NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: tamat
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:92.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Queen menatap Sean dengan dahi berkerut. Permintaan itu terdengar aneh. Bagaimana mungkin seorang anak kecil diminta mengajari orang dewasa tentang kehangatan?

Awalnya ia ragu.

Bagaimana jika ini hanya tipu daya lagi? Bagaimana jika Sean kembali berubah dan mengancam Luca? Namun, saat melihat sorot mata pamannya barusan, yang untuk pertama kalinya tampak lelah dan kosong, Queen merasakan sesuatu yang berbeda.

Mungkin ini adalah kesempatannya.

"Kalau Queen gagal, Paman tidak boleh marah," ucapnya hati-hati.

Sean mengangguk. "Aku tidak akan marah."

"Janji?"

"Hmm."

Queen terdiam beberapa detik. Ia menggigit bibir bawahnya dan mulai berpikir keras. Rumah hangat. Seperti dulu. Seperti yang samar-samar ia ingat sebelum semuanya berubah.

"Pertama," ucap Queen akhirnya, "Paman harus berhenti berteriak."

Sean mengernyit. "Hanya itu?" tanyanya. Ia terbiasa berteriak pada anak buahnya, jika harus berubah lembut, ia rasa tenggorokannya akan sangat gatal sekali.

"Itu penting!" balas Queen cepat. "Kalau Paman teriak, rumah ini jadi menakutkan. Queen tidak suka."

Sean terdiam. Ia tak pernah sadar suaranya yang keras bisa membuat suasana seburuk itu. Selama ini ia menganggap ketegasan adalah cara menjaga keadaan tetap terkendali.

"Baik," katanya singkat.

Queen mengangguk puas. Lalu ia menoleh ke sekitar kamar yang masih berantakan akibat keributan tadi.

"Kedua, kita harus bereskan kamar bersama."

Sean menatapnya tidak percaya. "Sekarang?"

"Iya. Rumah hangat itu bersih dan rapi. Kalau berantakan, jadi seperti kapal pecah," ujar Queen serius.

Selama hidupnya, Sean tidak pernah membereskan rumah. Karena itu adalah tugas pelayan. Lalu hari ini, Queen mematahkan semuanya.

"Tahan Sean, tahan! Demi mendapatkan kehangatan juga hati bocah ini kau harus melakukannya!" batinnya.

Tanpa banyak komentar, Sean bangkit perlahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melakukan sesuatu bukan karena target, bukan karena ambisi, bukan karena strategi, melainkan karena permintaan seorang anak kecil.

Mereka mulai membereskan kamar. Queen mengangkat buku-buku yang jatuh, sementara Sean menyusun kembali kursi yang terguling. Tak ada bentakan. Tak ada ancaman. Hanya suara langkah pelan dan napas yang mulai teratur.

Beberapa menit berlalu dan mereka berhasil membereskan semua kekacauan yang ada.

"Ketiga!" Queen kembali berucap. "Kita harus makan malam bersama."

"Kau selalu menolak makananan dariku!"

"Ya, itu karena Queen tidak terbiasa. Lagipula, Paman makan sendiri, bibi Hyera juga."

Ucapan itu seperti tamparan bagi Sean. Mereka memang belum terbiasa melakukannya selama ini. Sean bertemu Queen saat bocah ini masih bayi.

Rumah ini memang besar, tetapi setiap orang hidup di sudutnya masing-masing. Seolah-olah hanya berbagi atap, bukan kehidupan.

"Baik. Mulai malam ini, kita makan bersama di ruang makan," jawab Sean.

Queen tersenyum kecil. Senyum pertamanya hari itu.

"Dan tidak boleh pegang ponsel," tambahnya cepat.

Sean hampir saja protes, namun urung. "Baik."

Queen menatap pamannya, mencoba membaca apakah ia sungguh-sungguh. Untuk pertama kalinya, Sean tidak terlihat seperti pria ambisius yang menakutkan. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang tersesat.

"Keempat!" Queen melanjutkan dengan lebih percaya diri. "Paman harus sering tersenyum. Buang wajah datar paman yang mirip seperti kanebo kering itu."

Sean menghela napas tipis. "Itu sulit, bocah!"

"Queen tadi lihat Paman bisa senyum," balasnya polos.

Sean terdiam. Senyum rapuh yang tak sengaja tadi rupanya tertangkap oleh mata kecil itu.

"Baiklah. Aku akan mencobanya."

Queen mengangguk mantap, seolah ia adalah seorang pelatih kehidupan yang serius.

"Tapi kau juga harus berjanji sesuatu padaku," ucap Sean pelan.

"Apa?"

"Kalau ada yang mengganggumu, jangan simpan sendiri. Jangan langsung marah atau menjambak rambut orang."

Queen tersipu malu, menyadari tindakannya tadi.

"Queen cuma takut Luca kenapa-napa," gumamnya lirih.

