Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Queen menatap Sean dengan dahi berkerut. Permintaan itu terdengar aneh. Bagaimana mungkin seorang anak kecil diminta mengajari orang dewasa tentang kehangatan?
Awalnya ia ragu.
Bagaimana jika ini hanya tipu daya lagi? Bagaimana jika Sean kembali berubah dan mengancam Luca? Namun, saat melihat sorot mata pamannya barusan, yang untuk pertama kalinya tampak lelah dan kosong, Queen merasakan sesuatu yang berbeda.
Mungkin ini adalah kesempatannya.
"Kalau Queen gagal, Paman tidak boleh marah," ucapnya hati-hati.
Sean mengangguk. "Aku tidak akan marah."
"Janji?"
"Hmm."
Queen terdiam beberapa detik. Ia menggigit bibir bawahnya dan mulai berpikir keras. Rumah hangat. Seperti dulu. Seperti yang samar-samar ia ingat sebelum semuanya berubah.
"Pertama," ucap Queen akhirnya, "Paman harus berhenti berteriak."
Sean mengernyit. "Hanya itu?" tanyanya. Ia terbiasa berteriak pada anak buahnya, jika harus berubah lembut, ia rasa tenggorokannya akan sangat gatal sekali.
"Itu penting!" balas Queen cepat. "Kalau Paman teriak, rumah ini jadi menakutkan. Queen tidak suka."
Sean terdiam. Ia tak pernah sadar suaranya yang keras bisa membuat suasana seburuk itu. Selama ini ia menganggap ketegasan adalah cara menjaga keadaan tetap terkendali.
"Baik," katanya singkat.
Queen mengangguk puas. Lalu ia menoleh ke sekitar kamar yang masih berantakan akibat keributan tadi.
"Kedua, kita harus bereskan kamar bersama."
Sean menatapnya tidak percaya. "Sekarang?"
"Iya. Rumah hangat itu bersih dan rapi. Kalau berantakan, jadi seperti kapal pecah," ujar Queen serius.
Selama hidupnya, Sean tidak pernah membereskan rumah. Karena itu adalah tugas pelayan. Lalu hari ini, Queen mematahkan semuanya.
"Tahan Sean, tahan! Demi mendapatkan kehangatan juga hati bocah ini kau harus melakukannya!" batinnya.
Tanpa banyak komentar, Sean bangkit perlahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melakukan sesuatu bukan karena target, bukan karena ambisi, bukan karena strategi, melainkan karena permintaan seorang anak kecil.
Mereka mulai membereskan kamar. Queen mengangkat buku-buku yang jatuh, sementara Sean menyusun kembali kursi yang terguling. Tak ada bentakan. Tak ada ancaman. Hanya suara langkah pelan dan napas yang mulai teratur.
Beberapa menit berlalu dan mereka berhasil membereskan semua kekacauan yang ada.
"Ketiga!" Queen kembali berucap. "Kita harus makan malam bersama."
"Kau selalu menolak makananan dariku!"
"Ya, itu karena Queen tidak terbiasa. Lagipula, Paman makan sendiri, bibi Hyera juga."
Ucapan itu seperti tamparan bagi Sean. Mereka memang belum terbiasa melakukannya selama ini. Sean bertemu Queen saat bocah ini masih bayi.
Rumah ini memang besar, tetapi setiap orang hidup di sudutnya masing-masing. Seolah-olah hanya berbagi atap, bukan kehidupan.
"Baik. Mulai malam ini, kita makan bersama di ruang makan," jawab Sean.
Queen tersenyum kecil. Senyum pertamanya hari itu.
"Dan tidak boleh pegang ponsel," tambahnya cepat.
Sean hampir saja protes, namun urung. "Baik."
Queen menatap pamannya, mencoba membaca apakah ia sungguh-sungguh. Untuk pertama kalinya, Sean tidak terlihat seperti pria ambisius yang menakutkan. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang tersesat.
"Keempat!" Queen melanjutkan dengan lebih percaya diri. "Paman harus sering tersenyum. Buang wajah datar paman yang mirip seperti kanebo kering itu."
Sean menghela napas tipis. "Itu sulit, bocah!"
"Queen tadi lihat Paman bisa senyum," balasnya polos.
Sean terdiam. Senyum rapuh yang tak sengaja tadi rupanya tertangkap oleh mata kecil itu.
"Baiklah. Aku akan mencobanya."
Queen mengangguk mantap, seolah ia adalah seorang pelatih kehidupan yang serius.
"Tapi kau juga harus berjanji sesuatu padaku," ucap Sean pelan.
"Apa?"
"Kalau ada yang mengganggumu, jangan simpan sendiri. Jangan langsung marah atau menjambak rambut orang."
Queen tersipu malu, menyadari tindakannya tadi.
"Queen cuma takut Luca kenapa-napa," gumamnya lirih.
Sean menatapnya lebih lembut dari biasanya. "Aku tidak akan menyentuh Luca. Aku hanya, khawatir kau terlalu bergantung padanya."
"Kalau rumah ini hangat, Queen tidak perlu terlalu bergantung," jawabnya jujur.
Kalimat itu membuat Sean kembali terdiam.
Malam itu, setelah sekian lama, meja makan benar-benar digunakan sebagaimana mestinya.
Hyera sempat terkejut melihat Sean duduk tanpa membawa berkas kerja. Ia bahkan hampir tersedak saat menyadari ponsel kakaknya diletakkan jauh dari jangkauan.
"Ada apa ini?" bisiknya pada Queen.
"Program kehangatan, Bibi!" jawab Queen dengan bangga.
Hyera menatap Sean penuh tanya, namun pria itu hanya berdeham kecil.
Makan malam berlangsung canggung di awal. Tidak ada yang tahu harus membicarakan apa. Queen memulai dengan cerita sederhana tentang sekolah, tentang teman yang menukar bekalnya, tentang guru yang salah menyebut namanya.
Ah, mengingat itu Queen jadi rindu sekolah. Entah sudah berapa lama ia tak bertemu para sahabatnya.
Queen memang menceritakan hal-hal kecil yang sama sekali tidak menarik di mata Sean.
Namun justru hal kecil itulah yang perlahan mengisi ruang kosong di rumah itu.
Hyera mulai ikut bercerita. Sean mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Sesekali ia menanggapi, walau masih kaku.
Tawa kecil pertama pecah ketika Queen menirukan gaya guru olahraganya yang terlalu dramatis. Bahkan Sean tak bisa menahan sudut bibirnya untuk tidak terangkat.
Hangat. Perasaan itu perlahan muncul, samar namun nyata.
Setelah makan, Queen menyeret Sean ke ruang keluarga.
"Kita harus nonton bersama," katanya.
"Apa?" Sean mengangkat alis.
"Film kartun. Itu aturan kelima."
Sean hampir tersedak. "Aku bukan anak kecil!"
"Ayolah, Paman bilang mau kehangatan, bukan?" rengek Queen. Ingin sekali ia muntah, melihat tingkahnya sendiri yang merengek pada pria seperti Sean.
Melihat sorot penuh harap di mata Queen, Sean pun akhirnya menyerah. Mereka duduk berdampingan di sofa.
"Ini demi bebas dari pria menyebalkan ini!" batin Queen sembari bersandar tanpa ragu di lengan Sean.
ternyata Sean juga manusia biasa😌