Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Dikejar Debt Collector
#
Tanggal lima sudah lewat tiga hari. Zidan belum bisa bayar cicilan ke Pak Burhan. Uang yang dia kumpulin cuma satu juta dua ratus ribu. Masih kurang delapan ratus ribu dari dua juta yang harus dibayar buat bunga.
Dia udah coba telpon Pak Burhan kemarin. Minta perpanjangan waktu. Tapi nomornya nggak diangkat. Dia coba dateng ke rumahnya. Pintunya dikunci. Nggak ada orang.
Zidan mulai ngerasa nggak enak. Ada yang nggak beres.
Pagi itu dia lagi nyetir angkot di terminal. Tiba tiba handphonenya bunyi. Nomor nggak dikenal.
Dia angkat. "Halo?"
"Zidan?" Suara berat di seberang sana. Kasar. Nggak ramah.
"Iya. Siapa ini?"
"Aku Jarwo. Suruhan Pak Burhan. Kamu belum bayar cicilan ya?"
Jantung Zidan langsung dag dig dug. "Saya... saya belum bisa bayar penuh Pak. Tapi saya lagi ngumpulin. Minggu depan pasti bisa."
"Minggu depan? Jatuh tempo udah lewat tiga hari. Sekarang kamu udah kena denda. Totalnya jadi lima juta. Bayar sekarang."
Lima juta?
Dari dua juta jadi lima juta?
"Pak, itu terlalu besar. Saya nggak sanggup bayar segitu."
"Bukan urusan gue sanggup atau nggak. Itu aturan. Kalau nggak bayar, gue dateng ke rumah kamu. Gue sita barang barang kamu. Mengerti?"
"Pak, saya mohon. Kasih saya waktu. Saya janji akan bayar. Saya..."
Tut.
Sambungan putus.
Zidan megang handphone dengan tangan gemetar. Napasnya berat. Keringat dingin mulai keluar.
Debt collector.
Pak Burhan kirim debt collector.
Ini bukan main main lagi.
Dia langsung parkir angkot terus pulang ke kontrakan dengan naik ojek. Jantungnya nggak berhenti berdebar. Pikirannya kacau.
Sampe di kontrakan, dia lihat Naura lagi nyusuin Faris di kasur. Wajahnya tenang. Damai.
"Mas? Kok pulang siang? Ada apa?"
Zidan duduk di pinggir kasur sambil pegang kepala. "Naura, kita dalam masalah. Pak Burhan kirim debt collector. Mereka mau sita barang barang kita kalau kita nggak bayar."
Wajah Naura langsung pucat. "Debt collector? Mas serius?"
"Serius. Tadi dia telpon. Bilang kalau kita nggak bayar, mereka dateng kesini."
"Tapi kita nggak punya apa apa Mas. Mau disita apa? Kasur lusuh? Kompor minyak? Boks bayi bekas? Mereka mau ambil apa?"
"Aku juga nggak tau. Tapi aku takut mereka dateng dan bikin kamu ketakutan. Bikin Faris ketakutan."
Naura memeluk Faris lebih erat. Tangannya gemetar. "Mas, aku takut. Gimana kalau mereka jahat? Gimana kalau mereka..."
"Aku nggak akan biarkan mereka sakitin kamu dan Faris. Aku janji."
Tapi janjinya terasa kosong. Karena dia sendiri nggak tau harus gimana.
Sore harinya, Zidan masih di rumah. Dia nggak berani ninggalin Naura sendirian. Takut debt collector dateng.
Jam empat sore, ada yang ketuk pintu. Keras. Kasar.
TOK TOK TOK TOK!
"BUKA PINTUNYA! ZIDAN ADA DI DALAM NGGAK?"
Zidan dan Naura langsung kaget. Naura langsung angkat Faris dari boks terus peluk erat sambil mundur ke sudut ruangan.
Zidan jalan ke pintu dengan kaki gemetar. Dia buka pintu sedikit.
Di depan pintu ada dua orang lelaki besar. Tinggi. Berotot. Wajah sangar. Satu pake kaos oblong item. Satu lagi pake jaket kulit.
"Kamu Zidan?" tanya yang pake kaos item sambil noleh ke dalam rumah.
"Iya. Ada apa?"
"Aku Jarwo. Yang telpon kamu tadi pagi. Ini temen aku, Budi. Kami suruhan Pak Burhan. Kamu belum bayar cicilan. Sekarang kamu harus bayar lima juta. Atau kami sita barang barang kamu."
