Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23Pilihan Terakhir
Kakek menunjuk ke arah belakang Rina, ke arah lubang hitam yang menunjukkan realita di ICU. Di sana, Gus Azkar sedang bersujud di lantai, memukul-mukul dadanya sendiri sambil memanggil nama Rina di sela isak tangis yang menyesakkan.
"Lihat pria itu! Dia hancur karena ucapannya sendiri. Kalau kamu pergi sekarang, kamu meninggalkan dia dalam penyesalan seumur hidup. Apa itu yang kamu mau? Membalas dendam dengan kematianmu?"
Rina tertegun. Ia melihat kehancuran di wajah Azkar yang begitu nyata.
"Kembali!" perintah Kakek, kali ini suaranya melembut namun penuh penekanan. "Kembali dan bicaralah padanya. Katakan apa yang kamu mau. Jangan biarkan kesalahpahaman ini menjadi akhir dari napasmu. Cucu Kakek bukan wanita yang menyerah karena patah hati!"
Kakek mendorong Rina dengan kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Rina merasa tubuhnya terjatuh menembus awan-awan putih, kembali menuju raga yang sedang sesak di ranjang rumah sakit.
Di Ruang ICU
DHEG!
Dada Rina terlonjak. Dokter yang tadi hampir menyerah melihat garis monitor yang hampir datar, tiba-tiba melihat lonjakan grafik yang signifikan.
Rina menghirup napas dengan sangat dalam, meskipun terasa sangat menyakitkan di dadanya. Matanya terbuka lebar, namun kali ini ada kilat emosi di sana—bukan lagi kekosongan.
Gus Azkar yang sedang menangis di pojokan langsung mendongak. Ia melihat istrinya kembali "ditarik" ke dunia oleh kekuatan yang tidak kasat mata.
Rina telah kembali dengan sisa amarah dan keinginan untuk meluruskan semuanya.
Kekacauan di ruang ICU itu mencapai puncaknya. Begitu nyawanya kembali tersentak masuk ke dalam raga, Rina tidak lagi diam membisu. Matanya terbuka lebar, memerah, dan penuh dengan kilat kehancuran yang tak terbendung.
Tiba-tiba, suara histeris memecah kesunyian ruangan medis tersebut.
"AAARRGGHHH!" Rina berteriak sekuat tenaga, suara seraknya membelah kebisingan mesin monitor.
Tangisnya pecah sejadi-jadinya, suara tangisan yang terdengar seperti raungan keputusasaan. Namun, yang membuat Gus Azkar dan tim medis membeku adalah saat tangan Rina yang masih tertancap jarum infus itu bergerak liar.
PLAK! PLAK!
Rina menampar pipinya sendiri dengan keras. Tidak cukup sekali, ia mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangan yang bergetar.
"Lo bodoh, Rin! Lo bodoh!" teriaknya pada diri sendiri di sela isak tangis yang menyesakkan. "Kenapa lo balik?! Kenapa lo milih bangun buat orang yang bahkan nggak mau mempertahankan lo?! Bodoh!"
Azkar yang Tak Berdaya
Gus Azkar langsung menghambur, mencoba menangkap kedua tangan Rina agar istrinya tidak menyakiti diri sendiri lebih jauh. Darah mulai merembes keluar dari selang infus Rina yang tertarik paksa akibat gerakan liarnya.
"Rina! Istighfar, Dek! Mas mohon, jangan begini!" Azkar memeluk tubuh Rina yang meronta hebat, mencoba mengunci kedua tangan Rina di dadanya sendiri.
"Lepas! Lepas, Mas!" Rina berteriak tepat di depan wajah Azkar, air matanya membasahi baju kokoh suaminya. "Kenapa Mas tega?! Rina udah lawan maut buat Mas, Rina udah nolak cahaya itu demi Mas... tapi Mas malah mau lepasin Rina? Rina benci sama diri Rina sendiri karena udah cinta sama orang yang tak sepeka Mas!"
Rina menangis tersedu-sedu di pelukan Azkar, kekuatannya mulai hilang, namun mulutnya masih terus meracau menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa pilihannya untuk "hidup kembali" adalah keputusan paling tolol yang pernah ia buat, karena ia merasa cintanya tidak dihargai dengan cara yang benar.
Dokter segera mendekat dengan suntikan penenang, namun Azkar memberikan isyarat dengan gelengan kepala dan mata yang basah. Ia ingin Rina mengeluarkan semua beban itu, meskipun setiap kata Rina terasa seperti belati yang menusuk jantungnya berkali-kali.
"Pukul Mas saja, Dek... jangan pukul dirimu sendiri. Pukul Mas sepuasmu," bisik Azkar sambil terus mendekap Rina erat, membiarkan istrinya meluapkan segala amarah yang selama ini terpendam.
Rina sedang mengalami kehancuran mental yang luar biasa setelah merasa pengorbanannya sia-sia.