Sean menatapnya lebih lembut dari biasanya. "Aku tidak akan menyentuh Luca. Aku hanya, khawatir kau terlalu bergantung padanya."

"Kalau rumah ini hangat, Queen tidak perlu terlalu bergantung," jawabnya jujur.

Kalimat itu membuat Sean kembali terdiam.

Malam itu, setelah sekian lama, meja makan benar-benar digunakan sebagaimana mestinya.

Hyera sempat terkejut melihat Sean duduk tanpa membawa berkas kerja. Ia bahkan hampir tersedak saat menyadari ponsel kakaknya diletakkan jauh dari jangkauan.

"Ada apa ini?" bisiknya pada Queen.

"Program kehangatan, Bibi!" jawab Queen dengan bangga.

Hyera menatap Sean penuh tanya, namun pria itu hanya berdeham kecil.

Makan malam berlangsung canggung di awal. Tidak ada yang tahu harus membicarakan apa. Queen memulai dengan cerita sederhana tentang sekolah, tentang teman yang menukar bekalnya, tentang guru yang salah menyebut namanya.

Ah, mengingat itu Queen jadi rindu sekolah. Entah sudah berapa lama ia tak bertemu para sahabatnya.

Queen memang menceritakan hal-hal kecil yang sama sekali tidak menarik di mata Sean.

Namun justru hal kecil itulah yang perlahan mengisi ruang kosong di rumah itu.

Hyera mulai ikut bercerita. Sean mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Sesekali ia menanggapi, walau masih kaku.

Tawa kecil pertama pecah ketika Queen menirukan gaya guru olahraganya yang terlalu dramatis. Bahkan Sean tak bisa menahan sudut bibirnya untuk tidak terangkat.

Hangat. Perasaan itu perlahan muncul, samar namun nyata.

Setelah makan, Queen menyeret Sean ke ruang keluarga.

"Kita harus nonton bersama," katanya.

"Apa?" Sean mengangkat alis.

"Film kartun. Itu aturan kelima."

Sean hampir tersedak. "Aku bukan anak kecil!"

"Ayolah, Paman bilang mau kehangatan, bukan?" rengek Queen. Ingin sekali ia muntah, melihat tingkahnya sendiri yang merengek pada pria seperti Sean.

Melihat sorot penuh harap di mata Queen, Sean pun akhirnya menyerah. Mereka duduk berdampingan di sofa.

"Ini demi bebas dari pria menyebalkan ini!" batin Queen sembari bersandar tanpa ragu di lengan Sean.

1
Ida Kurniasari
lah tiba tiba tamat thor
jenny
ini kemana ya kk author nya??
ditunggu kelanjutannya lhooo 🥺
jenny: jangaaaannn kak. .
semoga nanti malam dapat inspirasi ya kak. . 🙏🏿
total 2 replies
Tatiw
aneh bgt bukanya bersyukur d tolong ya mlh ngelunjak si queen
・゚・ Mitchi ・゚・
seriusan udh tamat ini kak,, kan blum gede Queen'y juga.. hiks
・゚・ Mitchi ・゚・: ih kaka mah,, aku bentar² liat kirain bakalan update, kok malah ga ada teruss. please lanjut kak
total 2 replies
Inez Putri
sebenernya bgus, tp buat tokoh alena/queen di buat emang umur 5thn,jd gak ngadi² pikirannya.
Dew666
💎💎💎💎💎
Tiara Bella
wow Queen hebat bs menenangakan Sean .
🇮🇹 25
where you go kaka mey? 😒
🇮🇹 25: penyemangat kaka mey 🌚🌚🌚
total 2 replies
Kinara Widya
siapa ya yg berhianat pada Sean...dia bilang orang terdekatnya.
Dede Maesaroh
hebat quen😍
Dian SAlfitrhee
💪💪
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
tinie
hadeeuu mode ngamuk si sean
untung queen cepet pulang,
Tiara Bella
bener dugaan Queen Sean pasti ngamuk mknya dia hrs ada dirmh Sean dl....
Kinara Widya
jodohin sama lili saja kak s perjaka tua ini(Sean)
Dian SAlfitrhee: GK ada season 2 nya Thor,?
total 2 replies
Dede Maesaroh
ayolah paman sean jangan ngamuk mulu nanti darah tinggi😁
comelciripa
leh q maraton moco rampung 🤭
comelciripa: cus....nyang sijine🤭
total 2 replies
Ita Xiaomi
Calon suami merangkap kakak jg😁
tinie
eeh kemarin bikin kaget saja, masaa belum kelar cerita udah selesai aja😔😔

lanjuuutt😁😁
tinie: ya media masih rame, dsini agak sepi
cuman bangun pagi dibangunin sama petasan,,
dibilang aman belum
masih waspada,, cuman agak sepi
total 4 replies
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
kenapa gak ngomong baik² kali aja dikasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!