"Pak, saya belum punya uang segitu. Saya mohon kasih saya waktu. Saya janji akan bayar."
Jarwo dorong pintu sampe terbuka lebar. Dia masuk tanpa izin. Matanya nyanning ke seluruh ruangan.
"Wah, rumah lo sempit banget ya. Barang barang lo juga nggak ada yang bagus. Gimana mau bayar hutang kalau hidup aja susah gini?"
Budi ikut masuk. Dia jalan ke sudut ruangan tempat Naura berdiri sambil peluk Faris. Naura langsung mundur ke tembok. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar.
"Eh ini istri lo? Cantik juga. Lagi gendong bayi? Masih kecil banget bayinya." Budi nyengir.
Zidan langsung berdiri di depan Naura. Melindungi. "Jangan ganggu istri dan anak saya. Saya yang berhutang. Bukan mereka."
Jarwo ketawa keras. "Wah, kamu berani juga ya. Tapi lu harus inget. Lu berhutang sama Pak Burhan. Artinya sekeluarga lu jadi tanggung jawab kami sampai lu bayar lunas."
Dia jalan ke sudut ruangan terus tendang kompor minyak sampe jatuh. Minyaknya tumpah kemana mana.
"Ini kompor jelek. Nggak laku dijual. Kasur? Lusuh. Boks bayi? Bekas. Piring panci? Murahan semua."
Dia noleh ke Zidan sambil melipat tangan. "Lu nggak punya barang berharga sama sekali. Gimana mau bayar hutang?"
"Saya... saya akan cari. Saya janji akan bayar. Tapi tolong jangan ganggu keluarga saya."
Budi jalan ke arah boks bayi. Dia buka boks itu terus keluarin selimut Faris. Boneka beruang compang camping yang Naura sayang banget.
"Eh ini boneka lucu. Ambil aja deh buat ponakan gue."
"JANGAN!" Naura teriak sambil masih gendong Faris. "Itu boneka Faris! Jangan diambil!"
Budi cuma ketawa. Dia masukin boneka itu ke kantong jaketnya.
Zidan langsung maju. "Kembalikan! Itu punya anak saya!"
Jarwo langsung dorong Zidan sampe jatuh ke kasur. "Diem lo! Ini baru boneka murahan! Minggu depan kalau lo belum bayar, yang kami ambil bukan cuma boneka! Tapi semua barang di rumah ini! Termasuk kasur tempat tidur lo! Boks bayi anak lo! Semua!"
Zidan bangkit lagi. Napasnya berat. Tangannya mengepal. "Saya akan bayar. Saya janji. Tapi tolong jangan ambil barang barang kami. Kami butuh itu semua."
"Kalau lu butuh, ya bayar hutang lu! Gampang kan?" Jarwo ngeliatin jam tangannya. "Sekarang tanggal delapan. Gue kasih waktu sampai tanggal lima belas. Tujuh hari. Kalau tanggal lima belas lu belum bayar lima juta, kami dateng lagi. Dan kami nggak akan baik baik lagi kayak sekarang. Mengerti?"
Zidan cuma bisa ngangguk pelan. Suaranya hilang.
"Bagus. Ayo Bud, kita pergi. Nggak ada yang bisa diambil di sini." Jarwo jalan ke pintu.
Budi ikutan jalan sambil masih pegang boneka Faris di kantongnya. "Dadah ya Mbak cantik. Sampai ketemu minggu depan."
Mereka keluar sambil ketawa ketawa. Pintu dibanting keras.
BLAM!
Naura langsung jatuh duduk di lantai sambil peluk Faris erat erat. Dia nangis keras. Tubuhnya bergetar hebat.
"Mas... Mas aku takut. Mereka... mereka jahat. Mereka ngambil boneka Faris. Mereka..."
Zidan langsung duduk di samping istrinya terus peluk mereka berdua. "Maafin aku. Maafin aku Naura. Ini semua salah aku. Aku yang berhutang. Aku yang bikin kamu ketakutan."
"Aku nggak nyalahin Mas. Tapi aku takut Mas. Takut banget. Gimana kalau mereka dateng lagi? Gimana kalau mereka lebih jahat lagi?"
"Aku nggak akan biarkan mereka sakitin kamu. Aku janji."
Faris yang dari tadi diem tiba tiba nangis keras. Mungkin kaget dengerin suara ibunya yang nangis. Mungkin ngerasain ketegangan di ruangan itu.
Naura coba tenangkan sambil nangis juga. "Ssshh Faris, nggak apa apa sayang. Ibu ada di sini. Ayah ada di sini. Nggak apa apa..."
