Hana hanya bisa mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering karena gugup, namun dukungan dari ayahnya dan tatapan kagum dari Tama memberinya sedikit keberanian.

Selesai sarapan, suasana menjadi sedikit sibuk. Hari ini Tama berbagi tugas, ia yang akan mengantarkan El ke sekolah karena Pak Sutoyo dan Hana harus tiba lebih awal di kantor Global Energi.

"Sudah siap, El? Bunga anggreknya jangan sampai ketinggalan," tanya Tama sambil membantu El memakai tas ranselnya.

El mengangguk antusias. Di tangannya, ia memeluk sebuah pot keramik berisi bunga anggrek bulan berwarna putih yang mekar dengan indahnya. "Sudah, Om! Ini bunga paling cantik di taman Kakek. Pasti Axel dan Bu Guru suka!"

Hana menghampiri putranya, berjongkok untuk mencium kening El. "Hati-hati di sekolah ya, sayang. Nurut sama Om Tama."

"Siap, Bunda CEO!" seru El dengan gaya hormat yang menggemaskan, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

Tama menatap Hana sejenak sebelum berpamitan. "Semangat untuk hari pertamamu, Han. Fokus saja pada pekerjaan, urusan El biar aku yang jaga. Aku akan menjemputnya tepat waktu."

"Terima kasih, Mas," jawab Hana tulus.

Mobil Pak Sutoyo pun meluncur meninggalkan halaman rumah, membawa Hana menuju tantangan terbesarnya di gedung pencakar langit Jakarta. Sementara itu, Tama menuntun El menuju mobil dinasnya.

"Om Tama, kenapa tadi Om melihat Bunda lama sekali? Seperti melihat hantu ya?" tanya El polos saat mereka mulai berjalan.

Tama terkekeh sambil mengacak rambut El. "Bukan hantu, El. Om cuma kaget saja... ternyata Bundamu itu kalau dandan seperti bidadari."

"Hahaha, Om Tama naksir Bunda ya?"

Tama terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa menjawab, fokus memacu mobilnya menuju sekolah elit tempat El menuntut ilmu.

Bersambung...

1
neny
iya bener,,ini satu2 nya cara biar cakra tdk seenak nya sendiri,,itu bukan cinta,,tp obsesi,,klau cinta harus sabar menunggu maaf dr hana,,bkn mlaah melecehkan,,cinta dan benci beda nya tipis,,cakra berharap hana masih mencintai nya,tanpa sadar bahwa dia yg menorehkan luka yg paling dalam,,pengen tau apa yg dilakukan cakra klau hana menikah dng tama,,semangat akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak, yang namanya cinta itu tidak akan pernah menyakiti dan memaksakan kehendak
total 1 replies
Teh Euis Tea
gara2 nenek lampir sm lasmini nih jd tambah kacau🤭
Darti abdullah
luar biasa
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
lah kan nikah jg..
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Aghitsna Agis
dengN pasal oekecehan bisa duadukan kepolisi dan el kasih tahu apa yg tetjafi sebenarnya kenapa bundanya membeci ayah cakra biar ngerti el dari oada trs jetemu secara betsrmbunyi dan jgn sampai hana marah keleoasan trs jam tangannya segera ganti
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siap kak 👍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Cakra kamu ini bodoh yah? Hana itu bukan istri kamu lagi, kamu sudah melecehkan Hana, kalau sudah seperti ini, jangan salahkan pak Sutoyo akan membalas kamu dengna keras. kok ga ada yang sadar sih, El-barack komunikasi tiap hari dengan Cakra lewat smart watch?
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: belum ketahuan kak
total 1 replies
neny
tuh kan,,cinta itu bs berubah menjadi kebencian yg sangat besar,,penasaran,,pembalasan sakit hati apa yg akan di berikan hana kpd cakra,,lanjut akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍😊
total 1 replies
Dziyan
otak nya mak lampir bisa di keluarin aja ga sih thor, biar ga ada ide jahat melulu.. percuma punya otak klo isi nya unfaedah semua😒
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nunggu insaf dulu kak 😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
harus dibinasakan duo nenek lampir ga tau diri itu
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak🤣
total 1 replies
Patrick Khan
nenek lampir itu mw nya opo se.. aneh bgt gk jelas😒😒🔥🔪🔪🔪🔪
Patrick Khan: hahahaah🤣
total 4 replies
Patrick Khan
😖😖😖😖😖😖😖el hanya ingin ortunya utuh .. pikiran masih bocah.. sedangkan ortu nya dgn egonya sendiri2 karna terluka.. dah lah manut kak othor aja
Teh Euis Tea
menjelang bulan suci romadhon maaf lahir bathin ya thor sy suka becanda klu komen
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: sama kak, mohon maaf lahir dan batin juga 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
el masih ingat kak rose ya.. pasti kak Ros jg nunggu km tumben gk ke warnet😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: kejauhan warnetnya kak 🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
terlambat Cokro 🤣🤣Hana wes kaborrrrrrrr🤣
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betoolll 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Nar Sih
dasar duo lampir gk ada capek,jdi org jht ,semagatt hana💪
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: semangat 💪💪
total 1 replies
Nar Sih
ngk usah berandai andai cakra penyesal mu sdh ngk berguna😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
kalau situasinya begini jg bingung yah mau berpihak pada siapa smoga saja semuanya bisa baik baik saja kalau pun Tidka bisa bersama lagi setidaknya El bisa mendapatkan sosok ayah nya dan Hanna bisa hidup bahagia tanpa takut Cakra membawa El
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak 👍
total 1 replies
Sunaryati
Berjuanglah Putramu sayang kamu kamu dulu terlalu bodoh, menurut kata ibumu. Tugaskan beberapa orang untuk mengawasi ibumu, jangan sampai mencelakai putramu. Ny yang sombong kau kira mudah membawa El dia cerdik dan di bawah pengawasan berlapis, cucu mantan Abdi negara tapi juga bodoh seperti putramu.
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Ayunda
suka sama visualnya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!