Tapi Faris terus nangis. Nangisnya keras banget. Kayak lagi kesakitan.
"Mas, Faris kenapa? Dia nangis terus."
Zidan pegang Faris dengan hati hati. Badannya hangat. Wajahnya merah. "Dia mungkin kaget. Atau... atau dia lapar. Coba susuin."
Naura buka bajunya terus susuin Faris. Tapi Faris nggak mau nyusu. Dia terus nangis sambil geleng geleng kepala.
"Mas, dia nggak mau nyusu. Kenapa?"
"Coba gendong sambil jalan jalan. Biasanya dia tenang kalau digendong sambil jalan."
Naura berdiri dengan susah payah terus jalan jalan di ruangan sempit itu sambil gendong Faris. Nyanyi pelan. Bisik bisik lembut. Tapi Faris tetep nangis.
Setengah jam berlalu. Faris masih nangis. Suaranya udah serak. Wajahnya makin merah.
"Mas, aku khawatir. Faris nggak pernah nangis selama ini. Kenapa sekarang nangis terus?"
Zidan ikut khawatir. "Coba kita ke puskesmas. Takutnya kenapa kenapa."
Mereka buru buru ke puskesmas sambil gendong Faris yang masih nangis. Di puskesmas, bidan jaga periksa Faris dengan teliti.
"Bayinya nggak kenapa kenapa kok Bu. Mungkin kaget aja tadi. Atau lagi mau pup. Coba aja digendong sambil usap usap punggungnya pelan. Nanti juga berhenti nangis."
"Tapi dia nangis terus Bu. Udah setengah jam lebih."
"Itu wajar Bu. Bayi emang suka nangis. Apalagi bayi prematur kayak anak Ibu. Dia lebih sensitif. Sabar aja."
Mereka pulang dengan lega. Ternyata Faris baik baik aja. Di jalan pulang, Faris mulai tenang. Nangisnya berhenti. Dia tidur di pelukan Naura.
Sampe di kontrakan, Naura rebahkan Faris di boks dengan hati hati. Dia duduk di pinggir boks sambil terus usap kepala anaknya.
Zidan duduk di kasur sambil mikir keras. Tujuh hari. Dia punya waktu tujuh hari buat ngumpulin lima juta rupiah.
Dari mana?
Gajinya sebulan aja cuma tiga juta enam ratus ribu. Belum dikurangi makan sehari hari. Belum dikurangi kebutuhan Faris. Belum dikurangi cicilan rumah sakit.
Mustahil dia bisa kumpulin lima juta dalam seminggu.
Kecuali...
Kecuali dia jual sesuatu.
Tapi apa yang bisa dijual?
Motor? Motor itu buat kerja. Kalau dijual, dia nggak bisa nyetir angkot. Nggak bisa kerja.
Barang barang di rumah? Udah dibilang sama Jarwo tadi. Semuanya nggak ada yang berharga.
Terus apa?
Dia megang kepalanya frustasi. Pikirannya berputar cepet. Nyari jalan keluar. Tapi nggak ada.
Nggak ada jalan keluar.
Dia terjebak.
Terjebak dalam hutang yang mencekik leher.
Malam itu dia nggak bisa tidur. Dia duduk di teras kontrakan sambil natap langit malam. Bintang bintang bersinar terang. Tapi hatinya gelap gulita.
"Ya Allah, aku nggak tau harus gimana lagi. Aku udah mentok. Aku udah nggak punya jalan. Tunjukkan aku jalan ya Allah. Apapun. Aku akan lakukan apapun asal keluarga aku selamat."
Dia sujud di teras itu sambil nangis panjang.
"Ya Allah, aku mohon. Berikan aku rezeki yang banyak. Berikan aku jalan keluar. Aku nggak mau kehilangan rumah ini. Aku nggak mau Naura dan Faris jadi gelandangan. Aku mohon ya Allah. Dengan segala kerendahan hati aku mohon."
Dan doa itu mengalun ke langit malam.
Doa yang putus asa.
Doa yang penuh harap.
Doa yang akan dijawab.
Tapi dengan cara yang nggak pernah dia bayangkan.
Cara yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Cara yang akan jadi awal dari kehancuran total.
Tapi dia nggak tau.
Dia masih berharap.
Masih percaya.
Masih yakin Allah akan kasih jalan.
Dan Allah memang akan kasih jalan.
Tapi jalan itu akan jadi jalan menuju neraka.
Neraka dunia yang akan dia ciptakan sendiri dengan tangannya.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja